Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Memberi Pelajaran


__ADS_3

"Arg! Akkh!" jerit kesakitan orang-orang di luar ruangan.


Suara itu terus terdengar berulang kali.


Aku bertanya-tanya, sebenarnya serapa banyak orang di luar sana?


Beberapa saat aku menunggu di dekat orang pertama yang telah lumpuh di lantai. Dia masih belum dapat bergerak secara penuh.


Aku sangat penasaran dengan keadaan diluar. Apakah Arthur baik-baik saja?


Aku memberanikan diri untuk melangkah keluar dari ruangan tempat kami disekap.


Sebelum aku sampai di ruangan tengah, aku harus melewati lorong yang dapat dibilang sedikit lebar.


Dan terkejutnya aku...


Di ruang tengah terdapat 6 orang dewasa yang tersungkur tak berdaya di lantai.


Beberapa dari mereka masih bisa bergerak...


Namun naasnya, orang-orang itu langsung di lumpuhkan lagi oleh Arthur dengan benda aneh di tangannya dan selanjutnya dia menjarah benda-benda di tubuh orang yang lemas tak berdaya itu.


"Karena kalian, aku tak bisa pergi ke perpustakaan hari ini! Hmp! rasakan ini!" ucap Arthur sambil melumpuhkan orang-orang yang masih bertahan satu persatu.


Dan menjarahnya.


Aku sudah tidak tahu siapa yang penjahat sebenarnya.


"Arthur kamu sedang apa!" teriakku tak setuju dengan perilaku Arthur.


"Wa! Evelyn?!" ucap Arthur terkejut saat masih memeriksa saku orang yang dijarahnya.


Akhirnya dia menyadariku. Aku berjalan mendekatinya dengan wajah sangat marah.


"EーEvelyn... Akーaku bisa jelaskan..."


"Jelaskan semuanya!" ucapku sambil menyilangkan tangan.


"Jadi begini... Aku sedang memastikan bahwa mereka sudah tak bisa bergerak untuk menyakiti kita lagi."


"Terus... Kenapa kamu menjarah mereka?!" ucapku sambil menunjuk barang-barang yang sedang digenggam oleh Arthur.


"Barang-barang ini? Aku mengambilnya untuk tanda pengenal diri mereka... Jadi nanti, Mr.Meinhard akan mudah untuk mengetahui identitas-identitas dari komplotan penjahat ini."


"Benarkah? Bukan untuk mencuri, kan?"


"Percaya lah kepadaku, aku tak akan mencuri sesuatu."


Pernyataannya terlihat meyakinkan.


"Dari pada itu, kenapa kamu keluar dari ruangan itu? bukankah aku menyuruhmu untuk menunggu sebentar? Adegan ini tak cocok untukmu."


"Aku tak tahu harus menunggu sampai kapan, dan..."


Entah kenapa perkataanku tiba-tiba terhenti.


"Dan...?" ucap Arthur dengan nada penasaran.


"Aku mengkhawatirkanmu."


"Uwaa... benarkah?" ucap Arthur sambil melanjutkan menjarah benda-benda.


"Dan apa-apaan alasanmu itu! Tak bisa pergi ke perpustakaan?" ucapku mengganti topik.


"Geh?!... Kamu mendengarnya? ...Itu hanya masalah pribadi."


Arthur masih terus mengambil barang yang sekiranya dapat membawa identitas pemiliknya.


Aku berada di sampingnya, memperhatikannya.


Setelah selesai di bagian ruang tengah, Arthur berjalan kembali ke ruangan tempat kami disekap. Mungkin untuk mengambil barang dari orang yang berada di sana.

__ADS_1


Tak lama kemudian Arthur kembali lagi ke ruang tengah.


Sebagai barang yang diambilnya telah dimasukkannya ke dalam sakunya.


"Huh... Sangat susah untuk mencari barang yang dapat membawa identitas pemiliknya... Jadi, aku robek saja bajunya yang berisi namanya sebagai barang bukti kedua" ucap Arthur sambil menunjukkan beberapa potongan kain di tangannya.


"Arthur, benda aneh yang kamu gunakan untuk melumpuhkan orang-orang ini sebenarnya benda apa? Benda sihir?" tanyaku penasaran.


"Bukan benda yang seperti itu. Hanya benda biasa?"


Benda bisa? Apakah benda yang dapat melumpuhkan banyak orang termasuk benda biasa?


Saat aku ingin mengatakan itu, tiba-tiba seseorang yang lemas tak berdaya tadi bergerak berusaha untuk bangkit.


"Gawat, kita terlalu lama di sini... Ayo cepat Evelyn."


Arthur meraih lenganku dan menarikku untuk keluar secepatnya dari tempat ini.


Aku dan Arthur berlari kecil ke arah pintu keluar tempat ini. Arthur membukanya dan langsung menutupnya serta menguncinya dari luar.


"Dari mana kamu mendapatkan kunci itu?"


"Tadi... Saat aku mengeledah ruangan."


Benar saja, hari sudah larut malam. Kegelapan di mana-mana serta suhu dingin menerpa kulitku.


Tempat ini sangat asing bagiku.


"Arthur... Kita sedang di mana?" tanyaku sambil ketakutan menggenggam lengan Arthur.


"Aku tak tau... Ayo kita telusuri perlahan."


