
Keesokan harinya setelah aku terlelap di kasur mewah itu aku keluar dari kamar dan mencari keberadaan Mr.Wolf. Momen itu sangat nostalgia, sudah lama aku tidak tidur di tempat seperti itu. Walaupun tidak selevel dengan yang biasanya, itu lumayan nyaman.
Tak menemukan keberadaannya aku mencoba meminta tolong kepada para pelayannya yang mungkin saja mengetahui lokasinya. Masih tampak tak percaya denganku, para pelayan itu mengintrogasi tujuanku untuk menemui Mr.Wolf. Kuberitahu saja mereka bahwa aku memiliki sebuah usulan untuk didiskusikan, mungkin karena aku adalah tamu spesial, alasan itu masuk akal bagi mereka. Mereka akhirnya mengantarku ke ruangannya di masion ini.
Aku terkejut karena Mr.Wolf bekerja langsung dari tempat tinggalnya sendiri, berbeda dengan Mr.Meinhard yang gila bekerja sampai-sampai ia lupa di mana tempat tinggalnya.
Salah satu pelayan memanduku ke ruangannya dengan beberapa kali menaiki anak tangga, melewati beberapa ruangan, dan menyebrangi kebun. Dalam perjalanan aku bisa melihat dengan jelas banyak pelayan lainnya yang sedang melakukan tugas mereka seperti membersihkan lantai, berkebun, dan bekerja di dapur. Aku heran, apa seluruh pelayan ini hanya bekerja untuk melayaninya saja? Yah, mungkin saja karena luas masion ini lumayan juga, jadi harus ada yang menjaganya.
Tiba di depan pintu, pelayan yang menuntunku mengetok pintu itu setelahnya memberitahu kehadirannya di luar pintu dan tujuannya yaitu untuk mengantarkanku.
Suara Mr.Wolf terdengar menyahut dari dalam dan memberikan izin. Mendengar jawaban itu pelayan itu mempersilahkanku untuk masuk dan mulai meninggalkanku dengan pintu putih elegan di depanku. Tanpa basa-basi lagi aku meraih gagang pintu dan membukanya.
Tak perlu susah payah mencari lagi, Mr.Wolf sudah berada di pandanganku. Ia sedang duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan dengan secangkir teh di atas meja di depannya.
"Selamat pagi, Arthur. Bagaimana malammu?" tanyanya menyambut kehadiranku.
"Pagi Mr.Wolf, itu sungguh sangat luar biasa. Aku tak pernah beristirahat senyaman itu," pujiku.
"Kamu bisa tinggal lebih lama jika kamu mau," ucapnya menawarkan.
"Benarkah? Noland dan Chloe akan sangat senang dengan itu. Aku kagum, kau memiliki banyak pelayan untuk melayanimu."
"Huh, memang tidak biasa memiliki banyak pelayan hanya untuk melayani satu orang saja. Tapi, di mansion sebesar ini, sayang saja bila ditinggali seorang diri... Jadi, tinggal lah lebih lama."
"Akan kuusahakan."
"Kenapa kau masih berdiri seperti itu? duduk lah di sini. Aku juga ingin mendengar usulanmu kemarin malam."
"Baiklah Mr.Wolf."
Aku mengikuti perintahnya untuk ikut duduk di sofa supaya pembicara berjalan semakin lancar.
"Ah, ya! Arthur. Ngomong-ngomong soal rekanmu itu, Chloe... Kudengar kalian bertemu dengannya di kerajaan, bukan?"
"Benar, Chloe dulunya adalah budak kerajaan. Namun sekarang dia diserahkan kepada kami untuk membantu pencarian yang mungkin saja sudah diceritakan oleh Noland kemarin malam. Dan satu hal lagi, Aku dan Noland adalah anak dari penduduk kasta bawah."
"...Budak kerajaan? kasta bawah?"
"Ya. Ada masalah apa dengan itu? apa sekarang kau mulai jijik dengan kami?"
"Haha lucu! Aku bukan tipe orang yang menilai kualitas seseorang hanya dengan melihat statusnya saja... Aku tak peduli kalian berasal dari mana, asalkan kalian bisa mendatangkan untung, kualitas kalian sangat luar biasa menurutku."
"Tapi kenapa kau tampaknya kebingungan saat kuberitahu hal itu?" tanyaku penasaran.
