Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Kisah Cinta Pangeran


__ADS_3

Semua fokus penonton tertuju ke arah panggung.


Beberapa tokoh pun mulai muncul.


Dan kisah pun dimulai...


...----------------...


Di suatu kerajaan, sedang dilaksanakan penyambutan kepada rombongan pangeran dari kerajaan utara.


Pangeran beserta rombongannya sangat menikmati suasana penyambutan itu.


Setelah acara penyambutan selesai, pangeran memutuskan untuk berkeliling kerajaan untuk melihat kondisi serta menyapa penduduk.


Entah terasuki apa, pangeran tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis yang secara tidak sengaja bertemu dengannya.


Sang pangeran pun mulai mendekati gadis itu dan memulai kisah cinta mereka berdua.


Kisah cinta mereka berjalan dengan baik saat pangeran masih berada di kerajaan tersebut. Dan datang hari dimana pangeran harus kembali ke kerajannya...


Pangeran berjanji kepada gadis itu bahwa ia akan kembali ke kerajaan ini dan menikahinya yang merupakan gadis yang ia cintai pada pandangan pertamanya itu.


Pangeran berserta rombongan pun bergegas kembali ke kerajaan.


Setelah tiba di kerajaan, pangeran langsung ingin bertemu dengan ayahnya, Sang Raja, untuk memberitahu kisah cintanya.


Tentu saja sang raja sangat terkejut dengan kisah yang begitu tiba-tiba itu.


Sang raja sangat tidak setuju dengan hubungan mereka berdua.


"Kamu ingin menikahi gadis yang baru pertamakali temui?! terlebih lagi dia itu dari keluarga petani?!" ucap sang raja dengan nada tidak setuju.


"Tapi apa masalahnya bila dia dari keluarga petani?" tanya sang pangeran kepada ayahnya.


"Apa kamu mulai bodoh sekarang?! Tentu saja itu masalah! Kerajaan ini akan sangat terhina dengan pernikahanmu! kerajaan-kerajaan yang lain pasti akan menertawakan kita!" jelas sang raja dengan nada tinggi.


"Tapi cinta tidak mempedulikan kasta ayah..."


"Oh! mulai pintar ya kamu," ucap sang raja tak percaya anaknya melawannya.


Cekcok antara keduanya pun tak dapat dielakkan.


Hingga sampai pada sebuah kesimpulan...


"Jika kamu memang benar mau menikahinya, sana nikahi saja dia! ... tapi jangan pernah pangil saya ayahmu lagi," tegas ayah pangeran.


Pangeran yang sedang mabuk cinta dan tersulut emosi, langsung menjawab tanpa pikir panjang.


"Tentu! aku akan pergi dari kerajaan ini, dan menikahinya," ucap pangeran sambil memutar badannya bersiap untuk pergi dari kerajaan.


Mendengar hal itu, sang raja sangat shock.


Ia tidak menyangka bahwa anaknya akan mengambil keputusan yang sangat bodoh itu.


"Prajurit! Prajurit!" teriak sang raja untuk memanggil para prajurit.


Prajurit yang posisinya dekat dengan kejadian itu pun langsung menghampiri sang raja.


"Tangkap pangeran itu, jangan biarkan dia pergi dari kerajaan ini," perintah sang raja kepada para prajurit yang sudah berkumpul di depannya.


Mendengar perintah itu, para prajurit langsung berlari mengejar pangeran yang dimaksud.


"Arg...!" suara kesakitan pelan dari sang raja.


Sang raja tiba-tiba memegangi dadanya dengan kedua tangannya.


Prajurit yang masih tinggal di sekitar raja, refleks memegangi tubuh raja, sambil panik.


"Sudah... sudah" ucap sang raja sambil mengisyaratkan untuk tidak perlu mengkhawatirkanya.


Beberapa prajurit pun memanggil bidan kesehatan kerajaan, dan sisanya mengantarkan raja ke singgasananya, untuk beristirahat.


"Anak itu... dia tidak boleh pergi dari kerajaan ini, karena dia adalah pewaris tahta kerajaan satu-satunya," tegas sang raja.


Seluruh prajurit dalam kerajaan itu riuh mencari pangeran yang hendak melarikan diri.


Ada yang mencari di kerajaan, ada pun yang mencari di desa wilayah kerajaan.


Pangeran mengetahui bahwa dirinya sedang dicari oleh para prajurit kerajaan, dia berlari dengan sangat cepat di wilayah pasar.

__ADS_1


Di tengah-tengah pelarian itu, tangannya ditarik oleh seseorang.


Dia ditarik ke dalam sebuah tempat dimana para pedagang biasanya berjualan.


