
Dua mobil Hiace eksklusif melaju mengikuti tiga mobil mewah yang keluar dari garasi rumah Prambudi menuju lokasi pesta ngunduh mantu.
Dominic menggenggam tanganku sejak pak Tedy mengeluarkan SUV off-road yang sering aku gunakan untuk banting setir dan meluapkan emosi. Sementara itu sedan merah ceper dua pintu meraung keras ketika menyalip mobil ini.
Dominic mendengus, dia mengetik sesuatu di ponselnya dengan serius sebelum ponsel di pangkuanku bergetar.
“Kalo nggak ada grandma pasti aku suruh pak Tedy ngebut biar jadi fast and furious Malang! ┐( ̄ヘ ̄)┌ Gaya bener Michelle, mobil aja pinjam!”
“Yang bawa mobilnya Irish kale... ರ╭╮ರ” balasku.
”\(°o°)/” Dominic meletakkan ponselnya setelah mengirim emosi terkejut lalu melirikku.
Aku juga meliriknya seraya memutar mata. Dua hari aku tidak punya kesempatan tidur nyenyak. Aku di teror pertanyaan apakah aku sudah bercinta? Setiap hari di meja makan dan itu bikin mukaku panas. Urat maluku tidak berguna. Dominic apalagi, dia malah menunjukkan kemesraan secara langsung.
Akhirnya ku jawab sudah lalu malu-malu kucing sampai sarapanku yang enak malah susah di telan sebab senyum Bapak-Ibu, mertuaku terlihat geli, alisnya kadang naik turun lalu pura-pura tidak melihatku padahal... Sudah jelas aku bukan tipe yang suka bilang-bilang. Di malam ini pun pesta ngunduh mantu mengusung tema internasional untuk menghormati keluarga Marisa.
Pakaianku tidak lagi jarik dan kebaya, tapi gaun dengan ketiak kelihatan, banyak batu-batu yang berkilauan dengan belahan sampai di tengah paha kiri. Sepatu jinjit tinggi sepuluh centimeter. Rambut dibuat secantik mungkin, make up bukan lagi, aku sendiri pangling, aku seperti bukan Rastanty dan itu bahaya. Satu-satunya sifat yang aku sukai adalah menjadi preman. Jika manis begini aku jadi was-was.
Aku membasahi bibir sambil membuang napas. Dominic meraih kotak makan berisi bolu pandan di tas ranselnya lalu hendak menyuapiku dengan garpu kecil.
Aku menggeleng kecil. Sederhana. Dominic sudah melengkapi semuanya namun jika hanya untuk pura-pura aku justru malas. Tak secuil pun aku setuju untuk pamer-pamer seperti ini, aku justru suka kami beradu mesra karena pingin dan lumrah kita lakukan.
“Sedikit aja mi amore, biar asam lambungmu—”
“Nggak naik.” sambungku lalu melahapnya. Setelah dirasa cukup, Dominic hendak menutup wadah bekalku. Aku mencegah, “Lagi dong mi amore, enak banget kuenya.” ucapku setengah manja.
Dominic menyuapiku dengan mulut ingin terkekeh. Dia pasti tahu aku sebal, tapi aku pingin dia juga bahagia.
“Tapi kalo aku gemuk kamu nggak berpaling kan, aku takut kamu pergi.”
“Nggak, Rastanty.”
“Ya udah nanti kita makan yang banyak waktu party.”
Aku membagi rasa bolu pandan di mulutnya. Pak Tedy terbatuk sambil menekan klakson lama-lama. Nenek menoleh sambil tersenyum.
“Grandma senang sekali kamu bahagia, Domi. Nanti grandma beri hadiah untuk kalian.”
“Wow, hadiah apa nenek?” sahutku, dengan sengaja menginjak sepatu Dominic.
__ADS_1
Jangan iya-iya aja bro, tolak dong. Hadiahnya pasti merugikan aku!
Dominic menggoyangkan kepalanya seolah hendak mengusir rasa pening tapi aku yakin dia tidak setuju aku menolaknya.
“Aku pasti senang dengan hadiahnya, grandma. Kami tunggu.”
Mobil berbelok ke kiri, memasuki area lobby hotel. Sesuai dugaanku acara ini akan di hadiri kolega-kolega bisnis dan keluarga Prambudi.
Aku menghadapkan wajah Dominic yang mengatur rambutnya dengan jemari ke depan wajahku tanpa mempedulikan orang di depan-belakang kami.
”Coba lihat ada sisa kue nggak di gigiku, Dom.” pintaku seraya meringis lebar.
Dominic mendengus. “Untung aku lebih dulu jadi sahabatmu Ras, coba kalo nggak, milih kabur aku kamu suruh cari gadul di gigimu!”
Pak Tedy dan Mbak Iyah menyemburkan tawa yang memekik keras dan mendadak surut ketika kaca mobil di ketuk dari luar.
Michelle dan Irish berdiri berdampingan sambil tersenyum lebar dengan gaya menunggu. Tidak perlu menunggu persetujuan aku yang telah ahli langsung mendaratkan ciuman panjang di bibirnya.
Dominic menyeringai dengan perhatian lebih ke wajahku. “Aku suka kamu mulai galak, Ras. Terus itu ada sedikit di gigi gerahammu yang kiri.”
