
"Ariadna ternyata merupakan salah satu teman terdekat ibuku. Mereka sudah bertemu sejak kecil, dan masih terus berteman sampai sejak saat itu."
"Jadi, orang yang menuntunmu hingga saat ini..."
"Itu adalah Ariadna! Dia memberikanku semangat untuk hidup lagi serta melatihku sampai akhirnya aku telah menjadi seperti saat ini."
Aku tak menyangka bahwa Ms.Ariadna dan Evelyn mempunyai kisah seperti itu.
Rasa hormatku padamu semakin bertambah, Ms.Ariadna.
"Oh jadi begitu... Evelyn... aku sangat berduka atas kejadian itu."
"Tak apa-apa Arthur, lagi pula itu sudah lama. Aku sudah menerima yang terjadi."
Peristiwa itu benar-benar membawa dampak yang sangat besar bagi banyak orang.
Bukan hanya aku dan Evelyn saja, mungkin banyak orang di luar sana yang mendapatkan dampak yang menyakitkan dari peristiwa itu.
Sejak bercerita tentang masa lalunya, Evelyn di sampingku selalu memasang wajah sedih karena mengingat sesuatu yang mungkin tak ingin dia ingat lagi.
Aku seketika merasa bersalah karena membuatnya mengingat kejadian itu kembali.
Aku harus mencari topik yang lain...
Sambil terus berpikir, Evelyn yang sedang menghangatkan badannya di sampingku mulai berbicara kembali.
"Arthur, apa rencanamu untuk selanjutnya?"
Evelyn lebih dahulu membuka topik baru. Aku memang masih payah dalam urusan ini.
"Rencana untuk pulang kembali ke kota?"
"Bukan itu. Rencana selanjutnya pada hidupmu."
Rencana selanjutnya pada hidupku? Hal-hal yang akan kulakukan berikutnya?
"Oh itu! ...Aku berencana untuk bekerja di kerajaan... Ah! Omong-omong Evelyn, apa kamu tau kerajaan yang memerlukan tenaga kerja?"
Mumpung membahas ini, aku mencoba untuk mencari informasi untuk perjalanan kami yang selanjutnya. Semoga saja dia mengetahui sesuatu.
"Bekerja di kerajaan? Bukankah kamu sudah menjalani kontrak dengan Mr.Meinhard? Kenapa harus bekerja di kerajaan ketika kehidupanmu sudah pasti sukses?"
"Apa seistimewa itu menjalani kontrak dengan Mr.Meinhard?"
Aku sebenarnya sudah mengetahui jawabannya. Namun aku tetap menanyakannya untuk meluaskan percakapan kami.
"Dari yang kudengar dari Ariadna... Sangat jarang ada orang yang berhasil menjalani kontrak dengan Mr.Meinhard. Walaupun ada, orang itu pasti dari kalangan bangsawan," jelas Evelyn sambil meletakkan jari telunjuknya di dagunya seakan-akan sedang mengingat-ingat.
Jadi itu alasan sikap setiap orang sangat aneh ketika mengetahui kontrakku dengan Mr.Meinhard.
Dan itu mungkin saja yang menjadi salah satu alasan kami berada pada posisi ini.
"Yah... Ada beberapa alasan..." ucapku menjawab pertanyaan Evelyn.
"Apa itu?" ucap Evelyn sambil memandangku dengan penasaran.
Ah! Aku kira dia akan berhenti sampai situ...
Apa yang harus kujawab!?
"Em... Sejak kecil aku selalu bermimpi untuk dapat bekerja di dalam kerajaan!" jawabku pasrah.
"...Walaupun kamu sudah mendapatkan yang lebih baik?"
"IーIya!"
__ADS_1
"Mr.Meinhard pasti akan terkejut..."
"Dari pada itu, apa kamu tau kerajaan yang memerlukan tenaga kerja?" lanjutku bertanya kembali.
"Em... emm... Aku tidak tau... Maaf, Arthur," ucap Evelyn setelah berusaha untuk mencari tahu dalam ingatannya.
"Ah tidak apa-apa."
Memang lebih baik aku bertanya kepada Mr.Meinhard. Dia pasti memiliki segudang informasi.
"Jika kamu Evelyn. Apa tujuanmu selanjutnya?" ucapku balik bertanya.
Aku juga penasaran dengan hal ini. Evelyn sudah menjadi artis cilik yang sebentar lagi pasti perlahan-lahan akan terkenal. Namun setelah itu... Apa yang akan dia lakukan berikutnya?
Aku menunggu jawaban Evelyn sambil mengganti ranting kayu untuk dibakar, mempertahankan suhu hangat.
"Aku ingin meneruskan impian Ibuku... Untuk menjadi artis yang karyanya dinikmati oleh seluruh orang dari penjuru dunia... Lucu bukan?"
"Lucu?"
"Iya, Lucu. Banyak orang yang menertawaiku karena mimpiku terlalu tinggi dan tidak masuk akal. Mereka menyarankan agar tidak terlalu bermimpi terlalu jauh... Agar tidak tersakiti saat semisal mimpi itu tak terwujud."