Arthur turun ke jalanan dan mulai berjalan menyusuri area yang sangat asing bagi kami.


Aku bersembunyi di balik lengannya, ketakutan.


Di sekitar kami hanya ada banyak pepohonan yang menyelimuti. Suara hewan-hewan yang tak kukenali terdengar samar-samar. Hal ini membuatku semakin takut.


Seakan-akan hanya kami saja yang berada di sini.


Di atas jalan tanah, dikelilingi pepohonan, diiringi suara hewan malam, dan diselimuti udara dingin.


Menurutku, jika tahu begini... Aku akan lebih baik memilih untuk tetap tinggal di ruangan tempat kami disekap.


Kulihat Arthur di dekatku. Wajahnya tetap tenang seperti tidak ada yang terjadi. Dia seperti tidak ada di sini.


"Arthur... Kenapa kamu sangat tenang di dalam keadaan seperti ini?"


"Ah... Aku tau... Kamu sekarang sedang ketakutan bukan?"


"EーEnggak!"


"Hmm...? Sebenarnya wajar untukmu untuk takut dalam keadaan seperti ini."


"Tapi kenapa kamu tidak, Arthur?"


"Aku sudah terbiasa... Saat aku masih tinggal di desa, aku setiap harinya selalu melewati hutan yang gelap dan menakutkan, huu!"


"Jangan menambah-nambahkan! Itu membuatku semakin takut."


Benar juga, Arthur memanglah seorang pengelana... Aku mengetahuinya setelah Ariadna menceritakannya setelah melihat kartu anggota asosiasinya.


Pergi jauh dari tempat tinggalnya... Dia sepertinya sama sepertiku.


"Ah iya! Aku baru ingat. Seharusnya selagi kita berjalan, kita seharusnya mengumpulkan ranting pohon! Itu adalah pelajaran dasar dari bertahan hidup di alam bebas."


Arthur berjalan mengarah ke pinggir jalan mendekati kumpulan pepohonan tanpa rasa takut. Dan menjauh dariku.


"Arthur! Jangan tinggalkan aku!" ucapku mengikutinya dari belakang.


Setelah mengambil beberapa ranting kayu, Arthur kembali ke tengah jalan dan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Tentu saja aku masih menempel di bagian samping lengannya karena ketakutan.


Keadaan semakin sunyi, tidak ada percakapan di antara kami. Aku pun memutuskan untuk mulai berbicara.


"Arthur, jika boleh tau... Sebenarnya dimana desa tempat tinggalmu dahulu?"


"Di wilayah Alpen," jawabnya singkat.


"Alpen? bukankah itu wilayah yang sangat terkenal karena keindahan dan ketenangannya?"


"Iya, betul."


Arthur menjawab sangat singkat.


"Evelyn! ...apa kamu merasakannya?" ucap Arthur berhenti berjalan dan menengok ke arahku.


Heh?! Ada apa?! Apakah Arthur merasakan sesuatu yang mengerikan akan muncul?!


Tubuhku mulai sedikit bergetar.


"AーAda apa Arthur?" ucapku ketakutan.


Tatapannya mulai serius dan sedikit panik.


Hal apa yang semengerikan sampai Arthur yang sangat tenang di dekatku tiba-tiba berubah menjadi panik?!!


"Evelyn... Sebentar lagi akan hujan. Aku merasakan rintikan air hujan mulai jatuh."


Hujan?


Ah benar! perlahan-lahan aku merasakan rintikan hujan jatuh ke badanku.


"Iya kamu benar!" jawabku.


"Gawat, ini akan sangat gawat. Ayo cepat Evelyn! Kita harus mencari tempat perlindungan.


"Iya!"


Arthur mulai berlari sambil memegangi lenganku. Padahal dia sudah kerepotan di bagian tangannya yang lain untuk memegangi ranting pohon.


Kami terus berlari, dengan hujan yang perlahan-lahan semakin deras.


Di tengah-tengah kegelapan ini, aku hanya melihat Arthur yang berlari di depanku.


"Ah ketemu!" ucap Arthur dengan gembira.


Arthur berbelok ke arah kanan jalan.


Aku mulai menguatkan diriku untuk melihat ke mana kita akan pergi.


Tempat yang di pilih Arthur untuk berlindung dari hujan adalah gua kecil di pinggir jalan yang sangat gelap.


"Arthur... kamu memiliki kemampuan untuk memilih yang sangat payah."


"Mau bagaimana lagi... Hanya ada tempat ini saja yang tersedia," ucap Arthur memberi alasan.


Benar saja prediksi Arthur... Seketika setelah kami memasuki gua yang di pilihnya. Hujan yang sangat deras turun dari langit mengguyuri wilayah sekitar kami.


Suhu dingin datang dari mulut gua menghampiri tubuhku.


Dengan refleks... Aku mudur masuk ke dalam goa untuk mencari hangat dan memegangi ke dua lenganku secara berlawanan.


"Apa kamu kedinginan, Evelyn?" ucap Arthur di belakangku.


Aku memutar badan untuk melihatnya...


"Pertanyaan yang sama untukmu juga, Arthur," ucapku ke arah Arthur yang mengambil posisi di pojok goa dengan duduk jongkok bersender di dinding goa sambil memeluk seluruh badannya.


Dia menggigil Kedinginan.


Jadi ini hal yang sangat mengerikan bagi Arthur?

__ADS_1


__ADS_2