Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Area Utara Kerajaan Breithorn


__ADS_3

Kami telah tiba di area Utara menggunakan kereta kuda yang mengantar kami dari area selatan sebelumnya. Kamu berpisah dengan kereta kuda itu di tempat umum pemberhentian para wisatawan.


Benar saja, walaupun siang, udara dingin sudah mulai terasa perlahan-lahan. Aku menyiapkan tubuhku dengan menggunakan pakaian yang kusiapkan. Begitu juga dengan mereka. Kami tidak ingin hal ini menjadi penghambat pencarian kami.


Saat ini kami berbaur menjadi satu dengan kerumunan wisatawan lainnya yang juga menggunakan pakaian hangat yang mereka punya. Sampai di ujung sana, para orang di sini mulai menyebar menuju tempat yang mereka inginkan.


Di atas sini aku bisa melihat dengan sangat jelas pegunungan hijau yang dimaksud dengan beberapa rumah penduduk desa yang berada di tengah-tengah luasnya lapangan rumput hijau. Spot ini terbaik untuk melihat pemandangan yang di unggulkan.


"Wah! Jadi ini di bagian Utara!?" ucap Eli melihat pemandangan dengan memegangi pagar pembatas.


"Memang kamu belum pernah ke sini?" tanya Noland.


"Belum, ini pertama kalinya aku pergi jauh."


"Bagaimana menurutmu, Chloe?" tanyaku.


"Ini indah..."


"Benar, tapi ada tempat yang lebih indah lagi dari ini! Itu adalah wilayah Alpen!!" ucapku dengan bangga.


"Alpen? di mana itu?" tanya Chloe.


"Ah! Alpen! aku sering ketemu di koran!" ucap Eli.


"Alpen itu tempatku dan Arthur lahir, kami menghabiskan waktu kecil kami di sana," jelas Noland.


Aku mengangguk, "Itu benar!"


"Heh?! kalian berasal dari Alpen?! Aku baru tau itu."


"Alpen... Chloe ingin ke sana."


"Tentu, akan kuajak kamu ke sana nanti, suatu saat. Kita bersenang-senang di sana!"


"Aku juga ingin ikut!"


"Oke-oke. Ayo kita lanjutkan perjalanan ini sebelum sore."


Kami melanjutkan perjalanan menuju lebih dalam lagi, mencari penginapan untuk beristirahat.


Sisi jalanan yang kami lintasi sebagian besar ditutupi oleh ilalang dan rerumputan yang sedang dimakan oleh beberapa ekor sapi milik penduduk sekitar. Eli sangat tertarik dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Dia mencoba melihat lebih dekat kawanan sapi yang sedang berpesta di tengah lapangan sana di batas pagar kayu.


"Kamu terlihat antusias sekali."


"Ini pertama kalinya aku melihat sapi sedekat ini!"


"Chloe, apa kamu pernah melihat sapi sebelumnya?"


"Pernah. Aku sering memberi makan mereka."


"Ah, kamu sangat imut!" ucap Eli mendekati Chloe dan meremas pipinya.


"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah lapar saat ini? kita telah menghabiskan bekal makanan kita di perjalanan yang panjang tadi."


"Sebenarnya, aku masih tidak lapar, tapi akan gawat kalau kita kehabisan makanan di sini."


"Kalau begitu, mau aku buatkan makanan?"

__ADS_1


"Makanan? dari mana kamu mendapatkan bahan-bahannya?"


Eli memindahkan pandangannya ke arah sungai dan menunjuk ke arah sana dengan percaya diri.


"Eli, sepertinya itu ide yang kurang bagus. Lebih baik kita segera pergi ke penginapan."


"Heeeeh," ucap Eli kecewa.


"Baiklah semuanya, tetap berjalan! makanan sedap menunggu kita di penginapan sana!"


"Makanan penginapan, aku penasaran bagaimana rasanya."


"Eli, jangan ajak mereka bertanding, ok?"


"Aku tak bisa berjanji."


