
"Ah ini bibi, lupa kalau tas kecil bibi ketinggalan nah sudah ketemu" menggambil tasnya "Apa tidak apa - apa kau berada disini Liz"
Disitu ibu Sam tak hanya bertanya tetapi melainkan mengamati lakmat bekas ****** dilehernya benar saja ada banyak disitu namun ditutupi oleh rambutnya.
"Tidak masalah kok bi, selagi aku dapat melihat perkembangan Sam disini"
"Baguslah, kalau begitu bibi, dan paman akan pergi dulu ya Liz"
"Iya bi, hati - hati dijalan" setelah melihat kedua nya pergi dirinya merasa sedikit lega "Huh beruntunglah tuh orang tua tidak mendengarkan ucapanku tadi"
Berbeda halnya ibu Sam yang saat berada dimobil pribadi suaminya disitu ia terus menerus terdiam.
"Sayang ada apa denganmu"
"Kemana ibu?"
"Dia sudah pergi lagi katanya akan melakukan penerbangan keKorea entah apa yang akan dia lakukan disana"
"Bagus, coba kau tanyakan kepada bawahanmu apa ibu benar - benar sudah terbang"
"Sebentar, akan kuhubungi tapi kenapa sih sayang"
"Sudah turuti saja"
Ayah Sam pun langsung mengchat bawahan nya kalau benar - benar memastikan ibunya sudah pergi atau belum.
"Hmm ibu sudah melakukan perjalanannya"
"Bagus, sekarang tunjukkan aku dimana sekarang Olivia berada"
"Kenapa kau"
"Aku tau dia berada disinikan, ayo cepat tunjukan aku dimana anak itu sekarang"
"Apa yang akan kau lakukan sayang, bawahan Lizza, dan ibu tengah mengawasi kita"
"Aku tau mas apa yang harus aku lakukan"
Mobil mereka pun berhenti tepat dihotel penginapan David disana ibu Sam, langsung memasuki ruangan yang dimana ayah Sam memilih berbincang diluar bersama Tomi maupun David diluar kamar, ternyata itu sudah diatur oleh ibu Sam agar para pengawas nenek tidak mencurigai mereka.
"Olivia" "Bibi..."
Seketika keduanya saling berpeluk erat serta menangisi kondisi Sam saat ini.
"Tidak aku sangka putri cantik ku ini masih hidup, dan berada dinegara yang sama bersama Sam, entah apa ini yang dinamakan jodoh"
"Semoga saja bi" saut Kimmy "Oh ya apa yang membuatmu ingin menemui Olivia bi"
"Apa kau tau kalau Lizza itu begitu ah jijik sekali aku ingin menjadikannya menantuku, aku tak mau kalau Sam akan menikah dengannya"
"Kami sudah tau bi, semua kebusukannya"
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tidak tangkap dia cantik"
"Karna aku belum menemukan bukti dari ibu paman Volcer sendiri, karna dia yang paling kuat diantaranya aku tak ingin dia semakin mempermainkan cintaku pada Sam bi, aku tak tau harus bagaimana jalan satu - satunya mencari bukti tapi bibi tenang saja aku beserta yang lain sudah punya rencana"
"Apa rencana kalian" mendengarkan semua cerita Olivia "Kurasa itu terlalu sulit nak"
"Makanya aku meminta bantuan bibi, dan paman agar mereka dapat berhasil mencari buktinya"
"Begitu ya" Olivia menyakinkannya dengan menganggukkan kepala "Tapi apa tidak terlalu lama lagi kalian harus mencari buktinya, apalagi sayang kau tau sendiri orang tak akan sembarang masuk kesana"
"Makanya bi, aku sudah menyusun rencana lain lagi yaitu..." menceritakan rencananya "Maaf bi terpaksa aku harus melibatkan Sam, aku sudah fikirkan itu baik - baik kok bi ini tak akan melibatkan nyawa dia kok, tapi kalau bibi tidak mau aku tidak masalah"
"Huh! Bibi sebenarnya setuju saja tapi apa ayah Sam tau tentang ini"
"Setelah ini beritahukan kepadanya, lalu bibi langsung cepat putuskan, dan jangan lupa telfon aku saja langsung, karna dengan begitu aku langsung menugaskan mereka"
"Hmmm" menganggukkan kepala
Tak lama wanita itu berpamitan kepada kesemuanya, lalu saat menarik suaminya untuk kembali kehotel. Raut ayah Sam begitu curiga dengan keterdiamannya.
