Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Mr.Meinhard


__ADS_3

Mr.Meinhard, pengelola asosiasi pedagang ini sekarang sudah ada dihadapanku.


Bagaimana ceritanya Noland bisa berteman dengan Mr.Meinhard? itulah pertanyaan besar di kepalaku.


Tapi dengan menyadari kehebatan Noland dalam kemampuan komunikasi, sangat wajar bila Mr.Meinhard meliriknya.


"Yang terhormat Mr.Meinhard, saya Arthur Gunther, teman Noland Filibert. Saya ingin bertanya mengapa anda bisa tertarik dengan kami, sampai-sampai mengizinkan kami untuk duduk di hadapan anda," tanyaku tanpa basa-basi.


"Heh? itu hal yang pertama kali kamu tanyakan Arthur?" ucap Noland terkejut dengan pertanyaanku.


"Hmm... pertanyaan yang bagus... kenapa saya bisa tertarik dengan kalian berdua ya... Pertama, dari yang kulihat dan dengar... Nak Noland sangat lihai dalam kemampuan komunikasi, jadi saya menginginkan dia menjadi mitra kami dalam mempromosikan suatu produk."


"... selanjutnya kamu, Nak Arthur. Kamu dikatakan oleh temanmu itu bahwa kamu sangat jenius dan inovatif, awalnya saya mengira bahwa itu hanya dilebih-lebihkan oleh temanmu saja... tapi setelah aku melihat mu..."


"... saat kamu mulai bertemu denganku, kamu berusaha untuk menutupi kain yang mengikat di lehermu bukan? jadi aku sangat tertarik," jawab Mr.Meinhard sambil menunjuk syal yang dibuatkan oleh Koloman.


Mr.Meinhard berkata dengan penuh kejujuran, mungkin saja dia ingin mendapatkan kepercayaanku terlebih dahulu.


"Heh... aku dijadikan mitra promosi?" tanya Noland tak percaya.


"Iya... bentar Nak Noland, kemampuanmu sangat dibutuhkan di sini, tentu saja kamu akan mendapatkan gaji yang sangat tinggi!" ucap Mr.Meinhard merayu Noland.


"...Bーbagaimana ini Arthur..." dia melempar keputusan kepadaku.


"Terimakasih atas tawarannya Mr.Meinhard, namun sayangnya kami tidak tinggal menetap di kota ini, kami masih harus melanjutkan perjalanan kami," jawabku mewakili Noland.


"... Sayang sekali..." ucap Mr.Meinhard dengan nada kecewa.


"Benar! sayang sekali Noland tidak dapat membawa keuntungan untukmu, tapi... saya memiliki gantinya," ucapku membuka topik utamaku.


Mr.Meinhard merilekskan badannya, dan membuat bahasa tubuh tertarik.


"Apa itu...?" tanya Mr.Meinhard.


"Dari memulai perjalanan kami dari Alpen, saya sudah mendapatkan suatu ide yang dapat menjadikan suatu produk menghasilkan penghasilan yang terus mengalir dalam beberapa jangka waktu."


Aku mengikuti bahasa tubuhnya.


"Hmm menarik! beri tahu aku..."


"Mohon maaf Mr.Meinhard, saya tidak akan mengatakan ide itu sebelum ada kontrak yang mengikat kita," ucapku sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"Heh... jika begitu, coba buat aku lebih tertarik mengenai hal itu," ucap Mr.Meinhard.


"Baiklah tuan..."


Aku memberitahunya bahwa ideku nanti akan berhubungan dengan produk yang akan menjadi kebutuhan sehari-hari orang dari seluruh penjuru dunia.


Dan katena itu menjadi kebutuhan, maka keuntungan akan terus mengalir.


Aku juga menyebutkan bahwa biaya produksinya murah, namun bisa dijual dengan harga yang tinggi.


Mr.Meinhard beranjak dari tempat duduknya, ia menuju ke mejanya.


Ia mengambil sebuah pena klasik, dan menuliskan beberapa kata di selembar kertas.

__ADS_1


Setelah selesai menulis, dia memberikan pena klasik itu serta kertas itu kepada kami.


Aku dan Noland sama-sama melihat kertas itu.


Itu adalah surat kontrak.


"Siapa cepat dia dapat bukan?" ucap Mr.Meinhard.


Benar... bila ideku ditolak di sini, aku akan mencari pedagang yang lain yang ingin memakai ideku ini.


Walaupun aku berpindah ke pedagang yang lebih kecil, namun keuntungan yang aku dapatkan tetaplah sama.


Aku mengambil pena klasik itu dan mulai menandatangani surat itu, dan mencap stempel di sana.


Dengan ini... kontrak pun terikat.


"Senang bekerja sama dengan anda Mr.Meinhard," ucapku.


Noland hanya bisa terdiam di sampingku, tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.


Aku mengambil surat itu dan menyimpannya dengan sangat baik di dalam ranselku. Nanti akan aku informasikan ke resepsionis di bawah.


"Jadi Nak Arthur... apa idemu itu?" tanya Mr.Meinhard langsung ke topik bahasan.


