
Alam nyata menyeret ku bertemu dengan tempat kerja Dominic. Tidak tinggi seperti gedung-gedung pencakar langit, kantor Dominic hanya memiliki tiga lantai yang lebih di penuhi kaca di bagian lantai dua dan tiga tetapi di belakang gedungnya ada gudang besar yang seolah ingin mencaplok kantor di depannya.
Lima truk box terparkir di depan gudang ketika aku memarkirkan mobil tak jauh dari monster jalanan.
“Tempat apa ini, Pak?” tanyaku pada Prambudi yang duduk di sebelahku sementara Dominic sibuk di bangku penumpang. Mempelajari materi meeting, katanya.
”Warehouse and logistic.”
”Lah, setahuku bukan ini kerjaan bapak. Ganti profesi?”
Prambudi menyeringai lucu sambil melepas sabuk pengamannya. “Tanya suamimu itu lho. Bapak cuma transit.”
Aku menoleh ke belakang, Dominic menyeringai seraya menutup wajahnya dengan tablet di tangannya.
“Sampingan, Ras.”
Aku mengerucut bibir. Biasanya aku akan menanyakan perihal seluk beluk sebuah mitos dan legenda yang terjadi di suatu daerah kepada juru kunci, nampaknya aku harus tanya semuanya kepada mertuaku selaku juru bicara terbaik sekarang, punya usaha apa saja mereka karena aku terlalu kudet.
Kami bertiga keluar mobil, tapi baru saja aku menghirup udara yang bercampur oli dan bensin di tempat keluar masuk barang ke gudang ini sambil melihat-lihat. Sambutan dari karyawan yang tahu kedatangan kami terlihat hangat.
Seorang satpam menyambut, menjura lalu bertanya, ”Mau saya bikinkan pengumuman untuk melakukan sambutan resmi, Pak?” Satpam menatapku lalu tersenyum sesopan mungkin.
“Kamu mau, Ras?” Dominic menatapku.
Aku menggeleng cepat, berlebihan, pikirku.
”Aku cuma perlu ada di sekitarmu, Dom.”
Prambudi berdehem saat tangan Dominic merangkulku. “Kantor,” Beliau berdehem lagi.
Aku dan Dominic menyeringai seraya membuat jarak.
“Rastanty tidak suka sambutan meriah, cukup mengobrol dari mulut ke mulut kalau istri pak dirut datang.” ucap Dominic memberitahu.
Aku dan bapak meliriknya lalu memutar mata ditengah persetujuan satpam yang langsung pamit undur diri seraya ngacir untuk melakukan permintaan Dominic.
Aku melihatnya menunjukku lalu menyuruh orang-orang yang sedang mengangkat kardus melambaikan tangan kepadaku dengan wajah yang tidak berkompromi dengan berat di sebelah bahu. Mereka melambai dengan senyum terpaksa.
“Bukannya itu mirip gosip?” tanyaku sambil mengikuti Dominic berjalan ke kantornya.
__ADS_1
Pintu terbuka oleh satpam yang sekali lagi menghormati Prambudi dan Dominic dengan penuh sopan. Aku meringis dalam hati, ini lucu banget, dua pria ini adalah pria yang akan tunduk pada mertua di rumah tapi di sini mereka seperti raja hutan.
Aku yang tak kuasa menahan kekehan menyembunyikan wajah di punggung Dominic.
“Kamu siapa sih?” lolos juga pertanyaan itu sementara bunyi geruduk dari orang-orang di lantai atas tak mancing perhatian.
Dominic terkekeh mendengar itu, kedua tangannya menarik tanganku yang hanya terdiam di sisi tubuh. Dia melingkarkan tanganku di pinggang tanpa perlu berbalik.
“Cowok yang setengah mati ngejar kamu, Ras.”
“Yang lain? Jauh lebih dari itu.”
“Cowok yang mencintaimu lama-lama.”
“Jadi, aku nggak perlu peduli siapa kamu di sini? Selain hanya mengakuimu sebagai cowok yang tergila-gila padaku?”
Dominic menumpuk telapak tangannya di atas telapak tanganku sewaktu serempak ucapan ‘Selamat datang kembali, Pak Dwayne. Selamat atas pernikahannya. Semoga bapak senantiasa diberikan kekuatan untuk terus membuat penerus perusahaan ini.’ terdengar memenuhi lobby kantor.