"Ya... Aku hanya heran, mengapa pihak kerajaan melepas budaknya? ini jarang terjadi..."
"Hmm, untuk membantu kami?"
"Itu mungkin salah satunya... Dari sejarah kerajaan ini, mereka hanya melepaskan para budaknya yang sudah tak bisa mereka tangani lagi," jelas Mr.Wolf.
"Apa maksudnya 'tak bisa mereka tangani'?" tanyaku.
"Mereka yang tak dapat dikendalikan sikapnya, mentalnya, dan bahkan kesehatannya."
"?!"
"Sepertinya kamu mengetahui sesuatu... Tapi apalah itu, kamu harus tetap waspada pada hal yang terburuk. Jaga anak itu dengan baik, akan kuusahakan membantu jika kau ingin."
"...Itu sangat berlebihan."
Mr.Wolf menjeda pembicaraan dan menyeruput secangkir teh di atas meja dan kembali melihatku.
__ADS_1
"Jika kau ingin secangkir teh, katakan saja kepada para pelayan di sana."
"Tidak apa-apa, Mr.Wolf. Ngomong-ngomong mari kita masuk ke topik utama kita."
"Silahkan."
"Terima Kasih. Jadi seperti yang sudah dikatakan oleh Noland malam tadi, kami berencana untuk mengumpulkan tiga harta yang hilang, dan lokasi yang kami curigai adalah restoran tempat kemarin aku memancingmu."
"Restoran itu? dari mana kalian bisa yakin."
"Ada beberapa hal yang terjadi, akan lama bila diceritakanー akan kuceritakan lain kali. Yang jelas, tempat itu menjadi tempat yang kami curigai."
"Huh... Jadi, apa rencanamu?."
"Kami ingin menyelidiki tempat itu secara langsung, dan menjadi salah satu anggota di sana mungkin akan sangat membantu."
"Kau ingin bergabung? bekerja?! supaya kalian dapat berinteraksi dengan mereka dan menyelidiki secara perlahan?"
"Ya. Itu dia."
"Bukankah itu sangat merepotkan? ada banyak cara yang lain yang lebih singkat dan sederhana, kenapa kalian memilih cara yang seperti itu?"
"Benar, itu benar. Ada seribu satu cara untuk kami menyelidiki restoran itu... Namun kami ingin melalui cara yang terbaik. Tak apa-apa bila itu memakan banyak waktu, asalkan itu yang terbaik untuk kedua belah pihak."
"Kedua belah pihak? kau ingin agar mereka memberikan harta yang hilang itu dengan senang hati? Arthur, bisa jadi mereka adalah penjarah..."
"Ya, dan ada satu hal yang aku yakin... bahwa jika mereka benar-benar membawa harta kerajaan itu, mereka sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu."
"Huh, apapun itu. Jadi, apa yang kau inginkan?"
Masuk dalam pertanyaan yang kunantikan, aku meraih sesuatu di dalam kantongku dan kuletakkan di atas meja mengarah kepadanya.
"Ada masalah apa kamu memamerkan parfum itu di hadapanku?"
"...Apa kau sudah mengetahui tentang perusahaanku?"
"Ya, bagaimana aku tidak mengetahuinya dengan banyak tumpukan koran berlogo Phoenix di sini."
"...Benar juga," ucapnya seperti mengabaikan kesepakatanku.
"Em... Mr.Wolf? bagaimana keputusannya?"
"Hm? yang mana?"
"Ini! kesepakatan kita mengenai parfum ini! bagaimana?"
"Aku tidak memerlukannya lagi."
"Heeeeh?!!! Mr.Wolf, aku sudah menawarkan parfum ini loh, dan aku juga akan bergabung denganmu!"
"Tidak perlu. Karena kau sudah bergabung denganku sejak kemarin malam."
"Kemarin malam...? ... Noland."
"Benar."
"Hah?! kalau begitu apa gunanya tingkahku tadi!"
"Jujur saja, aku sudah berusaha untuk menahan tawaku," ucapnya menertawaiku dalam hati.
Ugh... Noland! Harusnya aku menanyai tentang samalam kepadanya dahulu.
__ADS_1
"...Jadi, tuan Wolf. Apakah tuan bisa membantu kami dengan senang hati pada urusan ini?"
"Tenang saja, aku sudah berjanji untuk membantu kalian sebisaku. Boleh kutanya? kenapa harus mempromosikan restoran itu?"