Dengan sangat panik, dia perlahan-lahan melihat siapa yang menariknya ke tempat itu.


"Kamu..." ucap pangeran mengingat-ingat orang yang menariknya.


"Ini saya pangeran, pedagang biasa yang pangeran bantu saat itu," jawab orang itu.


"Ah ya benar, kenapa kamu menarikku ke sini?" tanya pangeran.


"Saya mendengar kabar bahwa pangeran sedang di cari-cari oleh para prajurit kerajaan karena hendak melarikan diri dari kerajaan, benarkah begitu?" tanya pedagang itu.


"...Ya itu benar. Kumohon jangan serahkan aku kepada para prajurit itu... aku memiliki alasan yang sangat kuat untuk melarikan diri dari kerajaan ini," mohon pangeran kepada si pedagang itu.


"Alasan yang sangat kuat? ... jika sampai sebegitunya, saya tidak akan menyerahkan pangeran," ucap pedagang itu.


"Terimakasih... omong-omong apa kamu punya cara untuk pergi dari kerajaan ini dan tempat tinggal yang tak dapat dilacak oleh kerajaan?" tanya pangeran menanyakan hal utama.


"Serahkan kepada saya," jawab si pedagang.


Singkat cerita, Pangeran pun dapat melarikan diri dari kerajaan dan mendapatkan tempat tinggal yang aman dengan bantuan dari si pedagang.


Dan ia pun menikahi gadis yang ia cintai itu...


......................


4 tahun telah berlalu.


Mantan pangeran dan gadis yang ia nikahi sudah memilih seorang bayi kecil yang manis dan lucu.


Namun Kehidupan mereka nampaknya tidak berjalan mulus seperti yang mereka harapkan.


Saat ini mereka sedang tinggal di dalam gubuk tua dengan persediaan makanan yang seadanya. Keuangan mereka pun semakin hari semakin memburuk.


Hal itu yang membuat sang mantan pangeran kebingungan.


Dan suatu hari muncul sebuah kabar burung, bahwa...


Sang raja dari kerajaan sang mantan pangeran itu sudah tiada.


Sambil memikirkan itu, tiba-tiba ada seseorang yang memasuki pekarangan sekitar rumahnya. Dan memanggil namanya.


Pangeran yang kebingungan itu pun memutuskan untuk keluar dari rumahnya, mencari tahu siapa yang sebenarnya sedang memanggilnya.


Sampai di luar rumahnya, emosi sang pangeran tiba-tiba berubah drastis.


Ternyata yang tadi memanggilnya adalah Mentri dari kerajaannya dulu.


Menteri itu menyapanya dengan sangat lembut. Namun sayangnya, pangeran tidak membalasnya dengan hal serupa, ia membentak orang itu menyuruhnya untuk pergi dari rumahnya.


Menteri itu ternyata datang ke tempat tinggal Pangeran bertujuan untuk membujuk pangeran untuk kembali ke kerajaan, dan mengambil kekuasaannya.


Namun sayangnya bujukan itu ditolak mentah-mentah oleh Pangeran, dia menyatakan bahwa dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kerajaan itu. Sambil terus berusaha mengusir Mentri itu.


Mau tak mau, Menteri itu harus mundur pada hari itu.


Tak menyerah, mentri terus datang ke gubuk Pangeran, menyapanya dengan ramah, membujuknya untuk kembali, dan hasilnya tetap saja nihil.


Mengamati cekcok yang terjadi, istrinya juga menyarankan suaminya untuk kembali ke kerajaan, karena kerajaan membutuhkannya dan demi kebaikan kita semua.


Suaminya yang sangat berpegang teguh pada ego-nya, sangat amat kecewa dengan ucapan istrinya, ia tidak menyangka bahwa istrinya menentang keputusannya untuk tidak berhubungan lagi dengan kerajaan itu.


Cekcok dengan istrinya pun tak dapat terhindari.


Dan pada suatu saat terjadi ******* pada hubungan mereka.


Suaminya, sang Pangeran, mengusir istrinya.


Karena sakit hati yang sudah tak tertahankan, sang istrinya pun pergi dari rumah membawa anaknya yang masih bayi itu, meninggalkan suaminya sendirian.


Sejak saat itu, hubungan mereka kandas.


Kehidupan sang mantan Pangeran semakin memburuk, dia terlilit oleh banyak hutang.


Di lain sisi, kerajaan yang seharusnya ia pimpin sekarang, sedang mengalami perang yang besar.


Kengerian dimana-mana, tangisan serta teriakan terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


Mengetahui bahwa kerajaan sedang tidak memiliki pemegang tahta, kerajaan lain memanfaatkan waktu ini.


