
Tak terasa toko pun tutup, semuanya pun memutuskan untuk kembali pulang. Namun ditengah perjalanan Olivia yang amat kedinginan tetiba memeluk Sam, dimana sipengendara hanya terkejut melihat sikapnya.
"Dingin"
"Apa kakak kedinginan"
"Hmm"
"Masukkan saja tangan kakak kekantong jaket ku seperti ini" sebari menuntun tangannya kearah kantong jaketnya
"Makasih Sam, oh ya Sam bukankah sebentar lagi kau akan memasuki hari skripsi mu"
"Iya memangnya kenapa kak"
"Berarti kau akan bekerja dimana"
"Ditoko kakak pastinya"
"Jangan dong"
"Lo memangnya kenapa kak"
"Dengerin kakak baik - baik ya tampan, kau ini seorang pria dewasa sekarang, pasti ada masa impian yang pastinya ingin kau capai bukan"
"Tapi impianku hanya mendapatkan mu kak"
"Hah? Apa Sam"
"Ah maksudku impianku sudah ada didepan mata kok kak jadi kakak tenang saja, aku kalau menikah dengan kakak semua pasti sudah terjamin ada kok kak"
"Itu pastinya hasil dari kekayaan orang tuamu kan, kalau memang ucapanku ini benar maka aku menolak menikah denganmu apalagi suami tak punya masa depan ya mana mau aku"
"Kata siapa aku tak ada masa depan kak, ada kok"
"Dengar ya walaupun kita sudah menikah, dunia kehidupan ini tiada yang tau gimana naik turunnya pasti ada jadi sebagai jaminan simpanan hasil kerja keras mu itu bisa aku terima bukan dari orang tuamu tetapi dari usaha dari keringat mu sendiri"
"Jadi kakak ingin aku bekerja seperti apa?"
"Kau suka tidak bekerja dikantoran"
"Membosankan" gumamnya
"Hah? Oh ya Sam kau tau dulu aku pernah lo punya impian besar tau"
"Apa itu kak" sebari memelankan kendaraannya
"Aku tuh dulu, pernah ada keinginan ingin bekerja disebuah perusahaan ternama dinegara ini kau tau apa nama perusahaannya"
"Apa itu kak"
"Namanya VOX" seketika motornya oleng "Eh - eh ada apa Sam?"
"Ah tidak ada kak, maaf aku sedikit terkejut kakak mengingginkan perusahaan besar, apa kakak sadar kalau perusahaan itu masih ada kaitan dengan pangeran kan"
"Sadar 100 persen, itupun aku melakukannya bukan untuk bertemu dengan pangeran akan tetapi membuktikannya bahwa aku bisa mandiri tanpa perlindungannya, dan iya satu hal lagi yang kusukai didalam perusahaan itu ada sebuah jaminan seumur hidup sebagai pegawai setianya diperusahaan itu, akan tetapi dengan tiada ijazah perkuliahan serta biaya, jadi pupuslah sudah usahaku. Maka dari itu aku ingin kau .bekerja disana sebagai mana dasar menembus keinginanku, apalagi ada keuntungan nya loh kamu bisa kerja disana, terutama gaji itu bisa dapat masa depan kita berdua"
__ADS_1
"Tapi kak"
"Kau tidak mau Sam, baiklah kalau memang kau tidak menyukai perusahaan itu maka aku akan tetap menerima semua keputusan mu"
Sejak kejadian itu hubungan komunikasi keduanya saling terhalang, apalagi Sam merasa frustasi untuk memasuki perusahaan sang nenek sihir.
"Mendengar ceritamu ini seketika membuat otakku terhenti Sam, apalagi secara tidak langsung kak Oliv memasukkan mu kelubang singa" ucap Lucky
"Huh entahlah aku begitu binggung sekarang, haruskah aku menuruti semua permintaannya ataukah tidak. Arghh..." mengacak - acak rambutnya
Rosliana yang mendengar itu sedikit terkejut akan tetapi ia langsung segera menchat Olivia demi menjelaskan apa maksudnya.
Melihat semua tengah memikirkan sesuatu tetiba dia mendapatkan telfon dari Olivia.
"Hmm aku angkat telfon dulu ya"
"Dari siapa sayang" tanya Harry
"Ini dari ayah seperti biasa misi lagi, bentar ya aku pergi dulu"
Saat berjalan menjauhi kerumunan mengarah kearah taman, disana lah ia menganggkat telfon dari Olivia.
