
Kelvin yang saat itu memainkan laptop miliknya tetiba mendengar, dari penyadap rahasia yang sengaja dipasangkan keanting - anting kedua wanita tersebut mendengar kalau mereka akan melakukan aksinya dikala pentang, beda jam
Dengan serius dia mendengar setiap percakapan ketiga orang tersebut, namun tetiba dirinya terdiam seketika dirinya berdecih "****"
Ia dengan cepat menghubungi om Daniel namun tak diangkat sama sekali, lalu ia beralih menghubungi bang David.
"Halo apa Kel"
"Bang gawat bang"
"Gawat kenapa hah?"
"Bang, kak Oliv berhasil ditangkap oleh mereka, dan sekarang aku gatau bibi Yuan berhasil sampai rumah atau belum"
"Bentar - bentar ku hubungin Daniel dulu"
"Nggak bisa bang, nih udah berkali - kali kuhubungi tuh orang"
"Sial, yaudah sekarang gue akan hubungin Bram dulu disana"
"Baik bang, gue akan pantauin kak Oliv dari sini bang, sekalian hubungin anak - anak yang lain"
"Bagus, tapi sekarang jangan menggambil tindakan dulu karna bisa saja tuh orang udah mempersiapkan diri, ku matiin dulu telfonnya"
"Siap bang"
"Huh!" seketika ia menghubungi Bram sama tak ada sautan sama sekali "Anj** kemana sih tuh orang semua arghh"
Ternyata ditempat rumah sakit, disana Daniel maupun Bram tengah yang menunggu Yuan pulih dari pingsannya karna mereka mendapatkan kabar dari pihak kepolisian kalau seorang wanita yang pingsan didalam mobil, melihat tanda pengenal pihak kepolisian pun langsung menghubungi Daniel.
"Kau akan kemana" tanya Daniel pada Bram yang tak sabar ingin pergi dari sana
"Mencari kak Oliv"
"Jangan bodoh, kita tidak tau dimana dia berada. Lebih baik kita tunggu saja Yuan sampai sadar"
"Tenang saja, karena aku sudah tau dimana kak Oliv berada"
"Darimana"
__ADS_1
"Lizza, karna aku tau dimana wanita itu berada sekarang dengan begitu aku dapat menyelamatkan kak Olivia disana"
"Tidak, jangan bermain gegabah Bram, karna saingan kita tidak hanya satu sampai dua orang saja, lebih baik kita bertindak secara berhati - hati dulu Bram"
"Om, aku tidak bisa kalau berdiam diri seperti ini, karna aku tau bagaimana tindakan kejamnya Lizza Om"
"Aku mohon jangan bertindak semaumu Bram! Aku tau kau mengkhawatirkan nya tapi kita tidak bisa bermain sendiri"
"Om, aku maaf kurasa diriku harus menyelematkannya, ini adalah pendeteksi dimana aku berada om, kalau sampai tombol ini berwarna biru maka aku dalam zona berbahaya. Kuharap kau datang dengan membawa pasukan lain, karna aku hanya bisa dapat mengandalkanmu Om" setelah memberikan sebuah jam tangan pendeteksi, Bram tanpa banyak bicara ia langsung berlari meninggalkannya
"Tapi nak... Aishh.." ketika ia mengambil ponselnya ternyata ponsel miliknya mati "Ckk kenapa bisa mati begini sih" dengan cepat ia kearah resepsionis rawat "Maaf apa boleh saya meminjam telfonnya, karna saya ingin menghubungi teman nya ini sangat darurat sus"
"Baik silahkan tuan"
"Terima kasih" beruntungnya Daniel menginggat nomor ponsel milik David "Halo, Vid ini aku Daniel sorry ponselku saat ini mati, dan keadaan istriku lagi pingsan tak kunjung bangun di rumah sakit. Aku tak tau lagi dimana tempat Olivia disekap oleh mereka, aku rasa mereka sudah tau rencana kita, Vid. Apalagi parahnya lagi Bram pergi mencari Olivia melalui Lizza, Vid ku paksa dia untuk tak pergi tetap saja dibersikekeh untuk menyelamatkannya. Apalagi dia memberikan aku jam tangan pendeteksi dirinya berada, dia hanya memintaku untuk mencari bantuan kalau dia terjadi masalah ditengah pertolongannya"
"Huh... Baiklah bang, aku minta kau tetap tenang sebentar lagi aku akan terbang kesana sebari membawa anak - anak"
"Tunggu, tidakkah itu akan semakin parah kecurigaan mereka. Kuharap kau beserta Tomi saja kemari, karna aku mendunga kalau ini pasti ada penghianatan diantara kita, karna tidak ada yang tau selain kita Vid, kuharap kau mengerti apa yang kuucapkan ini. Setelah kau berada disini mari kita rundingkan bersama ku tutup telfonnya"
David yang saat itu hanya bisa terdiam, dan mencerna kalau ungkapan Daniel memang ada benarnya dengan begitu ia akan menurutinya, dirinya langsung secara cepat menghubungi Tomi untuk ikut dalam pencarian Olivia.
Sedangkan ditempat lain Bram yang menunggu gerak gerik Lizza pun hanya berdiam diatas motor, sebari melihat kearah apartement mewah tersebut. Menunggu 30 menit an tak ada gerak gerik pun Bram memutuskan untuk turun, namun malah hasilnya ia mendapati Lizza yang pergi menggunakan mobil andalannya, dimana Bram sudah tau plat serta mobilnya Lizza karna ia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu dinegara ini, demi keamanan di situasi kekacauan seperti hari ini.
