
Bram yang melihat tak ada pergerakan ia merasa curiga dirinya pun langsung masuk menanyai keresepsionis.
"Maaf kak, apa disini ada seorang wanita yang bernama Lizza menyewa kamar semalam"
"Sebentar pak saya akan mengecek daftar nama pengujung" ketika dilihat dari dokumen data "Maaf pak, disini tak ada atas nama Lizza"
"Sial dia menipuku, kalau begitu terima kasih mbak" dengan cepat ia bergegas pergi kearah parkiran tetapi saat dirinya hendak memakai helm tetiba dirinya melihat dua orang tengah bercumbu mesra didalam mobil, merasa tak asing ia pun langsung menghampirinya.
TOK..TOKK.. mengetuk kaca mobil dengan keras.
"KELUAR KALIAN BANGSAT"
Mereka pun keluar dengan santainya "Apa - apaan sih Bram, kalau kamu cemburu tuh katakan saja jangan begini caranya"
"Bicth tak ada fikiran gue buat cemburuin cewek ****** macam dirimu" dirinya langsung menghampiri Volcer yang baru saja keluar mobil seketika 'BUGGH' berulang kali ia memukuli Volcer "SUDAH KUDUGA KAU AKAN IKUT KERJA SAMA DENGAN MEREKA BRENGSEK"
"CUKUP HENTIKAN BRAM"
"GUE NGGAK AKAN PERNAH HENTIKAN INI SEBELUM KALIAN MENGATAKAN DIMANA KAK OLIV BANGSAT" menarik kerah Volcer "KALAU TIDAK KAU KATAKAN AKULAH YANG AKAN MEMBUNUHMU MALAM INI JUGA PRIA BONGKOTAN AKHHH"
Kepala Bram terasa sakit ternyata disitu Lizza sudah memukulinya dengan basbol milik Volcer didalam mobilnya, berlahan matanya pun kabur berubah menjadi gelap.
"Bangsat nih anak, huh bisa mati gue ditangan nih anak"
"Ck, begitu saja kau tak dapat menangkas pukulan darinya huh! Dasar pria tua"
"Aishh kurang ajar sekali kau denganku!"
"Sudahlah jangan banyak mengancamku seharusnya kau tuh berterima kasih kepadaku karna adanya aku kau dapat terselamatkan bodoh, mending sekarang urus tuh anak ketempat yang sama dengan wanita miskin itu, sekalian nih anak mati bersamaan dengannya"
"Tidak kau suruh aku dah tau"
"Huh!" menghela nafas kasar melihatnya
Sedangkan ditempat lain Kelvin yang begitu cemas dengan kondisi Olivia, disitu semua teman - teman Sam juga ikut sama halnya yang dirasakan Kelvin karna mereka juga ikut mendengarkan kesakitan Olivia disana.
"Kita tidak berdiam begini saja" ucap Rosliana
"Aku tau, tapi kita bisa berbuat apa - apa tanpa ada komando dari bang David Ros" jawab Liam
"Haruskah kita menunggu bang David sampai kak Oliv sekarat begitu, apa kalian mau dia menderita kesakitan disana"
"Sudah Ros, kita semua juga mencemaskan kondisi kak Oliv disana tapi apa daya kalau kekuatan mereka lebih besar, apalagi paman Volcer ikut dalam perencanaan gilanya ini" tegas Alex
"Hiks... Hiks.. Aku tak tega kak Oliv terus tersiksa seperti ini" tangisan Rosliana hanya dapat ditenangkan oleh Harry
"Apa kau tak dapat mendeteksi lokasinya Kel, dari pelacak suaramu itu" tanya Liam
__ADS_1
"Tidak, karna aku hanya merancang untuk merekam setiap situasi berbahaya"
"Sial, apa ada pendeteksi pelacak lokasi lain" tanya Harry
"Ada yaitu jam tangan yang dipakai Bram, yang telah aku berikan padanya saat pertama dia dan kak Oliv pergi, apalagi saat itu dia berjanji untuk melindungi kak Oliv, dengan begitu salah satu jam tangan nya akan tau dimana dia berada disituasi bahaya"
"Kenapa alat itu tidak kau berikan ke kak Oliv juga bodoh" saut Liam
"Aku rasa kak Oliv tak membutuhkannya karna aku merasa masih banyak orang melindunginya, mana aku tau akan terjadi seperti ini"
"Sudahlah ini juga sudah terlanjur terjadi, sekarang kita hanya menunggu kabar dari bang David, dan Bram yang katanya mencari keberadaan Olivia" kata Harry
"Bagaimana kau tau" tanya selidik Liam
"Barusan aku menghubungi bang Tomi untuk melihat perkembangan pencarian kak Oliv"
Mereka semua langsung kembali kepikiran masing - masing. Namun berbeda halnya Sam yang berjalan santai ditaman belakang istana, tetiba tak sengaja dirinya mendengar perdebatan serta tangisan seseorang, ketika dihampiri ternyata disitu ada Keyna yang tengah menangis dibawa ayunan.
"Hiks.. Hiks.."
*Keyna ada apa denganmu?"