"Halo apa maksudmu dengan menyuruh dia kesana"
"Ini dari sebuah rencanaku dengan paman Erick, Ros"
"Apa?? rencana bagaimana"
"Kalau kau ada waktu luang kita akan bicarakan ini. akan tetapi aku meminta kau paksa dia masuk dalam perusahaan neneknya"
"Jangan katakan kalau kau ingin"
"Baiklah, akan tetapi aku tak dapat berjanji kepadamu kak Liv"
"Aku dapat maklumin itu semua, makasih banyak ya aku tutup dulu telfon kita hari ini bye..."
Lalu Rosliana pun langsung bergegas akan pergi, namun ia terkejut dengan seseorang yang sudah memandanginya sedari tadi.
Sama halnya yang dirasakan Olivia yang terkejut dengan kedatangan Tomi yang nampak memincing kearahnya.
"Apa kau memang buat rencana ini akan berhasil"
"Aku tidak tau lagi bang, ini berhasil ataukah tidak tetapi aku begitu yakin adanya bantuan kalian mungkin semua rencana kita akan berhasil, kalaupun gagal entahlah aku...." tetiba dirinya terdiam
"Apa sekarang kau sudah mulai menyukainya lagi"
"Sedari awal aku menyukainya, tetapi aku menyadari akankah takdirku memang tidak dengannya ataukah malah sebaliknya bang"
"Hatimu mengatakan seperti apa?"
"Dialah takdirku"
"Kalau begitu capai segala usahamu, hasil apa kata nanti biar tuhan yang menentukan tetaplah berjuang walaupun hasilnya itu tidak akan memuaskan tetapi setidaknya ada hal yang dapat diambil dari setiap perjalanannya"
"Terima kasih banyak bang, boleh aku memelukmu"
__ADS_1
"Tentu saja"
Keduanya saling berpelukkan, tetiba mereka disadarkan oleh decihhan dari mbak Anna.
"Ck.. Ck... malah asik - asikkan berpelukan macam teletubis aja kalian. Sadar kita lagi kerja"
"Huh! Bilang aja lu kagak ada yang melukkan"
"Anj** lu kalau ngomong tapi ada bener nya sih"
"Bwahaha..." tawa lantang Olivia
"Heh jangan ketawa lu, hukumnya dosa"
"Ha? Hukumnya dari mana coba"
"Ada undang - undang dari ciptaan Anna beauty"
"WHATT!! BAWAHAHAHAHAHA... Apa? Beauty? Bfffttt anj** darimana coba noh ngaca muka nggak jauh beda ama tepung terigu aja belagu amat sok cantik"
"Hei!! Bilang aja situ irikan"
"Ya nggak lah, sapa juga yang iri maaf ya ini muka masih cakep tauu~"
"Idih~ jijik gue, muka bapak - bapak gitu pedenya minta ampun dah"
Olivia yang mendengar pentengkaran keduanya hanya bisa menggelengkan kepala, ya mau gimana lagi dipisah mereka semakin melakukan perkelahian apalagi mereka itu suatu hiburan tersendiri bagi Olivia.
......................
Waktu menujukkan sore hari, suasana toko begitu nampak sepi tak lama suara lonceng toko berbunyi seperti menandakan ada pembeli datang, namun ternyata bukan pembeli melainkan Sam yang datang menghampiri Bram yang tengah memainkan ponsel.
"Gimana hasilnya"
"Anj** kagetin aja lu set**"
"Hehe... sorry gue mau tanya aja gimana hasil lu tes kemarin"
"Berjalan lancar, tapi hasilnya gatau apa aku bakal diterima ataukah malah sebaliknya"
"Semoga saja kau dapat diterima"
"Semoga, oh ya Sam tumbenan lu telat dateng"
"Oh sorry gue kemarin udah ijin kebang David untuk sementara cuti selama skripsi ini, karna ada target pencapaian untuk sebuah bukti keseseorang dengan mendapat kan nilai terbaik kepadanya" sebari menatap pantulan kaca yang mana Olivia tengah menyandarkan kepalanya tepat diatas meja sambil melihat kearahnya
"Hmm begitu ya, kalau seandainya kau mendapatkan nilai terbaik selanjutnya kau akan bekerja dimana"
"Entahlah yang terpenting bekerja disebuah perusahaan ternama"
"Wah berarti kau ingin bekerja disebuah perusahaan kerajaan kah Sam, secara disana kan begitu terkenal akan pecapaian terbesar anak kuliahan sekarang. Apalagi mereka sama - sama ingin sekali masuk kesana, jadi kau terpikat ingin masuk kesana Sam"
Sam hanya menatap Bram, sedangkan Olivia hanya tercekat dengan tebakkan Bram.
__ADS_1
...Bersambung ...
...****************...