Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Perjalanan pun Dimulai


__ADS_3

Kereta kuda kami sudah berjalan sekitar puluhan kilometer dari perbatasan wilayah Alpen.


Pemandangan Alpen sudah sebagai hilang dari pandangan kami, digantikan dengan pemandangan rerumputan luas dan langit biru cerah yang dihiasi awan yang indah. Jika aku memandang ke kejauhan, aku akan melihat desa kecil yang memiliki beribu-ribu kehidupan unik di sana.


Noland sibuk menikmati pemandangan di luar sana, sedangkan aku sedang sibuk mencatat perjalanan kami.


Noland pernah bertanya kepadaku, kenapa aku selalu mencatat kehidupanku setiap harinya.


Aku menjawab, aku selalu mencatat hari-hariku ialah karena dengan melakukan itu aku akan semakin bersemangat dalam mengejar ambisi serta impianku.


Kenapa begitu? karena saat menulis, aku akan selalu menyisipkan impianku di dalamnya. Dengan menuliskan ambisi serta impian, itu akan membuat siapapun semakin semangat untuk menggapainya.


Jadi... membuat catatan setiap harinya sangat penting.


Bagaimana dengan bukunya? Di era ini, buku sudah diperjualbelikan secara luas, walaupun masih agak mahal untuk dompetku saat ini. Namun, satu buku sudah cukup untuk menulis kehidupan selama satu bulan.


Aku menjadi rindu dengan kehidupanku sebelumnya, sebab saat itu aku menulis kehidupanku setiap harinya melalu media digital, jadi aku tidak menggunakan selembar kertas pun.


Huh... dunia modern...


Aku menjadi ingat dengan kisah Kakekku di kehidupanku yang sebelumnya.


Saat belum ada orang disekitarnya peduli dengan menulis catatan, Kakekku malah membuat catatan tentang kejadian yang terjadi.


Banyak kejadian menyenangkan, mengerikan, menggembirakan, serta membingungkan.


Karena Kakekku menuliskan semua itu, segala peristiwa yang tak sempat di dokumentasikan. Maka itulah yang menjadikan catatan itu menjadi sangat berharga.


Dokumentasi sangat amat penting.


Ah iya! aku lupa memberikan gelang yang diberikan oleh penduduk desa ke Noland.


"Noland, ini... ada gelang yang diberikan oleh para penduduk kepada kita... aku sudah memakainya, tinggal kamu saja yang belum," ucapku sambil menyodorkan sejumlah gelang.


"Ah begitu! terimakasih! akan kupakai sekarang," jawab Noland sambil mengambil semua gelang yang kuberikan.


Dia mengikat satu persatu gelang itu di pergelangan tangannya.


Noland memiliki tiga gelang di pergelangan tangannya, sedangkan aku memiliki empat gelang.


"... Arthur, kalau tidak salah gelang yang sangat mencolok di pergelangan tanganmu itu, sudah ada dari lama ya?" tanyanya mengenai gelang yang kudapatkan dari seseorang dulu.


Aku telah berjanji untuk tidak menceritakan tentang hal itu kepada siapapun, jadi aku berusaha menutupinya.


"Ah iya... ini kudapatkan dulu dari seseorang, aku sedikit lupa bagaimana ceritanya sampai aku mendapatkan ini..." jawabku sambil menarik lengan mantelku untuk memperlihatkannya kepada Noland.


"Ah begitu... gelang itu sangat indah ya..."


"Yup... kamu benar."


Aku penasaran bagaimana kehidupan gadis itu sekarang.


Apakah dia sudah berubah? bagaimana kehidupannya sekarang? apakah dia sudah tidak dikucilkan lagi? apakah dia sudah dapat mencapai tujuan hidupnya?


Aku pun penasaran dengan hal itu.


Semoga saja kehidupan dia sudah lebih baik dari sebelumnya.


Kita berjanji akan bertemu di akademi elit itu bukan? semoga saja aku dapat bertemu dengannya kembali.


Waktu terus berlalu, dengan kami selalu disuguhi oleh pemandangan yang menakjubkan.

__ADS_1


Saat berubah warna menjadi kemerahan, kami telah tiba di penginapan pertama di perjalanan kami.


Akhirnya setelah berjam-jam tidak menapakkan kaki ketanah, aku dan Noland akhirnya dapat menapakkan sepatu boots kami ke tanah.


Udaranya masih tetap sama, dingin.


Untung saja tubuh kami telah dilindungi oleh mantel tebal serta celana panjang.


Serta dengan syal yang diberikan oleh Koloman untukku, menambahkan sensasi hangat di tubuhku.


Kami beserta Pak kusir mulai beristirahat dari perjalanan yang melelahkan itu, walaupun kami hanya duduk dan mengobrol saja, namun itu sangat melelahkan.


Kuda-kuda beristirahat di luar penginapan sembari memakan rerumputan kering yang telah disiapkan.


Kami memesan kamar di penginapan untuk satu malam.


Itu mengeluarkan biaya sebesar 200 koin perunggu, sekitar Rp. 55.000,-


Aku mengeluarkan 1 koin perak dan 2 koin tembaga.


Mata uang di era ini disebut "Dukat".


Aku dan Noland masuk ke kamar yang telah dipesan.


Kamarnya tidak terlalu buruk, kasur juga lumayan empuk.


Kami mulai beristirahat dan akhirnya terlelap, menunggu hari esok yang cerah.


...****************...


