Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Tamu Spesial di Pabrik Kecil


__ADS_3

"Mr.Meinhard! Nona Evelyn dan Ms.Ariadna sudah datang," ucapku memanggil Mr.Meinhard di ruangan kami tadi.


Jika kulihat sekitar, Mr.Meinhard dan Noland berada di sekitar meja pendek dekat sofa dan sedang mengatur beberapa parfum yang telah selesai. Ada tiga jenis parfum, jenis parfum yang lain akan di produksi bertahap.


Kertas yang berceceran telah hilang dari atas meja, kemungkinan besar sudah disimpan oleh Mr.Meinhard di tempat yang rahasia.


"Ya silahkan," jawab Mr.Meinhard berdiri dari sofanya dan berjalan mendekat ke arahku untuk menyambut tamu spesial.


Noland juga berdiri, namun dia tetap pada posisinya.


Aku bergeser sedikit dari posisi awal, memberikan jalan pada Evelyn dan Ms.Ariadna di belakangku.


"Perkenalkan saya Meinhard, pengelolaan Asosiasi Pedagang."


"Saya Ariadna manager dari nona Evelyn di samping saya," balas perkenalan Ms.Ariadna sambil mewakilkan Evelyn di sampingnya.


"Senang bertemu denganmu Mr.MeinhardTuan Meinhard," ucap Evelyn sambil melepas kacamatanya.


Noland sudah gemetar di sana.


"Senang juga bertemu dengan kalian semua. Seperti yang sudah dikatakan oleh Nak Arthur, kami sudah menyiapkan beberapa contoh produk kami di atas meja sana. Saya berharap semoga kita bisa melakukan kerja sama."


Mr.Meinhard memandu Evelyn dan Ms.Ariadna, dan mempersilahkan duduk di atas sofa.


Aku dan Noland mengambil posisinya di samping kanan dan kiri Mr.Meinhard.


Evelyn dan Ms.Ariadna sudah tampak penasaran dengan benda yang terletak di atas meja.


3 jenis parfum dengan 3 kelas yang berbeda.


"Silahkan dicoba... Parfum-parfum ini terbagi menjadi 3 jenis yang berbeda. Jenis pertama diperuntukkan oleh masyarakat kalangan bawah, yang kedua untuk masyarakat kalangan menengah, dan yang terakhir untuk para kaum bangsawan," jelas Mr.Meinhard sambil menunjuk parfum yang dimaksud.


Evelyn dan Ms.Ariadna mulai meraih beberapa parfum yang memikat perhatiannya, dari segi warna cairan dan bentuk botol kemasannya.


Aku berjalan mendekat mereka untuk membantu menggunakannya.


Evelyn mengambil parfum untuk masyarakat kalangan menengah, dan Ms.Ariadna mengambil parfum untuk kaum bangsawan.


Sepertinya Ms.Ariadna memiliki kemampuan untuk memilih produk terbaik.


Mereka berdua menggunakan parfum itu ke tangan mereka, dan mencium aromanya.


Seketika mata Ms.Ariadna berbinar-binar, dia mencium aromanya berulang-ulang.


"LーLuar biasa! aku tak menyangka akan sewangi ini!" ucap Ms.Ariadna sambil terus menyemprotkan parfum di tangannya.


"Bukankah begitu nona Evelyn?" tanya Ms.Ariadna menanyakan pendapat Evelyn di sampingnya.


Semua pandangan berpindah ke Evelyn.


Evelyn di sampingnya hanya terdiam setelah mencium aroma parfum yang ia pilih.


Merasakan ada yang tidak beres, Ms.Ariadna mulai menanyakan kondisi Evelyn.


"Nona Evelyn? Kamu kenapa?" tanya Ms.Ariadna mulai khawatir dengan Evelyn yang sedari tadi terdiam.


"Eーeh? Ah, Aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut karena wangi parfum ini," jawab Evelyn sambil mencoba membuat senyuman di wajahnya.


"Benarkah? Kamu hampir membuatku khawatir Nona."


”Tenang Ariadna, aku baik-baik saja."


Itu benar-benar membuatku sangat khawatir! Aku kira ada zat berbahaya yang masuk ke dalam parfum itu.


Mungkin pikiranku sama dengan Mr.Meinhard, karena tadi dia membuat wajah panik dan perlahan-lahan mereda.


Apa ada hal yang aneh dari parfum itu?


