
Olivia yang masih terdiam didepat lift seketika tersadar bahwa asisten ratupun meminta nya untuk segera kearah ratu yang tengah memanggilnya.
"Apa dia nenek pangeran, baru kali ini aku melihat wajahnya. Kelihatan nya saja orang baik ternyata dibaliknya semacam setan begini, pantas saja pangeran begitu ogah melihat wajahnya, oh ya ampun apa yang aku katakan sih, arghh yang ada kalau salah ucap sedikit saja yang ada nyawaku jadi taruhan mereka" batin nya
"Ayo sini silahkan kau duduklah, aku hanya ingin mengatakan sebuah fakta kepadamu" Olivia yang masih menatap wanita cantik dihadapannya ini, seketika menyadari bahwasannya dirinya jauh lebih buruk dari wanita dihadapannya
"Nah sebelum itu perkenalkan namamu cantik"
"Baik nek, hai perkenalkan namaku Lizza Ortomix"
"Hei kau tak perlu menggenalkan diri karena dia sudah tau siapa dirimu" Olivia yang mendengar penuturan wanita tua tersebut hanya dapat terdiam "Begini saja, ada hal yang perlu kau tau kalau kebohongan yang selama ini kau jalani bersama pria asing itu adalah seorang pangeran yang tidak lain cucu pertamaku, atau lebih tepat nya tunangan dari wanita dihadapanmu ini"
Melihat itu Olivia hanya dapat terdiam "Apa kau terkejut mendengar penjelasan faktaku ini wanita miskin"
"Pastinya dong nek, buktinya secara dia hanya terdiam menatap kita saja nek" tersenyum sombong
"Maksud kalian siapa?" wanita tua tersebut hendak menjawab Lizza pun lebih dulu mencelah obrolannya
"Biar saya yang akan menjelaskan nya nek, kau tau kalau pria yang bernama Sam Volcer dialah tunangan saya yang selama ini kau menghalangi dia untuk menerima ku"
"Tenangkan dirimu nak, akan tetapi walaupun dia tidak mensetujui semua ini, pernikahan akan nenek pastikan kalau semuanya bakal tetap berjalan kok sayang"
"Benarkah nek, terima kasih nek aku sayang nenek"
"Tentunya cantik, oh ya sayang bisakah kau sekarang pergi ketempat Sam, karena aku ingin berbicara sesuatu kepadanya"
"Baiklah nek, kalau begitu aku ijin pergi dulu bye nek" berjalan melewati Olivia dengan tatapan sinis
"Bye sayang" setelah melihat Lizza sudah meninggalkan tempat dia pun langsung melemparkan uang tersebut tepat mengenai wajahnya "Kuharap uang ini akan cukup untuk dirimu menjauh dari cucuku kalau kau sampai menolaknya maka orang ini akan aku lenyapkan tepat dia melakukan penerbangan" senyum liciknya
"TIDAK!!" melihat dilayar televisi terdapat keluarga kakak nya tengah menunggu keberangkatan mereka
"Kalau dirimu ingin mereka selamat maka setujui semua yang berada disini" memberikan kertas perjanjian tersebut kearahnya
"Hmm (tersenyum dibalik diamnya) baiklah aku akan menandatangani semuanya, akan tetapi bisakah kau berikan aku satu kesempatan, kalau kau tidak sampai mensetujuinya maka tetap saja aku tak akan pernah mau mendatangani ini kalau sampai anda tidak mensetujuinya"
Berawal dari diamnya tetiba ia pun menjawabnya dengan santai "Memangnya apa maumu"
__ADS_1
"Begini ratu, seingatku sebentar lagi itu bukankah hari terakhir kuliah pangeran kan, jadi bisakah kau ijinkan aku tetap bersamanya selama dalam masa sampai ia tamat wisuda terakhirnya, dan tiada gangguan sama sekali dari dirimu maupun wanita tadi, kalau sampai kalian melanggar nya maka dalam kesepakatanmu ini akan dibatalkan" wanita tua itu hanya terdiam menatap memincing kearahnya "Bukankah itu ide yang bagus apalagi saling untung satu sama lain"
"Begini saja, kalau sampai kalian melanggar maka hubunganku dengan Sam akan tetap berlanjut, dan apabila kau membuat rencana lain sampai aku menjauhi pangeran terus gimana jadinya kalau dia sampai memutuskan kuliah besarnya, apa jadinya sampai dia nanti dicap sebagai pemimpin penerus kerajaan yang bodoh tak dapat menjadi memimpin masa depan negara kalian ini, apalagi rakyatmu sendiri walaupun kalian menggelaknya akan tetapi informasi itu tetap akan menyebar meluas"
"Apa rencanmu wanita miskin" sinis kearahnya
"Hah? Maksud anda apa aku terlihat seperti orang yang sedang merencakan sesuatu begitu, tenang aku tak merencakan sesuatu kok" melihat keterdiamannya sontak membuatnya hanya tertawa lepas "Hahaha... Oh ya tuhan! Begini yah kalau orang tidak mudah percaya dengan ucapanku, yasudah uang yang kau berikan ini akan menjadi jaminan anda, kalau semisal aku telah mengambilnya, sebagai bukti kuat ku untuk berjanji padamu untuk menjauhi cucumu"
"Kenapa aku merasa kau tengah membohongiku, apalagi kau nampaknya sangat menyukai cucuku"
"Oh ya tuhan, kalau masalah suka memang siapa perempuan yang tak bakal menyukai cucumu, secara dia tampan, mapan dong jadi tidak salahkan aku menggatakan ini. Ya sudah kalau kau masih tak mempercayaiku maka jaminan lagi deh kalau sampai aku berbohong padamu maka dirimu bisa membunuhku kok. Bagaimana"
"Setuju baiklah kalau itu maumu untuk sebagai tanda kenangan terakhir kalian"
Olivia yang santainya tersenyum tipis kearahnya, lalu menandatangani surat tersebut. Berbeda halnya situasi Sam yang telah mendatangi toko dimana Olivia sama sekali belum datang, ketika dirinya dihubungi ia hanya mendapatkan telfon berada diluar jangkauan, seketika ia merasa cemas kemana pergi Olivia.