Hari pertama perjalanan telah terlewati, saatnya memulai hari kedua!


Kami keluar dari penginapan, dan menuju kereta kuda yang sudah siap untuk memulai perjalanan kembali.


Berapa biaya perjalanan menggunakan kereta kuda ini? Aku tidak tahu. Kenapa? karena biaya untuk transportasi ini dibayarkan oleh Ibuku dan keluarga Noland. Terimakasih banyak!


Bagaimana dengan makan dan minum? kami sudah membelinya di penginapan tadi, disana terdapat semacam kantin yang menjual makanan, minuman, pakaian, serta aksesoris.


Bagaimana dengan mandi? apakah tidak mandi? pertanyaannya yang bagus... untuk sekarang kami hanya baru mencuci muka saja.


Untuk urusan mandi, nanti kereta kuda ini akan melalui jalur yang terdapat sungai, dan kami akan mulai mandi di sana.


Di dalam perjalanan, kami selalu mengobrol dengan Pak kusir yang mengendarai kereta kuda ini.


Pak kusir itu adalah seorang pria yang baik serta ramah hati. Dia bekerja sangat jauh dari keluarganya. Dia memiliki seorang istri beserta dengan dua anaknya yang menunggu kepulangannya.


Dia sering bercerita tentang masa lalunya, masa kecilnya serta remajanya, ia juga memberikan kami beberapa saran serta pelajaran hidup. Yaitu antara lain:



Hidup ini terlalu singkat untuk membuang waktu itu dengan membenci seseorang.


Hidup selalu berubah-ubah, terkadang hidup terasa bahagia, terkadang hidup terasa menyakitkan.


Jangan mau terlibat di suatu masalah yang tidak menguntungkanmu.



Sungguh pria yang bijaksana.


Biasanya semakin bertambah usia, semakin bijak seseorang. Karena mereka telah diterpa banyak masalah kehidupan.

__ADS_1


"Hey Arthur... aku tidak menyangka Koloman akan mendonorkan matanya kepadamu," tanya Noland membuka topik.


"Ah... ya, aku juga begitu."


"Kalau tidak salah... Koloman mengetahui tentang donor mata itu sejak saat itu ya..." ucap Noland mengingatkan peristiwa itu.


Saat kami bertiga sedang bermain di wilayah rerumputan di mulut danau.


"Arthur... apa pengelihatanmu sudah bertambah baik dari sebelumnya?" tanya Koloman menanyakan kondisi pengelihatanku.


"Hmm... aku tak dapat membandingkannya, mungkin tidak ada perubahan sama sekali," jawabku dengan nada kecewa.


"Oh sayang sekali," ucap Noland meramaikan percakapan.


"Apakah ada yang bisa kubantu untuk pengelihatanmu itu?" tanya Koloman.


"Tentu saja ada!" jawabku dengan semangat.


"Huh benarkah?!" ucap Noland terkejut.


"Kalau begitu, apa yang bisa aku lakukan?!" tanya Koloman dengan semangat siap membantu.


"Berikan matamu padaku..."


"Hih!!!" suara kedua temanku terkejut serta ketakutan.


"...Memberikan mataku...?" tanya Koloman memastikan.


"Huh... bukan memberikan bola matamu, melainkan hanya kornea matamu... semacam lensa mata mungkin..." jawabku menjelaskan.


"Lensa mata?" tanya Koloman penasaran, Noland juga sepertinya penasaran disampingnya.


"Iya lensa mata... itu yang berfungsi untuk membiasakan cahaya dan memfokuskannya ke retina. Tapi kalian tak usah menganggapnya serius, aku tak akan menerima kornea mata kalian selagi kalian masih hidup. Melihat dunia yang indah ini masih menjadi hak kalian."


Begitulah yang kukatakan sehingga Koloman mengetahui cara mendonorkan matanya.


Bisa dibilang aku keceplosan saat itu. Namun, jika saat itu aku tidak memberitahunya, mungkin saat ini pengelihatanku aku masih sama seperti dulu.


...****************...


Waktu terus berlalu, tak terasa hari ini kami akan tiba di kota Monte Rosa, kota yang menjadi tujuan pertama kami untuk mencari informasi di asosiasi pedagang.


Hari ini masih siang, alam sedikit basah karena kemarin malam dan tadi pagi terjadi hujan.


Dari kejauhan nampak sebuah kota dengan tembok perbatasan berbahan dasar dari beton yang siap melindungi kota dari berbagai macam peristiwa.


Kereta kuda berhenti di depan gerbang masuk, dari sini sudah terlihat beberapa orang yang ingin memasuki kota itu juga.


Kami berpamitan dengan Pak kusir kereta kuda, kami berharap dapat bertemu kembali dan melakukan berbagai macam perjalanan lagi.


Aku sudah mencatat nama Pak kusir itu di buku catatan perjalananku.


Setelah berpamitan, kami berdua berjalan mengarah ke gerbang masuk untuk mengurus segala macam yang diperlukan.


Setelah mengurus segala macam yang diperlukan untuk memasuki kota, kami akhirnya dapat menapakkan kaki di kota itu. Kota Monte Rosa.


Benar saja... baru saja berjalan beberapa langkah, kami sudah dapat mendengar suara musik serta suara kemeriahan orang yang sedang menari.


Sungguh... kota yang dipenuhi oleh kegembiraan dan keceriaan.


Baiklah! saatnya kita mulai rencana pertama kita!

__ADS_1


__ADS_2