Kekasih Kecilku Ternyata Seorang Pangeran

Kekasih Kecilku Ternyata Seorang Pangeran
68


__ADS_3

Semua orang saling terdiam menatap Olivia.


"Siapa kau?"


"Saya, haha.. Kalian belum menggenalku ah baiklah biar aku memperkenalkan diri dulu perkenalkan namaku..." melihat ada bunga mawar yang dibawa oleh kak Kimmy seketika dirinya "Deliana, saya adalah utusan tuan Volcer untuk kemari kalau bahwasannya pasien saya membutuhkan sedikit pancingan motorik yang dimana mereka harus diajak berkomunikasi agar pasienku ini dapat secara..."


"Ah kami tidak butuh penjelasanmu, tapi apa gunanya kau ada disini wanita jelek!" ejek Lizza


"Maaf ya nona, anda ini sepertinya tidak mengerti pekerjaan saya sini - sini mari saya jelaskan kalau pekerjaan saya itu, berhubungan dengan pekerjaan pasien yang sedang menggalami.." melangkah mendekati Lizza


"Jauh - jauh sana, yang ada aku nanti banyak kuman yang menempel padaku"


"Wah nona cantik ini sangat pintar sekali, tau saja kalau aku baru saja bangun dan tak mandi, tapi tenang aja nona tubuh serta tubuhku ini masih wangi kok" mencium - cium aroma tubuhnya "Eh kok bau kecut ya, apa nona mencium baunya"


"Ahh.. Sana - sana"


Kimmy, David, beserta keempat orang tua tersebut hanya dapat menahan tawa melihat kelakuan Olivia yang super jail.


"Ihh!! Jauh - jauh"


"Cukup!! Volcer, apa kamu tidak salah mempekerjakan orang seperti ini hah!"


"Eh - eh jangan salah nyonya, pasien ku itu banyak yang berhasil atas jasaku tau, ada nih pasienku yang koma selama 4 bulan secara mendadak dia tersadar akibat pengobatanku"


"Ck... Mana ada seperti itu, kok saya merasa tak percaya sekali yah kalau kau dapat mengobati orang huh"


"Jahat sekali anda nona, aku ini bekerja secara jujur loh nona masa anda tidak mempercayaiku, padahal aku tuh bekerja keras demi keluargaku didesa hiks.. Hiks... bagaimana bisa..."


"Sudah - sudah, nona Del.. apa boleh aku menjenguk anakku"


"Hikss.. Hikss.. Silahkan nyonya Volcer"


Saat semua ikut masuk, David sebelum itu membisikkan sesuatu keOlivia.


"Pinter" sebari menepuk punggungnya


Olivia yang menanggis sebari tersenyum miring kearah David, didalam Lizza masih terus menangisi Sam yang masih terbaring lemah.


"Eh - eh tunggu! Aku minta nona jangan pernah menangisi orang koma, karna itu terlalu menyakitkan bagi mereka. Apalagi mereka itu bukan berharap untuk didoakan mati namun diharapkan agar mereka mudah cepat sadar"


"Kau tau apa? Hah!"


"Heh, jangan berteriak itu akan membuat sang pasien ku nanti terganggu dalam perjalanan mimpinya"


"Orang gila, nek.. Bawa orang gila ini keluar mana ada nanti Sam bakal sadar dengan metode nih cewek"

__ADS_1


"Hak apa kau memecatnya aku yang memperkerjakan dia" ucap ibu Sam


"Stop! Menantu bisa - bisa nya kau mempercayai wanita seperti ini agar anakmu bisa cepat sadar huh, kemana otakmu itu" sindir nenek


"Ibu... Aku melakukan ini agar anakku cepat sadar, bukan malah semakin memburuk keadaan gegara orang yang selalu ibu yakini itu"


"Heh - heh malah pada ribut disini, kalian ini pada usia tua, seharusnya kalian sadar diri umur tak ada yang tau cepat minta maaf, dan diam ditempat kalau mau mengunjungi pasien itu dengan baik - baik. Kalau mau berdebat tuh diluar bukan didalam rumah sakit apa kalian mengerti, apa perlu aku ajarkan biar mulut anda itu berpendidikan" menatap kearah Lizza maupun nenek Sam


"Kurang ajar sekali kamu!"


"Ibu, stop ini rumah sakit lebih baik diam apa yang diucapkan Delia itu memanglah benar"


"Huh! Asal kamu tau aku tak akan mempercayaimu kalau kau dapat mensadarkan cucuku"


"Oh jadi begitu anda tak mempercayaiku nyonya, okay apa jaminan nya kalau sampai cucumu sadar secara semua itu tak ada yang gratis, kau tua bukan arti kataku"


"Memangnya kau mau apa?uang haha" tawa ejek


"Tidak tetapi melainkan anda temani aku menemui idolaku, yaitu seorang seniman pematung namanya tuan Harison, anda inikan seorang yang penting nyonya jadi boleh dong aku menemuinya denganmu sebagai rasa kehormatan bagiku"


Seketika nenek Sam terdiam, entah apa yang dia fikirkan tetapi Olivia hanya tersenyum dalam hatinya, karna ia tau apa yang harus dirinya lakukan, sedangkan yang lain nampak bertanda tanya kenapa seorang Olivia ingin menemui yang tak lain Harison itu adalah ayah dari Yuan, maupun Yura yang sampai saat ini belum ada kabar akankah masih hidup ataukah sudah mati. Karna Yuan merasa yakin kalau ayahnya masih hidup, dan tidak ada didalam kebakaran besar waktu itu, karna tak ada bukti yang menandakan ada ideologi ayahnya disetiap mayat yang terbakar.


