Kekasih Kecilku Ternyata Seorang Pangeran

Kekasih Kecilku Ternyata Seorang Pangeran
61


__ADS_3

BRAKK...


Kedua orang ini begitu terkejut dengan dobrakannya, Yura sendiri terlihat begitu terburu - buru membukanya.


"LARI LIVV..."


Olivia yang kebingungan melihat ayah Lizza seperti marah besar, lalu dengan kejam nya dia menarik Yura sampai mencekik kuat lehernya


"Akkhh.." menahan sakit


"Kau beraninya membohongiku dengan cara ini, melindungi wanita tidak tau diri itu" lalu menatap tajam kearah Olivia "BERANI KABUR KAU AKAN TAU AKIBAT NYA DIA AKAN MATI DITANGANKU"


"La.. Ah..." sambil tangan yang diarahkan berlari


Olivia yang kebinggungan pun memutuskan untuk tidak berlari "Baik, aku tak akan kabur dari sini tapi dengan satu syarat lepaskan dia"


"Baiklah" langsung melepas cekikkan nya "Serahkan kantong itu kepadaku"


"TIDAK!!" teriak Yura


"Aku akan berikan, tapi ada satu syarat kau lempar senjata itu bersamaan dengan bibi Yura kearahku"


"Baiklah kalau itu maumu, aku akan serahkan dia kepadamu" tersenyum remeh "Dalam hitungan ketiga kita akan lempar bersamaan ayo 1, 2, 3..."


Secara bersamaan kantong berserta senjata itu terlempar, tanpa Olivia duga pria itu menginjak kantong tersebut sedangkan Yura sudah berada didekapannya sambil mengarahkan pisau tepat didahinya.


"Hahaha... Aku tidak sebodoh itu anak kecil, seharusnya kau tak pernah melalukan tindakan semurah ini kepadaku"


Pistol itu yang dipegang oleh Olivia seketika mengarah kearahnya "Aku memanglah bodoh, dan tak berpendidikan tetapi aku diberi julukan nenek Sam yaitu..."


DORR... Seketika kaki pria tersebut tertembak oleh seseorang, entah siapa orangnya tentunya telah menyelamatkan mereka berdua, namun sebelum melihat siapa penolongnya Yura sudah lebih dulu melemparkan kantong tersebut kearah Olivia.


"LARI LIV..."


"Tapi bi, kau bagaimana ayo kita pergi sama - sama"


"Arghh.. Ka..u ti..dak.. Ak..an a..ku le..paskan" memegang erat tangannya


"Bukan saatnya untuk menunggunya, dia pasti akan baik - baik saja" ucap Daniel yang tidak lain adalah suami Yura


"Tapi paman, tidak mungkin kita meninggalkannya" raut cemas


"JANGAN KAU LAKUKAN, KALAU KAU LAKUKAN ITU MAKA AKAN AKU PERCEPAT BOM DITUBUHKU INI" teriak Yura

__ADS_1


Sontak ketiga orang ini terkejut melihatnya karna Yura telah memasang rakit bom ditubuhnya dan beberapa diruang gedung tersebut.


"SEKALI KAU LAYANGKAN PELATUK ITU MAKA KAU AKAN MATI TERLEBIH DAHULU"


"Bagaimana bisa aku mati dulu sayang"


"Karna bom dikalungmu itu sudah aktif sama seperti hal nya ditubuhku ini, KALIAN CEPAT PERGII... BERIKAN AKU KEADILAN... AKU SAYANG PUTRAKU, DAN YUANN..."


Tut.. Tut...


"Ayo cepat kita pergi" menarik paksa Olivia


Tut.. Tut.. BOOMMM... BOOMM!!


Olivia beserta Daniel seketika melompat ketanah, Olivia hanya menangis melihat kobaran api tersebut telah menghanguskannya.


"Hikss.. bibi Yura hiks..."


"Ayo kita pergi, sebelum semuanya kesini"


"Maafkan aku bi, aku telah gagal menyelamatkan mu bi hikss... Aku berjanji bi akan membuatkanmu keadilan"


Saat itulah Daniel, Yuan memutuskan langsung bersiap pergi membawa Rio maupun Olivia pergi keluar negeri agar penyamaran mereka tak terungkap. Karna sebelum pergi Olivia menemui bang David, beserta yang lain untuk membuat rencana tersebut apalagi lebih mengejutkannya didalam perencanaan kejahatan Lizza ini ada orang dalam. Dia adalah Bram orang yang diam, namun sempat mengatakan kalau memliki kekasih ternyata kekasihnya itu adalah Lizza yang mana perempuan tersebut hanya memanfaatkan nya beserta mengancam membunuh keluarganya membuat dirinya membuat hal semacam ini. Dimoment itulah semua yang terkejut mengetahui fakta tersebut ingin langsung menghajarnya karna saat itu dia ada disana.