"Apa yang terjadi didalam sayang"
"Hmm sayang apa kau begitu mendukung setiap rencana Olivia ini"
"Tentu saja, karna aku sudah berjanji kepada anak itu disaat dirinya terakhir bertemu dengan ibu"
"Maksudmu sayang"
"Jadi waktu itu tanpa sengaja aku mendengar perbincangan ibu dengan Olivia, saat itu aku mulai mengerti begitu buruknya ibuku memperlakukan cucunya untuk tak mendekati wanita yang dicintainya. Makanya aku langsung berbincang sedikit dengan Olivia, saat itu aku mulai mengenal akan seorang Olivia, dan sekalian menawarkan diri untuk membantunya" "Kamu tau sayang, dari situ tuh aku mulai menyadari loh, kalau pantas saja anak kita begitu sangat mencintainya, anak ini begitu dewasa, dan santai dalam menghadapi setiap permasalahan. Lantas saja sayang anak kita itu mulai berani menentang neneknya sendiri, karna dia tak ingin kehilangan first lovenya itu, yah dia semacam aku saja yang memaksa mereka merestuiku untuk menikahimu"
"Hahaha... Yah sampai ayahmu dulu pernah bilang kalau anaknya tuh keras kepala sekali ingin cepat - cepat menikahiku ya kan, katanya takut aku diambil oleh pria lain benerkan aku"
"Hmm yah~ aku akui itu" wajah muramnya
"Hehe... Jeleknya suamiku, udah ah jangan cemberut gitu inget umur yah, nggak pantes kelihatannya. Hehehe.. Oh ya sayang bukankah dulu tuh ibumu tidak merestuiku ya?" Ia menganggukkan kepala "Tapi kenapa langsung dia mulai mensetujuiku, apa waktu itu kau juga sekeras anakmu sekarang"
"Ehmm entah sayang, tapi kalau kau samakan aku dengan anak kita tuh beda loh karna dia tidak senekad sepertiku dulu. Kau tau aku tuh nekad banget tau kalau sampai mereka tak merestuimu aku akan keluar dari nama kerajaan saat itu juga, karna posisi waktu itu tidak salah Erick tak mau melanjutkan tahta kerajaan"
"Sama saja"
"Beda sayang"
"Ah udah jangan mengeles kau ini! Hih.. Udahlah sekarang ayo kita pulang kehotel"
"Ih dibilangin aku tuh beda" malah dia dibalas tatapan tajam dari istrinya "Baik~ sayangku"
Saat mereka sampai dihotel, keduanya hendak masuk betapa terkejutnya mereka melihat ada Erick disana bersama dengan istrinya.
"Loh kalian?"
"Iya kami ingin menemui kalian" sontak kedua orang tua Sam saling menoleh, dan berpandangan seolah mereka tak mengerti
__ADS_1
"Mari kita berbicara dilestoran hotel" kata Erick mendahului jalannya
Dimeja berempat begitu sangat canggung dengan situasi seperti ini, apalagi setelah kejadian kematian kakek hubungan kedua saudara ini begitu amat renggang tetapi ketidak anak beserta istri mereka.
