
"Ah capek!" seruku sambil membaringkan diri pada sofa di ujung ruangan.
Tanganku pegal setelah menulis banyak kata di atas kertas. Aku menuliskan resep atau formula beberapa parfum.
Formula-formula tersebut sekarang sedang tercecer di atas meja dan sedang dibaca oleh Mr.Meinhard dengan seksama.
"Luar bisa... Kau mendapatkan formula-formula ini saat tak sengaja mencampur bahan-bahan di kampungmu?" tanya Mr.Meinhard seakan masih tak percaya.
Aku membangunkan diriku dan bersandar di sandaran sofa yang empuk.
"Ya benar, saya melakukan itu karena saya tak punya kerjaan lain pada saat itu."
"Masih sulit dipercaya," ucap Mr.Meinhard yang masih tetap menatap ke kertas pada kedua tangannya.
"Sudah kukatakan bahwa Arthur jenius!" puji Noland.
Noland masih berada di sekitar meja uji coba, dan mencoba mencampurkan beberapa bahan yang tersisa. Dia penuh rasa ingin tahu.
"Tidak Noland, aku tidak jenius. Aku hanya banyak meluangkan waktuku untuk hal ini," ucapku merendah.
Aku dapat ahli dalam bidang ini karena aku memiliki ingatan dari kehidupanku yang lalu. Bukankah itu curang? apakah itu bisa disebut jenius?
Lagi pula, orang jenius tidak berasal dari bawaan lahir, tapi mereka dibentuk di waktu dan lingkungan yang tepat.
Jadi intinya, semua orang bisa menjadi orang jenius.
Mr.Meinhard masih fokus pada banyak kertas yang berceceran di atas meja, dan Noland masih mengotak-atik benda-benda di atas meja uji coba.
Aku memandang ke luar jendela.
Cahaya sinar matahari yang terang tadi, sekarang sudah mulai meredup. Mungkin ini waktunya.
Aku berjalan menuju luar ruangan untuk menengok jam besar yang digantung di tengah-tengah gudang.
Ya... ini sudah saatnya.
Aku memutar badan dan berjalan kembali ke arah Mr.Meinhard yang sedang sangat fokus.
"Mr.Meinhard, sudah waktunya. Aku ingin menjemput tamu kita," ucapku sambil berdiri di sampingnya yang sedang duduk.
Dia memandang ke arah jendela, dan menengok ke arahku.
"Ah ya, silahkan gunakan kereta kuda yang tadi kita naiki. Perlakuan mereka dengan istimewa," ucap Mr.Meinhard mempersilahkanku.
"Baik Mr.Meinhard," ucapku sambil sedikit menunduk.
Aku mengubah pandanganku ke arah Noland yang sedang mencium banyak cairan di dalam botol.
"Noland, bagaimana? apa kamu mau ikut?" tanyaku mengajak Noland.
"AーAh Emm... maaf Arthur, aku sedang keasikan di sini," ucap Noland sambil sedikit kikuk.
Sepertinya dia masih tak bisa untuk bertemu dengan idolanya. Hatinya masih belum siap.
"Hehe tak apa-apa Noland, lanjutkan saja."
Aku berpamitan kepada mereka berdua untuk menjemput Evelyn dan Ms.Ariadna.
Aku berjalan keluar dari ruangan dan menuju pintu keluar pabrik.
Walaupun sudah hampir sore, kesibukan masih terus terjadi di pabrik ini. Orang-orang banyak yang masih fokus dengan mesin di depan mereka.
__ADS_1
Walaupun banyak kesibukan dengan mesin-mesin, tempat ini masih cukup bersih. Tidak seperti ekspetasiku sebelumnya. Apa mungkin kebersihan ini karena akan ada tamu yang berkunjung? Entahlah.
Tentu saja, tatapan mereka masih tetap aku rasakan.
Sudah tiba di pintu pabrik, orang yang menjadi pintu itu melihatku dengan seksama untuk menghafalkan rupaku. Setelahnya, ia membukakan pintu besar itu dan memberikanku jalan untuk menuju ke kereta kuda yang menunggu sedari tadi.
Aku berjalan menghampiri kereta kuda mewah di depan sana.
Berbicara dengan orang yang mengemudikannya dan masuk ke dalam kereta.
Kereta pun mulai berjalan menuju tempat yang kami janjikan.
Air mancur di alun-alun kota.
Kami berjanji akan bertemu di tempat tersebut saat lonceng dari menara jam di sana berbunyi ke tiga kalinya. Atau dalam kata lain, pukul 3 sore.
Suasana tetap sama, keramaian dan kemeriahan dimana-mana. Sangat bertolak belakang dengan wilayah Alpen yang terkenal karena kedamaiannya.
Walaupun begitu, tempat memiliki ciri khasnya sendiri yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Oleh karena hal itu, menjadikan tempat ini sebegitu terkenalnya.
Beberapa menit berlalu, kita semakin dekat dengan air mancur, dan lonceng dari menara jam masih belum berbunyi yang ketiga kalinya.
Untunglah aku tepat waktu.
Kereta berhenti di pinggiran jalan, dekat dengan air mancur berada.
Aku keluar dari kertas kuda dan sedikit berjalan ke air mancur itu.
Banyak orang yang lalu lalang di tempat ini, ada yang menikmati keindahan air mancur, dan ada pula berbelanja di sekitar wilayah ini.
Kota Monte Rosa, juga terkenal dengan kota para pedang, karena di setiap mata memandang, kamu akan melihat sedikitnya satu pedagang yang siap menerima pesanan darimu.
