
Ketika keduanya tengah menikmati bir, Sam menghampiri keduanya.
"Apa yang kalian maksudkan, bukankah kau mengatakan tidak akan mengebom mereka bukan" penuh selidik
"Iya, aku menepati janjimu kok cucuku lihatlah" menujukkan kalau orang tua Olivia tengah duduk santai diruang tamu
Ternyata memang benar kalau orang tua mereka sudah dinyatakan kalau bom tersebut mati, dengan begitu mereka semua berlanjut kearah panti. Untuk tidak membawa orang tua Olivia karna takut terjadi sesuatu kepada mereka, dengan begitu Alex beserta yang lain menuju kesana.
Namun ditengah mereka kesana, betapa terkejutnya mereka melihat Kelvin, Harry yang tak sadarkan diri dengan kondisi panti sudah menjadi hancur lembur.
"Hei! Ada apa dengan kalian" ucap Rosliana
"Hikss.. Hiks... Kak Oliv maafkan aku" ucap lemah seorang Kelvin
Melihat keduanya menangis, seketika Alex beserta Rosliana ikut menangis, dan ketika menghubungi bang David alangkah terkejutnya mendapat berita tersebut.
"ARGHHH" teriakan David dengan menendang kursi sedangkan Tomi, Anna, Kimmy hanya menangis serta tak tau harus bagaimana lagi.
BRAKK...
Pintu hotelpun dengan mudahnya Olivia membukanya karna ia memiliki kunci cadangan mereka, namun anehnya semua orang terkejut melihat kedatangannya.
"Kenapa kalian menangis? Apa yang terjadi"
"Huh! Maaf" David tak kuasa mengatakannya
"Apa maksudmu bang?"
"Hiks... Hikss..." tangisan kedua wanita itu membuat Olivia semakin kebinggungan
"Katakan kepadaku, ada apa ini kenapa"
"Liv, duduklah dulu" pinta Tomi
"Tidak, katakan dulu apa yang terjadi"
"Ka - kau yang sabar ya, karna..." Tomi terus meneteskan air mata "Hiks.. semua anak panti, dan bibi sudah dibom oleh wanita tua brengsek itu Liv hiks..."
"Apa maksudmu bang"
"Mereka sudah lenyap Liv"
"Abang bohongkan, mana mungkin mereka akan mati bukankah mereka sudah ada perlindungan dari bang David ya kan, lalu untuk apa mereka sampai diketahui oleh wanita tua itu"
"Maaf hiks..." David terduduk dilantai
"Huh! apa ini hanya sebuah mimpi saja, ya mungkin aku hanya mimpi ya kan Son" menghadap ke Sonya yang sudah menggelengkan kepala sebari menggelengkan kepala "Hiks.. Tidak - tidak semua ini hanya mimpi sajakan" tersenyum penuh kepedihan "AHHHH... HIKSS... KENAPA DIA MEMBUNUH MEREKA APA SALAH MEREKA HIKSS... KENAPA BUKAN AKU SAJA WANITA TUAA YANG KAU BUNUH ARGHHH" seketika kakinya melemas
Tomi langsung membawa Olivia kedalam dekapannya "BANG HIKSS... MEREKA BELUM MATIKAN BANG... AGHHH... KENAPA BUKANNYA AKU YANG MATI SAJA HIKS... ARGHHH..."
__ADS_1
Seketika suasana menjadi amat begitu terluka, sedangkan saat Sam dalam perjalanan, ia melihat beberapa mobil kepolisian serta ambulance terlihat terburu - buru.
Sedangkan tanpa sengaja Sam mendengarkan siaran televisi di dalam mobil.
"Kami beritakan baru saja, telah terjadi pengebom an yang tepat berada panti Dahlialand, dan saat ini para kepolisian masih tengah mengindetifikasi kronologi kejadian"
Sam yang bermula menonton dengan santai, tetiba terkejut melihatnya, seketika dirinya teringat perbincangan kedua orang tersebut.
"Sial" gerutunya "Pak, cepat ketempat panti sekarang" ucapnya kepak supir
"Baik tuan"
Setelah dirinya kepanti, entah kenapa ia begitu gagal melihat semua media beserta kepolisian tengah melihat disana, namun anehnya kenapa ada ambulance, seketika dirinya tak sengaja melihat Rosliana yang menangis memasuki ambulance.
"Pak, ikuti ambulance itu"
"Baik" seketika supir tersebut mengikutinya "Apa anak - anak itu masih selamat" gumamnya "Kalau memang iya syukurlah"
Ketika sampai dirumah sakit Sam terkejut yang keluar dari ambulance tersebut bukan anak - anak melainkan Kelvin. Sontak dirinya meminta supirnya untuk membawanya masuk kedalam, ternyata mereka dibawa ke UGD, namun disitu tidak hanya ada Rosliana melainkan Alex juga, entah apa yang terjadi dirinya begitu kebingunggan.
