Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Pentas Pusat Kota


__ADS_3

Saat langit sudah dipenuhi kegelapan, kota-kota ini seolah-olah menolak kegelapan tersebut.


Di sepanjang jalan diisi dengan berbagai macam lampu yang menerangi segala sisi kota itu.


Jalan di pusat kota ini sudah menggunakan beton, dan bebatuan warna-warni yang menghiasi jalanan.


Kondisi pusat kota sangat ramai dengan orang-orang dengan segala macam keperluan.


Toko-toko banyak berderet di sisi samping jalanan ini, ada toko baju, makanan, senjata, serta buku.


Ah iya! aku ingin sekali berkunjung ke perpustakaan yang dikatakan besar dan megah itu.


Mungkin besok saja.


Aku saat ini menggunakan kemeja putih polos lengan panjang, celana panjang berwarna hitam, sepatu boots, dan syal abu-abu cerah yang masih melingkari leherku.


Noland disampingku menggunakan kemeja putih corak garis-garis lengan pendek, berjalan dengan sangat antusias.


Melihat penampilanku yang tidak normal, karena tidak menggunakan pakaian tebal. Noland bertanya.


"Hey Arthur... kenapa kamu melepas pakaian hangatmu? bukankah saat ini lebih dingin daripada tadi pagi?"


"Entahlah... aku merasa sedikit fit saat ini. Pakaianku saat ini, serta syal, dan sarung tangan hadiahmu sudah cukup kok untuk melindungiku dari suhu yang dingin ini."


"Oh begitu... syukurlah hadiahku dapat membantumu."


Noland kembali menatap toko-toko disekitar, melihat apa yang diperjualkan di sana.


Aku melihat ke sebuah toko pakaian di sampingku, di sana dijual berbagai macam jenis pakaian yang sedang maupun tidak trend di era ini.


Terpikir olehku untuk membeli beberapa pakaian baru, tapi aku mengurungkan niatku.


Kami sekarang sedang berkelana menuju kerajaan yang masih belum jelas lokasinya. Akan sangat merepotkan jika tas yang kami pakai sekarang dipenuhi dengan pakaian-pakaian.


Lagi pula aku tidak terlalu membutuhkannya.


......................


Keramaian orang-orang mulai meningkat.


Semua orang disekitarku terfokus kepada satu titik. Yaitu Pentas Pusat Kota di depan sana.


Perlu sedikit perjuangan untuk akhirnya dapat sampai di titik itu, gerbang masuk pentas pusat kota.


Setelah aku dan Noland terombang-ambing di riuhnya keramaian, aku dan Noland berhasil sampai di gerbang masuk.


Setelah membayar beberapa biaya masuk, kami akhirnya dapat masuk dan sedikit terbebas dari keramaian yang ada di belakang kami.


Pertunjukan pentas pusat kota itu akan diselenggarakan di sebuah gedung besar di depan kami.


Tentu saja gedung itu telah dihias sedemikian rupa, sehingga menimbulkan kesan elegan dan mencolok.


Kami masih berada di perbatasan jalan yang mengarah ke gedung itu.


Di samping jalan terbuka beberapa kios-kios kecil yang disediakan untuk menjual sovenir, makanan pendamping, dan hal lainnya yang dapat menyempurnakan pengalaman menyaksikan pentas nanti.

__ADS_1


Sovenir-sovenir yang dijual bersangkutan erat dengan para artis yang akan mengisi panggung nanti.


Karena ketidaksabaran Noland, dia sepertinya tidak menghiraukan kios-kios disampingnya.


Dia terus menatap gedung itu sembari memberitahukanku tentang artis-artis yang akan berdiri di atas panggung nanti.


"Arthur... apa kamu pernah ke pentas sebelumnya?" tanya Noland.


"Tidak pernah, ini pertama kalinya untukku."


"Beneran?" ucap Noland tak percaya.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Woah... mengejutkan sekali."


"Memangnya kamu berapa kali?" Aku balik bertanya kepada Noland.


"Tak tau... aku tidak menghitungnya. Yang pasti aku sudah banyak sekali datang ke pentas."


"Kalau tidak salah, banyak artis yang datang ke wilayah Alpen kan? untuk mengadakan semacam pentas?" tanyaku.


"Iyup! setiap minggunya akan ada selalu pentas di wilayah Alpen. Oleh karena itu, aku dan keluargaku datang untuk menikmati suasana pentas," jelas Noland.


"Tapi... dengan banyaknya pentas yang terjadi di wilayah Alpen, kenapa kamu belum pernah datang ke pentas sekalipun?" lanjut Noland bertanya.