"Bagaimana Nona Evelyn? Ms.Ariadna? apa kalian menyukainya?" tanya Mr.Meinhard.


"Iya, aku menyukainya," jawab Evelyn dengan sedikit lesu.


"Jika Nona berpikiran begitu, saya pun begitu."


Wajah bahagia muncul dari wajah Mr.Meinhard, dia sangat berharap bahwa kerjasama ini akan berhasil.


"Baguslah bila begitu. Apa kita dapat membicarakannya lebih detail di tempat yang lebih tertutup'?" ucap Mr.Meinhard mengajak untuk mendiskusikan kerjasama ini pada ruangan yang lebih aman.


"Tentu," jawab Ms.Ariadna.


Mr.Meinhard bangkit dari sofanya.


"Silahkan lewat sini," ucap Mr.Meinhard siap memandu.


"Ayo Evelyn," ajak Ms.Ariadna.


"Em Ariadna... Aku tetap di sini saja, aku sepertinya kelelahan setelah perjalanan tadi."


"Eh? Tapi..."


Jika kulihat dari kondisi Evelyn, dia memang sedikit kelelahan. Tapi ini sangat tiba-tiba sekali, padahal tadi dia sangat bersemangat.


Dia berubah saat mencium aroma parfum tadi.

__ADS_1


Aku harus menyelidikinya. Aku harus bertanggung jawab atas ciptaanku.


"Tenang saja Ms.Ariadna, kami yang akan menemani Nona Evelyn di sini. Benarkah begitu, Noland?"


"Maaf Arthur, aku ingin menemani Mr.Meinhard di dalam."


Kamu terlalu berlebihan Noland.


"Ah begitu... Baiklah, saya yang akan menemani Nona Evelyn di sini. Jadi tenanglah Ms.Ariadna."


"Baiklah... tolong temani Evelyn, Arthur."


"Serahkan kepada saya."


Ms.Ariadna dan Noland berjalan keluar dari ruangan, mengikuti Mr.Meinhard ke ruangan lainnya.


Aku duduk pada satu sofa yang sama dengan Evelyn.


Jika kuperhatikan lagi, Evelyn memang benar-benar kelelahan.


"Nona Evelyn, apa kamu benar-benar kelelahan karena perjalanan tadi?"


"Ya... Ini juga mungkin terjadi karena jadwalku yang banyak," jelas Evelyn.


Masuk akal. Jadwal tampil Evelyn memanglah sangat padat, dari pagi hingga malam. Mungkin seharusnya sore ini adalah waktu beristirahatnya.


"Bukan karena parfum itu, kan?" tanyaku memastikan.


Tiba-tiba tubuh Evelyn menegang.


Eh? Ada apa? Jangan-jangan memang ada yang aneh dari parfum itu.


"Nona Evelyn, Apa ada yang aneh dari parfum itu?"


"TーTidak ada..."


"Benarkah? Tapi kenapa sepertinya perilakumu agak aneh saat menyangkut tentang parfum itu?"


"Kenapa kamu tidak mempercayaiku?"


"Maaf Nona Evelyn, bukannya saya tidak mempercayaimu. Tapi... saya khawatir akan hal aneh yang mungkin terkandung di parfum itu. Parfum itu adalah ciptaan saya, jadi saya yang harus bertanggung jawab akan segala hal yang terjadi," jelasku.


Evelyn terdiam.


Di tengah percakapan tiba-tiba ada seseorang yang meminta izin untuk masuk.


"Permisi, bolehkah saya masuk?" tanya orang itu.


"Ah ya silahkan," ucapku sambil menengok ke orang tersebut.


Orang itu membawa sebuah nampan dengan dua cangkir teh di dalamnya.


"Saya dimintai tolong oleh Mr.Meinhard untuk membuatku dan membawakan teh untuk kalian," ucapnya menjelaskan tujuannya.


"Oh begitu, terima kasih."


Aku bangkit dari sofa dan membantu orang itu untuk meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


"Silahkan dinikmati," ucap orang itu.


Setelahnya dia pamit undur diri dan keluar dari ruangan.


"Silahkan diminum Nona Evelyn," ucapku mengajak Evelyn untuk meminum teh yang hangat itu.


"Terima kasih."


Evelyn mengambil tehnya dan meminumnya secara elegan.


Aku kembali duduk di sofa di sampingnya.


Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, jadi aku ikut meminum tehku.


