
Daniel yang saat itu tau Bram dalam keadaan emosi, dialah yang ikut turun dalam menyentir mobil karna dia takut akan hal yang tidak diinginkan. Tak lama merekapun sampailah diapartement milik Lizza, Bram yang saat itu tersulut emosi menghampirinya, tetapi Daniel lebih dulu mencegahnya.
"Kalau lu mau hadepin tuh orang jangan pakai kasar, karna dia seorang cewek hadepin secara senyuman aja, apalagi kalau lu ngomong secara emosi gini yang ada tuh orang mengganggap kalau elu kagak bisa move on darinya, okey bro tenang diri lu dulu"
"Thanks bang"
Bram menurutinya dengan tarik nafas buang, setelah itu dia dengan santainya mengetuk pintu milik Lizza.
"Ngapain kamu kesini, mau uang"
"Tidak, aku ingin memastikan saja apa kau sudah bertunangan dengan pangeran - pangeran itu"
"Iya memangnya kenapa" dengan melipatkan kedua tangannya
"Jadi, huh! (menghela nafas kasar) kalau begitu" dirinya membuka ponselnya lalu mengarahkannya kearah Lizza dengan menekan aplikasi transfer "Uang yang kau berikan aku selama ini telah kutranfer kepadamu langsung, jadi terima kasih kau sudah memanfaatkanku, dan sudah masuk kedalam kehidupan jahatmu. Hari ini aku akan memutuskanmu"
"Huh apa apa? Putus? Oh my god jangan bilang kau mengganggap hubungan kita ini serius Bram hahaha" langsung membunyikan jentikan tangannya "Astaga haha... Bram - bram sadarr.. Kau itu hanyalah alat untuk memudahkan ku supaya Olivia itu mati tapi apa kau menyukai ku blushit jangan anggap serius karna gue kagak menyukai pria dengkil dan miskin sepertimu"
Bram menahan emosinya sebari mengepalkan tangannya "Hehe.. (terkekeh kecil) Terima kasih atas pujiannya, kalau begitu selamat atas pertunanganmu semoga rencanamu dapat berhasil kalaupun kau berhasil"
Brampun pergi, ternyata Daniel sudah ada dibalik tembok, dan Bram pun tau apa yang dilakukannya dengan begitu ia hanya menganggukkan kepala seperti isyarat kode mensetujuinya.
Semua orang tengah berada dicafe disana, Olivia langsung berpamitan dengan yang lain. Dimana ia tak ingin melakukan perpisahan itu dibandara karna Yuan tau orang - orang dari nenek Sam begitu banyak, jadi dengan begitu mereka melakukannya dicafe, awalannya ada bantahan dari semuanya tetapi Olivia mencoba meyakinkan mereka sampai akhirnya mereka memahaminya. Sedangkan Sam beserta keluarganya memilih untuk berangkat esok hari karna tau sendiri besok dimulailah aksi mereka melakukan rencana tersebut, apalagi dimalam ini juga Bram tak ingin pula menggambil resiko keselamatan dari penyamaran yang dilakukan Olivia untuk bersembunyi aman pergi keluar negeri bersama dengan Yuan.
Setelah kejadian itu Olivia merasa sedikit lega, karna tak ada yang mencurigainya apalagi saat itu dia juga sudah resmi dinyatakan tiada. Ketenangan yang dapat dia rasakan begitu terasa apalagi dengan usaha toko yang sudah dia bangun dinegara orang ini pun dapat naik secara dratis, tak sia - sia ia membangunnya, sampai akhirnya dirinya dapat membeli sendiri rumah sendiri yang tak jauh dari tokonya.
Namun disela dirinya dapat membangun toko ini sendiri, kehidupan keluarga kecil Yuan pun sendiri begitu bahagia, Rio sendiri sejak itu sudah mulai beranjak besar nan dewasa apalagi dia sudah memahami atas kejadian luka Olivia dari situlah dia merasa sangat amat bersalah atas apa yang dilakukan ibunya sendiri.
