
Aku dan Noland sedang dalam perjalanan menuju asosiasi pedagang untuk bertemu Mr.Meinhard di ruangannya.
Cuaca cerah seperti yang diharapkan.
Walaupun cerah, suhu di sini tetaplah relatif dingin.
Noland memakai pakaian santainya, sedangkan aku menggunakan mantel.
Penduduk dari wilayah Alpen biasanya tahan dengan suhu dingin, itu karena mereka sudah hidup berdampingan dengan keadaan ekstrim itu sejak lahir. Namun sayangnya aku tidak seberuntung mereka.
"Noland, Evelyn akan datang berkunjung nanti," ucapku ke arah Noland yang sedikit mengantuk.
Matanya tiba-tiba membesar, dia mengubah arah pandangannya ke arahku.
"Benarkah?!" tanyanya.
"100% benar."
Langkah Noland terhenti, dia membalikkan badannya, berjalan ke arahku, dan meraih kerah mantelku.
"Kenapa kamu baru memberitahuku? Arthur!" seru Noland sambil mengguncang tubuhku.
"Maaf aku lupa."
Noland melepas genggamannya.
"Aku seharusnya menggunakan baju terbaikku!"
"Tenang saja, tak usah terlalu kaku seperti itu."
"Kamu benar..."
Noland sudah mulai tenang, kami melanjutkan perjalanan.
"Kapan Evelyn akan datang?" tanya Noland dengan mata berbinar-binar.
"Nanti sore... mungkin dia akan bersama dengan manager-nya, namanya Ms.Ariadna."
"Ms.Ariadna? akan kuingat itu."
"Untuk apa mereka berkunjung?" lanjut tanya Noland.
"Mereka ingin melihat sampel parfum itu. Mereka mungkin masih ragu dengan ide ini."
"Ah ya... ide ini memang sedikit kurang meyakinkan, sebab wangi-wangian masih jarang dipakai, apalagi pada kehidupan sehari-hari. Mengapa kamu sangat yakin dengan ide ini Arthur?"
"Apa kamu tau taman bunga di bagian timur Alpen?"
"Iya, aku tau. Kita sering bermain bersama di sana, bukan?
Taman bunga di bagian timur Alpen merupakan salah satu spot favorit untuk dikunjungi. Aku serta Noland dan Koloman sering berkunjung ke sana, untuk bermain serta memetik beberapa sebagai hadiah.
Saat aku mendapatkan indra pengelihatanku kembali, aku dapat memastikan bahwa taman itu benar-benar luas. Taman itu dipenuhi dengan bunga tulip berwarna merah dan putih.
"Benar, kita sering bermain di sana. Kamu suka dengan wangi dari bunga-bunga di sana kan?"
"Iya aku menyukainya! saking sukanya, aku memetik bunga itu dan membawanya pulang. Tapi sayang, beberapa hari setelahnya bunga itu layu."
"Semua orang pasti menyukai aroma bunga, namun sayangnya aroma itu tak akan bertahan lama... Tapi itulah gunanya parfum!"
"Em... maksudnya?"
"Parfum yang akan kubuat nanti akan berisi cairan yang menyimpan atau meniru aroma suatu benda, contohnya bunga. Jadi nanti siapapun yang memiliki parfum dapat menciptakan aroma yang ia sukai sesuka hatinya, dan tanpa batas. Beli lagi maksudnya."
"Sesuka hati?! Itu menakjubkan Arthur. Apakah itu benar-benar bisa terjadi?"
"Tenang saja, serahkan kepadaku."
"Aku akan sangat menantikannya. Mungkin aku akan memakainya setiap hari."
Di tengah percakapan kami, kami menyadari bahwa kami sudah berada di depan asosiasi pedagang.
Tempat itu ramai seperti biasanya, ada yang keluar dan ada yang masuk.
Kami menaiki puluhan anak tangga menuju pintu masuk. Setelah masuk, kami disuguhi oleh luasnya tempat ini, seperti aula besar. Kami langsung menuju tangga dan naik ke lantai dua.
Penjaga tangga sepertinya sudah mengetahui kami, dia mempersilakan kami menaiki tangga itu.
Dari atas, orang-orang di bawah terlihat seperti sekumpulan semut kecil yang berjalan-jalan tanpa arah. Kami fokus menuju pintu masuk ruangan Mr.Meinhard.
Beberapa langkah, kami tiba di pintu ruangannya. Pintu itu terlihat berbeda dengan pintu lainnya di lantai dua, itu terlihat begitu megah, oleh karena itu aku mengetahui apa yang terjadi kemarin.
