Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Restoran Area Selatan


__ADS_3

Benar saja dugaan kami semua, tak lama setelahnya rintik-rintik hujan mulai turun dan bertambah deras waktu demi waktu. Tidak ada pilihan lain, hanya tempat itu satu-satunya... Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di tempat makan itu.


Chloe yang diam tadi mulai ikut berjalan ketika kami berjalan ke arah rumah makan itu. Apa dia tidak apa-apa? Apa dia akan pingsan? Berharap yang sebaiknya, aku berjalan ke arah pintu kayu yang terbuka itu dan masuk ke dalam.


Rumah makan ini bernuansa restoran gaya Eropa seperti biasanya. Meja panjang yang memisahkan antara pelanggan dan pekerja dengan beranekaragam minuman yang dipajang pada rak besar di belakangnya, meja makan khusus pelanggan berbentuk bulat dengan kursi kayu mengelilinginya. Beberapa pelanggan di sini berbincang-bincang dengan asiknya dan ada satu-dua orang yang sedang mabuk di meja panjang itu.


"Hei, penyihir. ini di mana?" Suara pelan muncul dari sisiku, dan terasa beberapa kali lenganku di tarik pelan. Itu dari Chloe.


"Chloe? kamu sudah sadar? bagaimana kondisimu?... dan penyihir?" tanya Noland yang lebih dahulu menyadari Chloe.


Belum sempat menjawab mereka berdua, muncul suara keras dari depan kami.


"Hei kawan! cepatlah masuk! kalian menutupi pintu itu!" ucap pria yang tampaknya seperti pemilik restoran ini.


"Ah Iya! Maaf-maaf," jawabku meminta maaf. "Ayo, Noland, Chloe. Kujelaskan semuanya nanti," lanjutku berbisik ke sisiku.


Bisa dipastikan, Chloe yang sedang kugengam tangannya adalah Chloe yang asli. Untunglah kali ini tidak ada efek buruk yang terjadi.


Kami masuk lebih dalam untuk mencari meja yang kosong untuk kami tempati, lokasinya harus sedikit menjauh dari urusan orang dewasa dan memiliki pemandangan yang bagus dari jendela.


Mencari-cari beberapa saat, kami menemukan tempat yang sempurna untuk berbincang-bincang dan tentunya tanpa di ganggu oleh kerasnya tawa orang dewasa. Dari meja ini kami dapat melihat pemandangan jalanan yang dihujani dengan air hujan, lampu jalanan yang memancarkan cahaya yang membias, dan bunga hias yang tampak segar ketika terkena air hujan.


Kubiarkan Chloe mengambil tempat duduk dekat jendela dengan aku disampingnya dan Noland di depannya, posisi kami memutari meja.


Kutaruh mantelku yang sedikit basah karena air hujan di sandaran kursi dan setelahnya duduk dengan pakaian kasualku. Hawa saat hujan ini sangatlah sejuk dan sedikit dingin, ditemani oleh suara rintikan hujanー beristirahat di sini begitu nyaman.


Kulihat Chloe, dia yang tampaknya menunggu penjelasan dariku. Tak ingin membuatnya menunggu lama aku langsung menjelaskannya kepadanya.


"Jadi Chloe, kamu tadi berperilaku aneh seperti saat itu... Saat kita ingin mencari tempat meneduh, kamu tiba-tiba saja diam dan menunjuk ke arah restoran ini."


"Lagi...?" ucap Chloe tak percaya.


"Apa kamu mengingat sesuatu saat itu?" tanya Noland yang ingin bergabung dalam percakapan.


"Tidak, Chloe tidak mengingat saat itu... yang Chloe ingat saat kalian bicara tentang toko senjata," jelas Chloe dengan menggelengkan kepalanya sebelumnya.


"Hm... tidak ingat ya..."


"Tapi, untunglah kamu tidak pingsan seperti sebelumnya, Chloe," ucap Noland mensyukuri sisi positifnya.


Chloe menjawab dengan anggukan kepala malu-malu dan mengganti pandangannya ke arah luar jendela, melihat pemandangan.


Di saat itu muncul seseorang dari sisiku dan langsung berbicara dengan percaya diri.


