Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Informasi dari Noland


__ADS_3

"Jadi, apa yang kamu bawa sekarang? Selain benda-benda di tanganmu itu."


"Makanan? Mau?"


"..."


"..."


Noland dan aku sedang bertatapan di atas meja yang sama yang aku tempati sebelumnya.


Dia satu-persatu menjejerkan benda-benda yang diperolehnya, aku memperhatikan benda-benda itu secara sekilas.


"Noland, aku sudah lama menunggumu di sini dan kamu bersenang-senang mengunjungi penduduk kota dan akhirnya mendapatkan segala benda-benda ini?"


"Yah... Aku terlalu larut kedalam percakapan, jadi mereka memberikanku ini sebagai hadiah, karena sudah mendengarkan mereka," jelas Noland.


"Kamu tidak membocorkan informasi tentang kita kan?" tanyaku.


"Tenang Arthur, semuanya terjaga," ucap Noland dengan percaya diri.


"Oke, yah walaupun kamu memberitahukan tujuan kita kepada Milin..."


"Heh? ... Oh! Emm, maaf Arthur, aku kira itu akan baik-baik saja," ucap Noland dengan nada menyesal.


"Yah sudah, tidak apa-apa."


"Ah, ya! Arthur, aku memiliki benda yang unik untukmu!" ucap Noland sambil mencari-cari benda yang ia maksud di antara barang-barang di atas meja.


Dia tampak seperti kolektor barang-barang antik saat ini.


"Ini dia! Jam ukuran kecil!" seru Noland menunjukkan benda yang dia maksud.


Benda itu berukuran kecil berbentuk bulat dengan dengan rantai kecil yang mengikat benda tersebut, yang alhasil membuat benda itu dapat digenggam dengan satu tangan.


"Itu... Jam arloji..." Kata-kataku tanpa sadar keluar dari mulutku.


"Wow Arthur, kenapa kamu bisa tau namanya? Aku pun sempat lupa namanya tadi."


"Noland! Di mana kamu temukan itu?!" tanyaku sambil menunjuk jam arloji yang di genggam oleh Noland.


"Kamu sangat semangat sekali Arthur, benda ini yang di sebut emm... Ar... Arlogi?... Arloji! Aku menemukannya di pusat kota!"


"Benda itu dijual di sana?" tanyaku meminta konfirmasi.


"Ya!" jawab singkat Noland.


Jadi jam arloji kuno sudah dijual dengan bebas sekarang ya? Itu sangat mengagumkan, benda semacam ini pasti akan banyak digunakan kedepannya. Apa aku harus memberitahu Mr.Meinhard?


"Nih, Arthur." ucap Noland sambil menjulurkan tangannya ke arahku.


"Hm?"


Di atas telapak tangan Noland, jam arloji kuno berwarna emas mengkilap berdetak tiap detiknya memperlihatkan makna dari waktu yang berharga.


Waktu tetap berlalu, tanpa pernah menunggu siapapun, meninggalkan kenangan yang lampau, dan segera membuat yang baru.


Walaupun waktu bersifat relatif, keberadaan sangatlah penting.


Noland menghela napas, kemudian mulai berkata lagi.


"Ini untukmu."


Dia memberikan jam arloji itu kepadaku.


"Benarkah? Bukankah itu sangat mahal?"


Jika baru akhir-akhir ini jam arloji dijual maka kemungkinan besar harganya amat mahal.

__ADS_1


Yah, Noland memang sebaik ini.


"Ah ini... Aku diberikan ini oleh pedagang di sana. Katanya jam ini sudah lama tidak terjual dan kemungkinan sudah sedikit tidak berfungsi dengan baik."


"... Jadi, kamu memberikanku benda yang sudah rusak?"


"Ini tidak rusak! Hanya tidak berfungsi dengan baik lagi! Bukankah kamu bisa mempelajari bagian dalamnya dan memperbaikinya? dan juga kamu bisa memberikan informasi itu kepada Mr.Meinhard," jelas Noland.


Dia sudah ketularan dengan Mr.Meimhard.


"Huh... Yasudah, aku ambil ya."


Aku meraih jam arloji itu dari tangan Noland.


Samar-samar aku merasakan getaran kecil yang berasal dari detak jarum jam arloji itu tiap detiknya.


Aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam saku pakaianku.


"Mari kita masuk kedalam inti permasalahan kita," ucapku kepada Noland.


Saat ini Nenek dan Milin tidak ada di sekitar kami, Milin tidur siang di kamarnya dan Neneknya menemaninya. Aku dimintai tolong untuk menjaga penginapan ini sebentar, tentu aku oke-oke saja.


"Aku harap ada informasi yang penting darimu," lanjut ucapku berharap pada Noland.


"Arthur, sebenarnya aku punya kabar baik dan kabar buruk. Kamu mau dengar yang mana duluan?"


Huh... Keadaan macam ini sering aku lihat di dalam film!


"Kabar buruk," jawabku singkat.


"Okelah, aku akan memberitahukannya kepadamu, jadi bersiaplah..."


"Aku sudah siap."


"Kita tidak diperbolehkan untuk mendaftar untuk menjadi tenaga kerja kerajaan," ungkap Noland singkat.


"Aku tak tau secara detail, tapi pada intinya... Mereka tidak mempercayai orang luar."


Tidak mempercayai orang luar? Apa ini karena kabar ada mata-mata yang menyusup ke dalam kerajaan? Dan juga karena keadaan perang saat ini?


Sial! Masa aku harus mengubah rencanaku.


