Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Hari di Mana Semuanya Berubah


__ADS_3

2 tahun telah berlalu.


Aku serta Noland sudah sama-sama berusia 12 tahun.


Anak yang berusia 12 tahun di wilayah ini, sudah dianggap dewasa dan boleh mulai bekerja, ini adalah saat yang tepat untuk memulai rencana kami.


Musim pada saat ini sedang berada di akhir fase musim dingin, salju-salju mulai mencair perlahan-lahan, namun tetap saja suhunya masih sedikit dingin.


Aku menggunakan baju kemeja putih yang ditutup oleh mantel berwarna hitam. Aku memakai sarung tangan hadiah dari Noland, sarung tangan itu sangat hangat. Aku juga memastikan syal abu-abu cerah buatan Koloman di dalam jasku.


Kalung yang dibuatkan oleh anak panti? selalu aku gunakan.


Aku juga tak lupa membawa ransel petualangku!


Di era ini mungkin cara berpakaian akan menggambarkan kasta seseorang.


Semakin mencolok dan meriah cara berpakaianmu, maka itu berarti kamu berasal dari kasta atas.


Oleh karena itu, aku menjaga cara berpakaianku seminimal mungkin.


Kami semua berencana untuk berkumpul di pintu perbatasan kota, sebelum akhirnya kami berpisah.


Aku mulai berjalan di jalanan yang masih terdapat segumpalan salju di tengahnya. Jika kuperhatikan pepohonan di sekitar sini, aku akan melihat beberapa daun-daun dari pepohonan sedang menopang salju yang berada di atasnya.


Dalam dua tahun terakhir aku telah melatih beberapa kemampuan yang mungkin akan berguna dalam perjalananku. Aku melatih daya tahan tubuhku, aku melatih kemampuan bela diriku, serta komunikasiku.


Bagaimana dana untuk perjalanan ini? tenang... aku sudah mempersiapkannya!


Aku sempat bekerja dengan para pedagang di sekitar wilayah Alpen, aku mengumpulkan uang untuk perjalanan, belajar berkomunikasi dengan para konsumen, mencari tahu cara pikir para pedagang di era ini, serta mencari informasi dari para pedagang.


Informasi adalah hal yang terpenting.


Asosiasi pedagang yang kami tuju berada di luar kota. Kota itu sering disebut Monte Rosa.


Dari informasi yang kudapatkan, kota itu sangat terikat dengan tradisi setempat yang terdapat di sana. Setiap harinya pasti ada segerombolan orang yang menari di tengah kota, dengan sangat bergembira.


Jika Alpen adalah wilayah ketenangan, maka kota itu adalah kota kemeriahan.


Sangat kontras sekali.


Namun... dikatakan di sana terdapat perpustakaan yang sangat besar dan megah, walaupun tetap kalah dengan perpustakaan kerajaan. Aku bersemangat ke sana karena hal itu!


Di wilayah Alpen terdapat beberapa perpustakaan dengan buku yang cukup banyak, namun sayangnya sudah habis kubaca semua. Aku perlu pengetahuan dari luar kota!


Noland sangat terkejut saat mengetahui bahwa aku telah menghabiskan seluruh buku di perpustakaan itu... setelah itu, aku mengajarinya cara membaca super cepat!

__ADS_1


Aku sekarang telah tiba di wilayah tempat tinggal para penduduk, beberapa penduduk bertegur sapa denganku.


Untuk meningkatkan daya tahan tubuhku serta staminaku, aku setiap pagi membangun kebiasaan untuk berlari di sekitar wilayah Alpen... lebih khususnya di dalam hutan, sambil melatih refleksku.


Awalnya sulit sekali untuk mulai berlari, namun dengan konsisten melakukannya setiap hari... serta didampingi oleh para Kakakku... kebiasaan berlari secara perlahan-lahan terbentuk di diriku.


Jadi, setiap aku menyadari bahwa pagi sidang datang, tanpa sadar aku sudah tiba-tiba berlari di dalam hutan.


Kebiasaan itu penting untuk dibentuk.


Untuk kemampuan bela diri, aku serta Noland berguru dengan salah satu ahli bela diri di wilayah Alpen. Aku mengembangkan kemampuan bela diri adalah untuk melindungiku dari peristiwa acak yang tak akan pernah diduga di masa depan nanti.


Latihan yang diberikan oleh guruku itu sangat keras dan kadang sampai tidak masuk akal.


Guruku selalu menyarankan kepada muridnya untuk setiap harinya bermeditasi untuk menenangkan pikiran, tidak perlu terlalu berlebihan, cukup berdiam diri sebentar dan menghilangkan segala beban hidup serta memfokuskan pikiran pun masih bisa disebut dengan meditasi.


Sambil membangun kebiasaan serta kemampuan bela diri, aku juga melatih kemampuan komunikasiku saat bekerja dengan para pedagang di wilayah Alpen.