"Selamat sore tuan-tuan sekalian! terima kasih sebelumnya karena sudah memilih restoran kami sebagai tempat beristirahat kalian! Jika saya boleh bertanya, apa pesanan tuan yang bisa saya sajikan?" ucap seorang gadis dengan menggunakan pakaian pelayan restoran, dia berkata seperti kata-kata itu sudah ada di luar kepalanya.


Jika kulihat ke sekeliling, sejauh ini aku baru melihat 2 orang sebagai pelayan di sini, satunya adalah seorang pemuda dan juga gadis ini. Di lihat dari rupanya, gadis ini lebih tua beberapa tahun dariku.


"Ya... kami sebenarnya baru datang ke kota ini, jadi kami masih belum familiar dengan makanan di sini. Jika boleh, bisa kami minta daftar menunya?" ucap Noland.


"Tentu! tunggu sebentar ya tuan," ucap gadis itu bergegas mengambil daftar menu.


Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawakan beberapa daftar menu di tangannya dan meletakkannya ke atas meja kami. Tanpa pikir panjang, kami membukanya dan melihat menu-menu yang disediakan.

__ADS_1


Menu di sini lumayan lengkap dan adapun menu yang diandalkan di kota ini. Mungkin karena melihat paras kami, minuman-minuman keras dan sejenisnya tidak ditampilkan di sini. Meskipun umurku dan Noland sudah dapat bekerja, namun tetap saja di kehidupan sosial masyarakatー umur kami masih belum diperbolehkan untuk hal-hal seperti itu. Lagi pula, mana ada yang tertarik membeli minuman keras? tidak ada kan?


Aku sudah memilih pilihanku, menu yang tampaknya lezat kalau dimakan hujan-hujan begini.


"Bagaimana Chloe? kamu sudah memutuskan?" tanya Noland ke Chloe yang tampaknya dari tadi membolak-balik kertas menu.


"Pilih saja yang menurutmu enak, Chloe," ucapku memberi saran.


Chloe mengangguk dan menunjuk pilihannya.


......................


Puas menyantap hidangan di restoran ini, aku terpukau dengan pelanggan lain yang berada di sini yang tidak pergi-pergi dari restoran ini, walaupun hujan sudah berhenti di luar sana. Seolah-olah restoran ini sudah menjadi markas mereka.


Kulihat Noland dan Chloe yang juga tampaknya menikmati makanan mereka. Dan bila melihat ke luar jendela, kondisi di luar sana sudah gelap... gelap yang sesungguhnya, sudah malam. Walaupun hari sudah malam, lampu jalanan dan pemandangan di sekitar jalan tetap akan menemani. Mungkin ini keunggulan dari kerajaan ini.


"Maaf memotong kegembiraan kalian, tapi seharusnya kita segera pergi dan mencari penginapan untuk tidur malam ini."


"Tapi, Arthur. Bagaimana dengan restoran ini? kenapa Chloe menunjuk ke arah sini?" tanya Noland.


Noland langsung menanyai masalah utama. Walaupun pikiranku sudah sangat ingin mengistirahatkan tubuhku di kasur yang empuk, aku berusaha memutar otakku.


"Pada dasarnya, kita masih belum tahu apakah jalan yang kita lalui saat ini sudah benar atau tidak... mengikuti firasat itu seperti bermain judi, kemungkinannya tidak jelas... bahkan bisa saja lebih kecil dari 50 persen. Tapi jika kita ingin bersikukuh untuk mencarinya di restoran ini, kita setidaknya harus berhubungan dekat dengan pemilik restoran ini," ucapku menjelaskan kepada Noland dan Chloe.


Memang benar, jalan kami masih abu-abu, apakah jalan ini benar atau tidak? jika parahnya tidak, itu sama saja membuang-buang waktu untuk hal yang tidak jelas...


"Terima kasih atas kunjungannya! pembayaran sudah lunas ya! Tuan-tuan sudah bisa pergi dan saya yang akan mengurus sisanya," ucap gadis yang sama mengizinkan kami untuk pergi dengan hati tentram.


Hal satu-satunya untuk dapat memastikannya ialah...


LANGSUNG MENANYAKANNYA!


"Heh?!" ucap gadis itu kebingungan. "Em... Tuan bicara apa?" lanjut gadis itu.


Ugh! aku berbicara tanpa berpikir! itu sangat berantakan! sial, bagaimana ini? itu sangat memalukan!


"Eh, em... anu, itu..." ucapku keluar kendali.


"Hehe, maksudnya harta itu adalah gaji," ucap Noland yang melihat tingkah memalukanku.