Noland mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk. Suara pria muncul, memberitahukan kami bahwa kami boleh masuk.
Noland segera membuka pintu itu, sama seperti yang terjadi kemarin.
__ADS_1
Udara hangat berhembus dari dalam ruangan, dengan seorang pria tinggi dan gagah berada di dekat jendela dengan pemandangan kota yang indah.
"Selamat pagi Mr.Meinhard!" sapaku dan Noland.
"Ah kalian datang tepat waktu," ucap Mr.Meinhard sambil berjalan mendekat ke arah kami.
Dia masih menggunakan mantel khasnya, sedikit mencolok dan elegan.
"Mr.Meinhard, saya telah berhasil berbicara dengan nona Evelyn. Dia sedikit tertarik dan berencana untuk datang nanti ke pabrik pembuatan parfum," ucapku dengan sedikit bangga.
"Evelyn... Benarkah?! Syukurlah jika begitu. Kau memang bisa diandalkan. Jadi hari ini kita harus meyakinkannya untuk bekerja sama dengan kita."
"Benar Mr.Meinhard! Evelyn akan datang nanti sore," ucap Noland melengkapi informasi.
"Sore ya... itu waktu yang bagus! Bagaimana? apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya Mr.Meinhard menanyai pendapat kami.
Aku dan Noland saling bertatapan, dan aku menjawab.
"Boleh Mr.Meinhard. Aku sudah tidak sabar untuk melakukannya."
"Aku juga setuju!" ucap Noland dengan penuh semangat.
"Baiklah bila begitu, mari ikuti saya."
Mr.Meinhard mulai berjalan di depan kami, Kami mengikutinya dari belakang.
Setelah Mr.Meinhard menutup dan mengunci pintu ruangannya, dia berjalan ke bagian kiri ruangannya, menjauh dari tangga yang tadi kami naiki.
Mr.Meinhard berjalan dengan gagahnya dengan tubuh idealnya memandu kami berdua.
Mr.Meinhard berhenti di depan suatu pintu sebuah ruangan. Dia membukanya, sepertinya tidak terkunci sejak awal. Kami ikut masuk setelahnya.
Di dalamnya, ruangan ini tak tampak seperti sebuah ruangan untuk seseorang bekerja. Melainkan ruangan yang dibuat untuk bagian menuju tangga.
Benar, ruangan ini berisi tangga untuk menuju ke bagian bawah, ke lantai dasar.
Seisi ruangan disinari oleh banyak lentera yang di tempatkan di bagian dinding.
Suara terdengar dari bawah tangga.
Mr.Meinhard menuruni tangga, kami ikut di belakangnya.
Benar saja, di bagian bawah tangga ternyata ada orang-orang yang terlihat seperti para pegawai di asosiasi dagang. Aku tidak tahu mereka sedang mengurusi apa.
Saat mengetahui Mr.Meinhard berada di sekitar mereka, mereka langsung menunduk dan menyapa Mr.Meinhard dengan sopan dan lembut. Mr.Meinhard membalas mereka dengan lembut pula.
Mr.Meinhard masih terus berjalan.
Di depan, aku dapat melihat cahaya. Itu mungkin jalan keluar dari ruangan ini.
Benar tebakanku. Kami sekarang telah tiba di teras luar Asosiasi Pedagang, pada bagian belakangnya.
Di bagian belakang Asosiasi Pedagang, terdapat halaman luas, berisi tanaman-tanaman yang dipelihara dengan baik.
Kami turun menggunakan beberapa tangga.
Halaman ini telah ditutupi sebagian dengan bebatuan, sama seperti jalan di kota.
Di depan kulihat sebuah kereta kuda sedang menunggu kami. Kereta kuda yang sangat terlihat mewah, berbeda sekali dengan kereta kuda yang kami gunakan untuk menuju ke sini.
"Itulah kendaraan yang akan mengantarkan kita ke pabrik," ucap Mr.Meinhard.
"Kita menggunakan kereta kuda? apakah tempat itu sangat jauh?" tanya Noland penasaran.
"Tidak terlalu," jawab Mr.Meinhard.
Mr.Meinhard membuka pintu kereta kuda tersebut den masuk kedalamnya.
"Jadi kenapー"
Sebelum Noland melanjutkan bertanya, aku meletakkan tanganku di atas pundaknya.
"Sudahlah Noland... Ikuti saja," ucapku.
"Baiklah."
Noland yang berada di depanku mulai membuka pintu dan masuk ke dalam.