"Pertanyaannya yang bagus... mungkin karena aku tak pernah terpikirkan pun tentang datang ke pentas. Aku pernah mendengar saudaraku membahas tentang pentas, mereka mengajakku, tapi sepertinya aku tak mau."


"Heh... yah tidak mengejutkan lagi kalau kamu menolak itu."


"Tidak mengejutkan apanya?" tanyaku meminta kejelasan.


Ah ya, itu pernah terjadi.


"... tapi saat permasalahan pengelihatanmu sudah teratasi, kamu masih sering menolak ajakanku untuk berjalan-jalan. Sepertinya daripada berjalan-jalan, kamu lebih memilih tinggal di rumah dan menikmati hari-harimu di sana," jelas Noland.


"... aku sampai sebegitunya ya?"


Noland menganggukkan kepalanya sambil melipat kedua tangannya.


"Oleh karena itu aku dapat bilang bahwa hal semacam itu sudah bukan kejutan lagi bagi ku. Tapi... aku baru menyadarinya... kenapa kamu ikut masuk kedalam pentas saat ini?!" tanya Noland dengan terkejut.


"Yah... aku memang merasa sedikit aneh saat berada di kota ini, dari tidak memakai pakaian hangat, dan sampai ikut masuk ke dalam pentas yang awalnya aku tidak tertarik..."


"Mungkin suasana sekitar dapat mengubah perilaku seseorang," simpul Noland.


"Mungkin saja..."


"Baiklah, karena kamu sudah berulang kali masuk ke dalam pentas, bisakah kamu memberitahuku akan ada apa di dalam sana," ucapku sambil menunjuk ke gedung besar di depan kami.


"Di sana kita akan menikmati tarian dan nyanyian yang akan dibawakan oleh sejumlah artis yang ikut dalam pentas ini."


"Sejumlah artis? jadi yang mengikuti pentas ini ada banyak artis?" tanyaku.


"Iya Arthur... pentas ini akan dibawakan oleh beberapa artis, dan diselenggarakan selama tiga jam."

__ADS_1


"TーTiga jam?"


"Iya, tiga jam," tegas Noland.


"Tiga jam?! jadi nanti kita akan duduk diam selama tiga jam?"


"Bahkan sepertinya lebih..."


"Lebih?! dalam waktu 3 jam aku dapat membaca lebih dari 240 halaman dalam satu buku! dalam 3 jam aku dapat menulis berlembar-lembar halaman! dalam 3 jam akー"


"Haha... kelakuanmu muncul! ini baru Arthur yang aku kenal," ucap Noland sambil tertawa.


"Eh..." Aku tak dapat berkata apa-apa.


"Jadi... kalau memang ada banyak artis yang akan tampil... kenapa hanya ada satu artis yang terpampang di poster?"


"Oh artis itu... dia Evelyn, artis yang sedang naik daun sekarang. Mungkin dia dijadikan bahan promosi."


"Oh begitu... masuk akal."


......................


Setelah berjalan beberapa menit, kami akhirnya dapat masuk ke gedung itu, gedung tempat pentas itu diadakan.


Di dalam gedung, sudah banyak ada orang yang mengambil tempat duduk mereka di banyaknya tempat duduk yang disediakan.


Tempat duduk para penonton berada di atas, sedangkan panggung utamanya ada di bawah.


Panggung itu masih tampak kosong.


Aku dan Noland mencari tempat duduk kami.


Setelah berkeliling sedikit, kami menemukan tempat duduk kami.


Tempat duduk kami dapat dikatakan termasuk salah satu area terbaik di sini. Karena dari area ini, seluruh pemandangan dari panggung dapat terlihat jelas.


Kami berdua duduk dengan Noland sangat tidak sabar.


"Noland... nanti kita akan disuguhi pertunjukan apa?" tanyaku.


"Nanti kita akan melihat sebuah drama musikal yang berbaur dengan budaya sekitar. Jadi pentas ini dapat dikatakan pentas seni!" jelas Noland.


"Oh... jadi artis yang kamu maksud itu... artis seni dan penyanyi kan?"


"Hmm... bisa dibilang begitu. Mereka nanti berkolaborasi di atas panggung."


Di tengah-tengah percakapan kami, tiba-tiba lentera yang menerangi kami sebelumnya, tiba-tiba di matikan.


Semua penerangan difokuskan ke panggung.


Tirai mulai di tarik ke samping panggung.


Munculah pemandangan yang dijadikan latar belakang pentas ini.


Noland di sampingku sudah sangat kegirangan, begitu pula orang-orang lain di sekitarku.

__ADS_1


Beberapa tokoh mulai muncul di atas panggung.


Dengan ini pentas pun dimulai.


__ADS_2