Setiap harinya aku bertemu dengan berbagai macam orang dengan sifat serta latar belakang yang berbeda-beda, masalah hidup mereka pun beraneka ragam dengan cara penyelesaian yang tak terbatas.


Noland sangat ahli dalam hal ini.


Ia selalu menang saat kami berlomba untuk mendapatkan hasil penjualan terbanyak, dengan hasil dia yang sangat jauh dariku.


Perlu waktu yang sangat lama untuk akhirnya bisa menandinginya.


Pekerjaan yang sempurna adalah pekerjaan yang di mana orang lain melihat kita bekerja, namun sesungguhnya kita merasa sedang bermain-main.


Dalam perjalanan menuju tempat yang dijanjikan, aku mendapatkan beberapa jimat pelindung dari para penduduk sekitar, berupa gelang. Mereka memberiku gelang lebih untuk Noland nanti.


Sungguh... penduduk di sini sangat baik sekali. Aku sangat bahagia menghabiskan masa kecilku di wilayah ini... wilayah penuh kedamaian.


Dengan kemampuan komunikasiku yang sangat berkembang dari sebelumnya, para penduduk semakin ramah terhadapku.


Bagaimana kabar keluargaku? Ayahku masih bekerja di luar kota, Ibuku masih mengelola lahannya, para Kakakku ada yang mulai ikut bekerja di luar kota serta ada yang membantu pekerjaan Ibuku.


Bagaimana respon keluargaku mengetahui bahwa aku sebagai anak terkecil akan pergi dari wilayah Alpen? Tentu saja mereka akan menolak, tapi dengan melihat pencapaianku dua tahun terakhir... mereka pada akhirnya mengizinkanku.


Begitu pula dengan keluarga Noland Filibert, pada akhirnya dengan mengetahui tujuannya menyangkut keluarga Tiatus serta penduduk sekitar, mereka mau tak mau harus mengizinkan anaknya.


Dari kejauhan aku sudah dapat melihat gerbang perbatasan wilayah, dari sini juga aku sudah bisa melihat segerombolan orang melambai-lambai di depan sana.


Di sana ada keluarga Filibert, serta Ibuku dan beberapa kakakku yang masih berada di wilayah Alpen. Aku melambaikan tanganku menandakan aku menyadarinya.


Di paling belakang sudah siap Noland dengan menggendong adik terkecilnya yang sudah berusia sekitar 3 tahun.

__ADS_1


Noland sudah siap dengan pakaian petualangan bersama dengan ranselnya penuh dengan barang yang diperlukan selama perjalanan.


Disampingnya sudah ada kereta kuda yang akan menghantarkan kami ke kota Monte Rosa, kereta itu terlindung dari sisi samping maupun dari sisi atas, kereta itu didorong menggunakan 2 kuda berwarna coklat. Kira-kira perjalanan akan memakan tiga hari perjalanan, dengan menyinggahi dua penginapan.


Aku mendekat ke arah gerombolan itu.


"Halo keluarga Filibert, dan Noland!" sapaku ramah.


Keluarga Filibert menyapaku kembali.


"Kau sangat lama... Arthur!" seru Noland memberi tahuku bahwa mereka menunggu terlalu lama.


"Iya maaf... setelah dari 'situ' aku sedikit berkeliling di tempat tinggal para penduduk untuk berpamitan..." jawabku memberikan alasan keterlambatanku.


"Oh... kukira setelah dari makam Koloman kamu pergi berkeliaran ke tempat yang tidak jelas..." ucap Noland.


Noland terlebih dahulu mengunjungi makam Koloman untuk memberitahunya keberangkatan kami.


Sudah 2 tahun keluarga Tiatus menahan kekangan tangan pria bangsawan itu, sudah tidak ada waktu lagi untuk menunda kepergian kami sekarang.


"Arthur, Nak Noland... pulanglah sesekali nanti, kami akan merayakan kepulangan kalian nanti," ucap Ibuku menyuruhku untuk pulang sesekali ke wilayah Alpen.


"Tentu saja Ibu!" jawabku ke Ibuku.


Setelah itu Ibuku, serta kakakku memelukku dengan sangat erat.


"Kami akan sangat merindukanmu," ucap salah satu kakakku.


"Iya... kami juga begitu," jawabku singkat.


Sepertinya Noland sudah selesai berpamitan dengan keluarganya, ia mengembalikan adik kecilnya itu ke pelukan Ibunya.


"Noland... Ayo..." ajakku.


"Ah! Iya Arthur!" jawab Noland.


Kami menaiki kereta kuda itu, serta menaruh berbagai macam barang di dalamnya.


Kereta kuda mulai bergerak, kami menengok ke arah belakang kereta kuda. Semua orang di sana melambaikan tangannya, ada pula yang yang sedikit menangis terharu.


Kami berdua pun membalas lambaian tangan mereka.


Semakin lama, gerombolan orang itu sudah tidak terlihat lagi dari pandangan kami berdua.


...

__ADS_1


Dengan ini... perjalanan kami pun dimulai dari detik ini!


__ADS_2