"Tapi tenang Arthur, bila kita memang sangat menginginkannya, mereka menyuruh kita untuk datang besok pagi."


"Untuk apa?"


"Tidak tau."


"Hm... Oke, mari kita coba saja. Jadi lanjut, apa kabar baiknya?"


"Hihi! Arthur, aku mendapatkan informasi yang sangat penting! informasi ini mencangkup dari kerajaan hingga seluruh kota!"


"Apa itu?" tanyaku.


"Hehe! Informasi yang kudapat ini tentang Putri Kerajaan yang disebut sebagai Titisan Dewi Kemakmuran!"


"Aku sudah tau."


"... Heh?" Noland tampak tak percaya.


Aku mengangguk ringan untuk mengkonfirmasi.


"Kok kamu bisa tau?" tanya Noland sangat penasaran.


"Dari Nenek dan Milin. Coba aku susun... Ini tentang Putri Kerajaan, si titisan Dewi Kemakmuran. Putri kerajaan yang tiba-tiba memanggil seluruh penduduk kota untuk memberikan pengunguman yang dimana awalnya dianggap tidak mungkin oleh seluruh penduduk, mereka menganggap itu hanyalah mimpi siang bolong, namun beberapa hari mimpi itu ternyata nyata adanya. Tuan Putri menyelamatkan kota dengan memberikan kemakmuran, hal itu membuat penduduk menjulukinya titsan Dewi Kemakmuran..."


"Dan apa kamu tahu, ternyata ide untuk membangun ruang bawah tanah tempat kita beristirahat kemarin adalah ide dari Tuan Putri itu," lanjut ucapku mencoba mengambil kesimpulan.

__ADS_1


Noland terdiam, apa dia terkejut aku mendapatkan informasi itu lebih dulu sebelum dia memberitahukanku.


Aku menunggu komentar darinya, namun Noland tak kunjung berbicara lagi, dia termenung kebingungan.


"Ada apa, Noland?" tanyaku khawatir dengan sikapnya.


Noland yang tadinya termenung perlahan menatapku dengan wajah yang serius.


"... Arthur, tidak seperti itu..."


"Hah? Maksudmu?


"Semuanya berbeda dari yang kudengar. Tuan Putri kerajaan dijuluki titisan Dewi Kemakmuran sebenarnya semata-mata adalah sebuah sindiran. Tuan Putri memperjualbelikan hidup, jiwa, bahkan raga dari prajurit, pelayan, dan budak kerajaan untuk negara lain dan yang paling parahnya Tuan Putri bahkan memberikannya secara percuma, itu semua dilakukan untuk dapat menjalin kerja sama, karena kerja sama yang sudah berhasil terjalin itu akhirnya membuat kota Breithorn dipandang oleh dunia. Dan tentang yang kedua... Dikatakan bahwa Penginapan ini, sebenarnya ada untuk memancing orang awam dari daerah lain untuk bekerja di kerajaan."


?!


Hah... Apa?! Hah??


Aku diam, tak bisa berkata. Aku mencoba memproses kedua informasi itu di dalam pikiranku.


Aku merasakan perasaan yang dirasakan Noland.


"Jadi... Ada ketimpangan informasi ya..." ucap Noland dengan nada rendah.


Jika informasi yang dikatakan oleh Noland benar, maka tadi... Nenek dan Milin berusaha untuk mempengaruhiku untuk yakin bekerja di kerajaan.


Dan perkataan Milin saat di dapur itu, dia berusaha untuk memperingatkanku?


Aku meletakkan dahi kepalaku di atas kedua tangan yang mengepal di atas meja.


Ugh! Aku harus tenang.


"Noland, mulai sekarang kita harus meningkatkan kewaspadaan kita..." ucapku perlahan kepada Noland.


"... karena mungkin saja, kita sedari awal sudah berada di mulut buaya," lanjutku.


Noland tidak merespon, karena dia sudah mengerti.


"Bagaimana sikap kita terhadap Milin dan Nenek selanjutnya?" tanyanya.


Aku mengangkat wajahku.


"Berusahalah untuk menjadi seperti biasanya."


"Ok."


Setelahnya aku dan Noland berbicara tentang benda-benda aneh yang dibawanya, membahasnya.


Di tengah-tengah pembicaraanku dengan Noland, pintu ruangan tempat Nenek dan Milin masuk sebelumnya terbuka.


Dan satu per satu orang di dalamnya keluar, itu ada Milin dan selanjutnya Nenek.


"Ah! Tuan Noland sudah kembali!" seru Millin dengan semangat.


Milin tetap semangat seperti biasanya, walaupun dia baru bangun tidur.


"Wah, sepertinya kamu menemukan barang-barang yang unik ya," ucap Nenek ikut dalam percakapan.


Milin berjalan dengan cepat menuju ke arah meja kami dengan rasa penasaran tentang benda-benda yang dibawa oleh Noland. Begitu juga Neneknya ikut di belakangnya.


"Hehe iya, tadi aku sempat membeli beberapa barang yang menarik!" jawab Noland merespon.


"Noland memang sangat suka berbelanja," ucapku ikut meramaikan suasana.


Milin sudah mengambil posisi duduk di sebelah kiri Noland untuk melihat, dan Nenek berdiri di di sisi meja sebelah kananku.


Nenek, Milin... Kalian berdua...

__ADS_1


Walaupun Noland memberikan kabar buruk disertai kabar baik, namun pada akhirnya semuanya adalah kabar buruk bagi kami.


__ADS_2