Aku tak menyangka bahwa perkataan ini telah ada sejak lama.
Aku jadi teringat impianku yang sangat besar... Saat itu aku sangat ingin sekali untuk menjelajahi galaksi. Sangat besar, bukan?
Dan entah kenapa setiap bertambah usia... impianku selalu menurun. Dari awalnya yang begitu luar biasa besar menjadi... 'Aku hanya ingin tidur dengan nyenyak dan tenang malam ini.'
Aku ingin tertawa jika mengingatnya.
Setiap kali impianku menurun, usahaku untuk mencapainya juga ikut menurun.
"Menurutku tak ada salahnya untuk bermimpi besar. Walaupun misalkan memang tak terwujud... Tapi setidaknya kamu tau bahwa kamu sudah sangat jauh berkembang dari dirimu pada masa lalu. Jadi lanjutkan saja."
Evelyn terkejut dengan jawabanku. Apa ada yang aneh?
"...Ya! Tentu! Kenapa kamu sangat terkejut?"
"Itu karena... kamu adalah orang kedua yang mendukungku dalam hal ini selain Ariadna."
Kedua? Aku tak dapat membayangkan seberapa kejam dan menyakitkan hidupnya.
Tiba-tiba Evelyn memelukku dengan tubuhnya yang kecil dan ramping, hampir membuatku jantungan.
Kata orang-orang... Cara yang baik untuk melawan suhu dingin adalah dengan cara berpelukan.
Aku mengerti apa maksudnya sekarang.
"Terima kasih, Arthur."
"Tidak masalah."
Orang yang tidak konsisten dengan mimpinya, mereka sesungguhnya... hanya memerlukan sebuah dukungan yang tulus.
Sesaat setelahnya, Evelyn melepas pelukan hangatnya dari tubuhku.
Dan kembali dengan wajahnya yang sangat manis.
Syukurlah jika dia sudah kembali.
Evelyn memutar pandangannya ke arah luar gua.
"Ah, Arthur! Lihat!" ucap Evelyn sambil menunjuk ke arah luar gua dengan gembira.
"Ada apa?" tanyaku sambil mengikuti arah tunjukan jarinya.
__ADS_1
"Hujannya sudah reda!"
"Iya, Kamu benar. Tapi masih tetap dingin di sini."
Evelyn berjalan menuju mulut gua untuk melihat kondisi di luar. Aku mengikutinya dari belakang.
Benar. Suara jatuhnya air sudah tak terdengar lagi, serta rerintikan hujan sudah tak terlihat lagi.
"Tidak terasa, ya?"
"Ya."
Sambil memandangi bulan serta merasakan suasana hutan malam selepas hujan, kami mendengar sesuatu menuju ke arah kami.
Aku dan Evelyn menyadarinya.
Jika dari suaranya, ini adalah suara tapal kuda dan suara roda kayu yang berputar-putar.
Itu kereta kuda?
Suara itu berasal dari telinga kiri dan terus bertambah keras.
Aku menengok ke arah kiri jalan.
Di sana aku dapat melihat sebuah cahaya merah kekuningan yang sepertinya berasal dari lentera. Di dalam cahaya itu terdapat sebuah kereta kuda yang sedang melaju mendekat ke arah gua tempat kami berlindung dari hujan.
"Arthur! Itu kereta kuda!"
"Iya, benar."
"Ayo kita minta pertolongan!" seru Evelyn dengan semangat seperti sedang melihat cahaya harapan.
Evelyn mulai melangkah ke luar gua.
"Tunggu sebentar, Evelyn," ucapku berbisik sambil meraih lengan Evelyn.
"Ada apa, Arthur? Ayo cepat kita minta pertolongan sebelum kereta kuda itu lewat," ucap Evelyn dengan tak sabaran.
Kita memang seharusnya untuk meminta pertolongan... Tapi...
"Bagaimana bila kereta kuda itu berisi orang-orang yang menyekap kita tadi?"
"Hii!" Evelyn mengerti ucapanku dan langsung berjalan ke belakang tubuhku sambil ketakutan.
Aku tidak mengecek alat transportasi yang dipakai oleh orang-orang yang menyekap kami tadi.
Jadi aku sedikit waspada.
Kereta kuda itu semakin dekat.
Aku mengintip dari dinding gua, berusaha untuk melihat siapa yang mengendarai kereta kuda tersebut.
Semakin dekat dan semakin terlihat jelas.
Orang itu...
"Ah!" Aku langsung berlari ke luar gua mendekati jalan utama yang sedikit berlumuran.
"Eh, Arthur!?" ucap Evelyn terkejut.
Aku harus secepatnya meminta pertolongan pada kereta kuda itu.
Aku telah sampai di pinggir jalan dan kereta kuda itu berada puluhan langkah di depanku.
"Paman!" ucapku sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Orang yang mengendarai kereta kuda itu ternyata adalah orang yang sama yang mengantarkanku dan Noland ke Monte Rosa.