
Ibuku berhenti di suatu tempat. Tepat di depannya terdapat puluhan bunga jasmine yang tampak seperti berkumpul.
Bunga-bunga itu mengarah ke atas seperti sedang menatap kami. Bunga itu berbentuk seperti bintang berwarna putih dengan intinya berwarna kuning. Bunga yang sangat manis.
Ibuku meraih memetik satu tangkai bunga itu, mencium harumnya dan meletakkannya di rambutnya di bawah ikatan rambut.
"Bagaimana? Cantik bukan?" tanya ibuku menanyai pendapatku.
"Tentu Ma... Bunga itu sudah sangat identik dengan Mama."
Ibuku selalu memetik bunga jasmine sebagai jimatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ibuku memetik satu tangkai lagi dan memberikannya kepadaku.
"Ini untukmu, Evelyn anak yang sangat imut."
Aku meraihnya dan mulai mencium harum yang ditimbulkan oleh bunga ini, sambil melihat ibuku di depanku.
"Memang, aroma yang sangat khas."
Setelah beberapa saat menikmati keindahan hamparan bunga... Kami kembali ke rumah kami bersiap untuk acara utama.
......................
Pagi yang sesungguhnya telah tiba.
Aku dan Ibuku sudah berpakaian dengan pakaian terbaik yang kami miliki, sudah siap untuk berangkat ke balai kota.
Setiap kali dalam perjalanan menuju balai kota, aku selalu gugup panas dingin. Sedangkan Ibuku yang menjalani audisi di sana berjalan dengan santai seperti tidak akan terjadi apa-apa.
Jalan dari desa kami menuju balai kota adalah hamparan tanah dengan sekumpulan bunga di sampingnya yang masih terlihat.
Karena acara ini adalah acara setiap tahunnya, banyak orang yang pergi dengan arah dan tujuan yang sama dengan kami.
Mereka berasal dari desa yang bermacam-macam, berkumpul semua di balai kota. Hal ini lah yang membuatku semakin gugup, dan Ibuku... sepertinya tidak.
Ratusan langkah telah kami lalui dengan tanganku yang selalu menggenggam tangan ibuku yang sangat hangat.
Banyak orang sudah terlihat di pandangan kami dengan pakaian terbaik yang mereka punya.
Jika dibandingkan dengan mereka, ibuku tampak lebih muda dan lebih cantik. Oleh karena itu setiap kali kami melangkah selalu ada banyak pandangan yang mengarah ke arah kami.
Aku spontan menundukkan kepalaku, aku tak tahu mengapa. Sedangkan ibuku... dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan berjalan dengan percaya diri dengan pandangannya fokus ke arah depan.
Setiap kali aku melihat Ibuku yang bersikap seperti itu, semakin aku mengagumi Ibuku.
Balai kota sudah tampak sangat ramai terisi dengan para kontestan dan para penonton. Kami agak kesulitan untuk berjalan maju menuju panggung.
Panggungnya terletak di dalam balai kota. Panggung adalah tempat untuk para kontestan untuk menunjukkan bakat dan kehebatannya dalam bernyanyi satu persatu dan akan ditonton oleh ratusan orang. Tentu saja akan ada juri yang akan menilai.
Setelah susah payah untuk memasuki balai kota, kami melihat kondisi balai kota yang sama seperti tahun yang lalu.
Balai kota itu sangat luas, cukup untuk menampung ratusan orang di dalamnya. Kursi-kursi sederhana sudah di siapkan untuk para penonton, untuk penonton yang tidak mendapat kursi biasanya akan berdiri atau duduk di atas lantai.
Dari banyaknya kursi kayu sederhana, ada beberapa kursi yang tampak lebih layak, yaitu kursi yang terdapat pada area para kontestan dan para juri.
Para kontestan umumnya akan membawa keluarganya untuk menyemangati dan menonton pertunjukan mereka. Dan tempat duduk mereka semua berada di tempat duduk kontestan yang berada dekat dengan panggung.
Kondisi balai kota sekarang hanyalah baru terisi oleh para kontestan dan orang-orang terkait. Nanti saat acara akan dimulai, para penonton baru akan dipersilahkan untuk mencari tempat duduk mereka.
Banyak penonton yang hadir dalam acara ini sangat tidak disangka-sangaka. Banyak sekali.
Karena itu terkadang suara para penyanyi tidak terdengar sampai ke belakang penonton.
Jadi kemampuan penyanyi untuk mengeraskan suaranya dengan sangat tepat diperhitungkan di sini.