"Itu karena rintangan yang kamu harus lalu. Kami tidak bisa bekerja di sana karena mereka sudah memiliki tenaga kerja yang cukup dan dana yang terbatas. Jadi dengan mempromosikannya hal-hal yang membatasi kami itu akan tiada!"
"Kalian ditolak? Ditolak di restoran kecil itu?"
"Tertawa lah."
"Sudah cukup lelucon hari ini... Apa kamu yakin? Promosi di koranku akan sangat berdampak untuk restoran itu. Apa kau yakin dengan cara itu, akan membantumu."
"Yakin, aku akan menjadi orang pertama yang akan melamar di pagi buta!"
"Huh, jika itu yang kami ingin... Jadi, kita harus menampilkannya dipojok kanan atau di halaman akhir?"
"Di halaman paling depan."
"Psst! Apa kau sudah gila? Orang-orang akan membayar sangat tinggi untuk menuliskan hal yang mereka inginkan di halaman belakang, dan sekarang kau ingin mempromosikan restoran kecil itu di muka? Aku tak dapat membayangkan dampak yang akan terjadi! apa kau sanggup membayarnya?"
"Membayar? bukankah kita sudah berjanji untuk saling membantu?"
"Tapi tidak untuk yang segila ini."
"Cih, pelit."
"Pelit untuk hal ini adalah pilihan terbaik."
"Jadi, Tuan Wolf. Bagaimana keputusan anda?"
"Jika kalian yakin, aku akan membantu mempromosikan restoran kecil itu. Namun tak akan kubiarkan hal itu terpampang di halaman paling muka. Reputasi perusahaanku menjadi taruhannya."
"... Baiklah Tuan Wolf, aku mengerti... Letakan saja di manapun yang kau suka. Jadi kita deal?"
"...Akan kupikirkan."
"Senang mendengarnya. Mr.Wolf ambillah parfum ini sebagai hadiah."
"Hm? benarkah? dengan senang hati."
Tanpa banyak berbicara lagi Mr.Wolf langsung meraih parfum di sisi mejaku dan memutar-mutarnya mengamati seluruh detail.
"Jadi, itu saja yang ingin kukatakan kepadamu Mr.Wolf. Aku ingin izin pergi untuk kembali keluar sana."
"Ya, silahkan. Beritahu saja apa yang kalian butuhkan kepada para pelayan," ucapnya dengan masih mengamati seluruh titik pada parfum itu.
"Terima kasih Mr.Wolf. Nikmat waktu anda dengan parfum itu."
...****************...
Dan itulah dialogku dengan Mr.Wolf kemarin pagi, dan tak kusangka dia sudah melakukan tugasnya sangat cepat dari yang kubayangkan. Pagi ini aku melihat ke koran yang tersebar di seluruh kerajaan, dan melihat bagian belakang.
Di sana tertulis. 'Restoran Pulau Harta yang Tak Terduga' dengan banyak kalimat positif di dalamnya. Jadi begini cara ia mempromosikan restoran itu.
Benar saja apa yang ia katakan kemarin pagi, korannya ini sangat berdampak besar pada kondisi di kerajaan ini. Saat ini aku sudah dapat melihat kepadatan yang terjadi di depanku di tempat restoran yang menjadi target kami. Apaan itu? Orang-orang sampai mengantri? mereka pasti akan dimarahi karena telah menutupi pintu! Dari sini juga aku bisa melihat para pelayan di sana sangat panik serta kebingungan dengan yang terjadi.
Aku, Noland, dan Chloe berjalan mendekat ke restoran itu untuk masuk kedalamnya dan berbicara kepada pemilik restoran itu. Jika dilihat-lihat masih belum ada orang yang melamar lebih dahulu di restoran ini, jadi syukurlah.
Perlu menunggu beberapa saat untuk masuk kedalam restoran itu, tiba di dalam kami langsung berbelok, beda arah dengan kebanyakan orang lainnya, kami berjalan mendekati seorang pria yang tampaknya sangat pusing dengan hal yang terjadi.
Tiba di depannya, kami memasang muka sangat bersahabat.
__ADS_1
"... kalian?" tanyanya kebingungan dengan kehadiran kami.
"Mohon maaf, Tuan. Jika diperlukan, kami ingin bekerja di restoran ini."