
Besoknya kondisi Chloe sudah membaik atas bantuan dari dokter yang ditemui Nenek, Noland, dan Milin kemarin. Tapi walaupun kondisinya sudah membaik, bisa saja kejadian ini terulang lagi bila Chloe tidak merawat dirinya dengan baik. Chloe masih dapat dikategorikan sebagai anak kecil seperti Milin, jadi kami sepantasnya kami harus memperhatikannya.
Tiga hari telah terbuang. Akan memakan beberapa banyak waktu lagi untuk mengumpulkan harta kerajaan itu? Aku yakin bila aku tidak menulis surat perjanjian, orang kerajaan itu pasti sudah melupakan urusan mereka dengan kami. Jadi kami harus mulai melakukan pencarian harta itu secepatnya.
Oleh karenanya, pada pagi hari ini aku dan Noland sudah bersiap-siap di ruang tengah untuk menunggu Chloe. Kami beralasan kepada Milin untuk mulai mencari orang tua Chloe hari ini.
Kondisi ruang tengah di sini sama sepinya seperti kemarin hari, walaupun sebenarnya sudah ada beberapa orang yang beristirahat di penginapan ini, mereka semua mungkin masih berada di kamar mereka, hal ini berbeda dengan penginapan di Monte Rosa yang selalu ramai dari pagi hingga malam. Entah kenapa aku merindukan keramaian itu.
Menunggu di depan meja yang biasanya, dengan beberapa peralatan kami yang berada di atas meja yang mungkin akan diperlukan nantinya, kami menunggu sambil berbincang-bincang mengenai beberapa topik. Hawa kehadiran Chloe mulai terasa dari dalam sana, dan tentunya ada Milin dan Nenek bersamanya.
Chloe muncul dengan gaun dominan abu-abu dan putihー yang jika tidak salah ingat, itu namanya Gaun Apron. Semacam gaun yang desainnya bergaya seperti celemek. Gaun ini sering dipakai oleh orang biasa pada umumnya di era ini.
Melihat kedatangan Chloe, aku dan Noland berdiri dan menyiapkan ulang diri kami masing-masing.
"Bagaimana, Chloe? apa kamu sudah siap?" tanya Noland.
Chloe menjawab pertanyaan Noland dengan anggukan kepala dan mulai mendekat ke arah kami.
Tapi sebelum dia mendekat, Milin di belakangnya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Dia terlihat sangat sedih, seolah-olah ini adalah perpisahannya dengan Chloe.
"Selamat tinggal, Chloe. Kita akan berpisah sekarang, tapi setidaknya main-main ke sini kapan hari," ucap Milin sambil memeluk Chloe.
"Ya, aku akan ke sini lagi," jawab Chloe.
Membiarkan Milin dan Chloe berpelukan aku kami mendekat ke arah Nenek.
"Nek, kami izin untuk pergi dulu. Mungkin untuk beberapa saat, kami tidak datang kembali. Tapi pasti kami akan kembali suatu saat nanti," ucapku meminta izin pergi.
"Iya Tuan Arthur dan Tuan Noland. Hati-hati, jika ada sesuatu yang berbahaya sebaiknya hindari itu... Maaf karena hadiah yang diberikan oleh kerajaan itu bukan dari salah satu harta yang hilang, jika itu sedari awal adalah harta yang hilang, Nenek akan memberikannya dengan senang hati."
"Tidak apa-apa, Nek. Hadiah itu memang sudah milik Nenek yang diberikan secara resmi," jawab Noland.
"... Dan ya, sebaiknya kalian mengikuti arah yang ditunjukan oleh Chloe. Entah kenapa Nenek merasa yakin dengannya setelah kejadian beberapa hari lalu. Mungkin saja "Dewi Keberuntungan" sedang berada di pihak kalian. Nenek juga percaya kalian pasti bisa mengumpulkan harta itu," ucap Nenek menasehati kami.
Aku sebenarnya masih ragu dengan hal itu, tapi untuk sekarang itulah cahaya harapan kami satu-satunya.
"Baik, Nek," ucapku dan Noland bersamaan.
Nenek memandangi kami berdua dan lanjut berkata.
"Pulanglah dengan selamat. Semoga keselamatan dan keberhasilan selalu ada di sisi kalian."
Kalimat itu adalah kalimat yang biasanya diucapkan oleh penduduk di kota ini untuk ucapan selamat tinggal atau merestui kepergian kami untuk sementara dan berharap kita 'kan bertemu lagi.
"Itu pasti, Nek," jawabku dengan percaya diri.
"Ya! kami pasti akan kembali dengan membawa keberhasilan!" jawab Noland dengan semangat di sampingku.
