
Pagi ini dengan tergesa-gesa Bianda bangun mencuci muka dan langsung menuju dapur, seperti biasa ia selalu menyiapkan sarapan dan pakaian kerja teman hidupnya... yaa teman hidup, bianda dan Indra dua insan yang saling mencinta memilih hidup bersama tanpa ikatan yang sah.
__ADS_1
"masak apa sayang??" Indra yang baru selesai mandi dengan masih menggunakan handuk dan rambut yang masih basah mendekati bianda dan langsung memeluknya, " cuma omelet aja gapapa yaa ndra, telat bangun soalnya hehe" bianda tersenyum seolah membayar rasa bersalahnya... ahh senyuman itu ya senyum yang sangat Indra suka, senyum yang masih sama seperti saat pertama mereka bertemu dulu senyum yang membuat Indra jatuh cinta di pandang pertama... namun sejurus kemudian ia sadar dari lamunannya dan menahan sedikit emosinya, bukan tanpa alasan hadirnya emosi Indra pagi ini ia marah karena berulang kali menjelaskan pada bianda kalau ia tidak suka dipanggil dengan nama dan meminta bianda memanggilnya dengan panggilan sayang, namun tak perna di gubris oleh perempuan manis itu.. kenapa keras kepala sekali sih *batin Indra.
__ADS_1
Selesai mengganti baju dan sarapan Indra mengambil tas kerjanya, kunci mobil dan terburu-buru mencium pucuk kepala bianda, berlari kearah pintu dan berteriak "aku sayang kamu bianda Nadda" membuat bianda geleng-geleng kepala melihat sikap kekasihnya itu. "huuuuufftt...." bianda menghela napas dia harus memulai membersihkan apartemen seperti biasa sebelum pergi berbelanja kebutuhan dapur.
__ADS_1
disinilah pagi ini bianda berada, di supermarket sedang memilih sayuran kemudia n ia tercengang ketika samar-samar terdengar suara ibu-ibu bergosip dengan suara sangat besar hingga terasa seluruh isi supermarket ini dapat mendengarkan nya " eehh jeng tau ga, aku dengar jeng Rahayu mau jodohin anaknya loh, siapa yang bungsu itu lupa aku namanya..??" kata salah satu dari mereka, "oohh itu si Indra.. aduh cah Bagus kalo aku punya anak perempuan sudah aku minta jadi mantuku" jawab ibu yang satunya "ia katanya tahun ini keluarga Diradja mau ngadain acara besar, yaa paling nikahan si indra, kita lihat saja apa lebih megah dari yang sebelumnya" ibu yang tepat berada disebelah ku menimpali. aku hanya tercengang diam membisu, tak bisa ku bayangkan bagaimana nasibku setelah ini, aku kemudian pergi dari situ membayar belanjaan yang sebenarnya belum lengkap tapi hatiku tak kuasa menahan sesak ini... ku putuskan untuk pulang dan menenangkan diri, kali ini aku tak pulang ke apartemen Indra tapi kerumahku, rumah peninggalan almarhum suamiku.. rumah kenangan kami.
__ADS_1
kulajukan mobilku hingga tak terasa sudah sampai didepan rumah, bergegas aku masuk dan duduk di sofa ruang tamu... ya Tuhan aku rindu rumah ini lama tak terjamah hingga debu mulai tebal memenuhi perabotnya, disudut ruangan tak sengaja kulihat foto kami bertiga terpajang, yaa foto kami dengan anak kecil berusia 2 tahun tersenyum ramah... dia Bima anak kami, anak yang sekarang ku titipkan kepada kedua orang tua ku, anak yang setiap hari merengek pada opa dan om nya meminta video call denganku, ada saja yang dia ceritakan atau tanyakan aahh sungguh kurindu... aku menangis entah apa yang ku tangisi, rindu anakku kah ? atau gosip yang kudengar tadi siang? entah.. yang ku tahu ini sangat sesak, inilah aku bianda Nadda seorang perempuan berusia 30 tahun yang tiba-tiba harus berstatus janda dengan satu anak tanpa pekerjaan dan sekarang hidup satu atap bersama seorang pria tanpa status yang sah, miris.... seolah takdir selalu bermain-main dengan hidup ku.
__ADS_1