Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Anak yang Misterius 2


__ADS_3

Sepertinya aku pingsan. Lagi. Kukira kondisiku sudah lebih membaik dari sebelumnya, ternyata sama saja. Sampai kapan kondisiku akan seperti ini? Aku ingin kembali.


Menyadari aku bahwa kesadaranku sudah kembali, aku mencoba untuk diam sejenak di kasur yang empuk ini sebelum membuka mataku berhadapan dengan kehidupan. Kasur ini nyaman, berbeda dengan kasur yang biasanya menyambut kembalinya kesadaranku di kerajaan sana. Saking nyamannya aku merasa tubuhku sangat rileks hingga ke tulang-tulang. Jika aku terus berdiam diri di sini, mungkin saja aku akan tertidur kembali.


Bersiap untuk membuka mataku, aku menarik napas dan menghitung aba-aba. Ini sudah menjadi kebiasaanku ketika aku merasakan keraguan dengan jalan yang akan kulalui. Oke, kita mulai.


Kubuka perlahan kelopak mataku, meski agak sulit awalnya, aku tetap akan membuka mataku membiarkan cahaya masuk. Sudah berapa lama aku tertidur sebenarnya? Seperti lebih lama dari biasanya. Rekor baru?


Hal pertama yang kulihat saat aku berhasil membuka kelopak mataku adalah langit-langit yang terbuat dari kayu, beberapa diantaranya sudah hampir lapuk, tapi mungkin tidak akan menjadi masalah untuk beberapa tahun kedepan. Puas dengan langit-langit itu kugeser pandanganku ke samping untuk lebih memperhatikan sekitarku.


Aku berada di sebuah ruangan, ruangan ini lebih luas dari ruangan dokter itu. Ruangan ini mengingatkanku dengan tampak sebuah ah kamar yang sudah lama tak kulihat. Kasur tempatku berada saat ini berada di tengah-tengah, di apit oleh dua meja kecil dengan ada sebuah gelas berisi air di salah satu mejanya. Di depan kasur ini terdapat dua kursi yang saling berhadapan. Di samping jendela terdapat lemari dan rak yang mungkin digunakan untuk menyimpan sesuatu. Di sekitar sini juga aku dapat melihat peralatan berupa lap, ember, dan beberapa obatnya.


Jika kuperhatikan lebih diriku, sebagian tubuhku ditutupi oleh sebuah selimut hangat. Apa yang harus kulakukan sekarang. Kucoba untuk sedikit berbicara namun rasanya tenggorokanku serak. Jika begitu, aku akan bangun dan melihat ke luar dan berterima kasih.


Kugerakkan badanku untuk bangkit dari kasur, namun baru dalam posisi duduk terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar jelas. Ada yang sedang melangkah kemari. Apa dia menyadari bahwa aku sudah sadar? Siapakah dia?


Aku berpasrah diri dan menunggu dia datang ke sini. Suara langkah kaki itu semakin dekat dan si pemilik suara itu menampakkan dirinya melewati pintu di pojok kiri ruangan. Dia si pembohong.


Orang yang datang kemari adalah orang yang telah berbohong kepada Milin. Dia memperhatikanku dan tampaknya tak terkejut. Dia langsung melangkah masuk dan berbicara denganku.


"Oh, kau sudah bangun. Bagaimana kondisimu?" tanyanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.


Sudah sepantasnya menjawab pertanyaan orang lain, namun mulutku rasanya sangat tertutup rapat.


Dia mendekat ke arahku, sepertinya dia tak masalah ketika aku tak menjawab pertanyaannya tadi. Dia mengambil sebuah kursi dan membawanya ke samping kasur tempatku berada dan duduk di sana. Dia melihatku, seperti sedang memperhatikan segala titik. Selanjutnya dia menjulurkan tangannya mendekat ke arahku. Apa yang akan dia lakukan?! Pasrah dengan takdirku aku hanya dapat menutup mataku pasrah.


Perlahan muncul suatu rasa sentuhan dari suatu tempat, itu ada di keningku. Kubuka mataku melihat apa yang ia lakukan. Dia menyentuh keningku dengan menggunakan bagian belakang tangannya.


"Sepertinya sudah membaik, bagus lah."


Jika kurasakan sendiri, memang benar bahwa suhu tubuhku sudah lebih membaik.


"Chloe, minum dulu," ucapnya sambil memberikan segelas air.


Ah, ya... Chloe itu namaku yang sekarang.


Dikarenakan tenggorokanku yang agak serak aku pun meminum air yang diberikannya, berharap aku akan lebih mudah untuk berbicara kedepannya.


Setelah dia mengetahui bahwa aku sadar, mengapa dia tidak memberi tahu yang lainnya? Apa mereka juga akan ke sini? Aku mencoba mencari jawabannya dengan melihat keluar pintu.


"Apa kamu bertanya tentang yang lainnya?"


Mendengar pertanyaan si pembohong itu, aku hanya bisa melihatnya dengan kaget dan terheran-heran karena dia bisa membaca pikiranku. Apa dia penyihir? Penyihir pembohong!


