
Sialan! dia benar-benar mempermainkan kami!
Kami meminta informasi atau barang, alat semacamnya untuk membantu proses pencarian benda-benda berharga kerajaan, dan yang ia berikan adalah seorang budak kerajaan?! Masih anak-anak lagi!
Dia benar-benar ingin menghancurkan kami secara tidak langsung.
Ia memberikan kami budak untuk membantu pencarian yang dimana berarti kami harus mengurusnya. Mengurus makanannya, mengurus kebahagiaannya, dan mengurus kebutuhannya. Yang dimana itu semua membutuhkan uang. Pria muda itu bertujuan untuk menghabiskan seluruh uang kami dan memaksa kami bekerja di pekerjaan lain untuk dapat bertahan hidup atau menyerah.
Mau tak mau aku dan Noland menerima budak yang dia berikan.
Saat ini aku dan Noland sedang berjalan pulang menuju penginapan di tengah-tengah keramaian pusat kota.
Noland memegangi tangan anak kecil itu, ia sedari tadi selalu berusaha untuk berkomunikasi dengan anak itu, namun sayang anak itu tidak meresponnya sama sekali, bahkan tidak balas meliriknya, anak itu berjalan dengan pandangan selalu tunduk ke bawah. Tidak ada yang menarik di bawah sana.
Pakaian anak itu sangat terlihat kontras dengan pakaian kami saat ini, hingga sekali pandang saja kamu akan sangat jelas mengetahui status tiap-tiap individu.
Walaupun dapat dibedakan dengan sekilas pandang, nyatanya orang-orang di sekitar memandang kami seolah-olah kondisi ini normal sehari-hari. Jadi memang di era ini, perbudakan sangat lazim.
Jadi apa yang akan aku lakukan dengan anak itu? Apa aku sewakan saja ya? Eit, apa itu terlalu kejam?! Jadi apa...?
Sesekali aku melihat ke arah kaki anak kecil itu yang tanpa alas. Kaki kecil yang terus berupaya tegar walaupun pada matanya tidak memiliki harapan. Di jalanan berbatu seperti ini, apa dia tidak kesakitan?
Namun beberapa saat setelahnya, kakinya agak goyah, menimbulkan tubuhnya agak tidak seimbang. Ini mulai mengkhawatirkan.
Aku mendekat ke arah Noland dan membisikan sesuatu.
"Hey, Noland. Kenapa tidak kamu gendong saja anak itu? Aneh rasanya membiarkannya begitu," bisikku.
"Apa boleh? Apa dia tidak akan marah? Dia tidak menunjukkan sifatnya, jadi aku ragu-ragu," balas Noland.
"Lakukan saja," desakku.
"OーOk, aku coba."
Mengabulkan permintaanku, Noland bergerak ke tepi jalanan untuk berhenti dan berlutut, dengan tubuhnya menghadap tepat ke anak itu supaya anak itu tidak kaget. Anak di depannya yang sedari tadi diam menunduk, perlahan-lahan mengangkat pandangannya melihat Noland yang berperilaku aneh. Sesaat berikutnya, Noland meraih anak didepannya, mengangkatnya dengan hati-hati, dan memberikan lengan kanannya sebagai tumpuan dudukan. Tubuh anak itu tegap sejajar dan menghadap ke tubuh Noland, Noland menggunakan tangan kirinya menekan ringan tubuh anak itu ke dadanya bagaikan sabuk pengaman. Ini mengingatkanku tentang menggendong kucing.
Aku percayakan saja ke Noland, ia memiliki pengalaman lebih dalam urusan menggendong. Di Alpen, dia sering menggendong adik kecilnya di rangkulannya. Mungkin saat ini dia juga mengingat hal itu.
Setelah merasa nyaman, kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan bersama anak kecil yang masih belum berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
Jika aku memilih untuk mencari benda hilang bersama anak itu, setidaknya ia harus bisa berkomunikasi dengan baik.
...----------------...
Tiba di depan penginapan, aku menggeser sedikit pintu yang agak tertutup karena tiupan angin dan mengganjalnya dengan sesuatu di sekitar.
Hari ini juga tidak ada pelanggan baru?
Menyadari keberadaan kami, seseorang datang dengan sedikit berlari dari dalam sana. Seseorang dengan tubuh kecil namun auranya yang sangat mencolok memancar dari tubuhnya yang membuat tiba-tiba tubuhku berasa sedikit hangat. Siapa lagi kalau bukan Milin.