“Sure, mi amore.” Aku menepuk pipinya dengan tatapan cinta yang kubuat sebaik mungkin meski dalam hati aku melakukannya agar Irish yang nampaknya terkagum-kagum dengan Dominic dewasa menghindar. Pulang ke kampung halamannya tanpa perlu menaruh benih cinta di Malang.
Dari mobil, kami keluar, bergandengan mesra. Menebar senyum bahagia. Disambut para sanak keluarganya yang berbahagia atas pernikahan kami sebelum masuk ke atrium yang memiliki lampu kristal besar di bagian tengah serta minuman bergengsi di meja-meja dan kamera-kamera membidik kami dengan leluasa.
Satu persatu pasangan mulai mendekat, berdiri saling berhadapan lalu mengangkat sebelah tangan, merekatkan telapak tangan, mengunci tatapan seraya melangkah seirama, ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang, mendayu mengikuti dendang piano.
Aku dan Dominic saling melempar senyum, tidak berdansa seperti orang tuanya, ibu dan bapakku yang terlihat kaku tapi cuek bebek dan Michelle joget-joget sendiri.
Kami hanya saling menatap dengan tangan yang saling memegang pinggul.
“Aku nggak bisa dansa.” kataku saat merebahkan kepala di dadanya. “Aku cuma bisa jadi kodok kamu di kamar, atau jadi pembalap kalo kamu kesiangan ke kantor gara-gara lembur sama aku di rumah. Aku selamanya nggak akan bisa jadi Cinderella, Dom. Aku serius.”
Dominic mengusap punggungku, dia menciumi ubun-ubunku berkali-kali sampai dadaku menghangat seperti terkena cahaya matahari terbit yang menenangkan.
“Kamu terbebani dengan pesta seperti ini, Ras? Hanya satu malam!”
Lagi-lagi Dominic membuatku tergugah untuk berkomentar. Aku mengangguk kecil.
“Nggak terbiasa,” jawabku, “apa kehidupanmu setelah hari ini juga akan seperti ini, Dom? Atau kamu sebenarnya sudah sering kemarin-kemarin tanpa ajak-ajak aku?”
__ADS_1
Dominic meremas pinggangku dengan lembut.
“Menurutku nggak juga, Ras. Udah jarang. Ngunduh mantu cuma sekali doang, malam ini saja. Tapi ya mungkin setelah ini bisa ada pesta ulang tahun, baby shower, pesta perusahaan, pengajian kehamilan. Belum terbayang-bayang dan pasti lebih sederhana saja. Seperti kamu dan ketidaknyamananmu dengan banyak orang.”
Aku bahagia mendengarnya berjanji seperti itu, Dominic memang mengerti sepenuhnya bagaimana aku resah karena aku tidak biasa hidup dalam kemewahan yang keluarga berikan sementara irama berhenti berputar.
Kami melonggarkan pelukan.
Aku menangkup kedua pipi Dominic ketika hanya satu lampu sorot yang menerangi atrium. Dia menarik pinggangku seraya mendaratkan kecupan sebagai ending dari pertunjukan ngunduh mantu internasional.
“Mesra-mesranya cukup, Dom. Bibirku udah maju beberapa centi ini gara-gara keseringan adu skill sama kamu.”
Dominic tergelak, pasalnya lagu dansa kembali terdengar sementara beberapa orang yang sudah selesai pamer skill mesra-mesraan sudah pindah ke kursi untuk menikmati hidangan western dan koktail.
“Sebentar, Ras. Ini gampang bangetlah, soal biasa.”
“Dansa kok soal biasa!” gerutuku sambil bersiap untuk mengikutinya berdansa.
“Kanan, kiri, maju, mundur, muter. Gitu-gitu aja terus.” bisiknya seakan-akan biar terlihat mesra, padahal ingin sekali aku mengeluarkan tawa sebab aku tidak punya zero expectation bermain dansa dan ia malah ngelawak.
Aku mengangguk, posisi sudah aman. Kami mengikuti irama yang santai sekali sampai aku jengah, aku capek, aku lapar.
“Ini kapan selesainya, Dom? Kelamaan.” gerutuku ketika tatapan kami bertemu.
“Sampai kelihatan keren!”
Kakiku mundur, mataku membeliak, gaunku terinjak hak jinjit, punggungku sontak melengkung ke belakang tiba-tiba, gegas aku mencengkram kedua sisi tubuh Dominic, ia mengangkat lututku dengan satu tangan sementara satu tangannya lagi menahan punggungku.
”Mi amore.” Punggung Dominic melengkung ke depan, mencium bibirku dengan kilau geli di matanya.
Aku memejamkan mata. Sial, hampir celaka dan di hadiahi tepuk tangan meriah dari penonton. Ini bagaimana ceritanya.
Dominic menurunkan kakiku seraya menegakkan tubuh kami. Seakan-akan telah terjadi komedi dia tersenyum lebar.
“Hampir banget Ras acaranya tambah meriah!”
Aku mengangguk bersama padamnya lampu sorot yang menerangi kami berdua.
Dalam keremangan, aku merunut kehebohan apa yang terjadi jika aku beneran terjatuh tadi.
__ADS_1
Nenek rambut silver marah? Orang tua dan mertua malu? Michelle dan Irish tertawa puas atau gosip yang nggak ada matinya? Untung Dominic slalu sigap menolongku, jika tidak aku pasti babak belur seumur hidupku gara-gara malam ini.
...🖤...