Jenis musik yang digunakan biasanya hanya jenis musik religius dan non religius.
Ibuku mengantarkanku ke arah kursi para kontestan.
"Evelyn, kamu tunggu di sini ya... Jangan kemana-mana sebelum Ibu kembali, ya?" perintah ibu.
"Iya Ma.. Evelyn akan tetap di sini."
Ibu mengelus kepalaku dan mulai berjalan menjauh. Sepertinya Ibuku akan mengurus berbagai macam hal untuk audisinya.
......................
Semakin lama, para kontestan dan keluarganya mulai memenuhi kursi kontestan.
Aku sudah mengambil posisi di depan, aku telah mendapatkan tempat terbaik untuk menonton.
__ADS_1
Benar saja, kursi barisan depan sudah terisi penuh dengan sangat cepat.
Kursi di samping kanan dan kiriku sudah diduduki oleh orang-orang yang sama sekali tidak kukenal. Aku berada di tengah-tengah mereka.
Kontestan yang mereka dukung juga sama seperti ibuku, mereka semua berjalan menjauh dari kursi dan berjalan ke pinggir panggung untuk mengurus berbagai macam hal.
Dari tempat dudukku, aku dapat melihat Ibuku yang tampak seperti mengantri mengambil nomor giliran.
Dengan bunga jasmine di ikatan rambutnya, Ibuku tampak bersinar jika dibandingkan dengan kontestan lainnya. Ibuku tampak begitu istimewa.
Beberapa saat kemudian, Ibuku telah berada di depan antrian dan mengambil nomor giliran tampil.
Setelahnya, Ibuku tampak melanjutkan berjalan ke arah belakang panggung. Ibuku menengok ke sini dan mengetahui bahwa aku memperhatikannya.
Aku memancarkan aura penasaran dari mataku.
Melihat itu Ibuku menunjukkan seluruh jarinya dalam satu tangan.
Lima, giliran tampil Ibuku pada giliran ke-lima.
Sangat awal.
......................
Setelah menunggu begitu lama, para penonton dipersilahkan untuk mengambil tempat duduknya masing-masing.
Dengan sedikit riuh, para penonton mulai mengisi seluruh kursi di dekatnya.
Ketika para penonton telah mendapatkan seluruh tempat duduk mereka... Itu menandakan bahwa acara ini akan segera dimulai.
Aku semakin gugup, padahal bukan aku yang akan tampil.
......................
Para penonton dan para juri telah menduduki kursinya masing-masing.
Acara akan segera dimulai.
Aku melihat ke arah sekitarku. Sepertinya bukan hanya aku yang gugup saat ini, banyak orang di kursi kontestan sangat gugup mengharapkan hasil yang terbaik untuk kontestan yang mereka dukung.
Huh... Ayo tenang, dan semangati Ibu!
Aku tak dapat membayangkan betapa gugupnya menjadi orang yang mendapat giliran tampil yang pertama.
Aku tak terlalu mengingat pakaian yang digunakannya, namun performa yang dia tampilkan sudah baik, tepuk tangan menghiasi akhir penampilannya.
Kontestan kedua muncul di atas panggung.
Kontestan itu adalah seorang pria bertubuh besar dan kekar. Semua orang tak menyangka akan dapat melihat orang seperti itu akan bernyanyi lagu religius yang lemah gemulai.
Namun ekspetasi dari para penonton dihancurkan berkeping-keping. Pria besar itu dapat dengan sangat baik bernyanyi diatas panggung dengan performa terbaiknya. Tepuk tangan meriah dari para penonton diberikan oleh pria itu.
Kontestan ketiga dan keempat muncul secara bergiliran di atas panggung.
Sayangnya performa mereka berdua kurang memuaskan. Mungkin mereka sedang gugup karena baru pertama kami bernyanyi di depan ratusan orang dengan para juri yang terus menatapnya menilai penampilannya.
Namun tetap, tepuk tangan diberikan kepada mereka yang sudah berupaya menampilkan yang terbaik.
Selanjutnya, Kontestan ke lima. Ibuku muncul dari atas panggung.
Para penonton dan juri sepertinya sudah pernah melihat Ibuku berulang kali di atas panggung, dan menyemangatinya untuk berhasil hari ini.
Ibuku mulai mengambil sikap siap di atas panggung, dan musik dari alat musik sederhana telah dimainkan.
Suara dari Ibuku mungkin sudah sangat familiar pada indra pendengaran para penonton dan juri.
