
Setelah semua berada dirumah sakit, melihat Lizza sudah menangis jegukan membuat kepanikan istri Volcer semakin parah.
"Ada apa dengan anakku"
"Bi Sam~ hikss..."
"KAU APAKAN ANAKKU HAH! HANYA AKU TINGGAL SEBENTAR KAU SUDAH MEMBUAT ANAKKU KAMBUH LAGI"
"Ti - tidak, aku tidak melakukan apapun bi"
"Bohong, mana mungkin anakku akan kambuh kalau tidak kau membuatnya syok. Jangan mencoba membohongiku ya, aku ini ibunya jadi lebih tau daripada dirimu"
Lizza langsung terdiam, tak menangis sama sekali lalu menatap sinis kearah ibu Sam, dimana membuat semuanya menatap aneh kearahnya,
"Padahal aku hanya mengatakan kalau Olivia itu sudah mati, dan aku nanti dapat hidup bahagia bersamanya tanpa gangguan orang miskin itu apalagi nanti aku, dan dia akan menjadi pasangan terbaik hehe.. Aku benar kan bi"
PLAKK...
"KURANG AJAR SEKALI KAMU MENGATAKAN HAL ITU KEPADA ANAKKU, SUDAH TAU DIA TAK MENYUKAIMU KENAPA KAU MENGGATAKAN HAL ITU, DIMANA OTAKMU HAH!"
"Kenapa kau jadi marah kepadaku, seharusnya kau tanyakan saja sendiri kepada anakmu kenapa dia begitu bodoh sudah tau mati kenapa harus dicari" melangkah maju tepat dihadapan wajah ibu Sam "Kau tau bi, wanita yang dia cintai itu sudah mati seharusnya kau bilang sejujurnya kepada dia, biar tuh orang cepat sadar, dan dapat langsung menikah denganku"
"Dasar wanita gila, tidak seharusnya kau mendekati anakku stres sepertimu, awas saja sampai Sam sadar aku tak akan pernah mau menemuinya denganmu ini janjiku, jadi pergi san ahh"
Lizza sudah lebih dulu mencekik leher ibu Sam, David terkejut melihat lincah sekali wanita ini melakukan aksinya.
"YAK LEPAS KAN ISTRIKU" "HEH LEPASKAN TANGANMU DARINYA"
"Huh! Aku tak akan pernah melepaskannya karna aku tidak akan pernah biarkan orang yang menghalangi cintaku itu hidup walaupun dia ibunya sendiri"
Semua orang berusaha melepaskan tangan Lizza, tetapi tak membuahkan hasil apapun dengan marah Volcer langsung mencekik balik Lizza dengan keras, sambil mendorong tubuhnya ketembok.
"Sebelum kau membunuh istriku, akulah yang akan bisa membunuhmu sekarang juga" penuh emosi
"Paman - paman lepaskan dia, yang ada dia akan mati paman" ucap David
"Biarkan saja dia mati, karna dia anak dan istriku kesakitan"
Erick yang jengah melihatnya dia langsung mendekati saudaranya, dan menotok tangan Volcer menjadi kaku.
"Uhuk... Uhuk..."
__ADS_1
"APA YANG KAU LAKUKAN HAH, BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA"
"Kau pergilah dari sini, sebelum kau mati secara sia - sia"
"Uhukk.. uhukk.., lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada kalian"
Setelah Lizza pergi dengan penuh kesakitan, Erick langsung menotok kembali saudaranya.
"Sebelum kau bertindak untuk meleyapkan wanita itu lebih baik kau lindungi dulu istri serta anakmu, sana tenangkan dia"
"Hiks... Hikss... Ada apa dengan wanita itu"
"Sayang, apa lehermu sakit"
"Hiks... Hiks.. ini tidak sesakit Sam didalam yah"
"Sam akan baik - baik saja sayang" memeluk istrinya demi menenangkannya
Erick langsung menepuk pundak David, dan membisiki nya. Sedangkan semua masih tengah dilanda keterkejutan barusan beserta menunggu kabar dari dokter yang menangani Sam yang tak kunjung keluar.
Tak lama kemudian, suster pun keluar dengan memanggil orang tuanya untuk masuk kedalam. Sesampai didalam betapa terkejutnya mereka melihat Sam yang dibantu oleh beberapa alat ditubuhnya serta alat pernafasan.
"Kurasa kondisi pasien sudah begitu amat melemah, kami sudah semaksimal mungkin untuk memberikannya obat, jalan satu - satunya adalah motivasi dari salah satu keluarga atau rekan temannya karna bisa saja obat yang disuntikan akan berujung sia - sia" (mohon maaf kalau salah dalam hal pengobatan rumah sakit ini hanyalah sebagaian hanyalah cerita)
"Baik sayang, kamu tunggu dulu ya disini aku akan meminta tolong pada David"
Ketika Volcer keluar, semua orang terlihat panik melihat raut ketakutannya.