"Pertama-tama saya akan mengemukakan produk yang akan saya sarankan... produk yang saya sarankan adalah parfum!" ucapku dengan sangat semangat.


"Parfum? wangi-wangian?" tanya Mr.Meinhard kebingungan.


"Iya benar tuan... parfum!" jawabku mengkonfirmasi.


"Pertama-tama saya mendapatkan ide untuk mengembangkan produk itu adalah dari permasalahan sehari-hari saya. Karena kesulitan untuk mendapatkan air, beberapa orang bahkan tidak mandi selama sebulan lebih! dan hanya membasuh mukanya aja!"


"... Hal itu pasti menjadi problematika sendiri bagi setiap orang untuk menutupi bau badannya. Oleh karena itu, saya ingin mengembangkan kebutuhan menggunakan parfum untuk menutupi bau badan," ucapku menjelaskan.


"Memang ide itu terdengar menarik, tapi... bukannya parfum itu biayanya produksinya sangat tinggi?!" lanjut Mr.Meinhard bertanya.


"Benar, tingginya biaya produksi disebabkan karena ketidaktahuan untuk memproduksinya. Oleh karena itu... saya akan memberitahukan cara menurunkan biaya produksi yang tinggi itu! menjadi sangat rendah!" jawabku sambil mengangkat jari telunjukku ke atas.


"Baiklah itu terdengar lebih menarik sekarang... tapi permasalahan utamanya adalah untuk mengubah kebiasaan orang-orang dari menggunakan parfum. Yang awalnya parfum hanya digunakan saat suatu perayaan sepesial, kita ubah menjadi setiap hari. Bagaimana dengan itu?" tanya Mr.Meinhard mempertanyakan masalah utama.


"Kita akan bermitra dengan seorang artis."


"Artis? itu mungkin ide yang bagus... tapi bukankah itu akan menambah biaya yang dikeluarkan?"


"Tenang tuan... sudah saya perhitungkan itu. Serahkan masalah itu kepada kami."


"Terlihat sangat meyakinkan..."


Setelah itu kami berbicara tentang hak paten produk itu, kemasannya, serta cara distribusinya.


Dan akhirnya setelah sekian lama membahas ide dan produk itu... kami mendapatkan kesepakatan untuk mencoba memproduksi itu.


Kami akan bertemu besok siang di tempat ini lagi dan menuju langsung ke pabrik.


"Hey Noland, apakah kamu masih hidup?" tanyaku bergurau.

__ADS_1


"Awawaw akーaku masih hidup!" jawabannya dengan sedikit pusing.


...****************...


Hari sudah menjelang sore, ini saatnya untuk berpamitan dari sini.


"Baiklah sekian Mr.Meinhard diskusi kita, saya ingin undur diri dari sini karena kami belum memesan penginapan," ucapku memberi alasan.


"Ah iya! aku juga lupa!" ucap Noland sambil memegang dahinya.


"Ya... silahkan. Hari ini sangat menyenangkan sekali," ucap Mr.Meinhard memberikan izin kami untuk undur diri.


"Kami juga begitu Mr.Meinhard!" jawab Noland.


"Baiklah terimakasih Mr.Meinhard, mari kita bertemu besok lagi," ucapku memberi salam perpisahan.


Aku dan Noland keluar dari ruangan Mr.Meinhard.


Di lantai bahwa nampak kerumunan orang masih seperti tadi, terlihat seperti tidak ada perubahan.


Aku cepat-cepat turun dari tangga dan menuju meja resepsionis lagi untuk memberikan surat kontrak tadi.


Setelah kontrak itu menjadi resmi, aku dan Noland keluar dari tempat asosiasi pedagang, buru-buru untuk mencari penginapan.


"Hey Arthur... kenapa tadi kita tidak menanyai tentang kerajaan yang ingin kita tuju itu?" tanya Noland.


"Ah sial! aku melupakannya!" ucapku terkejut karena melupakan hal terpenting itu.


"Haha! sudahlah Arthur, besok saja kita tanyakan tentang hal itu..." ucap Noland sambil tertawa.


"Kamu benar, setelah kita menemukan penginapan, kita akan ke..."


"Ke pentas pusat kota! bertemu artis cilik!" jawab Noland melengkapi perkataanku dengan penuh semangat.


"Haha Noland, kamu sangat bersemangat sekali ya!"


"Tentu saja!"


Setelah itu, kami menemukan sebuah penginapan yang memiliki kamar kosong didalamnya.


Setelah mengurus biaya inap, kami mendapatkan kunci kamar.


Kami langsung menuju kamar dan menaruh barang-barang kami.


Aku melepas mantelku, karena aku merasa suhu di sini sudah cukup hangat.


Aku mengambil kartu anggotaku.


Di kartu itu terdapat keterangan baru yang menjelaskan kontrakku dengan Mr.Meinhard.


Noland sudah menungguku dengan tidak sabar di luar kamar.


Tak ingin membuat Noland menunggu lama, aku langsung menyusulnya.


Kami menutup pintu kamar dengan sangat rapat, keluar penginapan, dan menuju ke pentas pusat kota!

__ADS_1


__ADS_2