"Apa kalian sedang menggunjunginya" tanya ramah istri Volcer
"Benar, sekalian liburan dengan cucu, dan menantu" jawab ramah istri Erick yang ikut tersenyum
"Apa, anak buah tuh wanita tua masih mengeliling kalian saat ini" tanya sinis Erick
"Siapa yang kau katakan wanita tua, dia itu juga ibumu tak pantas kau mengatainya"
"Huh! Masih tetap sama, orang yang selalu membela seorang pembunuh sepertinya"
"Kurang ajar! Dia tuh ibumu bodoh" sang istri Volcer hanya menggandeng suaminya untuk menenangkannya "Huftt.. Untuk apa kau datang menemui kita"
"Hah.. Sebelum aku menjawab katakan sekali lagi, apa anak buah wanita itu masih membututi kalian? Cih.. Kurasa dugaanku memang benar kelihatan sekali dari raut kalian, aku minta cepat kalian sekap mereka" sambil menekan alat hitam ditelinga kirinya
Keduanya mengkerutkan alis mereka, ternyata dari beberapa arah anak buah ibunya telah disuntik oleh beberapa orang yang tengah menyamar seperti seorang bawahan Erick.
"Apa yang kau lakukan"
"Demi keamanan Olivia" mereka berdua terdiam "Aku bertujuan menemui kalian itu juga karna paksaan dari Olivia, jad..."
"Iyah, saya saja yang bicara jadi begini Olivia meminta kami untuk melanjutkan rundingan rencana Olivia yang sempat kalian ketahui" saut istri Erick
"Aku tidak tau" jawab Volcer
"Maaf suamiku memang belum tau, karna Olivia hanya memberitahuku, dan aku belum memberitahunya selama diperjalanan tadi"
"Yasudah aku akan memberitahumu kalau Ol..."
"Tunggu, sebelum kamu menjelaskan rencana kita aku ingin memastikan, karna aku tak mau ada penghianat didalam rencana kita ini sayang, ini juga demi pelindungan untuk Oliv, jadi aku katakan kepada kau saja dirimu masih memilih Oliv atau wanita tua itu"
Secara menenganggkan dari tatapan mereka berdua begitu sangat sengit, dan menakutkan.
"Aku sudah berjanji kepada anak itu untuk membantunya ini juga demi anakku yang berjuang mendapatkan cintanya"
"Hehehe... Kalau bukan anakmu yang akan mati itu, tidak mungkinkan kau akan mau bukan ikut dalam perjanjian basimu kepada Oliv"
"Cukup! Bisa tidak kau lebih berbahasa baik, jangan kurang ajar kau menggatai anakku"
"Huh! Aku tak akan pernah berbahasa baik, dengan orang yang tak pernah mempercayai setiap orang terdekatnya, apalagi orang itu anaknya sendiri tidak dia percayai, padahal dia ikut dalam kesaksian ibunya yang seorang pembunuh, kurasa kau sudah tau bukan jadi stop jangan berbohong lagi kepada istrimu, kasihan dia yang tak mengetahui apapun rahasia suaminya yang menutup - tutupi kejahatan ibunya sendiri" tersenyum smirk "Dasar pria bodoh, maunya kau melindungi ibu pembunuhmu itu yang ada kau dan anakmu lah yang akan diperalat olehnya jadi lebih baik kau menjauhinya sebelum penyesalan setelah nyawa istrimulah yang sebagai bahan dia berikutnya"
BRAKK.. Emosi Volcer langsung terpancing oleh perkataan Erick, dimana kedua istrinya seketika panik, dan binggung, apalagi melihat keduanya sama - sama tersulut emosi. Ketika Volcer hendak memukuli Erick seketika terhentikan oleh suara teriakan Daniel yang berlari terburu - buru kearah mereka.
"HENTIKAN!! KALIAN INI SUDAH TUA JANGAN MEMPERMALUKAN DIRI KALIAN, SEKARANG BUKAN SAATNYA UNTUK BERTARUNG, PAMAN, BIBI CEPAT KALIAN KERUMAH SAKIT SAM KAMBUH"
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1