
Sudah beberapa Minggu ku lalui tanpa ada lagi gangguan Dari Candra, handphone ku tak lagi berdering kecuali panggilan dari kantor atau nomor mama... aku merasa sedikit kehilangan sampai-sampai dikantor aku sering ditegur karena sering melamun dan tidak fokus.
Candra hilang begitupun indra, dua orang penggangu tiba-tiba hilang dari hidupku, entah siapa yang aku rindukan yang jelas aku merasa kesepian.
sore ini setelah pulang kantor aku memutuskan berjalan-jalan sebentar ke salah satu mall, mungkin membeli beberapa lipstik akan menyenangkan... pikirku.
sampai langkahku berhenti saat menangkap sosok yang ku kenal, Candra ... dia berjalan sendiri lalu masuk ke sebuah resto di mall itu, posisi kami berpapasan dan mall sedang tidak ramai jadi tidak mungkin dia tidak melihat ku, atau dia pura-pura tidak lihat? mungkin dia memang menghindari ku, biarlah mungkin sudah ada yang menunggu nya didalam resto itu *kataku lirih dalam hati
setelah membeli beberapa keperluaku, aku bergegas pulang... mengendarai motor kesayangan ku aku berjalan pelan sambil bersenandung pelan, tak terasa air mataku jatuh...
menyedihkan, wanita kesepian ini selalu bersikap sok kuat dan menolak cinta yang datang, sekarang setelah semua menjauh aku merindukan nya !!! maki ku dalam hati.
malam hari terasa sunyi bagiku, kulirik handphone yang tidak lagi berdering, tidak ada lagi pesan singkat yang membuat ku tersenyum sendiri setelah membacanya, mungkin Candra sudah benar-benar pergi... tapi sebenarnya aku ini kenapa? apa hatiku sudah mulai terbuka untuk nya??
bunyi handphone ku berdering ku harap dari Candra tapi tenyata nomor baru, ku putuskan mengangkatnya.
"hallo bianda...." deg.... ini suara Indra, kenapa sampai lupa sih kalo nomor baru yang selalu nelepon itu nomor Indra* kesal ku
__ADS_1
"hallo... ada apa? maaf gak bisa ngomong lama-lama aku lagi sibuk" jawabku ingin mematikan telepon namun suara dari seberang telepon mencegah.
"please bi, aku pengen ngomong serius, bisakah? kamu ke apartemen atau aku kerumah mu?" tanya Indra.
aku terdiam cukup lama, bingung harus bagaimana.
"bi...haloo??"
"oohh yaa hallo... aku saja yang kesana mumpung belum malam, aku tutup yaa"
aku langsung menutup nya dan bergegas pergi, sengaja memilih bertemu di apartemen nya karena aku tak ingin Indra bersikap nekat seperti yang sudah-sudah.
sempat ragu sebelum aku benar-benar mengetuk pintu, dan Indra langsung membukanya.
"sudah sampai? duduk bi... mau minum apa?" tawarnya
"gak usah ndra aku gak lama kok, kamu katanya mau ngomong?"
__ADS_1
Indra kemudian duduk disampingku dan memberiku kotak besar entah apa isinya.
"ini punyamu.. tertinggal!"
"kayaknya aku gak meninggalkan apapun ndra, sebentar" aku pun membuka kotak tersebut dan ternyata isinya kunci mobil beserta surat-surat nya, sertifikat kepemilikan apartemen, kalung hadiah anniversary kami dulu dan buku tabunganku.
"ini bukan punyaku ndra, maaf tapi aku gak bisa Nerima ini.."
"aku dulu ngasih ini kamu bukan untuk dikembalikan, ini hakmu bi... ambil ya?!" bujuk indra.
aku lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
"maaf aku gak bisa, aku pamit ndra sudah malam" belum sempat ku raih ganggang pintu Indra langsung menarik ku dalam pelukannya.
"aku rindu bi... sungguh aku minta maaf, beri aku satu kesempatan lagi" kurasakan bening air mata jatuh di pundak ku, kenapa Indra menangis???
"aku tersiksa tanpamu, tiap hari aku merindukan mu dan menyesali segala sikapku padamu.... tolong aku bi..." suara serak Indra menjadi terbata-bata.
__ADS_1
seorang Indra Adhitya Gibran Diradja menangis karena wanita seperti ku.