
Olivia menatap diam kearah mata kecil milik bocah bernama Rio, seketika dirinya teringat kejadian disaat waktu dimana ia hampir saja ditabrak namun ada mobil yang menyalamatkan hidupnya.
Flashback
BRAKK..
Olivia yang terkejut akan kejadian yang tak pernah dirinya bayangkan, mungkin kalau bukan adanya mobil itu kemungkinan ia akan mati ditempat.
Saat melihat semua orang tengah menyelamatkan orang didalam mobil, Olivia walaupun yang masih syok seketika merasa penasaran dengan siapa orang yang sudah menolongnya seketika dirinya terkejut kalau dia kenal entah dia masih binggung apa dia Yura ataukah Yuan, kenapa dirinya dilandah kebingungan.
"Nyonya bangun... Kurasa cepat kita bawah dia kerumah sakit"
"Kau benar nona, ayo kita angkat kemobilku saja"
Orang - orang pun langsung menggotong kedalam mobil, sesampainya di rumah sakit Olivia yang menunggu hasil operasi seketika dikejutkan oleh datangnya para lelaki berjas hitam dengan santainya mereka menggepung dirinya.
"Ada apa ini, siapa kal mmmhhh...."
Olivia seketika dibekap dari belakang, samar - samar dia melihat wanita yang sama berada dididalam ruang operasi namun disitu dia tidak hanya sendiri melainkan ada lelaki tua disebelahnya, entah saat itu seketika pandangannya pun seketika menggelap.
Cahaya terang tengah menganggu pandangannya saat terbangun, ternyata benar saja sekarang ia tengah berada diruangan gelap, namun anehnya ini bukanlah ruangan tempat kosong nan kotor melainkan ruangan klasik namun semua disertai banyaknya lilin beserta lampu kuning tepat berada diatasnya. Anehnya lagi ia diikat disebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah televisi lama yang tiada sinyal.
"Aku ada dimana ini, kenapa tidak ada satupun orang disini" gumamnya
"Apa kau sedang mencari orang untuk mencarimu nona" suara berat lelaki
Betapa terkejutnya Olivia ternyata suara lelaki itu berasal dari arah tempat duduk kursi yang tak jauh darinya namun sayangnya tidak ada satupun cahaya darinya jadi tidak begitu jelas wajahnya sama sekali.
"Siapa kau!"
"Kau ingin tau siapa diriku hahaha" seketika pria tua tengah berjalan kearahnya "Aku adalah ayah dari Lizza, apa kau sudah menggenalnya"
__ADS_1
"Ah begitu rupanya, jadi sekarang aku sudah tau sekarang apa dirimu, dan anakmu memang berniat untuk melenyapkan ku"
"Hahaha... Kau tau untuk apa aku jauh - jauh hanya untuk mengotori tanganku ckk.. tak ada gunanya, tapi kalau dirimu berniat untuk aku lenyapkan tidak masalah karna bagaimana pun juga ini demi kebahagiaan anakku juga" dirinya berjalan kearah meja, dan menuangkan minuman bir
"Kau tau, dilayar ini akan menjadi sebuah saksi kau menyaksikan kebahagiaan orang yang katanya menyukaimu nyatanya dia mensetujuinya untuk menikahi putri saya dengan menjalani pertunangan sah dengannya"
Memang benar adanya Sam yang terlihat murung, marah, terlihat jelas di mimik wajahnya yang pasrah memasangkan pasangan cincin secara paksaan, terlihat bahwa pertunangan itu dilakukan dinegara tempat ia bekerja, terlihat sekali bahwa ini semua sudah mereka rencanakan tanpa Sam ketahui, Olivia mengerti hal itu karna Sam bukanlah orang yang akan mau menjalani permainan neneknya kalau tidak ada ancaman yang membuatnya akan tunduk mau.
"Pfftt.. Kurasa anda salah besar tuan, lihatlah pria itu dia seperti kelihatan tertekan sekali saat menjalaninya. Apa benar dia benar - benar akan tulus membahagiakan anakmu"
"Kupastikan dia bahagia"
"Kau saja yang memastikan itu, tapi apa kau tau lelaki yang tidak ia cintai selamanya tidak akan selalu berada didekatnya"
"Huh! Beraninya kau menyumpai anakku untuk tidak bahagia dengan pria yang dia cintai"
"Aku tidak akan menyupainya melainkan memang itu adalah sebuah kebenaran yang ada, memangnya kau pernah bersama dengan wanita yang tidak kau cintai tapi masih bisa bertahan lama dalam hal bercinta"
"Tidak, karna aku tidak pernah menyukainya yang kucintai hanyalah Yura"
"Lalu kenapa kau tidak menikah dengannya, kenapa malah kau biarkan dia menikah dengan pria asing"
"Bagaimana kau tau cerita itu"
"Siapa yang tidak tau cerita kerajaan, kau tau sendirikan kalau orang yang kau sandra ini seorang yang begitu penting dihati pria yang telah anakmu rebut itu" sebari menyandarkan tubuhnya dikursi
"Beraninya kau mengatakan kalau anakku itu seolah - olah ****** hah!"