Aku tiba di air mancur alun-alun kota.
Walaupun hanya air mancur sederhana, air mancur ini dapat memikat beberapa orang karena keeleganannya dan kecocokannya dengan kondisi rumah sekitar.
Aku mencoba berdiri sebentar di tempat yang dapat dilihat dengan mudah.
Beberapa detik setelahnya, lonceng besar dari menara jam yang tepat berada di depan air mancur mulai berbunyi. Aku menatap ke arah lonceng besar itu. "Apa mereka terlambat?" pikirku.
Seolah-olah menjawab, tiba-tiba aku merasakan dua orang berjalan ke arahku. Aku mengganti fokusku ke orang yang sedang berjalan ke arahku.
Jika kuperhatikan, dua orang tersebut adalah Ariadna dan Evelyn.
"Selamat sore Nak Arthur," salam Ariadna sembari mendekat ke arahku.
"Halo lagi Arthur!" ucap Evelyn di sebelahnya dengan penuh senyum di wajahnya yang manis itu.
Aku menjawab mereka semua sambil melambaikan tanganku.
Evelyn sepertinya sedang melakukan penyamaran, agar tidak di sadari oleh orang disekitarnya. Akan sangat merepotkan bila tiba-tiba orang-orang berkumpul untuk bertemu dengan Evelyn yang sedang naik daun.
Mungkin ini susahnya menjadi artis.
Dia menggunakan pakaian wol ringan berwarna krem dengan baret menyesuaikan dengan warna pakaiannya. Ikatan rambutnya juga berbeda dengan ikatan rambutnya saat berada di atas panggung. Serta ia menggunakan kacamata untuk menyempurnakan penyamarannya.
Penampilan santai.
Jika Ms.Ariadna, hmm... sepertinya tidak ada perubahan sama sekali.
Aku senang mereka menepati janji mereka. Aku sudah agak panik tadi, aku mengira mereka akan menipuku.
__ADS_1
Syukurlah tidak seperti yang kubayangkan.
Tanpa basa-basi lagi, aku mulai memandu mereka ke kereta kuda yang berada di sekitar sini.
"Silahkan nona Evelyn, dan Ms.Ariadna ikuti saya ke kereta kuda yang akan mengantarkan kita. Untuk obrolannya, mari kita mulai di sana nanti," ucapku seramah mungkin.
Mereka berdua menyetujuinya dan mengikutiku dari belakang menuju kereta kuda yang menanti.
......................
Kami sudah berada di dalam kereta kuda, dan baru saja mulai berjalan.
Baiklah, aku akan berusaha membuka topik.
"Omong-omong Nona Evelyn, penampilan kamu sangat berbeda dengan penampilanmu biasanya saat tampil," ucapku seolah-olah tak tahu.
"Ah, ya. Ini penampilanku di luar tempat tampil."
Evelyn merentangkan tangannya, seolah-olah memamerkan penampilannya yang baru itu.
"Benar, penampilanmu memang tampak lebih santai dari penampilanmu saat kamu tampil."
"Dari pada itu, kenapa tampaknya kamu terlihat lebih formal dari pertemuan kita sebelumnya," ucap Ms.Ariadna ikut dalam obrolan.
"Iya benar!" ucap Evelyn dengan penuh tanda tanya.
"Saya sangat lemah dengan suhu dingin, jadi saya harus menggunakan pakaian tambahan," jelaskan sambil menunjuk syalku yang terletak di dalam mantel dan sarung tanganku.
"Ah... begitu," ucap Ms.Ariadna dengan penuh pengertian.
"Sekarang giliran Ms.Ariadna! kenapa penampilanmu tampak sama saat kemarin kita bertemu?" ucapku dengan nada mulai santai.
"Eh penampilanku? ini penampilanku saat sedang bekerja," ucap Ms.Ariadna menjelaskan dengan singkat.
"Hei Arthur, apa kamu tau? penampilan Ariadna saat sedang tidak bekerja sangat menawan!" lanjut jelas Evelyn.
"Benarkah?"
"Nona Evelyn, jangan katakan itu di sini," ucap Mr.Ariadna sambil malu-malu.
"Tapi itu kebenaran, Ariadna."
Sepertinya mereka berdua sangat ahli dalam hal fashion, sedangkan aku...
"Sejujurnya, aku sama sekali tidak pintar dalam urusan fashion, aku hanya memakai apa pun yang kupunya."
"Sayang sekali, padahal jika penampilanmu dirubah sedikit... itu pasti akan sangat bagus, bukankah begitu Ariadna?"
"Kamu benar Evelyn, jika saja gaya rambutnya dirubah dengan gaya... setelah itu... dan pakainya... pasti akan terlihat lebih bagus" ucap Ms.Ariadna dengan beberapa kata yang sama sekali aku tidak mengerti.
"Ariadna sangat pintar dalam urusan fashion, penampilanku saat di panggung pun dia yang mengaturnya," jelas Evelyn.
"Ah jadi begitu."
Aku melihat ke arah Ms.Ariadna, dia masih sibuk dengan dunianya... memikirkan penampilan terbaik untukku. Aku sangat mengerti dengan perasaan itu.
Di tengah-tengah pembicaraan, tanpa kami sadari kami telah tiba di pabrik kecil, tujuan kita.
Aku membuka kunci pintu kereta, turun dan membukakan pintu untuk mereka.
"Mari... kita sudah sampai," ucapku sambil memberi hormat dengan sedikit membungkuk.
__ADS_1