"Sam" ucap Alex seketika Rosliana menangis dalam diam
"Apa yang terjadi"
"Hiks... Hikss.. JAHAT SAM JAHAT NENEKMU JAHAT!! DIA SUDAH BERANI - BERANINYA MEMBUNUH ANAK YANG TAK BERDOSA DISANA, APA SALAH MEREKA HAH! APA MEREKA KURANG PUAS TELAH MELUKAI TEMAN - TEMAN KITA DAN..." seketika Alex langsung mendekapnya
Sam hanya menggepalkan tangannya "Bawa aku kembali pulang, sekarang" menahan emosi
Ketika Sam pergi, tak lama David menelfon mereka untuk menggabari kondisi kedua bocah tersebut, malah bukan berita kondisi temannya yang ia dapat melainkan Sam yang baru saja mengetahui mereka.
"Aishh kenapa ini menjadi rumit"
"Kenapa sayang" tanya Kimmy
"Sam pergi kerumah sakit dia sepertinya sudah tau kalau mereka berada disana, sedangkan Rosliana sendiri hampir saja menggatakannya, makanya Alex langsung membuat alasan lain, dan sekarang Sam sedang pulang aku takutnya mereka melakukan hal nekad"
"Telfon dia sayang" ketika menghubungi Sam ia tak mendapatkan jawaban darinya "Arghh.. kenapa semua ini begitu rumit"
"Akan kubantu kau menghubungi Sam, kau lebih baik hubungi paman Velcor" tegas Tomi
Sedangkan Anna yang hanya menangis dalam diam sebari menggelus perutnya, dimana Sonya ikut menenangkan Anna yang tengah mengandung. Keduanya sama - sama tak tega terutama Olivia yang terdiam diatas sofa sebari menatap kosong keluar jendela.
Ketika Sam yang tak tahan untuk menaiki kursi roda ia langsung dengan sekuat tenaga mencoba untuk berjalan walaupun dengan tuntunan Liam. Mungkin dari sini kalian binggung kenapa ada Liam, ternyata saat itu Liam tak ikut dengan mereka melainkan mendengar pembicaraan kedua orang yang membuatnya kesal, dengan begitu ia membawa laptop tersebut. Untuk mengamankan bukti tersebut tetapi ketika dirinya mendapatkan kalau kedua temannya masuk rumah sakit ia pun menghampirinya, tetapi belum sampai dirinya melihat Sam yang menatapnya curiga.
"Apa yang kau bawa"
"Ha - hanya laptopku saja"
"Jangan pernah menutupinya dariku Li, aku tau kalian pasti sudah merencanakan ini semuakan apalagi tak memungkinkan salah satu dari kalian terluka dari serangan anak buah nenekku" keterdiaman Liam "Ikut denganku"
__ADS_1
"Tapi..."
"Ikut atau kukatakan kalau kau mencuri pembuktian yang ada dilaptop milik Kelvin kan"
Mau tidak mau akhirnya Liampun mengikuti Sam kearah rumah istana.
PRANGG...
Guci yang super mahal seketika mengejutkan semua pelayan, orang - orang didalam istana termasuk Liam sendiri.
"KELUAR KAU!!"
"Astaga Sam, ada apa denganmu nak"
"Ma, dimana mertua licikmu itu?"
"Sam tenang nak, katakan pada mama dulu apa yang terjadi"
Sam dengan berjalan pelan tanpa bantuan Liam "KELUAR KAU ANJ**"
"Liam kau? Ada apa ini?"
"Maafkan aku bi" tanpa mengeluarkan suara
Ibu Sam semakin binggung, dengan ekspresi ketakutan Liam.
"SAM!! Mana sopan santunmu hah!" bentak sang ayahnya
"Sudahlah nak, untuk apa kau menegur anakmu seperti itu, mending kau marahi temannya itu, karna mereka anakmu tertular oleh mereka"
"Aish kurang ajar sekali wanita tua itu!" batin Liam "Kucekik kau lama - lama mati juga kau"
"INI BUKAN SALAH MEREKA, TAPI AKU BERLAGAK SEPERTI KARNA DIRIMU, KALAU SAJA DIRIMU TAK SELICIK DAN SEJAHAT ITU KEMUNGKINAN AKU TIDAK AKAN SEPERTI INI APA LAGI, HUH SEJAK KEMATIAN KAKEK AKU SUDAH MUAK DENGANMU"
"CUKUP SAM! KEMARAHAN MU INI TIDAK ADA KAITAN MASA LALU, DAN KAU SENDIRI TAK MEMILIKI BUKTINYA" bantah ayahnya
"YAH MEMANG AKU TAK MEMILIKI BUKTINYA, TETAPI SAAT INI AKU MEMILIKI BUKTI TENTANG KEMATIAN ANAK PANTI YANG MATI DIBOM OLEH DIRINYA"
Sam pun langsung mengeluarkan ponselnya dengan memutarkan rekaman suara neneknya bersama ayah Keyna. Ekspresi semuanya terkejut mendengarnya, namun disertai rasa ketakutan yang ditutupi oleh neneknya.
"Bagaimana apakah aku benar, kalau dirimu lah tersangka dalam kematian mereka bukan"
...Bersambung...
...****************...
Eitz bonus nih ekspresi Olivia yang sesuai diatas ya :
__ADS_1