"Seperti yang kami katakan sebelumnya, kami itu baru tiba di kota ini dengan tujuan untuk bekerja. Jadi kami berkeinginan untuk bekerja di sini. Sepertinya dia menyukai restoran ini," lanjut Noland membantuku mengembalikan kalimatku ke jalur yang telat.


"Ah! itu... saya mengerti... Tapi maaf, bukan bermaksud menolak. Seperti yang kalian lihat di sini pelanggan kami itu tidak terlalu ramai dan orangnya hanya itu-itu saja, jadi kami tampaknya tidak memerlukan tenaga tambahan... dan juga kami ragu bisa membayar jasa kalian dengan layak," ucap gadis itu menjelaskan kondisi restoran ini.


"Hm... begitu ya, sayang sekali. Tidak apa-apa, terima kasih atas responnya," ucap Noland berterima kasih dengan senyumannya.


"Ternyata penyihir payah dalam berkomunikasi ya?" terdengar bisikan halus dari Chloe di sampingku. "Penyihir-pembohong-payah! sudah 3P!" lanjut ucap Chloe dengan tertawa kecil.


Bisa-bisanya aku diledek oleh Chloe, dan julukanku bertambah tiga?!


Dengan penuh rasa malu aku berjalan pergi keluar restoran dengan Noland dan Chloe yang mengikuti di belakang.


......................

__ADS_1


Kondisi di luar sangat lembab, aku sudah sangat ingin menjatuhkan diriku di kasur empuk dan melupakan hal yang tadi terjadi.


Bau tanah khas setelah hujan masih tercium jelas, ini membuat malam ini begitu tenang dengan beberapa orang berlalu lalang di jalanan.


Aku melihat sekitar untuk beradaptasi kembali dan mencari harapan lain.


"Noland, kamu membawa apa yang kuminta pagi tadi kan?"


"Yang tadi pagi? yang mana? itu banyak, Arthur."


"Parfum."


"Iya, aku membawanya. kenapa?"


"Ambil itu dan bersiap-siap lah..."


Noland mengikuti apa yang kusuruh dengan senang hati, karena tampaknya dia sangat mempercayaiku.


"Sudah, Arthur... Terus akan di apakan? kamu memiliki ide aneh kah?"


"Ide aneh?" ucap Chloe kebingungan.


"Benar, Chloe. Arthur, kadang-kadang tiba-tiba saja memiliki ide aneh di kepalanya. Aku juga terheran-heran."


"Noland, tolong gunakan parfum itu sesuai aba-abaku."


"Hm! baiklah Arthur."


Aku memutar badanku ke arah Noland di belakangku, dan mulai menghitung.


"Tiga, dua, satu, sekarang," bisikku pelan.


Noland melakukannya pada waktu yang tepat dan sempurna seperti yang kubayangkan. Sekarang tinggal menunggu hasilnya.


"Hmm? Jadi, apa yang terjadi?" tanya Noland kebingungan.


"Tidak ada! ayo kita jalan!" ucapku dengan gembira.


"Heh?! yang benar nih?" ucap Noland tak percaya.


Kami pun melanjutkan berjalan ke suatu arah dan Noland masih tak mempercayai apa yang kulakukan, berusaha berbicara dengan santai aku meresponnya dengan gelakkan tawa hingga tiba di suatu saat.


"Noland, Chloe. Ayo kita lewati jalan ini, aku melihat di peta di sebrang jalan ini ada penginapan yang bagus untuk tempat kita beristirahat malam ini," ucapku mengajak mereka untuk masuk kedalam jalan yang relatif lebih sepi dari jalan yang biasanya.


Nampak ragu-ragu awalnya, tapi pada akhirnya kami memutuskan melalui jalan itu dan tidak sabar untuk tiba di penginapan yang kujanjikan.


Berharap dengan kemungkinan sekecil ini, sampai-sampai membuat diriku merinding!


Kami berjalan menyusuri jalanan dengan percaya diri hingga suatu saat kami berhenti karena...


"Hei Nak, bisa kita bicara sebentar?" Terdengar suara seorang pria yang datang dari arah arah belakang kami, berlari kecil ke arah kami.


Seekor ikan sudah memakan umpan.

__ADS_1


Kasur yang empuk mungkin harus menunggu lebih lama lagi.


__ADS_2