__ADS_1
Selanjutnya Nenek melakukan percakapan dengan Chloe, dan sebagai gantinya sekarang Milin berbincang-bincang tentang kami.
Dia memeluk kami dengan erat dan berharap akan keberhasilan kami.
Milin sangat suka memeluk.
Dan begitulah ucapan perpisahan kami dengan Milin dan Nenek di penginapan itu. Penginapan yang mungkin tampak sangat asing, namun aku yakin... saat aku kembali nanti, penginapan ini sudah menjadi penginapan terpopuler di kota ini!
Milin dan Nenek berada di depan pintu penginapan dengan melambaikan tangan perpisahan.
Milin melambaikan tangannya dengan semangat, namun dengan emosi yang tumpah ruah. Mungkin berat baginya berpisah dengan yang sudah dekat baginya. Dalam pandangannya, kali ini dia berpisah dengan dua orang sekaligus. Aku dan Noland serta Chloe ke tempat entah berantah.
Rasa yang kurasakan sama seperti perpisahan kami di Monte Rosa beberapa waktu lalu.
Aku, Noland, dan Milin membalas lambaian tangan mereka dan mulai berjalan menjauh, hingga tak terlihat lagi, pergi menuju cakrawala.
...****************...
Kami pergi ke area selatan kota Breithorn, sama seperti yang direncanakan awalnya. Kondisi jalanan lumayan ramai oleh wisatawan dan penduduk asli yang sedang melakukan aktivitasnya sehari-hari, dengan toko-toko indah dan menawan setiap sisi jalan kami pergi menuju arah selatan.
Toko pakaian, toko bunga, dan toko perkakas adalah jenis toko yang dominan sepanjang mata memandang, beberapanya adalah penginapan atau rumah penduduk.
Untuk menuju ke area selatan kira-kira diperlukan waktu satu setengah jam lebih bila berjalan kaki biasa. Jadi sambil berjalan-jalan kami menikmati pemandangan jalanan yang sudah ditata sedemikian rapi dan indah dengan bunga-bunga yang cantik menghiasinya. Di beberapa titik dipasang jam waktu, sehingga kami dapat melihat sudah berapa lama kami berjalan.
Ah ya, mengenai jam genggam yang diberikan oleh Noland, jam itu sudah kuperbaiki, jadi setidaknya jam itu sudah dapat berputar sesuai detik yang berlalu. Sekarang jam itu sedang berada dan berdetak di depan dadaku, aku bisa merasakan detakannya. Aku juga bisa merasakan detakan jantungku mengikuti irama detakan jam itu, sehingga perasaanku sangat tenang dan damai, walaupun banyak masalah yang akan dihadapi selanjutnya, setidaknya biarkan aku merilekskan diriku sejenak.
Kira sudah setengah perjalanan terlalui dan kondisi di sekitar juga tetap sama, walaupun ada beberapa perubahan untuk transisi dari area timur ke selatan. Sungguh kota impian.
"Bagaimana Chloe? apa kamu kelelahan?" tanya Noland mengkhawatirkan kondisi Chloe karena ia ikut berjalan dengan kami.
Menjawab Noland, Chloe menggelengkan kepalanya.
"Jika kamu kelelahan, bilang saja ya," ucapku.
"Ya," jawabnya.
Chloe juga sepertinya dari tadi melihat-lihat sekitarnya dengan antusias di matanya, dia juga pasti sangat menikmati perjalanan ini sehingga dia tidak kenal lelah. Jangan sampai dia melewati batasnya saja.
Walaupun dikatakan luas area kerajaan ini relatif kecil dari kerajaan lain... Tapi menurutku ini sudah termasuk kategori sangat luas. Jika ini masih dikatakan kecil, bagaimana dengan kerajaan yang lainnya?!
Bosan dengan berjalan kaki kami mengistirahatkan diri kami dengan merapat ke arah toko besar maupun kecil untuk melihat apa-apa saja yang mereka jual, dan membeli beberapanya. Noland seperti biasa memberi cendramata untuk koleksinya, aku membeli kain hangat untuk jaga-jaga musim dingin nanti, dan Chloe membeli jepit rambut setelah kupaksa. Dia agak malu-malu tidak enakan dalam urusan ini.
Kami beberapa kali mendatangi toko-toko unik yang belum sama sekali kami lihat sebelumnya. Ini unik, atau aneh ya. Mereka menumpahkan seluruh kreativitas mereka untuk menarik konsumen. Sama seperti bunga yang membuat dirinya berwarna-warni untuk menarik serangga untuk tercapainya tujuannya. Yang paling membekas diingatanku adalah toko senjata yang menjual banyak sekali jenis pedang-pedang yang sangat besar dan peralatan perang lainnya, itu sungguh sangat besar.
