
Aku dan Noland sudah sampai di lantai paling bawah.
Kami menyusuri kursi-kursi penonton dan menuju ke arah samping panggung.
Di sana terlihat ada seperti sebuah pintu masuk untuk memasuki ruangan para artis dan aktor.
Pintu itu tentu saja di jaga oleh seseorang, semacam bodyguard.
Kami menghampirinya, mencoba meminta izin untuk masuk.
"Maaf, anda memiliki keperluan apa di sini? jika tidak ada, anda tidak boleh masuk lebih jauh lagi," ucap bodyguard itu memberitahu kami.
"Ah ya... perkenalkan, saya Arthur Gunther. Saya salah satu anggota dari asosiasi pedagang, saya ingin bertemu dengan nona Evelyn, untuk menawarkan sebuah kerja sama," ucapku sambil menunjukkan kartu anggota asosiasi pedagangku.
Awalnya bodyguard itu sedikit ragu dengan ucapanku, mungkin karena aku masih terlihat seperti anak-anak. Namun saat dia melihat kartu yang kutunjukkan ke padanya, sikapnya berubah drastis.
"Oh begitu, baik. Saya akan menginformasikannya ke pada nona Evelyn, mohon tunggu sebentar," ucap bodyguard itu sambil masuk ke dalam ruangan yang ingin kutuju.
Noland menyaksikan dari belakang punggungku.
"Sepertinya sikapnya sempat berubah ya," ucap Noland menyadari hal tersebut.
"Ah iya, itu benar. Itu semua karena suatu di dalam kartu anggotaku," ucapku sambil memperlihatkan kartu anggotaku ke Noland.
"Di sana terdapat tulisan 'bekerja sama dengan Mr.Meinhard' bukan? mungkin saja itu yang membuat sikapnya berubah" lanjutku menjelaskan.
"Pantas saja..." ucap Noland setelah mengetahui alasannya.
"Untunglah kita bertemu dengan Mr.Meinhard dan menjalankan kerjasama dengannya, itu sangat mempermudah rencana kita. Itu semua karenamu Noland!" ucapku memuji Noland.
"Senang bila aku dapat membantu!" ucap Noland.
Beberapa saat setelah berbincang-bincang dengan Noland, bodyguard yang tadi pun memunculkan rupanya kembali.
"Nona Evelyn menyetujui untuk bertemu di dalam, mari saya antar kan..." ucap bodyguard itu sambil mulai menunjukkan tempat yang dimaksud.
"Baik, terimakasih."
Mengetahui Noland yang ikut berjalan masuk ke dalam ruangan, bodyguard menghentikannya.
"Maaf, tapi nona Evelyn hanya menerima satu orang saja," ucap bodyguard menghentikan Noland.
"Ah sayang sekali... maaf Noland, kamu bisa kembali ke penginapan dulu bila kamu mau," ucapku meminta maaf kepada Noland.
"Ah ya... tidak apa-apa," jawab Noland.
Lagipula wajah Noland sudah seperti orang yang sebentar lagi akan pingsan, dia membuat wajah itu sejak saat aku memberitahu bodyguard bahwa kami ingin bertemu dengan Evelyn, salah satu idolanya.
Aku pun mengikuti bodyguard itu, meninggalkan Noland di belakangku.
Aku menyusuri ruangan ini dengan bodyguard memanduku di depan.
Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam backstage.
Sambil terus berjalan, aku melihat sekitarku. Ada beberapa artis yang sedang beristirahat di bangkunya, adapun beberapa aktor yang saling bercakap-cakap, dan ada beberapa yang sedang melakukan perawatan.
Mereka terlihat berbeda saat berada di atas panggung.
Mungkin jika Noland berada di sini saat ini, dia akan sungguh-sungguh pingsan, karena banyak artis dan idolanya di sini.
Aku terus mengikuti bodyguard di depanku, dan sepertinya kami telah tiba di tempat yang dimaksud.
"Di sini ruangannya, silahkan... nona Evelyn sudah menunggu di dalam," ucap bodyguard itu sambil menunjuk ruangan di depan kami.
"Baik, terimakasih atas tuntunannya," ucapku berterimakasih.
Bodyguard itu mengangguk ringan dan meninggalkanku, ia kembali ke posisi kerjanya.
"Huh... ayo lakukan," ucapku sembari menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Coba saja ada Noland di sini... huh..." pikirku sambil memegangi gagang pintu, mencoba untuk membukanya.
__ADS_1
Pintu pun perlahan-lahan terbuka lebar, memberikan jalan untukku masuk ke dalamnya.
......................
Aku memasuki ruangan itu secara perlahan-lahan.
Setelah masuk sedikit, aku mencoba untuk memperhatikan isi ruangan ini.
Di sini aku melihat beberapa kursi kosong, serta meja yang di atasnya berceceran alat-alat kecantikan dan kosmetik.
Di salah satu kursi kosong itu, ada seorang gadis kecil yang duduk di atasnya.
Usianya kira-kira sebaya denganku.
Dia meletakkan kedua tangannya di atas pangkuannya, posisi badannya tegak sempurna.
Dia menggunakan gaun dengan kombinasi warna putih dan biru, serta dengan tambahan pita biru di atas kepalanya.
Rambut lurus panjangnya menyempurnakan penampilannya.
Dia duduk begitu elegan.
Di sampingnya ada wanita yang mendampinginya, sepertinya dia semacam managernya.
Mereka berdua menyadari kehadiranku, dan mulai melihatku.
"Dengan Arthur Gunther?" tanya manager kepadaku.
"Iya dengan saya sendiri," jawabku sambil menunduk kan sedikit kepala untuk merendah.
Timbul wajah tidak percaya pada wajah mereka berdua.