"Bukankah pria tua itu sudah mati ya"


"Benarkah astaga nona, jangan mengarang anda mana mungkin idolaku mati begitu cepat, kalau memang dia sudah mati kenapa tidak ada sama sekali pemberitaan di televisi"


"Ahh syukurlah aku bisa menemuinya, oh ya nyonya jangan lupa akan janjimu ya"


"Hmm, kau juga ingat aku hanya memberimu waktu hanya dalam seminggu ini kalau sampai cucuku tidak kunjung bangun maka jeruji besi akan menunggumu"


"Apa!! mana mungkin aku membangunkan Sam secepat itu memangnya aku ini cenayang apa? Oh ya ampun bagaimana ini Sam~ bantulah aku pleasee.." batinnya


................


Diruang pribadi toko Oliv, ada Tomi, Anna, Kimmy, Olivia, dan Bram saja tak ada yang lain karna takut ada kecurigaan yang mengarah rencana mereka, jadi mereka hanya melakukan secara video call bersama. Dimana disana mereka tak habis pikir adalah dengan jalan fikiran Olivia yang membuat ide segila itu dengan perjanjian nenek Sam, apalagi teman - teman Sam sendiri juga ikutan pusing mendengarnya.


"Kak~ aku tau ini jalan agar kita mudah menjebak wanita tua itu, tapi coba kau fikirkan gimana cara membangunkannya" ucap Kelvin


"Hah, kak apa kakak bisa membangunkan dia" seru Rosliana


"Tidak"


"Hadehh.. Terus gimana kalau Sam sampai nggak bangun - bangun" saut Tomi


"Aku yakin kok kalau Sam akan bangun" teguh Olivia

__ADS_1


"Kalau sampai Sam tidak bangun, gimana?" ujar Anna


"Aku akan menggambil resiko yang sudah aku sepakati bersamanya"


"Bodoh" "Gila" "Oh Astaga~" semua orang langsung menggatainya


 


Malam harinya Olivia memutuskan untuk pergi mengujungi Sam, demi menghilangkan penat difikirannya, dengan begitu di ruang inap tersebut ia masih mencoba terus menerus berkomunikasi dengannya, walaupun tak ada perkembangan sama sekali.


"Huh!.. bagaimana apa begitu bodoh Sam hehe.. Kalau memang aku ini bodoh biarkan saja, karna yang ku inginkan hanyalah kau cepat kembali sadar, dan aku bukan ingin kau sadar karna tantangannya yang kuambil, akan tetapi aku berharap kau dapat hidup bersamaku, dalam pelukan yang selalu dirimu harapkan"


................


Tanpa terasa hari demi hari ternyata sudah seminggu dirinya masih berkomunikasi dengan Sam, walaupun yang ia mendapatkan hanyalah efek perkembangannya jauh lebih baik, apalagi dirinya pun mendapatkan pujian dari sang dokter dapat memulihkan kondisi pasien saja, membuat hatinya bahagia mendengarkannya.


CLEKK...


pintu ruangan tersebut berlahan terbuka, Olivia yang awalannya hanya menata beberapa bunga tetiba dikejutkan suara yang dia kenal siapa lagi kalau bukan Lizza, namun dibelakangnya ada beberapa polisi yang dirinya bawa.


"Sial"


"Itu pak langsung bapak tangkap saja, dia itu wanita penipu pak yang sudah nenekku laporkan kekantor kepolisian"


Ketika polisi hendak menghampirinya "Tunggu - tunggu beri aku waktu 2 menit"


"Tidak bisa"


"Ayolah nona kali ini saja perpisahanku dengan pasien ku aku mohon, aku janji tidak akan kabur lihat ini ruangannya diatas sendiri sedangkan tiada cela untuk aku kabur"


"Yasudahlah, berikan dia waktu pak"


"Ah terima kasih nona cantik" ia langsung menghampiri Sam "Ah tidak terasa waktu kita sudah sampai disini tuan, maaf aku tidak dapat menyembuhkan mu, terutama aku juga tidak bisa lagi bercerita kepadamu hiks.." sebelum pergi dia membisikkan sesuatu ke Sam "Selamat tinggal, aku mencintaimu Sam"


"Apa yang kau bisikkan kepada tunanganku"


"Hmm hanya menggucapkan selamat tinggal, dan tolong cepat bangun agar aku dapat terbebas dari ini hiks... Maafkan aku ayah ibu hikss..."


"Ayo sana cepat bawa pergi pak, ih dasar"


Ketika Olivia dibawa oleh beberapa kepolisian, orang tua Sam terkejut ingin menolong namun dicegah dengan isyarat matanya supaya mereka tak harus menolongnya.


Melihat itu mereka sebenarnya tak tega, tetapi mereka terpaksa harus menerimanya karna ini kemauan Olivia sendiri, ketika mereka hendak kembali keruangan anaknya, ia mendegar teriakan Lizza. Mereka pun langsung bergegas berlari masuk kedalam, betapa terkejutnya mereka semua ternyata anak mereka telah tersadar dari komanya.


"SAM!!"

__ADS_1


...Bersambung...


...****************...


__ADS_2