Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Tamu yang Tak Diundang


__ADS_3

Ny.Tiatus membukakan pintu untuk orang itu.


Suara pintu terbuka pun terdengar.


Setelah itu aku mendengar seseorang masuk, dua orang... Sepertinya itu pengawalnya.


Dua orang itu langsung masuk ke dalam rumah dan salah satu orang menutup pintu.


"Hey Ny.Tiatus, bagaimana kabarmu?" tanya pria bangsawan itu ke Ny.Tiatus dengan nada seperti mempermainkannya.


"Jangan sok akrab denganku," balas Ny.Tiatus dengan nada jengkel.


"Hey-hey! apakah itu perlakuan yang pantas diberikan oleh kasta bawah terhadap kasta bangsawan?! Bersikaplah lebih sopan, atau tidak... nyawa suamimu taruhannya," ucap pria bangsawan itu mengancam Ny.Tiatus.


Suami? Ayah Koloman? ada apa dengan ayak Koloman?


Noland, sepertinya ia memiliki pertanyaan yang sama denganku.


"Aku sudah melakukan apapun yang kau suruh untuk menangani pengadilanmu, jadi kumohon lepaskan suamiku! jangan sandera dia!" ucap Ny.Tiatus memohon kepada pria bangsawan di hadapannya.


Ayah Koloman disandera? jadi alasan kenapa ayah Koloman hingga saat ini belum pulang adalah karena telah disandera oleh pria bangsawan itu?!


"Memang, kamu sudah mencabut tuntutanmu tentang anakmu, yang membuatku terbebas dari hukuman gantung. Tapi... kamu gagal menangani hukuman tentang panti asuhan sialan itu! aku tetap mendapatkan beberapa hukuman karenanya!" jelas pria bangsawan itu dengan bernada kesal dan marah.


Alasan kenapa tiba-tiba tuntutan Koloman dicabut ialah karena pria bangsawan itu juga?!


"Aku tak bisa berbuat banyak dengan masalah itu..." ujar Ny.Tiatus menjelaskan kendalanya.


"Aku tak peduli! yang terjadi adalah kamu tidak dapat menangani itu! oleh karena itu suamimu tetap aku sandera di tempatku!" ujar pria bangsawan itu mencari alasan tidak memenuhi janjinya.


"Apa?! kamu mengingkari janjimu!"


"Tidak... itu semua karena kelalaianmu! karenamu, aku harus memberikan tempat tinggal untuk para anak-anak panti dekil itu di tempatku. Oleh karena itu, kamu harus ikut dengan para anak-anak panti itu untuk mempertanggungjawabkan kelalaianmu."


"Hah?! kenapa harus aku?!" l


"Tentu juga hal itu aku lakukan untuk memantaumu langsung, aku tidak ingin kamu melaporkan hal ini kepada pihak berwajib. Apa ada keberatan dengan hal itu?" jelas pria bangsawan itu.


"Tentu saja ada! aku tidak mau ke kerajaanmu! aku sudah membantumu sebagian, jadi setidaknya jangan ganggu kehidupanku lagi!" seru Ny.Tiatus menolak.


"Baiklah, aku tak akan memaksamu untuk ikut dengan para panti itu, aku juga tak akan menggangu kehidupanmu lagi... Tapi tentu saja, nyawa suamimu dan sisa anakmu mungkin yang akan menjadi taruhannya." ucap pria bangsawan memberikan ancaman berlapis-lapis.


"...!"


Ny.Tiatus sudah tak memiliki perlindungan lagi.

__ADS_1


Sepertinya mau tak mau, Ny.Tiatus harus mengikuti perintah pria bangsawan itu.


"Baiklah, sekian yang ingin kukatakan padamu. Aku memberikanmu waktu 3 hari dari besok untuk berpikir dan bersiap-siap untuk pergi dengan para anak panti itu. Mari bertemu lagi di kerajaanku nanti." ucap perpisahan pria bangsawan itu.


Setelah itu, aku mendengar suara pintu dibuka lagi dan suara orang yang telah meninggalkan ruangan.


"Nak Arthur, Nak Noland, keluarlah... kondisi sudah aman," ucap Ny.Tiatus dengan nada lemas.


Mendengarkan ucapan itu, aku serta Noland yang perasaan bercampur aduk, mulai membuka pintu lemari tempat kami bersembunyi.


Saat kami sudah keluar dari tempat persembunyian, anak-anak dari Ny.Tiatus keluar dari kamar mereka dan memeluk Ibu mereka dengan ketakutan.


Kami menunggu supaya kondisi agak sedikit lebih lega.


Selang beberapa menit, kami dipersilahkan duduk kembali di sofa yang empuk itu.


"Bagaimana...? apa kamu sudah mendapatkan jawabanmu?" tanya Ny.Tiatus yang diarahkan untukku.


"Sudah... sebagian," jawabku ragu-ragu.


"Ny.Tiatus... mengapa anda mengikuti permainan pria bangsawan itu?" selanjutnya yang bertanya adalah Noland yang berada di sampingku.


"Kemarin dia berkunjung ke rumah Tante, dan dia juga mengancamku, sama persis seperti tadi," jelas Ny.Tiatus kepada kami.