Tanpa disadari waktu berlalu begitu cepat, sepertinya waktu kami mengunjungi toko-toko sudah mengalahkan waktu kami berjalan menuju area selatan. Kami terlalu terpana dengan toko-toko di sini. Kami mengamati semuanya dan menjadikan refrensi lainnya untuk ide Mr.Meinhard kedepannya. Sial, ini sudah seperti kebiasaan.
Jangan-jangan Mr.Meinhard sengaja membuat agar kami memiliki kebiasaan untuk mengambil seluruh refrensi dari perjalanan kami untuknya. Hah...
__ADS_1
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke area selatan, dengan kemenangan akan kepuasan kami melihat-lihat toko tadi, kepuasan itu juga dapat terlihat di diri Chloe, yang ikut semangat mengunjungi satu persatu toko.
"Haha, seru ya! Noland, Chloe?"
"Iya, Arthur. Sampai-sampai kita keluapaan waktu begini. Betul kan Chloe?"
Chloe mengangguk semangat, "Hm!" Dia mungkin senang dengan jepit rambut itu.
"Kalau menurutku sih, yang sangat menarik itu yang toko senjata itu loh! Pemilik tokonya sangat semangat menjelaskan satu persatu benda-benda yang dijualnya, walaupun pada akhirnya kita hanya membeli sebuah pisau."
"Ya, benar. Kenapa kamu tidak membeli senjata yang besar itu, Arthur?"
"Heh?! Benda sebesar itu? Aku pun ragu dapat kuat mengangkatnya untuk beberapa menit," jawabku. "Seharusnya kamu yang membelinya, Noland," ucapku balik.
"Kita mungkin harus memiliki otot besar untuk bisa mengayunkan pedang itu, Arthur."
"Kamu benar, Noland!"
Kami masih membicarakan tentang hal unik dari kerajaan ini sambil tetap berjalan bersama. Chloe juga tampaknya sudah yakin untuk berjalan lebih di depan kami, dia tampak seperti memimpin kami. Tentu saja pandangan kami tidak jauh-jauh darinya, kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Di tengah obrolanku dengan Noland dan sesekali Chloe ikut dalam obrolan, tak disadari langit menjadi mendung, dan itu sangat tebal serta ditandai dengan angin yang cukup kencang. Aku yakin sebentar lagi akan turun hujan, dan bisa jadi hujan badai. Orang-orang disekitar kami juga menyadarinya dan mulai bergegas kembali.
Oleh karenanya, kami sekarang sedikit berjalan cepat sambil melihat-lihat tempat yang tepat untuk berteduh dari hujan yang akan datang dengan tangan kiri Chloe yang kugengam supaya dia tidak tersesat. Dalam kondisi ini memang sangat rawan untuk anak-anak untuk tersesat, jadi pilihan untuk menggenggam tangannya adalah pilihan yang masuk akal.
Hari semakin gelap mengindikasi hujan benar-benar akan turun, jadi kami harus secepatnya memilih tempat untuk meneduh.
Ditengah pencarian itu, dengan kondisi kamu yang sedang berjalan cepat, tangan kananku yang menggenggam tangan Chloe tiba-tiba terasa terhenti. Kutolehkan wajahku ke arah tangan kananku dan benar saja, Chloe berhenti berjalan di tengah jalan. Menyadari itu, Noland yang berada di sisi kanan Chloe yang dari tadi melihat-lihat tempat ikut berhenti.
"Ada apa Chloe?" tanyaku menanyai alasannya berhenti tiba-tiba.
"Itu, di sana," jawab Chloe sambil mengangkat tangan kanannya menunjuk ke arah sesuatu.
Ku-ikuti arah tunjukkan jarinya, dan itu mengarah ke arah tempat makan semacam restoran atau bar yang lumayan besar.
"Ah kamu ingin ke sana ya. Benar juga! Memang sebaiknya kita meneduh sambil mencari makan. Ide bagus Chloe!" ucapku memuji pilihan Chloe.
Namun tidak ada balasan darinya.
"... Chloe?" tanyaku.
"... Arthur, coba lihat matanya," ucap Noland.
"Matanya?"
Aku baru menyadari. Matanya... sama persis saat pada kejadian makan malam di penginapan. Pandangan kosong itu.
Aku memutar balik pandanganku ke arah tempat makan yang ditunjuk oleh Chloe.
__ADS_1
Ada apa dengan tempat makan ini!?