"Mereka semua sedang pergi ke dokter. Kami sebenarnya merawatmu sebelumnya, tapi nampaknya satu hari penuh itu kondisimu belum membaik. Itulah sebabnya mengapa, Noland, Milin, dan Nenek sedang pergi ke dokter. Tapi tampaknya itu sudah tak diperlukan," jelasnya.


Jadi selama seharian mereka merawatku. Selama kondisiku tak sadar, mereka merawatku? Apa itu benar terjadi? Aku meragukannya karena yang mengatakannya adalah si penyihir pembohong.


"Chloe, apa kondisimu ini sudah terjadi padamu berulang kali?" tanyanya.


Kondisiku kian memburuk hari demi hari, dan itu menyebalkan.


Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Huh begitu... Apa kamu tahu apa penyebabnya?" lanjut tanyanya.


Aku sudah bertemu dengan dokter berulang kali di kerajaan itu, namun dokter itu tak pernah mengatakan sesuatu kepadaku.


Aku menggelengkan kepala dan mencoba menjawabnya dengan mulutku.


"Aku tidak tahu," suara kecil itu berhasil keluar dari mulutku.


Mendengar jawabanku, penyihir pembohong itu terdiam dan tampak merenungi sesuatu. Kenapa dia sangat suka merenung?


Jika apa yang dikatakannya benar, bahwa hanya ada aku dan dia di sini, maka ini kesempatanku untuk bertanya kepada terhadap sikapnya yang sebelumnya terhadap Milin.


"Em, kamu..." Ah aku melupakan nama aslinya, mana mungkin aku memanggilnya Penyihir Pembohong.


"Hm?? Namaku Arthur Gunther, panggil saja sesukamu. Ada apa? Apa kamu perlu bantuan?" jawabannya.


"Kーkenapa kamu bohong?" tanyaku.


Akhirnya aku mengatakannya.

__ADS_1


"Bohong?" ucapnya kebingungan.


Apa dia tidak menyadari hal yang telah dia lakukan?


"... kepada Milin," jelasku lanjut.


Merenung sejenak dan tampaknya dia mendapatkan apa yang kumaksud.


"Oh, yang tempo hari itu? Berbohong tentang identitasmu itu?" tanyanya memastikan.


Aku mengangguk mengkonfirmasi.


"Apa kamu tidak enakan karena aku menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya kepada Milin? Yah... Aku sebagai pendatang di sini bisa saja memberitahunya semuanya, tapi aku tidak melakukannya untuk kebaikannya. Dia mengagumi kerajaan, jadi bila ia mengetahui kondisimu saat ini berasal dari kerajaan, bisa saja dia malah berbalik membenci kerajaan."


Jadi, demi KEBAIKAN?! apanya yang baik?!


"Bagaimana jika dia mengetahui yang sebenarnya?" tanyaku lagi.


"Tidak apa-apa, identitasmu itu pasti suatu saat akan terbongkar juga, dan saat itu juga Milin pasti akan mengerti juga. Jadi biarkan saja sang waktu mengerjakan tugasnya."


"TIDAK BOLEH!"


"Eh? Em... Apa kamu sebegitunya?" ucapnya sambil terkaget.


"Tidak ada yang baik dari berbohong! Dan bila kebohongan itu terungkap, hubungan kalian tidak akan sama lagi!"


Ah... Aku mengeluarkan semuanya.


Si penyihir pembohong itu tampaknya terkaget dengan responku itu. Aku sudah lama tidak berbicara lantang seperti itu, pastinya dia terkaget.


Dia terkaget dengan sedikit terkagum?


Ada jeda dalam pembicaraan kami, mungkin saja dia sangat kebingungan saat ini.


Beberapa saat kemudian dia ingin mengucapkan sesuatu namun terdengar suara keras dari luar ruangan. Suara itu terdengar seperti sesuatu sedang menabrak pintu.


Sontak si Penyihir Pembohong di sampingku yang hendak mengucapkan sesuatu mengalihkan perhatiannya ke sumber suara itu.


Dia hanya mengucapkan itu dan langsung bergegas keluar ruangan.


Apa yang terjadi?!


Merasa kondisiku yang sudah membaik aku bangun dari kasur dan menuju ke pintu, menengok apa yang terjadi.


Tiba di pintu, aku tidak menunjukkan diriku, melainkan aku mengintip dari kejauhan.


Si penyihir pembohong berjalan ke depan menuju sumber suara dan di sumber suara itu terlihat dua orang, pria dan wanita.


"Em, halo Nyonya dan Tuan. Apa yang terjadi?" tanya si Penyihir Pembohong.


Mendengar suara itu, kedua orang itu terkaget dan langsung melihat ke Penyihir Pembohong.


"Kamu siapa?!" tanya salah satu pria dengan nada tinggi.


"Aku kakak dari Milin, aku baru saja datang ke sini," jawab si Penyihir Pembohong.


Dia lagi-lagi berbohong. Jelas-jelas dia tadi mengatakan bahwa dia adalah pendatang.


Sudah berapa banyak dosa yang dia buat?


"Kakak dari Milin? Aku tak menduganya, dia memiliki seorang kakak," respon pria itu.