"Apa? ****** kapan aku mengatakannya bukannya ayahnya sendiri yang mengatakan sebutan jal ups..."
"Lama - lama kau ini semakin menyebalkan yah" sebari menekan kedua pipinya sampai dirinya manyun kedepan "Mulutmu ini bisa diam tidak, kalau tidak maka akan aku robek sekarang kalau kau masih berani mengataiku maupun anakku" melepas pipinya dengan cukup keras dorongannya
__ADS_1
"Huh! Dasar pria tidak waras!!" gerutunya
"Kurang ajar sekali kamu mengataiku tidak waras, memangnya kau sendiri waras hah!" seketika layangan tangan besarnya pun tepat mengenai kedua pipinya sampai suara pukulan cukup keras "Kaulah yang tidak waras bukanlah aku"
Pria tua itu terus menerus menampar kedua pipi Olivia sampai benar - benar pipinya memerah, dan mengeluarkan darah dimulutnya.
"Ingat baik - baik ini tidak akan sebanding apa yang akan kulakukan padamu kalau kau sampai berani melawan diriku" sebelum melangkah keluar dia memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi gerak geriknya, apabila kalian begitu curiga kalian dapat melakukan aktifitas yang kalian sukai yaitu menyiksanya"
Olivia yang terdiam mendapati pipinya yang begitu amat perih entah mengapa air matanya hanya dapat menetes.
"Aku merindukanmu Sam"
...----------------...
Sudah hampir 3 hari Olivia berada didalam ruangan kosong tersebut para anak buahnya hanya melakukan aktifitasnya dengan cara melepas tangannya ketika mendapatkan jatah makan, sedangkan kegiatan lain Olivia hanya duduk merenung dengan berusaha mencari sesuatu untuk membuat pertahanan diri dari ancaman penjahat kalau berbuat macam - macam.
Seketika pintu berlahan terbuka, Olivia tau kalau ada orang yang akan masuk kedalam setelah difikir lagi tidak mungkin kalau itu para penjaga akan memberinya makanan karna setaunya dijam segini bukanlah jatah makan, entah dipastikan itu orang lain dengan cepat ia berpura - pura memejamkan mata.
Deru suara langkah kakinya pun mendekat, lalu BYURR... Sontak Olivia terkejut karna seluruh tubuhnya diguyuri oleh air es oleh seorang yang dia kesali yaitu Lizza.
"Hahaha... Bagaimana rasanya wanita miskin, apa sudah lebih baik hahaha.. Upss.. maaf aku memang berniat memandikanmu karna kau cukup bau, apalagi 3 hari ini aku dapat informasi kalau kau tak pernah mandikan jadi cukuplah untuk membersihkan dirimu sendiri, betapa baiknya aku bukan" dia mengambil sebuah kursi lalu duduk dihadapannya "Heii kenapa wajahmu begitu jauh lebih menyedihkan wanita miskin hahaha... tenang - tenang kau akan terbebas kok setelah ini, dan itupun kau harus bersabar karna pernikahanku dengan Sam akan sebentar lagi diadakan ah senangnya, dan kau tidak akan lagi masuk kedalam hidupnya. Apalagi Sam sendiri sudah tau kalau kau menerima perjanjian transaksi uang dengan neneknya hahaha... kurasa Sam begitu membencimu deh, jadi mundur saja yah dari pada kau akan berubah menjadi gila haha..."
Seketika Olivia tersenyum remeh "Begitukah ckk.. Kalau memang aku gila nanti aku bisa mendatangimu lalu kau akan terlular gila bersama denganku hahaha..."
"Aishh... menjauhlah dariku kurasa kau sekarang sudah gila deh"
"Memang aku sudah gila karna adanya dirimu, tapi aku tidak gila kok kaulah yang gila akan kurang belaian dari pangeran bukan, hahaha jadi kaulah yang gila hahaha Lizza gila.. Lizza gilaa.."
"Kurang ajar diam kau!!"
Tetiba Lizza menggambil pisau lalu melayangkan kearah Olivia yang masih mengejeknya.
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...