Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Anak Kecil Kerajaan


__ADS_3


POV anak kerajaan



Dunia ini penuh kebohongan. Mau disangkal ataupun tidak, dunia ini akan tetap dialiri oleh banyak kebohongan. Tiap harinya orang-orang selalu berbohong. Jika berbohong merupakan sebuah dosa besar, dan semua orang pernah berbohong, maka semua orang pasti akan masuk neraka seperti yang tertulis di buku kecil yang dibagikan oleh orang-orang menggunakan jubah putih dari bangunan megah itu.


Buku itu bercerita tentang perjuangan seorang pahlawan untuk menumpas iblis jahat yang mengancam dunia. Aku sering membuka-buka buku itu karana aku sangat suka melihat gambar dan simbol-simbol di dalam buku itu yang tampak unik bagiku. Aku juga membaca buku itu berkali-kali untuk menghabiskan waktuku yang membosankan.


Aku tiap hari selalu diam di rumah yang bagi orang-orang disekitar tampak lusuh tak terawat, tapi bagiku ini istanaku satu-satunya. Dari pagi hingga sore hari aku selalu sendirian di dalam sini, menunggu kepulangan ibuku yang meninggalkanku untuk bekerja.


Aku tidak tahu pasti apa pekerjaan ibuku, tapi setiap malamnya dia pulang dengan lemas dan langsung tidur di atas ranjangnya, setiap dia pulang sikapnya agak aneh, itu sudah menjadi cukup bukti bahwa dia bekerja sangat keras. Dia bekerja begitu keras walaupun sesekali tidak ada makanan sedikit pun yang kami punyai, aku tak pernah melihat ibuku makan saat di rumah. Saat pagi hari sebelum aku terbangun dia sudah hilang dari ranjangnya, begitu pula di sekitar rumah, jadi kesempatanku untuk melihatnya hanya saat ia pulang pada malam hari.


Keseharian ibuku awalnya tidak begini, jika kuingat-ingat saat aku lebih kecil dari hari ini, ia sama seperti ibu pada umumnya, memasak setiap pagi, mencuci pakaian, dan memandikanku. Kami juga saat itu tinggal di rumah yang lebih bagus dari saat ini. Semuanya berubah saat kematian ayahku. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana dan alasan kematian ayahku. Saat itu kehidupan kami berubah seketika, seperti dilemparkan ke jurang gelap.


Kami tetap bertahan di rumah kami. Setiap siang harinya, bergiliran banyak penduduk yang bertamu ke rumah kami dengan membawakan beberapa lembar kertas dengan tulisan aneh di atasnya. Setiap membacanya, ibuku tampaknya tidak senang sama sekali, aku memperhatikannya dari jauh sambil berusaha bersenang-senang dengan cara bermain di pojok ruangan seperti yang diperintahkan oleh ibuku sebelumnya.


Sempat aku bertanya suatu hal kepadanya.


"Bu, apa Ibu akan meninggalkanku?" tanyaku.

__ADS_1


Ayahku sudah pergi dariku, dan entah kenapa aku rasa jarak antara aku dan ibuku bertambah panjang.


Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba dia terkaget, dan sesaat terdiam.


"Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, kamu anak kesayanganku," jawabnya sambil memelukku. Dia memelukku begitu erat, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.


Hari-hari itu terus berlalu, hingga suatu saat entah kenapa kami tidak tinggal di rumah itu lagi, melainkan harus pergi ke rumah lain. Aku sangat sedih awalnya saat harus meninggalkan rumah sebelumnya yang penuh dengan kenangan dan harus tinggal di rumah yang lusuh, tapi saat ini aku sudah terbiasa.


Mulai dari menapakkan kaki kami di rumah baru ini, kehidupan ibuku sebelumnya sudah secara perlahan-lahan menghilangkan bagaikan genangan air hujan yang menguap. Ia mulai pulang malam, selanjutnya dia selalu bertingkah aneh seperti anak kecil seumuranku, dan akhir-akhir ini dia pulang dengan pakaian yang sedikit terbuka. Apa dia tidak kedinginan? tanyaku dalam hati.