Aku melihat reaksi mereka...
Untung saja mereka sekarang terlihat seperti menikmatinya.
Jika ini terus bertahan. Aku yakin... Ibu pasti akan lolos.
Tapi pada pertengahan penampilan... Tiba-tiba tanah bergetar. Kekuatan getarannya bertambah seiring waktu.
Musik dari alat musik sederhana yang dimainkan oleh beberapa orang tiba-tiba berhenti.
Banyak orang yang berdiri dari tempat dudukku mereka diam kebingungan.
Sampai pada suatu titik, guncangan semakin keras dan semakin terasa.
Banyak benda-benda disekitar bergeser hingga jatuh ke bawah lantai.
__ADS_1
Dan yang paling mengejutkannya, tiba-tiba plafon besar dan tebal di bagian atas ruangan jatuh ke arah panggung dengan serta membawa kayu-kayu yang terlihat rapuh.
Aku menyadarinya, bahwa... Ibuku masih berada di atas panggung.
"MAMA!!" teriakku histeris, suaraku menggelegar mengalahkan suara para kontestan yang tampil di atas panggung.
Dengan tanah yang masih bergetar, aku berlari ke arah panggung di dekatku menghampiri Ibuku yang kondisinya tak kuketahui.
Ibuku tersungkur di atas panggung dengan plafon besar dan tebal menahan tubuhnya, dia tak bisa bergerak.
Aku berusaha untuk menyingkirkan benda besar itu dari tubuh Ibuku, namun hasilnya nihil.
Aku memutar pandanganku ke arah belakang mengharapkan pertolongan dari orang sekitar, namun...
Bukannya mendapatkan pertolongan, kami ditatap dengan tatapan penuh ketakutan. Tampak seperti mereka sedang menyaksikan mimpi buruk mereka terjadi di depan mata mereka.
Seketika setelah itu, semua orang di dalam balai kota berlari berhamburan keluar dengan berteriak ketakutan serta histeris.
Aku merasakan gerakan di depan tubuhku.
"Mama!"
"Jangan mendekat! Pergilah... Cari tempat yang aman," ucap ibuku dengan nada lemas.
"Tapi aku gak mau meninggalkan Mama di sini..."
"Pergilah! Aku mohon... Tetap hiduplah."
"MAMー"
Pilar-pilar yang kokoh mulai runtuh satu persatu.
Mengetahui itu Ibuku mendorongku menjauh darinya.
Para kontestan keluar berhamburan dari belakang panggung.
Seseorang meraihku dan menggendongku meninggalkan Ibuku dengan kondisi lemas sendirian tak berdaya di atas panggung.
"MAMAAA!!!" teriakku dengan air mataku berlinang dan bercucuran tak terkendali.
Aku melihat ke arah Ibuku, setelah itu Ibuku tersenyum... memasrahkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Semakin lama semakin jauh, semakin jauh, hingga Ibuku yang sangat kusayangi itu, Ibu yang sangat spesial bagiku itu... sudah tak terlihat pada bidang pengelihatanku.
Aku dibawa keluar oleh orang itu dan menyaksikan proses runtuhnya balai kota yang megah itu, dengan Ibuku masih di dalamnya.
Aku dibawa ke pos pengungsian terdekat.
Aku sudah tak peduli lagi...
Setiap malam aku selalu memaki-maki diriku sendiri dan menyalahkan semua orang di sana karena tidak membantu Ibuku.
Aku sudah tak peduli...
Saat pemakaman korban, aku tak bisa menangis... Aku tak bisa mengeluarkan setetes air mata pun. Seakan-akan air mataku telah habis terkuras.
Di sekitarku terdengar banyak orang menangis karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Aku tak peduli...
Aku dibawa ke kursi terdekat untuk menangkan diri.
Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang mengarah ke arahku. Aku tak menggerakkan kepalaku sedikit pun.
"Kamu Evelyn?" tanya orang itu.
Aku tak peduli...
Menunggu jawaban yang tak kunjung datang-datang, orang itu duduk di sampingku.
Dia duduk bersamaku begitu lama.
Aku mencoba untuk melihat orang aneh di sebelahku...
Menyadari bahwa aku mulai melihatnya, dia pun membalas melihatku.
"Kamu Evelyn?" tanya orang itu lagi.
Akhirnya aku melihat wajahnya...
Dan itulah pertemuan pertama kaliku dengan Ariadna.
__ADS_1