
Penginapan yang kami pilih, mempunyai luas bangunan yang tak terlalu luas serta tampaknya tak memiliki lantai atas. Walaupun begitu, penginapan ini sudah disusun oleh bata dan tampak kokohー Sudah siap untuk menghadapi segala hal yang mungkin akan terjadi.
Aku bersama Noland bersama-sama mulia mendekati pintu masuk yang terbuat dari kayu yang tampak tidak terlalu baru.
Penginapan ini pun tidak memiliki label nama di depannya yang membuatku agak ragu dengan tempatnya.
Niatnya kami ingin mengetok pintu terlebih dahulu, tapi baru ketika saja tangan Noland mengenai pintu... Pintu itu terdorong.
"Sepertinya tidak dikunci, seolah-olah mempersilahkan siapapun untuk memasukinya. Kenapa kita tidak langsung masuk saja?" ucapku.
"Bolehkah begitu?"
"Bukankah ini penginapan? Tapi karena pintunya ditutup, sebaiknya memang kita harus ketuk dulu."
Menyetujui saranku, Noland mulai mengetuk pintu itu dengan beberapa ketukan.
Mengharapkan respon, kami menunggu beberapa saat.
Akhirnya terdengar suara langkah kaki kecil dari dalam yang tampaknya sedang berlari ke arah pintu.
"Tunggu sebentar!" ucap orang yang sepertinya sedang mengarah ke arah kami.
Dari suaranya, dia sepertinya seorang anak perempuan.
Gagang pintu dihadapan kami perlahan-lahan bergerak dan pintu mulai terdorong ke arah belakang, memunculkan seorang anak perempuan yang tampaknya agak kesusahan untuk meraih gagang pintu.
"Selamat siang tuan-tuan, apa ada keperluan yang bisa dibantu?" ucap anak itu sambil berbungkuk.
"Iya, apakah benar tempat ini adalah penginapan?" ucap Noland ke anak itu yang masih berbungkuk.
Mendengar ucapan Noland sontak tubuh anak itu tegak dan menunjukkan wajah kegirangan.
"Iya benar sekali! Ini tempatnya. Silahkan masuk tuan-tuan!" ucap anak itu mempersilahkan kami masuk.
Aku dan Noland saling bertatapan, dan setelahnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.
Beberapa langkah kami lalui, anak di depan kami berlari ke arah dalam dan sepertinya berbicara dengan seorang dengan lantang dan gembira.
"Nenek! Sudah kuduga hari ini adalah hari keberuntunganan. Kita kedatangan pelanggan!" ucap Anak itu mengarah ke arah kanan ruangan.
"Benarkah...? Syukurlah," ucap seseorang dangan nada rendah.
Dari depan ruangan anak kecil itu perlahan-lahan terlihat seorang nenek-nenek tua yang tampak lemah.
Omong-omong tentang penginapan ini... dari pada disebut dengan penginapan, ini lebih cocok disebut dengan rumah. Di sekitar kami terdapat banyak furniture serta lukisan rumah pada biasanya. Sejauh mata memandang, aku hanya dapat melihat beberapa pintu yang sepertinya akan menjadi salah satu kamar kami nantinya.
Nenek itu mengelus kepala anak di dekatnya dan mulai berjalan perlahan ke arah kami.
"Apakah benar kalian ingin menginap di sini?" tanya nenek itu.
Mendengar itu, Noland langsung merespon.
__ADS_1
"Benar Nek, kami ingin menginap di sini. Kami pendatang baru di kota ini dan kebetulan tertarik dengan penginapan ini setelah melihat di daftar di papan informasi."
"Jadi begitu... Terima kasih karena sudah memilih penginapan kami," ucap nenek itu dengan sedikit menundukkan kepala.
"Jika boleh tahu, kenapa tuan-tuan tadi mengetuk pintu? Kenapa tidak langsung masuk saja?" lanjut tanya nenek itu.
"Itu karena kami tidak melihat papan nama tempat di depan, jadi kamu agak ragu untuk masuk."
"Ho! Benarkah?" ucap nenek itu sambil memutar pandangannya ke arah anak perempuan di belakangnya.
Menyadari hal itu, anak perempuan itu langsung memasang pose minta maaf dengan lidahnya yang dijulurkan.
"Jangan seperti itu lagi ya. Karena hal itu hampir membuat Nenek berpikir yang tidak-tidak."
"Iya maaf Nek."
Setelahnya, pandangan nenek kembali ke arah kami.
"Baiklah jika begitu, silahkan dipilih kamar yang ingin kalian tempati," ucap nenek sambil menunjukkan satu persatu ruangan dengan jarinya.
"Kalian bisa memilih kamar yang berada di sini maupun yang berada di bawah tanah, sesuka kalian," lanjut ucap nenek.
Bー
"Bawah tanah?!" ucap Noland mewakilkan kata hatiku.
"Iya, bawah tanah. Karena luas wilayah kota di sini kecil yang hal itu mengakibatkan harga tanah tinggi... dari pada memperluas bangunan lebih baik menggali ke bawah atau membangun ke atas."
"Bolehkah saya melihat ke kamar bawah tanah?!" ucap Noland dengan semangat.