Langit tak terasa sudah terang, Bram yang saat itu tertidur diatas motor, seketika tersadar kalau ia telah menghabiskan tidur semalam diparkiran, melihat Lizza yang tak kunjung keluar membuatnya semakin geram ingin mengacam wanita tersebut, namun ia teringat untuk tak bertingkah gegabah dengan begitu dirinya tetap tenang untuk kembali menunggunya.
Lain halnya secara mengejutkan 'BYURR' siraman keras yang dilakukan seorang wanita berbaju seksi tersebut ke orang itu membuat mata yang berawal terpejam, seketika terbuka.
"Uhukk..uhukk.. Ishh" menahan perih yang tepat diwajahnya, dan juga dibagian tubuhnya yang terkena siraman
"Akhirnya tidak sia - sia ya aku membangunkan mu haha..." ucap Lizza
Mungkin dari kalian terkejut mengapa bisa Lizza berada disini, ternyata dia sudah mengetahui kalau Bram membuntutinya dengan begitu ia meminta tolong kepada wanita tua tersebut untuk menyuruh bawahannya menjemput dirinya, tepat didepan pintu hotel agar Bram tidak tau kalau ia memang ingin menjebak lelaki tersebut, dengan begitu ia semakin leluasa menyiksa Oliva.
Olivia yang posisi saat itu baru tersadar ia merasa seperti sedang digantung dengan berlahan ia menyadari kalau memang kedua tangannya dirantai lalu dibentangkan kekanan kiri sehingga ia tergantung dengan kaki yang sedikit menganggkat.
"Apa kabar Oli-via" mengeja namanya "Sudah lama aku tak bertemu dengan dirimu wanita miskin, kelihatannya kau begitu bahagia ya disini" tersenyum penuh arti "Aku dengar kau mencoba untuk memanipulasi kematianmu ya? Hahaha... Terlalu polos, dan bodoh dirimu, bagaimana bisa kau tak tau kalau pria yang kau ajak kerja sama denganmu itu ialah seorang pria yang licik, dan juga brigas. Jadi bagaimana bisa kau terjebak oleh omongannya haha..."
Lizza yang saat itu berjalan berlahan mendekatinya sambil mengatakan "Kau tau, sebenarnya aku sangat kesal sekali kepadamu karna dirimulah aku tak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, dan juga kehilangan orang yang kusayangi. Makanya aku sangat senang wanita tua itu memberikan ku kesempatan untuk menyiksamu hahaha" tawa renyah sebari meneteskan lilin ketangannya yang terpadat beberapa luka
__ADS_1
"AKKHHHH... HENTIKAANN...HIKSS...HIKSS..." tangisan Olivia membuat Lizza semakin senang untuk memberikan dia pelajaran
"Apa itu sakit? Kurasa tidak, yakan ya kali kesakitan tidak mungkinlah, apalagi kulitmu ini masih mulus begini jadi lebih baik semakin kusiksa dirimu kurasa akan semakin bagus kau menderita haha"
"Aku mohon AKHHH" dimana Lizza semakin banyak meneteskan lilin itu dibeberapa luka yang masih berdarah
"CUKUP HENTIKAN!!" Suara tersebut menghentikan aktifitasnya
"Ck, untuk apa kau disini pria tua menganggu saja. Sudahlah lebih baik kau pergi saja dari sini" ucap Lizza kepada ayah Sam
"Tidak, aku hanya memberikan dia waktu kata terakhir hidupnya saja, sebelum hidupnya berakhir mengenaskan"
"Eitz... Tidak bisa, dia tidak kuijinkan mati dulu karna aku ingin sekali menyiksanya bodoh"
"Beraninya kau mengataiku dengan perkataan kotormu itu wanita ******"
"Ckk, apa katamu heii ingat kau juga tak jauh dariku, ingatnya kau juga sama - sama menikmati permainanku bukan" sebari menggodanya
"Aishh.. Diamlah, aku ingin merekam dia dulu setelah itu kusiksa dirimu"
"Huh! Terserah kau sajalah" sebari memutar kedua bola matanya
"Hai Olivia, bagaimana apa kejutan ini begitu mengejutkan bagimu" ia hanya menatap tajam kearahnya "Aishh.. Janganlah kau menatapku seperti itu karna, aku tidak ingin kau mati dengan tatapan mengenaskan nak. Lebih baik kau sampaikan pesanmu direkaman ini, apalagi Sam tidak akan tau dirimu masih hidup nak, jadi lebih baik cepat katakan apa pesan terakhirmu" tetap tak ada jawaban
PLAKK... Volcer dengan kejamnya menampar dirinya dengan menggeluarkan banyak darah dibibirnya.
"Ayo katakan" tetap tak ada jawaban
BUGGHH.. Ia pun langsung melayangkan pukulan diperutnya dengan begitu keras.
"AKKHH.. UHUKK..UHUKK" batuk mengeluarkan darah
"Dasar kau membuang buang waktuku saja, cepat katakan atau kau tak ingin berkata - kata lagi, begitu yah baiklah selamat menjalankan penyiksaanmu saja huh dasar wanita menjijikkan"
"Apa semua ini akan berakhir hiks...hiks..." gerutunya yang sudah begitu lemas
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1
Bonus pict photo :