"Jadi... apakah tujuan Tante mengajak kami untuk berkunjung ke rumah ini karena Tante sudah mengetahui bahwa dia akan kemari lagi?" tanya Noland bertanya lagi kepada Ny.Tiatus.


"Apa untungnya memperlihatkan itu kepada kami?! seharusnya Tante mengajak orang lain yang bisa membantu Tante," tanya Noland lagi.


"Itu karena hanya kalian lah yang bisa membantu Tante..." jawab Ny.Tiatus secara cepat tanpa ragu-ragu.


"Maksudnya?" tanya Noland penasaran.


"Sebenarnya, semua penduduk yang berada disekitar panti asuhan itu, yang menjadi saksi... Semuanya telah diancam olehnya. Untuk para kasta diatas para penduduk, mereka semua disuap untuk tidak berkata apa-apa," jelas Ny.Tiatus kepada kami.


Jadi begitu tindakan mereka... mereka mengancam serta menyuap semua orang yang bersangkutan dengan kejadian itu.


Para anak-anak yang mendapatkan tempat tinggal baru di kerajaan pria bangsawan itu bukannya akan bahagia, namun mereka akan semakin tertekan karena semakin dekat dengan pria itu.


"Oleh karena itu... Nak Arthur..." ucap Ny.Tiatus memindahkan fokus pembicaraan kepadaku.


"... kumohon terimalah hadiah dari Koloman itu, kumohon selamatkan kehidupan keluargaku, kumohon selamatkan kehidupan para penduduk di sini," mohon Ny.Tiatus bertubi-tubi kepadaku.


"Kenapa Tante sangat percaya kepadaku?" tanyaku kepada Ny.Tiatus.


"Dari melihat saja, Tante sudah tahu bahwa kamu bukan anak kecil biasa, kamu memiliki daya cipta yang sangat tinggi..."

__ADS_1


Daya cipta? tidak... aku hanya mengambil barang-barang ciptaan orang lain.


"...Nak Arthur, Nak Noland, apakah kalian tahu apa impian Koloman anakku?" tanya Ny.Tiatus yang mengarah kepada kami.


Impian? Impian Koloman? ...!


"Sepertinya kalian berdua sudah mengetahuinya. Benar! impian Koloman anakku adalah untuk bisa melihat teknologi serba canggih di masa depan," ucap Ny.Tiatus memberikan jawabannya.


....!


Benar, itu impiannya! aku sangat ingat!


"Tapi sayangnya anakku itu telah tiada. Tante sebagai orang tua tidak ingin impian anaknya tidak terpenuhi, oleh karena itu Nak Arthur... kumohon terimalah hadiahnya itu setidaknya untuk mewakilinya untuk memenuhi impiannya!" seru Ny.Tiatus memberikan serangan telak.


...Aku kalah. Aku tak bisa melawan lagi.


Perlahan-lahan aku membuka mulutku, aku menyatakan bahwa aku akan menerima hadiah dari Koloman untukku.


Setelahnya, Ny.Tiatus menyuruhku dan Noland untuk datang besok pagi, untuk bertemu dengan dokter kepercayaan keluarganya.


Iya aku setuju.


Hari sudah malam, Ny.Tiatus menyarankan untuk kami agar segera pulang, dan bertemu besok pagi.


Sebelum keluar melewati pintu masuk rumah, Ny.Tiatus tiba-tiba memanggilku seolah-olah melupakan sesuatu yang belum sempat ia katakan.


"Nak Arthur, ada ucapan khusus untukmu dari Koloman yang kulupakan tadi... anakku berkata, 'Arthur maafkan aku... sepertinya aku tak bisa menjaga hadiah spesialmu yang kamu berikan kepadaku, yang kamu sebut dengan sepeda'," ucap Ny.Tiatus memberitahu pesan lain Koloman kepadaku.


Koloman... kamu terlalu banyak meminta maaf.


Kami sudah berada diluar rumah keluarga Tiatus, kami sudah berpamitan dengan Ny.Tiatus serta anak-anaknya. Saat ini aku bersama Noland, ingin menuju rumah masing-masing.


Sudah kubulatkan tekadku.


Aku berjalan lebih cepat dari Noland, sehingga aku berada di depannya.


Aku berbalik badan dan mengarahkan pandanganku ke wajahnya. Dan aku berkata,


"Noland, aku memerlukan bantuanmu. Aku ingin kamu ikut bersamaku untuk merangkak bersama menuju kasta teratas! mari kita bersama-sama menyelamatkan keluarga Tiatus serta menghancurkan ego pria bangsawan itu," ujarku dengan tanganku mengarah ke arahnya, menunggu jawabannya.


Sensasi hangat muncul dari telapak tanganku, itu adalah tangan Noland.


"Huh! kamu ini... tenang saja! aku akan selalu berada di sampingmu Arthur!" ucap Koloman bersemangat kembali.


Jadi... sudah dipastikan bahwa kami berdua akan merangkak bersama-sama untuk menuju kasta teratas!

__ADS_1


Aku tak tahu hal apa yang akan menunggu kami dalam perjalanan, tapi satu hal yang kutahu, kami berdua pasti bisa menghadapinya bersama-sama.


Hey Dunia! tunggulah aksi kami berdua!


__ADS_2