Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Dunia Baru


__ADS_3

Singkat cerita, kornea mata Koloman telah berhasil didonorkan kepadaku, dengan bantuan dokter kepercayaan keluarga Tiatus.


Sangat memerlukan banyak waktu untuk memastikan apakah dokter itu boleh aku beritahu atau tidak tentang informasi donor mata, dan yang pada akhirnya aku memberitahukannya. Dokter itu berkata bahwa ia melakukan semua ini hanya untuk kenikmatan serta kesenangannya sendiri, dia berjanji tidak akan menyebarkan informasi tentang ini.


Bila ia mengingkari janji, maka akan kututup mulutnya dengan paksa!


Saat mengetahui bahwa Koloman mendonorkan matanya kepadaku, keluargaku sangat kaget dan menentang ide gila itu. Namun sepertinya Ny.Tiatus sudah berhasil membujuk mereka.


Saat mata atau lebih tepatnya kornea mata Koloman telah berhasil didonorkan kepadaku, mataku beberapa saat masih ditutup oleh sehelai kain, supaya mataku bisa beradaptasi dengan perlahan-lahan.


Dengan mata yang masih tertutup kain, aku diarahkan oleh beberapa orang... ke luar ruangan? Hey kanapa sangat jauh sekali?


Suara danau yang damai dan tenang mulai terdengar di dalam telingaku, serta suara hutan yang sudah lama takku dengar.


Kain yang menutupi mataku mulai dilepas secara perlahan.


Dokter mata yang disebelahku mulai mengatakan untuk membuka mataku secara perlahan-lahan.


Aku menurutinya, karena tak mungkin saat pertama kali mendapatkan indra pengelihatan secara total, langsung membuka mata tanpa pikir panjang. Itu tidak elegan bukan?


Kubuka mataku perlahan-lahan... kubiarkan beberapa cahaya masuk kedalam bola mataku.


Satu persatu cahaya masuk kedalam mataku dan memperlihatkan sebuah visual dihadapanku.


Di depanku, aku melihat sebuah danau berwarna biru cerah, dan terlihat sedikit bening, yang menandakan bahwa kebersihannya sangat terjamin.


Di dalam danau, aku melihat beberapa orang sedang menaiki perahu kecil berbahan dasar dari kayu.


Jika kupindahkan pandanganku ke arah pinggiran danau, aku akan melihat beberapa anak-anak sedang bermain serta berenang. Ternyata luas danau ini lebih luas dari yang kubayangkan, aku tidak bisa melihat ujungnya dengan jelas.


Gunung-gunung menjulang tinggi serta berjejeran sebagai latar belakang pemandangan dihadapanku, dan terdapat kabut yang hampir menutupi sebagian gunung itu.


Angin segar dan sejuk berhembus, terus menerus menerpa diriku.


Suara gemersik dedaunan dari dalam hutan masih terdengar sampai di sini.


Aku dapat melihat semua ini karena Koloman, aku akhirnya dapat melihat dunia yang indah ini karena kejadian mengerikan itu.


Dunia ini kejam, tapi begitu indah.


Noland disampingku, hanya dapat tersenyum bahagia.


Noland, seorang anak laki-laki berumur hampir sama denganku. Rambutnya berwarna coklat terang, sama seperti kebanyakan penduduk sekitar. Tatapan matanya membawa kesan keramahan, banyak orang pasti akan langsung akrab dengannya. Ditambah lagi dengan senyuman kecil selalu terlukis di wajahnya, menggambarkan keceriaan hidup yang dilaluinya.


Akhirnya aku melihatnya dengan jelas.


Semua penduduk bahagia saat mengetahui bahwa indra pengelihatan sudah kembali normal.


Orang-orang yang terlibat, menyebarkan informasi bahwa indra pengelihatan tiba-tiba saja kembali, yang mungkin disebabkan karena ketulusanku menolong temanku saat bencana dulu.

__ADS_1


Jika soal fashion, aku sangat tidak menyangka bahwa fashion orang-orang di era ini akan sangat mencolok. Jiwa minimalisku bergetarrr!


"Hey Noland, kenapa cara berpakaian orang-orang di sini sangat mencolok?" tanyaku kepada Noland disampingku, menemaniku berjalan-jalan.


"Yang benar itu, cara berpakaianmu yang aneh Arthur," jawab Noland.


"Aku aneh? kalau begitu... kenapa cara berpakaianmu juga agak mirip denganku,"


"Jujur saja Arthur... Aku tertular cara berpakaianmu yang aneh itu."


"..."


Jadi mau tidak mau aku harus mengkombinasikan fashion di era ini dengan sedikit bubuk minimalis...


Bagaimana kabar anak panti? Para anak panti sudah pindah dari wilayah ini ke kerajaan pria bangsawan dengan keluarga Tiatus ikut serta di dalamnya.


Sebelum berpisah, para anak panti membuatkanku sebuah kalung dari mutiara, mereka membuatkan itu untukku sebagai jimat pelindung dalam perjalananku.


Saat ini aku berkeliling wilayah Alphen dengan Noland memanduku, dia sangat bersemangat mengenalkan serta menjelaskan satu persatu tempat yang kami lalui.