"Apa yang terjadi dengan Sam, paman"
"Aku minta panggilkan Olivia kemari, aku mohon Vid"
"Aku sudah menghubungi Olivia paman, kemungkinan sekarang dia dalam perjalanan kemari paman"
"Terima kasih Vid"
"Jangan berterima kasih kepadaku paman, berterima kasihlah pada ayah, karna dialah yang menyuruhku untuk memanggil Olivia kemari" menatap kearah Erick yang menatap kosong kearah jendela luar
Volcer menghampiri Erick, lalu dia berdiri tepat disampingnya.
"Makasih Rick, kau sudah membantuku untuk memanggil Olivia kemari, hanya saja aku masih belum bisa menerima tuduhanmu itu kalau tanpa ada bukti nyata yang menujuk kearah ibu, kalau memang ibu yang membunuh ayah kita, aku janji akan memberikan keadilan pada ayah. Tapi aku tak cukup kuat apalagi dirimu, dan Sam saja yang mengetahui dikejadian kematian ayah. Itu tidak cukup kuat untuk menghukum salah satunya, apalagi ini juga masalah keadilan negara kita, aku tak mau salah dalam tuduhan tanpa adanya bukti itu saja"
__ADS_1
"Itu terserah padamu, aku hanya berharap agar keadilan itu cepat datang, agar kau sadar siapa diantara kita yang benar. Karna wanita itu cukup pandai dibandingkan dirimu maupun aku untuk mencari bukti nyatanya, sekarang hanyalah alur alam saja yang dapat menujukkan dimana keadilan itu berada"
Volcer cukup hanya terdiam mendengar tuturan Erick, tetapi ia dikejutkan oleh suara wanita yang dirinya kenali.
"Maaf aku terlambat apa disini aman"
"Hmm, sana masuk"
Wanita berambut haircut bob, berkacamata bulat, dan tahilalat dihidungnya serta gigi berkawat membuat kebinggungan seorang Volcer. (outfitnya sesuai gambar dibawah sendiri ya)
"Siapa dia? Kenapa kalian ijinkan dia masuk keruangan anakku"
"Paman tenang saja dia Olivia yang sedang menyamar, pintar bukan tuh anak kalau menyamar"
"Benarkah"
Demi mastikan dia memasuki ruangan disitu istrinya juga kebinggungan wanita yang tengah menatap Sam penuh kesedihan.
"Kamu siapa?" tanya ibu Sam
"Bibi ini aku Olivia"
"Hah! Mana mungkin dia"
"Hehe.. Bibi tenang saja, nih aku buka" Olivia mulai melepas tahilalatnya, dan kawat yang dirancang seperti bongkar pasang jadi bagi siapa yang memakainya seolah - olah dia memakai behel padahal tidak sama sekali "Bagaimana?"
"Kamu ini ya, bisa - bisa nya pintar sekali"
"Hehehe... Maaf, kalau tidak begini aku akan dalam bahaya dua orang itu"
"Tidak apa - apa nak, yaudah lebih baik kita keluar dulu ya nak. Bisakan kau temani Sam" pinta ibu Sam membuat Olivia bersemangat "Kita keluar dulu ya nak"
Saat semua keluar, Olivia kembali memasang penyamarannya takut akan terjadi yang tak dia inginkan.
"Hai Sam.. ini aku bidadari hatimu telah datang, kau tau aku ingin sekali curhat banyak kepadamu tapi apa mau mendengarkan ku disaat kau terbaring seperti ini, okay tidak masalah aku akan banyak bercerita kepadamu agar kau tidak kesepian, dan cepat pulih katamu kau akan menikahiku jadi cepat bangun yah ah.. Bodoh kenapa aku seperti ini, hmm sudahlah ayo sini aku ceritakan hal yang lucu untukmu.... "
Olivia begitu antusias menceritakan kisahnya tanpa terasa waktu mulai berganti. Olivia yang awalannya hanya tertidur tetiba terusik oleh suara keributan diluar, dengan mata terbuka dia melihat kalau dirinya masih dirumah sakit, Sam yang masih terbaring lemah membuatnya hanya dapat menghela nafas, tapi ia begitu penasaran siapa pagi - pagi yang membuat keributan diluar ruang pasien dengan langkah cepat ia membuka pintu tersebut. Seketika pertengkaran mereka terhenti, dan semua langsung menatap kearah Olivia ia hanya bisa dapat terdiam karna nenek beserta Lizza berada disitu, sedangkan ekspresi yang lain terkejut melihatnya.
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...