Banyak perlawanan yang diberikan oleh kerajaan itu, namun sayangnya perlawanan mereka sia-sia.


Dan akhirnya kerajaan itu pun runtuh.


Kerajaan yang dibangun ratusan tahun yang lalu, kerajaan yang selalu berganti-ganti pemimpin, kerajaan yang selalu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penduduknya. Sudah runtuh.


Dan begitulah akhir dari cerita ini...


Sungguh ironi.


...----------------...


Sudah 2 jam lebih berlalu, aku tak menyadarinya, begitupula orang-orang disekitarku.


Mereka semua masih terlarut-larut dengan cerita yang baru saja di tampilkan di atas panggung tadi.


Ku lihat Noland, pandangannya masih belum berpindah sedikitpun dari panggung.


Saat pertunjukan tadi, di tengah-tengah cerita selalu diberikan pertunjukan musik untuk menghibur penonton dan menyempurnakan cerita yang dibawakan.


Menurutku itu sangat bagus.


Para penonton yang awalnya terdiam, sekarang mulai perlahan-lahan berbicara satu sama lain. Begitu pula Noland.


"Hey Arthur, apa cerita itu berakhir bahagia?" tanya Noland sambil menatapku.


"... tergantung dari prespektifmu sih. Ada yang berakhir mengenaskan, ada pula yang berakhir bahagia," jawabku menatap balik Noland.


"Untuk akhir yang mengenaskannya aku mengerti, tapi untuk yang akhir bahagianya aku sama sekali tidak mengetahuinya," ucap Noland kebingungan sambil mengingat-ingat.


"Untuk akhir bahagianya tentu saja di prespektif kerajaan penyerang, karena kejadian itu mereka menjadi mendapatkan kekuasaan yang lebih besar bukan?" ucapku menjelaskan.


"Woah... benar juga," ucap Noland sambil kembali mengarahkan pandangannya ke arah panggung.


"Ah Arthur! omong-omong penampilan musik mana yang paling kamu suka? kalau aku sendiri, aku suka saat bagian kisah cinta mereka," ucap Noland menanyakan penampilan musik yang kusuka.


"Kalau aku... yang paling menarik perhatianku yang pada bagian saat perang besar terjadi," jawabku sambil ikut mengarahkan pandanganku kembali ke arah panggung.


Di atas panggung, muncul semua pemain dan orang-orang yang berpartisipasi dalam penampilan itu.


"Saat bagian perang? ... kamu memang mengerikan Arthur, haha! Tapi tidak salah juga, karena memang itu yang menjadi penampilan utama di pertunjukan ini," ucap Noland.


"Penampilan utama?" tanyaku masih belum mengerti.


"Iya... karena bagian itu dibawakan oleh artis yang di taruh di poster itu... si Evelyn. Menurutku itu juga bagus kok. Ah itu dia si Evelyn!" ucap Noland sambil menunjuk ke arah salah satu orang yang berdiri di atas panggung.


Aku mengikuti arah tunjukkan tangan Noland, dan aku menemukan seorang gadis kecil yang tadi membawakan beberapa lagu di bagian perang terjadi.


Dia tersenyum lebar dengan semua penonton, dan menundukkan diri mengikuti orang-orang disampingnya.


Sebelum dia menampilkan penampilan musiknya, dia berperan sebagai seorang anak dari salah satu penduduk yang telah terbunuh tragis di depan matanya saat ia sedang bersembunyi.


Saat itu, banyak penonton yang mengeluarkan air mata karena hal itu.


Karena hal itu, banyak orang yang bertepuk tangan untuknya serta pemeran yang lain.


Tirai pun ditutup, menandakan bahwa acara telah selesai.


Semua orang bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu keluar.


"Ayo Arthur, kita kembali..." ajak Noland.


"Tidak, kita tidak akan pergi ke arah situ," ucapku menolak ajakan Noland.


"Eh? jadi kita lewat arah mana?" tanya Noland sambil kebingungan.


"Kita akan lewat arah sana!" ucapku sambil menunjuk ke arah samping panggung.


"EH?! Kーkenapa ke situ?" tanya Noland sambil terkaget.


"Karena tujuan utama kita sama sekali belum selesai," jawabku.


"Tujuan utama Kita? ... sepertinya kamu saja deh," ucap Noland.


"Hehe! ayo sini~" ucapku sambil menarik Noland.


"Ah iya! sabar-sabar!"

__ADS_1


Kami pun segera turun ke lantai bawah dan berjalan mengarah ke samping panggung.


__ADS_2