"Kak.. Kenapa kakak jadi melamun"
"Ah maaf - maaf, kau mengatkan apa tadi boy, apa kakak memaafkan ibumu begitu" bocah tersebut mengangguk polos "Hmm kamu tau semenjak kejadian itu kakak sudah memaafkan ibumu apalagi kau tau karna ibumu lah membuat kakak semakin bersemangat untuk mencari tau kejahatan dari orang - orang yang sudah membunuh orang yang tak bersalah"
"Seperti ibuku"
__ADS_1
"Yah, kamu tau luka ini bukanlah ulah dari ibumu langsung tapi suruhan orang jahat yang memang sengaja melukai kakak kalau sampai ibumu tak melukainya kemungkinan besar bukanlah ibumu yang mati melainkan putra kesayangannya ini makanya dia tak ingin sampai akan terjadi dengan putranya ini. Jadi kau harus tau dia bukanlah ibu yang jahat melainkan malaikat tanpa bersayap okay, kau tak harus memikirkannya yah sekarang kau hanya tinggal doakan, dan buktikan kalau putranya ini dapat menjadi anak yang berhasil suatu kelak nanti"
"Hmm aku akan buktikan" mengangguk semangat"
"Good job" mengacak rambutnya "Nah sekarang ganti pakaianmu, dan sebentar lagi ayo kita makan dulu"
"Apa kita akan ketoko kak"
"Hmm kenapa kau mau ikut"
"Yah aku mau ikut"
"Hehehe.. yasudah ayo cepat sana bersiaplah"
Dalam perjalanan ke toko tiba - tiba ada nada dering telfon dari tokonya sendiri, ia pun menganggkatnya dengan earphone yang dia punya.
"Halo"
"Maaf buk disini... Ada teman - teman ibu kata..."
"Bisa kita saja yang bicara dengannya" terdengar seperti keributan "Halo LIV CEPAT LO KESINI KITA SEMUA ADA DITOKOMU SEKARANG"
"Yah.. Bukan cuma Anna aja tapi semua orang disini" celetuk Kimmy
"Hehe... Iya yah~ nih aku dalam perjalanan naik mobil juga kok kesana selamat menunggu, kumatiin dulu ya telfon nya"
"Oke - okey"
"Siapa kak" tanya Rio sambil membawa boneka spiderman
"Ditoko nanti ada teman - teman kakak, apa Rio inget orang - orang yang selalu ada divideo kakak itu"
"Hmm inget" menganggukk polos "Oh ya berarti ada adik Dino dong"
"Yah ada adik Dino juga disana"
__ADS_1
"Yes!!" penuh semangat
Adik Dino adalah anak buah hati dari Kimmy, dan David, dimana mereka juga setiap 3 bulan sekali berkunjung ketempat Olivia, sebabnya kedekatan Dino dan Rio begitu dekat.
Sesampai ditoko Rio langsung berlari masuk kedalam toko "DINO..." teriaknya membuat orang didalam toko tersebut sontak terkejut.
"Aish itu anak nggagetin aja jadi bocah"
"AHHH OLIVIAAA...." bergiliran Anna yang berteriak histeris, lalu berlari kearahnya
"Woii.. Jangan lari lu lagi hamil anak gue goblok" teriak Tomi
Yaps, memang saat ini Bang Tomi dan Anna sudah menikah, tak lama mereka pun dikaruniai seorang turunan yang masih didalam perutnya, memang mereka mengakui sendiri pertengkaran dalam kebencian akan berputar menjadi sebuah benih - benih cinta.
"Oh ya ampun, kenapa aku bisa nemuin orang utan pula disini" gerutu seseorang pembeli
Mereka semuapun saling berpeluk melepas rindu, setelah mereka melakukannya, mereka menikmati makanan yang sudah disediakan.
"Sumpah kau tampak keren Liv, dan cantik kuharap anakku akan secantik dirimu" Elusan Anna
"Semoga saja" saut Kimmy
"Tapi masa iya, gak yakin deh bapaknya aja modelannya begini gimana ceritanya jadi Olivia" sindir David
"Yang.. Jangan gitu ah"
"Yayah yang tau situ pembuahannya bagus, tapi inget Vid jangan remehin benih yang gue tampung diperut bini gue nih kualitasnya akan mengalahkan punya lu" sebari mengosok perut Anna tetapi seketika mendapat plototan dan tepukan ditelapaknya.
"Enak aja kamu kira anakku ini adonan kali kualitas"
"Nggak gitu sayang.."
"Aishh husstt diem - diem jangan banyak omong" Tomi yang mendapatkan celetukkan dari istrinya seketika dirinya terdiam "Oh ya, Liv... Kapan lu balik lagi, yah elu tau sendirilah gue kan bentar lagi mau lahiran bisa dong lu balik lah sama kita - kita"
Seketika suasana terasa hening, diam, tanpa ada yang melontarkan kata - kata, hanya terdengar suara musik, pembeli, dan kedua bocah tersebut yang tengah asik bermain.
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...