Selanjutnya giliranku untuk memasukinya.
Semuanya telah masuk ke dalam kereta kuda.
Mr.Meinhard mulai mengunci pintu itu dan mengisyaratkan kepada pengemudi kuda bahwa kami telah siap.
Kereta kuda pun mulai berjalan.
__ADS_1
......................
Sejak kereta kuda mulai berjalan, Noland melirik ke jendela, menikmati perjalanan.
Aku pun begitu.
Aku terlihat seperti mengagumi pemandangan jalan yang kami lewati, namun sebenarnya aku sedang menghafalkan jalur yang kami lalui, tapi sepertinya aku tak akan mudah untuk mengingatnya.
"Mr.Meinhard apakah semua bahan-bahan yang kuminta sudah siap di sana?" tanyaku memastikan.
"Kau dapat mempercayaiku," jawab Mr.Meinhard dengan percaya diri.
"Bahan yang kamu minta... kenapa sepertinya aneh-aneh semua. Dari mana kamu mengetahui bahan-bahan seperti itu?" tanya Mr.Meinhard sedikit curiga.
"Bahan-bahan itu aku temukan saat sedang tidak sengaja mencampur beberapa benda, dan sebagainya aku mengetahuinya dari buku di perpustakaan," jawabku.
Pertanyaan itu sudah kusuapkan jawabannya jauh-jauh hari, nampaknya itu terlihat meyakinkan.
"Oh begitu, kau sangat menarik."
"Terima kasih Mr.Meinhard."
Noland masih terus memandangi jendela.
Terdapat beberapa kereta kuda yang lalu lalang di jalan ini juga.
Jalan yang kami lalui sekarang sangat besar, memungkinkan kereta kuda dan para pejalan kaki untuk melalui jalan itu secara bersamaan.
Kereta berbelok ke arah kiri menuju jalan paling pinggir kota.
Di jendela bagian kanan, masih terlihat bangunan-bangunan khas kota. Sedangkan di jendela bagian kiri, terlihat pemandangan hamparan rumput hijau yang luas, dengan beberapa pertunjukan tarian di sana.
Kereta menuju ke bagian dalam kota kembali.
Beberapa saat setelahnya, kereta kuda berhenti di depan suatu tempat.
"Kita telah sampai di tempat yang dimaksud," ucap Mr.Meinhard memberitahu kami berdua.
Dia menunjuk ke arah kanan jedela. Aku dan Noland refleks melihat ke arah tunjukannya.
"Woah..." ucap Noland.
Tempat itu besar dari yang kuduga, tapi tidak sebesar dengan gedung Asosiasi Pedagang.
Tempat ini tak tampak seperti pabrik, ini lebih seperti rumah dengan garasi. Pabrik Kecil.
"Kami sebenarnya memiliki pabrik yang lebih besar daripada ini, tapi untuk sekarang... kita akan menggunakan pabrik ini saja dulu," jelas Mr.Meinhard.
"Heh?! ada yang lebih besar lagi?!" ucap Noland tak percaya.
"Iya tak apa-apa Mr.Meinhard, ini sudah lebih dari cukup," ucapku.
Mr.Meinhard mulai membuka kunci, dan membuka pintu.
Mr.Meinhard keluar duluan, dengan kami mengikutinya dari belakang.
Aku meregangkan badanku dan memenuhi paru-paruku dengan udara segar.
Mr.Meinhard berjalan menuju ke arah pengemudi kereta kuda, dan mengucapkan sesuatu.
Pengemudi itu mengangguk dan menepikan kereta kuda yang tadi kami tumpangi.
Mr.Meinhard berjalan kembali ke arah kami.
"Ayo masuk," ajak Mr.Meinhard.
"Baik!" jawab kami berdua.
Mr.Meinhard tersenyum dan berjalan mengarah pintu gudang.
Aku dan Noland saling menatap, aku mengangguk ringan kepada Noland.
Dengan itu, Noland berjalan di depanku dengan sangat riang gembira.
Saat ini, merupakan tahap awal dari rencana yang kami siapkan untuk menyelamatkan keluarga Tiatus.
Dan sampai saat ini, semuanya masih baik-baik saja.
Aku berjalan di belakang mereka berdua.
Mr.Meinhard terlihat seperti melakukan sesuatu pada pintu besar pabrik, dan membuatnya tiba-tiba bergerak.
Pintu pabrik yang besar itu mulai terbuka.
Perlahan-lahan muncul suara gaduh dari dalam pabrik.
__ADS_1
Sama seperti pabrik pada umumnya.