"Iya" mengangguk semangat


"Apa kau sudah gila membantunya Liv, coba kau bayangkan jika kau meninggal apa dia pertanggung jawabkan atas kematianmu, tidak kan pasti dia akan bahagia sama halnya dengan wanita ular itu" ocehan mbak Anna


"Cukup mbak! Maaf, tapi dia tak akan melakukan hal sebodoh ini, kalau tak ada ancaman yang dia dapatkan"


"Huh! Bisa saja kau ditipu oleh tampang melasnya" saut bang Tomi


"Bang~ dengerin aku dulu, aku tau abang, dan yang lain begitu sangat khawatir kepadaku tapi dengerin aku dulu semuanya. Please dengarkan misiku ini, karna hal ini sudah aku rencakan jadi Bram, kalau kau ingin keluargamu dalam perlindungan kami maka kau harus menuruti perkataan ku ini katakan kepada semuanya terutama kalian semua katakan kalau aku sudah mati, tepat disaat kebakaran itu terjadi, kalau sampai kau Bram melanggar nya maka bersiaplah dirimu yang akan aku jebloskan pertama dijeruji besi bersama dengan kekasihmu itu, ingatlah bahwa Olivia bukanlah ucapan yang main - main apalagi kau sudah tau bagaimana sikapku ini kepada setiap janji"


"Baik kak akan aku turuti tapi maafkanlah aku kak memang aku bersalah disini telah menjebakmu kedalam kehidupan Lizza, maafkan aku kak, yang lain" bersujud dibawah kaki Olivia "Maafkan aku kak, memang aku tak pantas untuk kau bela kak kalian pantas memukuli ku"


"Ya memang kau pantas untuk dihajar bocah brengsek" Tomi menarik tubuh Bram, dan langsung melayangkan tonjokan tepat diwajahnya berulang kali


Semua orang histeris, Daniel, David pun mencoba melerainya keemosian Tomi.


"Bang cukup bang, apa kau sudah puas telah memukulnya bang~ jangan begini please ini bukan ajang bela diri, jadi tolong bekerja sama denganku agar semua ini cepat selesai"


David membawa Tomi duduk disalah satu kursi, dan dia memberikan nya air putih untuk menetralkan emosinya.

__ADS_1


"Huh... Bram apa kau baik - baik saja"


"Tidak masalah kak ini tidak sesakit kakak dilukai oleh Lizza disana"


"Sudahlah itu sudah berlalu, sekarang katakan kepadaku apa dirimu yakin ingin keluarga dapat terlindungi oleh ancaman Lizza"


"Iya kak aku mau, apapapun kau minta akan kuturuti asalkan mereka selamat dari bahayanya Lizza"


"Baiklah, kalau begitu cepat obati lukamu setelah itu hampiri Lizza, dan katakan aku telah tiada saat berada dikebakaran itu setelahnya putuskan dia karna wanita itu tidaklah pantas untukmu masih banyak wanita yang menyukai dirimu Bram, aku tak ingin seorang lekaki dijadikan umpan dalam kejahatannya, jadi apa kau mensetujuinya"


"Iya kak" menghela nafas


"Aku tau kau menyukainya tapi apa kau tidak lelah menyukai seseorang dalam hubungan tanpa ada rasa cinta diantara keduanya"


"Lelah kak, tapi aku begitu sangat menyukainya kak"


"Cinta ataukah mengagumi saja" Bram terdiam lama "Sudahlah kalau kau mensetujui kesepakatan itu kau beserta bang Daniel akan mengantarkan mu untuk menyaksikan obrolan mu bersama Lizza kalau memang kau mensetujui kesepakatanku maka hari ini juga kau beserta keluarga mu akan ikut dengan ku pergi keluar negeri"


"Apa! Kenapa harus sekarang Liv" tanya kak Kimmy


"Maaf, tapi tidak secepat kulakukan sekarang maka kecurigaan mereka akan semakin kuat kalau aku masih hidup, jadi setelah aku pergi nanti bang David akan melakukan persiapan sakral ku kalau memang aku sudah tiada"


"Hikss... Kita bakal merindukanmu Liv" "Iya" memeluk erat Olivia kedua wanita ini


"Kalian tenang saja aku bakal akan terus menghubungi mu kok"


"Begitu kah janji ya" pinta Kimmy


"Hmm" dehemannya


"Tapi bagaimana kalau Sam datang apa kita langsung hubungi dia saat ini juga kalau kau sudah tiada" ceplos Anna


"Jangan dulu, biarlah dia sewaktu kembali sendiri kesini barulah kalian memberitahunya, apalagi dia sudah bertunangan sah dengan Lizza jadi mau bagaimana lagi biarlah rencana mereka berhasil dulu"


"Dia... Memangnya benar kak"


"Memangnya kau tak tau Bram, kalau dia"


"Cepat bawa aku pergi bang menemuinya"


Ekspresi Bram sontak membuat semuanya terlihat kebingunggan, dengan berjalan terburu - buru ia menaiki mobil tersebut.


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2