Kecurigaan sangat wajar dalam kasusku.
Aku menyodorkan kartu anggotaku kepada manager itu.
Dia mengamatinya, dan mengembalikannya kepadaku.
"Maaf, saya sempat tidak percaya dengan hal ini. Silahkan duduk," maaf manager itu dan mempersilahkan duduk.
Oh, jadi namanya Ariadna.
"Mohon maafkan saya," Ariadna menunduk memohon maaf.
Aku berjalan menuju ke arah salah satu kursi terdekat, dan duduk di atasnya. Kursi kayu yang sejenis dengan seluruh kursi di ruangan.
"Jadi langsung saja, kerja sama apa yang ingin anda tawarkan?" tanya Ariadna menanyakan ke topik utama.
Woah tanpa basa-basi.
"Ah ya... Saya Arthur Gunther, saya baru belakangan ini menjalin kontrak dengan Mr.Meinhard untuk mengembangkan suatu produk, produk itu akan segera kami uji coba. Untuk pemasaran, saya berharap dapat bekerja sama dengan nona Evelyn. Saya yakin kerjasama ini akan menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak."
Aku menjelaskan semua secara runtut dan singkat.
"Baik... jika boleh tau, produk apa yang akan dikembangkan?" tanya Ariadna.
"Parfum," jawabku singkat.
"Parfum?" tanya kedua orang di depanku.
Istilah parfum masih belum familiar di era sekarang.
"Em... wangi-wangian," ucapku menjelaskan lebih.
"Wangi-wangian? apa itu bisa laku di pasaran?" tanya Ariadna tampak ragu.
"Oleh karena itu saya memerlukan kerjasama dengan nona Evelyn," jawabku.
"Kenapa harus Evelyn? bukannya masih ada banyak lagi artis lain?" lanjut tanya Ariadna.
"Selain karena kepopulerannya yang sedang naik daun, saya memilih bekerjasama dengan nona Evelyn karena kehebatannya untuk mempengaruhi banyak orang," jawabku memberikan alasan.
__ADS_1
Ariadna, managernya, sepertinya mengerti apa yang kumaksud. Sedangkan Evelyn kebingungan tidak mengerti di sana.
Selanjutnya aku membicarakan tentang dana yang aku tawarkan dalam kerjasama ini.
"Saya tidak terlalu mengharapkan jawabannya sekarang. Tapi bila tertarik, saya akan memperlihatkan bagaimana produk itu akan bekerja," ucapku.
"..." Ariadna dan Evelyn saling bertatapan-tatapan.
Evelyn mengangguk ringan.
"... baik, kami tertarik. Kapan kamu bisa melihat produk itu?" tanya Ariadna.
"Bagaimana jika besok? apa ada waktu kosong?" tanyaku merekomendasikan hari yang cocok.
"Besok siang, kami kebetulan memiliki waktu kosong," jawab Ariadna setelah melihat catatan di tangannya.
Aku dan Ariadna menentukan waktu dan tempat bertemunya kami nanti.
Dan mencapai kesepakatan.
Aku menjabat tangan Ariadna serta Evelyn.
"Baik, kita telah mencapai kesepakatan. Izinkan saya untuk pamit, terima kasih atas kesempatannya," ucapku memohon untuk undur diri.
"Iya silahkan, kami juga senang dengan diskusi hari ini," ucap Ariadna mengizinkanku undur diri.
"Dadah Arthur! semoga kita dapat bekerja sama!" ucap Evelyn sambil melambaikan tangan dengan senyum manis di wajahnya.
Aku membalas lambaian tangan Evelyn dan mulai bangkit dari tempat dudukku.
Aku berjalan menuju pintu, dan menunduk sekali lagi kepada mereka berdua.
Dan aku pun keluar dari ruangan itu.
Bagaimana dengan Noland? mungkin saja dia sudah kembali ke penginapan.
Aku mengingat-ingat jalur untuk keluar dari backstage, sambil melihat-lihat sekitarku.
Kondisinya sudah agak sepi, sebagian artis dan aktor sudah ada yang pulang.
Huh... aku tak menyangka bahwa tadi akan selesai juga.
Terakhir kali aku melakukan kegiatan serupa seperti tadi, yaitu saat di kehidupanku yang lalu, saat itu entah kenapa aku dapat berbicara dengan cepat dan tepat. Aku melakukannya setiap hari.
Mungkin karena sudah lama tidak melakukannya lagi, aku menjadi lupa dengan caranya.
"Huh..." Aku menarik nafas panjang.
Di depan sana adalah pintu masukku sebelumnya, aku menuju ke arah itu untuk segera pergi keluar.
......................
Suasana berubah, di hadapanku sekarang terdapat banyak kursi penonton.
Dan di salah satu kursi...
"Arthur!" seru seseorang, orang itu adalah Noland.
"Noland? kenapa kamu masih ada di sini?" tanyaku.
"Entahlah, aku ingin lebih melihat panggung besar itu," ucap Noland memberi alasan.
"Bagaimana dengan kerjasamanya?" lanjut tanya Noland.
"Tenang... semuanya sesuai rencana," ucapku sambil menunjukkan jempol tanganku ke arah Noland.
"Baguslah jika begitu... ayo kita kembali ke penginapan," ucap Noland mengajakku.
"Oke ayo! aku juga sedikit lapar..." jawabku.
"Ah ya makan! sambil jalan, ayo kita cari makanan," ucap Noland sambil berputar ke arah pintu keluar.
__ADS_1
"Setuju!" jawabku sambil mengikuti Noland di belakangnya.
Aku harus menikmati hari-hariku saat ini, karena mungkin saja hari esok menjadi hari yang sedikit sibuk.