Melihat Milin yang menuju ke arah kami, kami masuk lebih dalam ke penginapan. Tampak menyusul, Nenek pun perlahan-lahan datang dari tempat yang berbeda dengan posisi Milin awalnya.
"Selamat kembali Tuan-tuan!" sapanya dengan energiknya.
Kenapa dia selalu bersemangat? Apa karena hanya kami saja yang menjadi pelanggan di penginapan ini?
"Yo, kami kembali Milin," balasku menggunakan bahasa gaul.
"Iya Tuan Arthur, dan Tuan Noー?"
Ucapan Milin terhenti saat memandang ke arah Noland di belakangku. Sudah pasti dia akan terkejut melihat pemandangan baru dari Noland.
"Halo Milin, aku juga sudah kembali," ucap Noland sambil menurunkan perlahan-lahan anak yang menjadi pusat perhatian dalam sekejap ke lantai penginapan.
Menjadi pusat perhatian, anak itu tampak sedikit tertekan karena tidak terbiasa mendapatkan beberapa perhatian secara mendadak.
Milin masih membuka mulutnya kaget tak berkata-kata. Di dalam wajahnya terlukis banyak tanda tanya.
Neneknya pun sudah sampai di sampingnya.
Noland pun tampaknya tak bisa menjelaskan, dia tidak enakan dengan kebenaran yang terjadi.
Jadi saat ini, aku yang akan melakukannya.
"Kami juga membawa seorang anak yang tampaknya tersesat di jalan sewaktu kami kembali dari kerajaan, dia tidak berani untuk berbicara, alhasil dia diabaikan oleh orang-orang disekitarnya. Melihat kondisinya yang tidak berdaya, aku dan Noland memutuskan untuk membantunya mencari orang tuanya ataupun orang yang dia kenal, namun tidak membuahkan hasil sedikit pun. Jadi, untuk sementara kami ingin anak ini untuk tinggal sesaat di penginapan ini," ucapku menjelaskan dengan kebohongan.
Apa boleh buat, ini semua demi mental Milin yang masih kecil. Aku tidak mau ia menjadi membenci kerajaan karena hal ini, dan menghentikan mimpinya untuk mengikuti putri kerajaan panutannya.
Supaya tidak sepenuhnya berbohong, aku mengubah segala cerita yang terjadi sebenarnya dan alasanku berbohong ke dalam mataku, dan selanjutnya kutatap dalam Nenek di samping Milin, aku mengirimnya kepadanya.
__ADS_1
Nenek balas menatapku, menerima informasi yang kukirim kepadanya.
"Wah... Kasihan sekali," ucap Milin berbelas kasih mendekati anak yang dimaksud dan memegangi kedua tangan anak itu.
Bagus Milin! Jika terus begitu, anak itu pasti akan mulai dapat berani berbicara.
"Bertemanlah dengannya Milin," ucapku dengan sedikit tersenyum.
Aku serahkan dia kepadamu, isyaratku kepada Milin.
Milin balas tersenyum, menandakan ia bersedia.
"Bukankah itu bagus Milin, kamu jadi memiliki teman yang sebaya denganmu," ucap Nenek membantu memperkuat ucapanku.
"Ya, aku sangat ingin teman," jawab Milin sambil terus memegangi kedua tangan anak di depannya dengan lembut.
"Bagaimana jika kamu membantu memandikannya Milin? dia harus segera dibersihkan supaya tidak sakit," lanjut ucap Nenek.
"Iya! Aku mau! Aku yang akan melakukannya!"
Setelahnya, Milin menarik anak yang digenggamnya menuju tempat pemandian untuk memandikannya. Anak yang tak tau berbuat apa, pasrah mengikuti Milin yang menariknya.
"Nenek akan menyusul. Pinjamkan bajumu untuk anak itu ya?" ucap nenek meminta izin.
"Oke!" jawab Milin dari dalam tempat pemandian.
Sekarang di hadapan kami hanya tersisa nenek seorang.
"Maaf merepotkan Nek," ucapku meminta maaf.
Nenek memandang ke arahku dengan tatapan tulusnya.
"Ya tenang saja, aku mengerti. Terkadang kerajaan memang bisa begitu," jawab nenek.
"Terima kasih, Nek" ucap Noland disampingku.
Nenek mengangguk dan mulai berjalan menuju kamarnya dan Milin untuk mengambil beberapa pakaian untuk anak itu.
Beberapa langkah, nenek memutar pandangannya, ia memandang ke arah kami.
__ADS_1
"Oh ya, kalian juga bersiap-siap lah, nanti kita akan mengadakan makan malam bersama."