"Pangeran" dengan cepat mengusap airmatanya "Aku tidak apa - apa"
"Tak perlu kau tutupi kepadaku, sekarang cepat katakan kepadaku apa yang terjadi padamu, apa ada hubungannya dengan pernikahan paksaan ini" Keyna hanya menatap dirinya dengan diamnya "Sudah kuduga pasti ada kaitannya, memangnya kenapa apa kau tak menyukainya, kalau memang kau tak suka mengapa kau menerimanya kalaupun kau menolak aku pun bahagia karna aku tak ingin pernikahanku tejalin dengan orang yang tak kucintai. Apalagi berkaitan pasangan seumur hidup, dan matiku"
"Ada, sayangnya dia mati ditangan keluargaku sendiri"
"Maafkan aku pangeran, aku tak tau"
"Tak ada masalah, hanya saja batalkan sebelum dirimu menyesal seumur hidup hanya hidup penuh penekenan"
Sam pun langsung melangkah pergi, tetapi dirinya dihentikan oleh tangan kecilnya.
"Maaf pangeran, aku begitu ingin sekali tak menerima perjodohanku ini tetapi aku tidak ingin melukai kekasihku yang tersiksa, yang mungkin terenggut nyawanya seperti kekasihmu itu hikss... Rasanya kutak berdaya pangeran hiks.. Hiks..."
"Perjuangkan sebelum dia harus hilang dari bumi ini karna kemurkaan tekenan keluargamu"
"Apa pangeran bisa dapat membantuku"
...----------------...
Keheningan ruangan, secara mendadak kepanikan dirasakan semuanya, karna teriakan Olivia yang membuat mereka tak dapat membantunya.
"BRAM, KENAPA KALIAN MEMBAWANYA JUGA BUKANKAH YANG KALIAN INCAR ITU DIRIKU, KENAPA HARUS DIRINYA LEPASKAN DIA" dimana lelaki yang terkapar lemah
"Brisik, diam atau kulukai dirimu sekali lagi" ucap Lizza
__ADS_1
"Cepat kalian ikat pria ini" pinta Volcer
"Baik bos"
"Ayo sayang kita tinggalkan mereka, biarlah besok menjadi umpan ibuku"
"Kau benar daddy, mari kita lanjutkan hal tadi" tersenyum penuh arti
Keduanya memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut, namun teriakan Olivia tak membuatkan hasil.
"LEPASKAN DIA AKU MOHON, BEBASKAN DIAA... HIKS.. HIKS..."
"DIAM!!" bentak pria bertubuh besar tersebut "LEBIH BAIK KAU KUMPULKAN SAJA ENERGIMU UNTUK AKHIR NYAWAMU BESOK HAHAHA, ayo cabut" memerintahkan temannya
"Hikss... Hiks... Kenapa seperti ini hikss..."
"Kak~" nada lemas "Don't cry okay, kita akan baik - baik saja balah bantuan akan datang kepada kita. Karna aku telah memberikan mereka sinyal kepada om Daniel, kakak tenang saja ya sekarang apa kakak baik - baik saja"
"Aku tidak apa - apa niel"
"No, kakak terlihat tidak baik - baik saja, dan lihat ditubuh kakak sekarang penuh banyak lebap, serta lepuhan ditangan kakak, apa yang lakukan padamu kak"
"Hanya mendapatkan pukulan dari mereka, serta tetesan lilin yang dituangkan oleh Lizza itu saja, dan ini tidak sebanding dirimu Bram lihat wajahmu penuh darah, apa yang sudah mereka lakukan padamu"
"Kurasa Lizza telah memukul kepalaku saat aku menghajar Volcer, entah ia memukul kepalaku dengan apa yang ku ingat Volcer tersenyum remeh kearahku"
"Begitu ya"
Seketika keheningan terjadi, karna Olivia tak tau lagi harus berbuat apa.
"Bram" hanya mendapatkan sautan deheman darinya "Apa usaha kita akan sia - sia"
"Kak, apa maksudmu usaha kita pasti akan berhasil aku yakin itu"
"Hmm.. Kalau memang berhasil aku sangat senang Bram, walaupun Sam harus menikah dengan wanita lain yang terpenting dia bahagia bersamanya, dan aku juga sudah merasa puas karna pembalasan orang tak berdosa telah terbalaskan nantinya"
"Cukup hentikan omonganmu kak, apa kau ucapkan itu salah. Seharusnya kau harus berjuang sekali lagi demi Sam kak"
"Aku sudah lelah Bram, biarlah kita bahagia didunia masing - masing, dan biarkan ketenangan diantara kalian segera berakhir tanpa adanya kekacauan yang telah kubuat" dirinya tersenyum menatap langit berlahan matanya tertutup, dan kepalanya berlahan terjatuh.
"Apa maksudmu kak, ini bukanlah salahmu" tak ada sautan "Kak.. Kak... KAK OLIV... KAK NGGAK LUCU TAU KAK... KAK OLIV..."
Teriakan Bram, seketika mereka semua panik dengan terburu - buru menghubungi David serta Tomi, Daniel. Sedangkan disitu Alex langsung memerintahkan rencana sendiri demi menyelamatkan mereka berdua walaupun dengan kondisi cemas, takut yang terlihat diwajah anak - anak tersebut.
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1