Bagaimana cara melanjutkan topik yang tadi... Ah aku masih payah dalam komunikasi!


Sangat canggung.


Sunyi. Itulah yang dapat menggambarkan keadaan kami saat ini.


Apa dia tidak suka dengan perlakuanku tadi? Jika dipikir-pikir perlakuanku tadi sangat tidak sopan. Gawat! Mungkin saja dia akan membatalkan kerja sama kami yang bahkan aku pun tak tau sudah atau tidaknya itu terjalin.


Gawat! Gawat! Ini sangat gawat!


"Parfum tadi beraroma bunga jasmine kan?"


Tiba-tiba Evelyn mulai berbicara kembali, hampir membuatku terkejut karena panik.


Aku harus membuatnya nyaman.


Aku melirik ke arah parfum yang dia maksud.


"Benar, kami menggunakan bunga jasmine di dalam parfum itu."


"Apa ada yang aneh?" tanyaku perlahan-lahan.

__ADS_1


"Tidak terlalu... Bukan sesuatu yang besar. Sejujurnya, aku hanya teringat dengan kampung halamanku."


"Kampung halamanmu? Jadi di sana banyak terdapat bunga jasmine?"


"Yah seperti itu lah..."


"Jadi, jangan terlalu memikirkannya lagi," lanjut Evelyn.


"Ah... Baik. Terima kasih atas penjelasannya."


Jadi, kerena itu dia tiba-tiba menjadi lemas dan lesu? Hanya karena kampung halamannya? Sepertinya dia masih menyimpan banyak rahasia lagi.


Tapi aku tak akan memaksanya untuk mengutarakannya. Itu privasinya.


"Kamu seperti terlalu formal, gaya bicaramu."


"Aku merasa sedikit aneh jika gaya bicaramu terlalu formal."


Dia menyuruhku untuk memperbaiki gaya bicara formal dan sopanku ini? Ok, akan kuturuti.


"Ah, baiklah Nona Evelyn."


"Evelyn! ... panggil aku Evelyn."


"Iya... Evelyn."


"Itu sudah terlihat lebih bagus!"


"... Apakah pantas untukku untuk berbicara denganmu seperti ini?"


"Kenapa tidak pantas? bukankah kita teman?"


"TーTeman?"


"Heh?! Kita bukan teman?"


"Ah! maksudku... Iya kita teman!"


Senyum kembali terbentuk di wajahnya.


Sepertinya aku telah berhasil untuk mengembalikan moodnya kembali. Syukurlah...


"Arthur, apa kamu tau? Hari iniー"


Baru di tengah kalimat, ucapan Evelyn tiba-tiba terputus.


Aku melihat ke arahnya karena penasaran.


Tapi sayangnya aku tak bisa melihat wajahnya di depan wajahku.


Dia jatuh terbaring di atas sofa.


Hah kenapa ini?! Gawat!


Aku mendekatinya dan mencoba membangunkannya.


"Evelyn? Evelyn? Evelyn?!" ucapku sambil mengguncang tubuhnya yang ramping itu.


Gawat, dia pingsan!


Apa dia sebegitu lelahnya?


Aku memeriksa kondisinya, memeriksa suhu tubuhnya, memeriksa denyut nadi, dan lain-lainnya.


Aneh, aku tak merasakan ada yang aneh.


Sambil berpikir aku tak sengaja melirik ke arah cangkir teh yang kami minum tadi.


...


...


Sial! Aku tak menyangka ini akan terjadi.


Ini bukanlah waktu untuk berdiam diri.


Aku berlari dengan kecepatan tinggi, keluar ruangan untuk mencari pertolongan.


Sepertinya kesialanku telah tertumpuk pada saat ini.


Saat melewati jalan pemisah antar ruangan... tanganku ditangkap oleh seseorang.


Karena kecepatanku... aku berputar, terpelanting, dan ambruk ke lantai dengan sangat keras seperti terbanting.


Kepalaku mulai kesakitan karena efek terjatuh dan pengelihatanku perlahan-lahan tak jelas.


Bayangan beberapa orang mulai muncul di dalam pengelihatanku yang tak jelas ini.


Dan pengelihatanku hitam total, dan kesadaranku mulai terombang-ambing.


Sial! Sial! SIAL!


Aku lengah.

__ADS_1


Aku akan dimakan oleh para singa itu... Pada akhirnya aku hanyalah seekor rusa kecil yang sangat naif.


__ADS_2