Kami melanjutkannya perjalanan kami ke arah pemukiman yang lebih terlihat padat. Sambil berjalan aku memegangi pindah Chloe dan menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri seperti alat detektor logam. Sepertinya Chloe tidak nyaman dengan itu, maka aku hentikan saja.


Jalanan di depan kami adalah sungai berukuran sedang beraliran tenang yang bila dilihat lebih dekat terlihat terdapat kehidupan ikan di dalamnya. Hebat juga Eli bisa mengetahui kehidupan dari jarak yang sejauh itu. Apa dia hanya menduga-duga saja?


Di antara sungai itu terdapat sebuah jembatan yang seharusnya sedang dilalui oleh banyak orang, namun saat ini sepi. Untung saja kalau begitu. Untuk menuju pemukiman yang lebih padat penduduk kami hanya perlu melintasi sungai melalui jembatan itu. Namun tidak semudah yang kami bayangan.


Sebelumnya beberapa langkah ke jembatan itu terdengar suara keras memanggil kami dari belakang.


"HEI YANG DI SANA! AWAS!!"


Mendengar hal itu kami memutar pandangan dengan cepat ke arah belakang dan menemukan sesuatu yang benar-benar baru kami lihat selama hidup ini.


Yang memanggil kami adalah seorang pemuda pengembala yang sedang berlari untuk mengejar sesuatu... domba besar yang SEDANG BERLARI MENGAMUK KE ARAH KAMI!!!


Kami semua terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku berteriak memberitahukan apa yang harus dilakukan sekarang.


"SEMUANYA BERPENCAR!!"


Tak memiliki pilihan lain, kami berpencar dengan Chloe di tangani oleh Noland, sedangkan aku dan Eli berpencar secara mandiri.


Kami berpencar ke segala arah, berharap domba itu kebingungan, namun saat kutengok ke belakang... domba besar dan menakutkan itu berada tepat di belakangku dan berlari ke arahku, matanya hanya fokus ke aku.


"Arthur!"


AAAAA!!! KENAPA HARUS AKU COBA!!?


Aku melempar tas di punggungku ke tanah supaya tidak menghambatku untuk berlari. Aku berencana untuk memanjat pohon untuk menyelamatkan diri, namun pohon yang terdekat yang kulihat saat ini berada di seberang sungai sana.


Tak punya pilihan lain aku berlari sekencang-kencangnya menuju jembatan kayu itu berupaya mempertahankan jarak antara aku dan domba menakutkan itu.


Sepertinya Dewi Keberuntungan saat ini tidak ada di pihakku. Beberapa langkah di atas jembatan, kakiku terpleset karena licinnya jembatan yang ditumbuhi oleh lumut. Alhasil aku tak bisa mengendalikan tubuhku, dan saat ini tumbuhku mengarah tepat ke sungai. AKU AKAN JATUH!


Aku mengendalikan tubuhku sebisanya untuk menghindari kepalaku yang jatuh terlebih dahulu.


Benar saja, aku pun jatuh ke sungai dengan sisi kanan tubuhku mengenai permukaan air. Untung saja aku terjatuh di bagian dangkal sungai dan alirannya tenang. Karena masih sadar aku mencoba untuk membangkitkan tubuhku dan duduk di bagian dangkal sungai untuk melihat sekitar.


Domba yang mengincarku tadi berada di atas jembatan dan masih melihat ke arahku. Dia benar-benar mengincarku. Aku berani taruhan, kalau domba itu sedang tertawa melihat tingkah konyol dan memalukanku ini.


Kulihat ke daratan, pemuda pengembala itu berlari mendekati domba yang ada di atas jembatan siapa tidak mengamuk lebih jauh lagi. Sedangkan Noland, Chloe, dan Eli melihatku dari kejauhan dalam posisi berpencar.