Dominic mengangguk, “Senang bisa melihat tim yang tetap semangat walau lembur, lembur, menjadi kegiatan yang tidak berkesudahan. Terima kasih.”
Kemeriahan terjadi, bahkan tubuh kami dihujani party popper sementara aku terlalu aman di belakang Dominic dalam kondisi memeluk.
Aku melepas pelukanku perlahan-lahan seraya pindah ke samping Dominic yang menyeringai lebar. Tangannya terulur, membersihkan kertas warna-warni di rambutku.
“Pipimu merah.” ucapnya lalu tersenyum lepas. “Istriku itu pemalu, tapi lebih banyak malu-maluinnya.”
“Heh!”
“Selain pemalu dia galak.”
“Dom!”
“Selain galak dia pengamat yang tajam!”
Aku mendelik ketika senyum Dominic mengembang dengan manis sekaligus usil sampai membuatku memutar mata jengah.
“Tetapi dia adalah sesungguhnya bos di sini, bos yang tidak perlu bekerja keras seperti kita. Jadi saya harap kalian bisa kerjasama dengan ibu Dwayne karena dia sebening kaca dan pecahan setajam pisau.”
Orang-orang pada terkesima-sima sambil menggeleng kepala sementara Dominic geleng-geleng kepala.
__ADS_1
”Enak sampean, Ras. Nggak perlu kerja jadi bos.”
“Salah kamu sendiri jadi bos.” cibirku lalu memanyunkan bibir. ”Orang aku lebih suka kamu jadi partner piknik.”
“Ih...” Dominic mencubit pipiku. “Terus kamu mau aku dimarahi bapak?”
Aku meringis ketika bapaknya yang berdiri di belakang karyawannya menggelengkan kepala sembari bersedekap.
“Iya sepakat aku jadi bos gadungan.” kataku lemah, “tapi di gaji?”
Sorakan terdengar. Dominic terbahak seraya memelukku, ia menggerakkan badannya ke kanan-kiri sambil meminta karyawan untuk membubarkan diri.
“Kamu nggak kerja kok minta gaji, Ras. Mau makan gaji buta kamu?” ledeknya sembari melonggarkan pelukan.
Aku menggeleng dan tetap memegang pinggangnya. “Waktu kamu nemenin aku traveling, kamu sering aku beliin makan, bayar penginapan juga. Minimal sekarang beliin makan aku jugalah, masa iya aku kelaparan di kantormu...”
Dominic menonyor keningku. “Ribet banget hidupmu, Ras. Tuh di gudang banyak bahan baku makan, kamu tinggal pakai kompor di dapur buat masak! Jangan manja.”
“Ya Allah, aku cuma pindah tempat berteduh tapi rasanya beda. Nggak boleh manja. Oke deh...” Aku menyeringai. ”Sekarang kita harus apa, Dom? Ajak aku keliling setiap divisi dong, aku pingin lihat kamu kerja dan mengamati kerenan naik gunung apa duduk manis di meja kerja?”
Dominic terlihat tidak dapat menyembunyikan seringai jahilnya dan itu mempengaruhi suasana hatiku.
“Kita ke atas, ketemu Stacy.”
Kudorong bahunya dengan jengkel. “Jadi dia alasanmu semangat kerja lagi? Bukan karena tanggung jawabmu?”
“Tentu, Rastanty. Bodynya bagus, senyumnya tulus, suaranya merdu, kalo ketemu aku dia suka senyum-senyum sendiri.”
Kepalaku langsung di penuhi magma yang siap memuntahkan ledakan. Dadaku naik turun sementara mataku tak sedikitpun lepas dari wajah Dominic yang mengangkat dagunya dengan senyum tertahan.
Kakiku menaiki anak tangga dengan semangat tak terperikan. Jantung dan hatiku seakan diremas mendengar nama Stacy yang terus aku pikirkan disebut dan dipuji Dominic dengan penyampai yang luwes seperti playboy kambuhan.
Aku mendengus di tengah anak tangga menuju lantai tiga. Bisa-bisanya Dominic memuji langsung cewek lain di depanku.
Mendadak aku merenungkan kehidupan yang Dominic alami selama bersamaku dan Pranata serta kenangannya. Sesakit ini, sejengkel ini, dan semalas ini harus menghadapi situasinya dengan wajah baik-baik saja? Aku menghela napas, berapa kokohnya topeng yang Dominic pakai, sementara topengku tidak ada..
“Stacy!”
...🖤🤣...
__ADS_1