......................
Ditengah perjalanan menaiki taksi ia hanya terdiam, lalu berusaha menghilangkan rasa kecemasan serta kesedihannya. Sampai tak terasa taksi pun berhenti didepan sebuah toko, dimana semua orang yang menyadari kedatangannya menggunakan taksi dengan ekspresi diammya membuat semua khawatir kepadanya.
"Kau habis kemana Liv, kami semua mencemaskan mu apalagi Sam saat ini tengah mencarimu" ucap mbak Anna
Melihat kediaman Olivia, disekitar membuat seorang pria tua yang tidak lain ayah Bang David lebih tepatnya paman Sam atau adik ayah pangeran yang bernama Erick Volcer.
"Iya ayah, kau meminta tolong apa?"
"Kau jaga disini saja ya, awasi mereka jangan sampai ada yang masuk, kalau dia sudah datang beritahukan kita terlebih dulu"
"Baik ayah"
Setelah melihat kepergian ketiganya "Memangnya ada apa sih ini" kebingunggan Anna ke arah Kimberly
"Tidak apa - apa sudah sekarang cepat kembali bekerja kalian"
"Lah? Heh kunyuk lu tau kenapa mereka"
"Intinya bukan urusan elu jelek"
"Anj** mana ada aku jelek, cantik gini dibilang jelek rabun lo"
__ADS_1
Tomi langsung mengabaikan celotehannya, dia pun kembali kearah dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Disisi trotoar Sam beserta temannya yang menepi tersebut tengah kebinggungan kemana arah mana Olivia harus dicari.
"Kita harus kemana lagi" tanya Luky
"Entahlah aku juga binggung kemana dia pergi sekarang, ARGHH... Ini semua salahku telah meninggalkan nya sendirian kemarin malam"
"Sudahlah ini bukan salahmu, aku pastikan dia akan baik - baik saja" ucap Rosliana
"Semoga saja" "Kau kemana sekarang kak"
Berbeda situasi didalam ruangan, dimana rasa ketegangan nampak jelas dari raut mereka bertiga.
"Kenapa kau melakukan hal ini nak, hal itu bukanlah kesepakatan mudah resiko besarnya nyawamulah menjadi taruhan dia"
"Aku tidak mempermasalahkan itu paman"
"Apa kau rela kalau sampai Sam tidak akan menjadi pendampingmu nantinya" seru bang David
Olivia hanya tersenyum sedih sebari menundukkan kepala "Jodoh atau maut yang menjemputku, tapi semua takdirku nantinya tiada yang tau, itupun setidaknya kalian membantu ku dalam misiku kali ini, apakah kalian mau"
"Haha (tawa garing) ini misi besar Liv tak akan mudah, nak" mengenggam pundaknya
"Aku harus apa selain rencana kita ini paman, bang"
"Huh! Baiklah kami akan membantumu akan tetapi semua tidak akan tau berhasil ataukah gagal nantinya"
"Aku tau itu, kalian tenang saja aku jamin ini demi ketenangan Sam untuk kedepannya"
"Yasudah kau beristirahatlah dulu sana, sebentar lagi akan kuhubungi anak itu kelihatan sekali dia begitu mengkhawatirkan mu"
"Makasih banyak paman, bang"
Melihat keduanya pergi Olivia pun memutuskan berbaring disofa sebelum memejamkan mata "Kuharap semua ini akan cepat selesai, aku mencintaimu Sam" tanpa didasari air matanya pun menetes
"Kenapa nek, kenapa kau menghalangiku untuk menemui Sam, apa rencana nenek lagi" didalam telfon orang tersebut terus menenangkan wanita itu "Yasudah"
"Kurang ajar sekali dia melakukan perjanjian bodoh ini, awas saja kau arghh padahal aku ingin sekali menemui pujaan hatiku. Awas saja kau wanita miskin"
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...