Keseharian itu terus berlanjut dan sepertinya bertambah parah. Terkadang sesekali dia dihantarkan pulang oleh beberapa lelaki asing yang tak kukenal, muda dan tua. Mungkin mereka teman kerja ibuku. Mereka orang baik yang membantu memulangkan ibuku.


Sudah lama aku tidak bertemu dengan paman, aku tak ingat kapan terakhir kali kami bertemu. Paman biasanya selalu berpasangan dengan istrinya disampingnya saat mengunjungi kami, tapi aku tidak mendengar suara wanita lain selain ibuku di sana. Aku ingin menyambutnya juga, tapi sayangnya tubuhku sepertinya sudah sangat kelelahan dan sudah siap untuk tertidur. Aku seperti sedang terombang-ambing dengan ombak ringan yang sangat menenangkan hati, dan perlahan-lahan kesadaranku hilang, membuatku tertidur pulas.


Paman adalah salah satu orang yang membantu kami saat keluarga kami mengalami masalah, ia saudara dari ayahku, jadi mungkin sudah sepantasnya ia membantu keluarga adiknya. Aku ingat beberapa momen saat dia berusaha untuk membuatku tertawa dengan wajahnya yang aneh itu, aku pun tertawa paksa supaya dia cepat pergi dariku.


Walaupun sikapku terlihat agak jahat kepadanya, tapi sebenarnya aku menghormatinya. Sebelum akhirnya dia memasukkanku ke dalam kereta tahanan kerajaan. Saat itu tanpa tahu apa-apa aku ditarik oleh orang yang menggunakan pelindung diri beserta senjata di pinggangnya, rupanya begitu menakutkan. Aku dimasukkan bahkan dilempar masuk dengan kasar ke dalam kereta yang seharusnya diisi oleh orang-orang jahat. Belum mendapatkan penjelasan, besi lurus yang dipasangkan di pintu kereta tertutup cepat dan keras. Aku mencoba bangkit walaupun sebenarnya tubuhku sudah bergetar hebat. Aku berjalan mendekati besi penghalang itu dan mencoba membukanya, sambil sesekali kulihat dua orang di depan sana. Kedua orang itu adalah Ibu dan Paman, Ibu menggandeng lengan kanan paman dengan erat bak seorang pasangan suami istri.


"Ibuu??! Kenapa ini????!!!" ucapku histeris dengan air mata yang mulai mengalir.


"Ibu?! Nyonya, anak ini anakmu?!" Orang yang melemparku kedalam sini tiba-tiba berbalik dan bertanya kepada ibuku di depan sana.

__ADS_1


"BUUU!!!" suaraku dan air mataku sudah tak tertahankan lagi, semuanya keluar tanpa kendaliku.


Orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami perlahan melihat kami dan berkumpul satu persatu. Jika ini diteruskan maka kami akan menjadi pusat perhatian.


"Nyonya?" tanya orang itu kembali.


"... Dia ... Bukan anakku."


Itu hanyalah beberapa kata, tapi kata-kata itu menusukku dari berbagai arah, menyakitkan hingga perlahan-lahan menghancurkan diriku hingga berkeping-keping.


Tak terima dengan kenyataan aku berteriak keras dengan kata-kata acak yang aku lontarkan, kata yang terlintas kedalam kepalaku, semuanya kulontarkan, bahkan kata-kata itu tak menjadi kalimat utuh.


Muak dengan omonganku, orang yang melemparku tadi mendekat dan memukul besi penghalang dengan keras.


"DIAM BUDAK!"


Kakiku sudah tidak kuat lagi menahan semua perasaan ini. Aku jatuh tersungkur dengan banyak perasaan yang tidak pernah kurasakan hingga saat ini.


Kereta dengan roda kayu yang ditarik oleh dua kuda mulai perlahan-lahan berjalan. Dengan kedua mataku yang masih mengeluarkan banyak air mata, aku berusaha untuk melihat mereka berdua, hingga akhirnya rupa mereka sudah tak tampak lagi.


Dia berbohong kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2