Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Sebelum Makan Malam


__ADS_3

Kereta kuda terus bergetar menemani detik-detik ku yang menyakitkan ini. Saking menyakitkannya, seakan-akan tiap detiknya diriku tercekik semakin kuat dan semakin kuat.


Terkadang beberapa saat kereta kuda ini berhenti di suatu tempat dan setelahnya ada beberapa percakapan di luar sana. Jujur saja, aku sudah tidak memiliki sedikitpun minat untuk menengok ke arah luar sana, aku tak berniat untuk mengetahui apa yang terjadi, karena aku tak peduli lagi.


Waktu terus berlalu, dan aku akhirnya menyadari sesuatu.


Aku tidak sendiri di sini.


Kupaksakan kepala untuk terangkat dan membiarkan mataku untuk mengamati sekitar.


Ada banyak orang di sini. Banyak anak sebaya denganku, remaja, dan orang tua.


Di kondisi matahari memerah, kulihat banyak orang tak berdaya lainnya di sekitarku mendekam.


Pantas saja udara di sini menjadi sedikit pengap.


Beberapa orang dewasa tampaknya sedang berbicara bersama mengenai berbagai macam hal tidak penting dan acak untuk menghibur diri mereka. Topik pembicaraan mereka sangat cepat berubah, saking cepatnya seakan-akan mereka sedang berbicara sendiri. Apa mereka sudah gila? bukan, mereka memang gila dan aku akan menyusul.


Sedangkan beberapa anak sebayaku sedang duduk termenung tak tau berbuat apa dan beberapa yang lainnya sedang bermain seperti tidak ada yang terjadi pada hidup mereka.


Kereta kuda berhenti dan beberapa saat kemudian terdengar suara gerbang kerajaan terbuka.


Kondisi yang semulanya tersinari oleh cahaya matahari hangat, tiba-tiba berubah menjadi cahaya remang-remang. Suara-suara dentingan dari baju baja prajurit mulai ikut meramaikan.


Sudahlah, aku sudah tak peduli lagi.


...****************...


Hari terus berlalu dan berganti. Panasnya terik matahari, dinginnya malam hari, dan salju yang tak henti-henti. Semuanya telah kurasakan berulang kali.


Walaupun aku tak sendiri di sini, namun pasti suatu hari, kami akan terpisah kembali.


Kami budak diperlakukan selayaknya mesin tanpa henti, terkadang dijadikan alat tukar demi kedamaian negeri.


Diselimuti kain jerami, kucoba tetap berdiri, walaupun hati ingin mati.


Hari-hari terasa sepi, seperti jiwa kami yang tak terisi.


Jika pemberontakan diberi hukuman mati, dia pasti terima dengan senang hati.

__ADS_1


Kumohon seseorang, tolong kami.


Aku sudah tidak tahu beberapa kali aku sudah berpindah-pindah tempat, tapi bagiku semuanya sama saja.


Makanan yang mereka punya payah-payah semua. Siapa yang mau makan roti yang hampir membusuk dan teksturnya keras? Tidak ada dan hanya kami, itu juga terpaksa.


Sambil mencoba mengunyah dan memakan sesuatu di tanganku, tiba-tiba pintu yang selalu tertutup di ujung ruang ini terbuka. Cahaya matahari yang sudah lama tak kulihat perlahan-lahan masuk dan menerangi beberapa bagian di tempat ini.


Ratusan orang di dalam sini menolehkan pandangan mereka melihat seorang prajurit yang masuk ke dalam dan ada beberapa lagi yang sedang menjaga dari luar.


Prajurit yang masuk tadi tampak menyusuri jalan yang dipenuhi dengan ratusan orang dekil dengan sikap agak jijik. Dia sepertinya sedang mencari sesuatu.


Perlahan prajurit itu berjalan ke arahku dengan tetap menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Sudah dekat denganku, kulihat dengan seksama paras prajurit itu. Dia tampak sama seperti terakhir kali kulihat walaupun dengan pakaian lebih formal dari sebelumnya. Aku mungkin sudah mengingat ratusan wajah prajurit dari berbagai wilayah, namun aku ragu mereka mengingat wajahku ini.