Selanjutnya, kuperhatikan di dekat tubuhku. Tinggi air sungai berada di perutku, dan air itu pun langsung meresap ke seluruh kain dari mantel hangatku dan memberikan sensasi dingin luar biasa langsung menuju ke tubuhku ditambah dengan angin yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"Arthur!! gawat dia membeku menjadi es!!"


"Cepat-cepat angkat dia dari situ!"


Hanya itulah suara yang kuingat sebisaku.


Aku pingsan kedinginan.


......................


Aku sadar di atas tempat tidur dengan selimut berlapis-lapis menutupi tubuhku. Karena selimut ini, sekarang aku merasa kepanasan. Aku bangkit dan memindahkan selimut itu dan menemukan diriku sudah tertutupi oleh pakaian hangat milikku yang lainnya.


"Ah kamu sudah bangun," ucap seseorang di pojok ruangan.


Di situ ada sesosok pemuda yang tadi mengejar domba yang mengamuk ke arahku tadi.


"Ini, tempat tinggalmu?" tanyaku.


"Iya, benar... Maaf! karena kelalaian menjaga dombaku, kamu menjadi seperti ini," ucapnya meminta maaf.


"Ah, tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah baikan sekarang. Ngomong-ngomong, di mana temanku yang lain?"


"Ah, mereka... Seorang bernama Eli dan satunya lagi, Noland sepertinya mereka sedang membantu ibuku memasak di rumah orang tuaku di sana... dan yang lagi satu..."


Tak memberikan kesempatan pemuda itu untuk memberitahu keberadaannya, Chloe muncul dari sisiku yang lain.


"Kamu sudah bangun ya, Penyihir-pembohong-payah."


Sudah lama juga aku tidak mendengar sebutan itu muncul darinya.


Aku mencoba bangkit dari tempat tidur itu dan berjalan menuju ke luar. Akhirnya aku menyadari bahwa hari sudah gelap dengan lampu dari rumah-rumah penduduk sekitar menyala di jendela dan suara dari lonceng-lonceng milik para domba berbunyi sahut-sahutan.


"Jadi, sudah malam ya."


"Hampir malam," jelas Chloe.


"Ah, maaf tapi aku harus memasukkan para dombaku ke kandang dulu. Kalian bisa melihat dari kursi itu jika kalian mau," ucap pengembala itu.


"Ok, terima kasih."


Aku dan Chloe duduk di atas kursi panjang yang ada di teras tempat tinggalnya untuk melihat pertama kali pengembala memasukkan domba mereka ke kandang. Ini tonton yang berkulitas.


"Ah ya, karena hari ini sudah gelap dan sebagai ucapan maafku kalian bisa tinggal di rumah kecil itu. Itu milik keluargaku dan tidak di tinggali beberapa saat. Jadi kalian boleh tinggal sementara di sana."


"Benarkah?! terima kasih banyak!"


"Hehe, jangan dipikirkan."


Masalah pun terselesaikan. Dia terlihat sangat baik.


Pengembala itu turun ke lapangan rumput miliknya, mendekati para domba-dombanya, dan mengelus-elus kepala dan bulu mereka. Cukup dengan itu, pengembala itu mengambil sebuah benda dari pinggangnya dan mengarahkannya ke bibirnya. Itu sebuah seruling bambu.


Pengembala itu memainkan serulingnya dan menghasilkan suara yang merdu, memancing minat para domba. Terpancing oleh alunan melodi yang merdu dan menenangkan di malam hari ini, domba-domba itu mengikuti pemiliknya menuju kandang mereka dengan tertib dan tenang.


Mendengar melodi itu, membuatku ikut merasa tenang di tengah kondisi malam yang gelap saat itu, melihat ia memasukkan domba-dombanya.


Tapi tangan kiriku tiba-tiba terasa sangat sakit seolah ada seorang lelaki berotot sedang meremas tanganku dengan keras. Refleks aku melihat ke arah kiri dan menemukan Chloe dengan tatapan kosongnya sedang menekan tanganku dengan tangan kanannya yang mungil. Dia 'terasuki'.

__ADS_1


__ADS_2