"Yah, begitulah. Selanjutnya giliranku bertanya, siapa kalian berdua? Bukankah sudah ada tanda 'tutup' di depan sana."


"Huh! aku dan istriku adalah pengelolaan penginapan terbesar dan termaju di kota ini. Seharusnya kamu memperlakukan kamu dengan lebih sopan!"


"Baik, Tuan dan Nyonya. Apa keperluan kalian ke mari?"


"Kami ingin menagih hutang!" ucap si wanita di sebelah pria itu dengan sikap sedikit sombong.


"Hutang?" tanya si Penyihir Pembohong.


"Iya... Hutang. Nenekmu itu berhutang kepada kami untuk dapat mempertahankan penginapan yang bobrok ini," jelas si wanita dengan menjelekkan penginapan.

__ADS_1


"Seharusnya kalian tidak memanggil penginapan ini dengan sebutan bobrok," jawab si Penyihir Pembohong.


"Diam! Suka-sukaku! Cepat bayar hutang kalian!"


"Maaf, Tuan dan Nyonya. Dana yang kami miliki masih sedikit."


"Tuh kan! Memang benar penginapan ini bobrok!"


"Tuan dan Nyonya. Kami belakang ini sedikit kedatangan tamu dan bahkan tidak ada," jelas Penyihir Pembohong menjelaskan kondisi penginapan.


Mendengar perkataan si Penyihir Pembohong kedua orang itu seketika tertawa lepas.


"Hahaha! Itu berhasil sayang!"


"Usaha kita tidak sia-sia!"


"Maksudnya?" ucap si Penyihir Pembohong.


"Hahaha! kami berdua dan sekongkolan kami yang lain menyebarkan citra jelek kepada penginapanmu ini! Ah! Sial kelepasan."


"Jadi, alasan kami sedikit menerima tamu karena ulah kalian?"


"Sudahlah, Ya! Oleh karena, cepat bayar hutangmu dan kami akan berhenti melakukannya."


"Tapi, Nyonya... Seingatku, penginapan ini dibiayai oleh kerajaan."


"Geh! Kau..."


Jadi, mereka berbohong juga? pembohong bertemu pembohong.


"Dan, tidak ada penagih hutang yang mendobrak pintu sampai sehancur itu," lanjut ucapnya.


"Sialan brengsek! Matilah!"


"Bunuh dia! jangan sampai hal ini diketahui!"


GAWAT! INI GAWAT!


Pria bertubuh besar itu melontarkan pukulan cepat mengarah si Penyihir Pembohong dengan tangan kanannya.


Dia akan menerima karmanya sekarang karena berbohong.


Tak berani melihat aku membelakangi pintu dengan ketakutan.


Suara keras terdengar sebagai akibat hantaman sesuatu. Namun tak terdengar suara tubuh yang terjatuh. Apa yang terjadi?


Aku kembali mengintip dari pintu dengan ragu-ragu tak berani.


Di sana si Penyihir Pembohong mengepal tinjuan yang di arahkan padanya dengan tangan kanannya. Aku bisa melihat dengan jelas tatapan kaget wanita disebelahnya saat melihat hal yang terjadi.


"Jadi benar, kalian adalah penjarah," ucap si Penyihir Pembohong.


"DIAM!!"


Pria itu lanjut mencoba memukul orang di depannya itu dengan tangan sebelah kirinya. Si Penyihir Pembohong melepas tangan kanan pria itu dan ganti menahan pukulan dengan tangan kirinya. Suara keras muncul lagi. Tanpa berpikir panjang, Penyihir Pembohong membalas dengan mendendangkan kakinya. Sontak si pria meletakkan tangan kanannya di perutnya untung menangkisnya. Namun sayang, bukan itu target dari si Penyihir Pembohong. Dia menendang kaki kanan pria itu ke depan, membuat keseimbangan dari si pria goyah. Dia sekejap memutar tubuhnya, memegangi lengan kiri pria itu dan langsung membantingnya ke depan.


Suara dentuman keras timbul dari kejadian itu.


"GUAH!" jerit kesakitan pria itu karena jatuh di alas yang keras.


"HAH! TOLONー"


Tak sempat untuk berteriak, mulut dari wanita itu sudah di tutup oleh si Penyihir Pembohong dengan mendorongnya ke dinding dan mengunci tangannya ke belakang.


"Mohon maaf atas kelancangannya Nyonya, tapi mulai sekarang, mari kita bicara dengan elegan," ucap si Penyihir Pembohong.


"He... Kau..." Suara lemas keluar dari mulut pria yang terkapar di lantai.


"Oh ya Tuan, sebelum kesadaranmu hilang, ingat kata-kataku ini. Katakan kepada sekongkolan kalian bahwa aku, Arthur. Mulai saat ini sampai kedepannya akan tinggal di kota ini. Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkan kalian bertindak seeanaknya!"


Menerima kata-kata itu, terlihat pria itu sudah kehilangan kesadarannya di atas lantai. Dia dikalahkan oleh si Penyihir Pembohong.


Dia mungkin seorang pembohong, tapi dia pembohong yang keren.

__ADS_1


__ADS_2