Dia memperkenalkanku dengan beberapa temannya, dia sangat banyak memiliki teman.


Kami terus berkeliling hingga sampai lagi di titik awal, di muara danau.


"Baiklah Noland... mari kita mulai rapat kita!" ucapku memulai rapat kami.


"Sekarang kita akan membahas tantang kedepannya!" ucapku melanjutkannya.


"Baiklah Noland, pertama-tama... apa kamu tahu apa tujuan utama kita...?" tanyaku kepada Noland bertanya tentang tujuan utama kami.


"Tujuan utama? tentu saja untuk menyelamatkan keluarga Tiatus dan penduduk sekitar dari cengkeraman tangan pria bangsawan itu... Kita tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan, oleh karena itu... kita akan menaiki kasta teratas dan mengalahkannya dengan kekuasaan!" jawab Noland.


"Hmm... secara garis besar sudah benar..." ucapku mengkonfirmasi kebenaran jawaban dari Noland.


Noland tersenyum karena jawabannya benar.


Begitulah rencana awalnya, masih berupa sebuah rencana yang terdengar seperti angan-angan anak kecil saja.


"Tapi Arthur... kasta teratas? maksudnya kita akan menjadi orang suci?" tanya Noland menanyakan ketidakjelasan.


"Tidak Noland... kasta itu bukanlah lawan kita, lawan kita adalah kasta pemerintah atau kasta bangsawan. Jadi Kita akan menjadi lebih dari bangsawan, menjadi orang dengan kasta di antara bangsawan dan orang suci" jelasku.


"...? diantara kasta bangsawan dengan kasta orang suci? apakah ada yang seperti itu?" lanjut tanya Noland.


"Entahlah aku tak tahu, akan kita pikirkan sambil melakukan perjalanan."


"Jadi Noland... untuk kita bisa sampai di kasta itu... kita harus mendapatkan pengakuan dari banyak orang bangsawan. Apa kamu tahu bagaimana caranya...?"


"Bagaimana Arthur...?"

__ADS_1


"Kita akan masuk ke akademi elit di negri ini."


"EEHHH?! AKADEMI? SーSEKOLAH?" Noland kebingungan.


"Wajar jika kamu sangat bingung, karena di era ini sekolah tidak diwajibkan, dan bahkan hanya bisa diikuti oleh para anak para bangsawan."


"Jika hanya bisa diikuti oleh anak bangsawan, bagaimana cara kita bisa masuk kesana?"


"Hehehe... Kita akan masuk jalur dalam!"


"Jalur dalam?!"


"Kita akan bekerja sebagai pelayan salah satu anak bangsawan, sehingga kita akan dapat masuk di akademi itu!"


"...Pelayan anak bangsawan?! bagaimana caranya?"


"Pertanyaannya bagus... karena akupun tak tau bagaimana caranya hahaha!"


Wajah Noland seketika datar, menandakan leluconku yang garing.


"Huh... kita akan mencari kerajaan yang memerlukan tenaga kerja, setelah kita diterima kita akan berusaha keras untuk dipilih menjadi pelayan anak bangsawan, dan kita akan mempengaruhi anak bangsawan itu untuk masuk ke akademi elit itu," jelasku.


"Bagaimana mencari kerajaan yang memerlukan tenaga kerja?"


"Kita akan menuju ke bank informasi, tempat berkumpulnya informasi yang berasal bahkan dari luar negeri."


"Bank informasi?"


"Asosiasi pedagang, tempat berkumpulnya para pedagang yang berkeliling dunia."


"Woah!"


"Jadi mari aku simpulkan... kita akan menuju ke asosiasi pedagang untuk mencari informasi tentang kerajaan yang memerlukan tenaga kerja, setelah itu kita akan bekerja sebagai pelayan di sana, dan berusaha untuk dipilih menjadi pelayan anak bangsawan. Jika anak bangsawan itu tidak memiliki tujuan untuk masuk ke akademi elit di negri ini, maka kita akan pengaruhi dia. Setelah kita masuk ke akademi elit itu, kita akan membahas rencana selanjutnya."


"Woah! rencana yang sangat bagus!"


"Jadi tujuan pertama kita adalah menuju ke asosiasi pedagang dalam 2 tahun nanti!"


Noland mengangguk setuju.


Kenapa kami setuju dengan hal itu? karena anak kecil berumur 10 tahun pasti tidak akan diizinkan untuk berkeliaran bebas tanpa pengawasan orang tua, oleh karena itu kami memutuskan untuk memulai perjalanan kami 2 tahun kemudian.


Mohon bersabar... keluarga Tiatus.


Itulah akhir dari rapat kami, rapat penentuan rencana untuk kedepannya.


Pasti tidak akan semudah yang dibayangkan, karena akan ada banyak rintangan yang menghadang kami, rintangan yang masih belum terbayangkan.


Langit sudah berwarna kemerahan, menandakan sore hari telah tiba. Kami berdua berpisah dan menuju rumah masing-masing.

__ADS_1


Aku sangat tidak sabar dengan dimulainya rencana kami di 2 tahun nanti, dimana kehidupan kami akan berubah total!


Hey dunia! kumohon tunggulah sebentar lagi!


__ADS_2