Seperti yang diharapkan, perajut itu berjalan melaju melewatiku tanpa memandangku lebih lama.


Dia masih berjalan mencari suatu yang dicarinya dengan memperhatikan semuanya dengan seksama walaupun wajahnya tampak muak.


"Akhirnya yang dicari-cari."


Prajurit itu berjalan ke arah salah satu ujung ruangan dengan tempo berjalannya yang dipercepat, seolah-olah ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan keluar dari sini.


Di ujung ruangan itu...


Yang dicarinya...


Seseorang...


Prajurit itu berhenti di depan seseorang dan tanpa basa-basi langsung berjongkok dan mengurus borgol tangan yang mengunci keras kedua tangan orang itu.


Dia itu... Seorang anak gadis. Gadis itu tampaknya baru sekitar dua musim berada di sini. Kondisinya lebih parah dari orang-orang lain di sini, dia lemas dan tampak sakit. Entahlah apa yang akan terjadi kepadanya selanjutnya, tapiー semua orang yang dibawa khusus oleh prajurit... mereka semua tidak pernah kembali lagi. Entah mereka dipindahkan atau yang lebih buruk lagi.


Borgol besi tebal dan berat itu sudah terlepas dari kedua tangannya. Tanpa memberikan kesempatan berbicara bagi si anak gadis itu, prajurit itu meraih salah satu tangannya dan mengangkatnya, memaksanya berdiri dan menarik anak gadis itu menuju pintu keluar.


Pasrah, gadis itu berjalan pontang-panting dan beberapa kali terjatuh karena tempo berjalan dari prajurit yang menariknya itu lebih cepat. Sungguh anak gadis yang malang.


Prajurit itu terus menariknya dengan paksa sampai tiba di depan pintu dengan beberapa prajurit yang menunggunya di luar sana. Dan pintu itu pun mulai tertutup dengan suara bantingan keras di akhirnya.

__ADS_1


Huh, kegelapan lagi.


...****************...


Si anak perempuan kerajaan di dekat Milin tampaknya lebih baik daripada sebelumnya, walaupun dia masih tampak malu-malu, tapi seiring dengan waktu kami mungkin saja dapat akur dengannya.


"Milin ajak dia ke sini," ucap Nenek dengan menepuk kursi di sebelahnya.


"Oke Nek, ayo sini," ajak Milin.


Milin menarik ringan tangan anak itu memandunya ke arah dua kursi kosong di samping meja makan.


Tiba di dua kursi itu, Milin mengambil tempat di sisi kiri sedangkan di sisi kanan diberikan kepada anak itu.


Jadi posisi kami masing-masing ada Nenek di ujung sana, selanjutnya Milin, Anak itu, Noland dan Aku.


Ugh aku bingung saat momen awal perkenalan begini...


"Bagaimana? Apakah kamu sudah lebih baikan?" tanya Noland langsung membuka percakapan.


Masih tidak berani berbicara, anak itu hanya mengangguk ringan sambil malu-malu.


Wow dia merespon! Mantap Noland!


"Kamu dan Milin tampaknya sudah berteman ya," lanjut ucap Noland.


"Mungkin iya, tapi sepertinya kami belum sempat berkenalan tadi, jadi kenalin namaku Milin dan ini Nenek!" ucap Milin dengan sambil mengenakan Neneknya di sampingnya.


"Halo." Nenek berkata sambil melambaikan tangannya dan memberikan senyum manis dan hangat.


"Kalau aku Noland, semoga kita bisa akrab ya," ucap Noland tak mau kalah.


"Aku Arthur, Arthur Gunther." Aku ikut memperkenalkan diri.


Anak itu menyimak dan memperhatikan kami satu persatu dan mencoba mengingat nama-nama kami masing-masing.


Dengan begini semuanya sudah memperkenalkan dirinya masing-masing, dan dimulailah percakapan awal dari hubungan kami.


"Jadi, nama kamu siapa?" tanya Milin.

__ADS_1


__ADS_2