"Hoho, kamu sangat bersemangat ya. Tentu, silahkan... Millin, tolong antara mereka."
"Baik, Nek!" sahut anak disebelahnya sambil membentuk pose hormat.
"Ayo tuan-tuan," ajakan Milin kepada kami berdua.
Meresponnya, kami mengikuti langkahnya untuk menuju ke ruangan bawah tanah yang dia maksud.
***
Tak perlu berlama-lama, kami tiba di depan tangga yang mengarah ke arah bawah tanah.
"Apakah di bawah sana gelap?" tanya Noland sedikit ketakutan. Semangatnya yang tadi berkobar-kobar perlahan-lahan menyusut.
"Tenang saja, kami memiliki pencahayaan yang sangat bisa diandalkan!"
"Benarkah?"
Dengan rasa ragu yang masih berada di benaknya, Noland mengikuti seorang gadis kecil di depannya yang tampak sangat percaya diri memasuki ruangan gelap di bawahnya.
Satu persatu kaki kami mulai memasuki tempat yang dimaksud dengan Milin di depan memimpin dan aku di belakang Noland yang tampaknya sudah mulai menganalisa sekitarnya.
__ADS_1
Yah, mungkin aku terlalu banyak berharap. Mengetahui bahwa aku tidak berada pada masa modern, aku membayangkan ruangan bawah tanah terlalu tinggi.
Setelah membiasakan mataku dengan kegelapan serta Milin yang mulai menghidupkan lentera serta lilin, aku melihat lorong yang tidak terlalu panjang yang disamping lorong terdapat pintu-pintu yang menghubungkan lorong dengan kamar di dalamnya.
Karena pencahayaan yang sangat amat buruk, menjadikan ruangan ini mendapat nilai minus yang begitu besar! Hei Mr. Edison cepatlah temukan lampu!
"Apakah pernah ada pelanggan yang menginap di sini?" Tanya Noland.
"Banyak tuan! Mereka sepertinya memilih menginap di sini karena biayanya yang murah, dan kebanyakan dari mereka hanya menginap satu malam saja," jawab Milin sambil menghidupkan beberapa lilin di sekitar kami.
"Apa banyak dari mereka datang saat musim dingin?" tanya Noland lagi dengan sedikit berjalan maju menyusuri lorong.
"Benar Tuan! Kenapa Tuan bisa tahu?" ucap Milin dengan cepat mendekat ke Noland dengan sangat terkejut dan penuh tanda tanya.
"Hanya menebak saja~ Jadi apakah kami bisa melihat bagaian kamarnya?" ucap Noland mengubah topik.
"Tentu, silahkan Tuan."
Milin mendekat ke arah pintu terdekat dan membukanya dan langsung masuk untung menghidupkan penerangan. Dia tampak seperti tidak memiliki rasa takut.
Mengikuti dari belakang, Noland dan aku masuk secara bergantian.
Di dalamnya terdapat benda-benda yang umum ditemukan pada penginapan. Aku terkejut karena kualitas di dalam sini, tidak jauh berbeda dengan penginapan pada umumnya. Walaupun berada di bawah tanah, luas kamar ini melebihi ekspektasiku, lantainya dan dindingnya dilapisi kayu, di pojok kiri depanku terdapat dua ranjang yang disiapkan. Di kanannya ada meja serta kursi sebagai tambahan dan furniture lainnya.
Awalnya kupikir ruangan bawah tanah ini seperti sel penjara. Mungkin aku harus meminta maaf.
"Kira-kira berapa lama lilin dan lentera ini akan bertahan?" gumam Noland yang berada di dekat salah satu lilin dan sedang mengamatinya.
"Jika dihidupkan mulai dari sekarang, kira-kira akan tahan sampai tengah malam lebih Tuan," jawab Milin.
"Wow benarkah? Ah ya! Bagaimana saat pagi hari? Apakah kami masih memerlukan alat penerangan?" lanjut tanya Noland.
"Tenang saja Tuan, saat matahari terbit kalian tidak akan diselimuti oleh kegelapan lagi," ucap Milin sambil menunjuk ke arah saluran yang mulus seperti fentilasi udara.
Noland tidak bertanya lagi, namun sekarang ia menoleh ke arahku. Wajahnya tersinari oleh cahaya kemerahan hasil dari lentera di tengah ruangan, kami melakukan kontak mata.
"Bagaimana menurutmu, Arthur?" tanyanya.
Jadi pada akhirnya, aku yang harus mengambil keputusan akhirnya ya...
Hey, Noland. Kau tau kan aku tak bisa mengambil keputusan secara mendadak.
Sambil mencari jawaban, aku mengamati lagi seisi ruangan ini. Dua orang di dekatku menunggu jawabanku.
"Yeah, menurutku ruangan ini sangat unik. Ini pertama kalinya aku melihat dan datang langsung ke penginapan bawah tanah. Ini dapat menjadi pengalaman yang hebat jika kita beristirahat di sini, Noland."
"Jadi sudah diputuskan ya..."
Seketika raut wajah gadis kecil di depan kami tampak bahagia, dia sepertinya tidak bisa menahan perasaan yang meluap-luap itu.
"Nona Milin, kami akan memilih ruangan ini," ucap Noland.
__ADS_1