Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Pelabuhan Breithorn


__ADS_3

Menyadari bahwa siang akan tiba, aku dan Noland bergegas ke geladak kapal dengan semangat serta pemasaran karena ini adalah kali pertamanya kami pergi ke Breithorn. Kami ingin melihat tampak awal dari kerajaan tersebut.


Jika kuperhatikan di sekitarku, orang-orang tidak sesemangat kami.


Mereka tampak tenang dengan menghabiskan waktu mereka dengan membaca koran, mengobrol, serta bermain permainan papan. Kemungkinan besar mereka telah melakukan perjalanan ini berulang-ulang kali dan nanti bila mereka telah tiba di pelabuhan mereka akan langsung bekerja. Jadi kabar ini merupakan kabar buruk bagi mereka.


Meninggalkan ruang makan dengan berbagai perasaan orang-orang di dalamnya, aku menyusul Noland yang sepertinya sudah sampai di geladak kapal.


Beberapa langkah berikutnya aku sudah sampai di geladak kapal. Saat aku berpindah dari ruang makan menuju ke geladak aku langsung disambut dengan angin kencang seperti sensasi laut pada umumnya.


Mengamati sekitar, aku akhirnya dapat melihat Noland di salah satu sisi kapal. Ternyata masih terdapat beberapa orang yang berpikir sama dengan kami. Mereka masing-masing berdiri di saah satu sisi kapal dan menatap ke arah depan.


"Arthur di sini! Sudah kelihatan!" seru Noland memanggilku sambil menunjuk ke depannya.


Aku mendekat Noland dan secara perlahan-lahan mengikuti arah tunjukkan tangannya.


Seperti yang sudah di katakan, memang benar bahwa itu sudah kelihatan.


Tepat di arah tunjukkan tangan Noland, aku dapat melihat yang tampak seperti ujung bumi yang perlahan-lahan memunculkan sebuah tempat secara semakin jelas.


Itu bukan suatu bangunan, itu adalah berbagai macam bangunan berbeda-beda yang tampak menyatu untuk menyempurnakan sesama mereka.


Dengan sang Surya menyinari di bagian kiri atas kami semua... Seluruh orang yang memandang ke arah depan mereka, terpana dengan pelabuhan besar dengan bangunan-bangunan sederhana hingga menjulang tinggi di belakangnya yang memperindah keadaan serta suasana.


Terdapat beberapa menit, para penumpang di geladak kapal tidak ada satupun yang ingat untuk mengeluarkan suara mereka untuk menyampaikan pendapatnya. Mereka seolah-olah telah seperti telah terhipnotis dengan suasana di pandangan mereka masing-masing


Melihat tempat itu yang lama-kelamaan membesar, membuat semua orang yang menyaksikannya seolah-olah telah melupakan segala masalah dalam hidupnya. Mereka hanya terfokus kepada satu hal... Keindahan di depan mata mereka masing-masing yang dilihat dari berbagai sudut.


Mengingat bahwa emosiku telah menyatu dengan era aku hidup saat ini... Aku ikut terhipnotis bersama dengan seluruh orang pada geladak kapal dan setelahnya satu-persatu orang telah tersadar kan dan kembali ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap.

__ADS_1


Sambil aku dan Noland kembali ke kamar kami untuk bersiap, aku mengecek sakuku satu persatu mulai dari depan ke belakang hingga dari depan ke dalam mantel.


Tidak ada yang hilang, semuanya masih aman di dalam sakuku. Sungguh, kejadian tadi benar-benar menghipnotisku... Itu sangat berbahaya.


Tapi, sesekali itu diperlukan.


Dengan hal itu, seketika aku melupakan segala masalahku dan dapat menikmati waktu-waktu yang singkat tadi untuk melihatnya, merasakannya, menikmatinya.


Hal itu membuat realita tadi sangatlah berbeda dengan ekspektasi yang aku bayangkan sebelumnya... Sepertinya kerajaan ini akan sangat menarik.


Dengan penuh rasa penasaran yang menggebu-gebu untuk mengetahui isi dibelakang bagian pelabuhan, aku menjadi orang pertama yang siap untuk keluar dari kapal di ruang ini. Noland masih sibuk untuk bersiap-siap, dia meraih beberapa barang yang itu memang miliknya.


Kami tak boleh mengambil barang lain selain barang kami, karena nanti akan di periksa oleh pihak berwajib di pelabuhan.


......................


Setelah semuanya siap dan dipastikan lengkap, kami bergegas meninggalkan kamar dan menuju geladak kapal kembali.


Tak ingin tertinggal, kami pun segera mencari ujung barisan dan menempatinya.


Kapal semakin dekat dengan pelabuhan. Pelabuhan yang tampak kecil tadi, sekarang sudah tampak sangat besar dan luas. Dari sini kami sudah dapat melihat beberapa orang yang berada di pelabuhan. Mereka tampak seperti para pekerja dan beberapa diantaranya adalah penumpang yang sedang menunggu giliran.


Kapal semakin mendekati pelabuhan dan bersiap-siap untuk menepi di dermaga. Sebagian penumpang di geladak kapal menengok proses penepian kapal.


Secara perlahan-lahan, kapal menepi secara bertahap... Mendekat, semakin dekat, hingga bagian kapal telah menyentuh dermaga.


Pekerja di dekat sana langsung mengikatkan kapal dengan banyak tali agar tidak lepas dari dermaga. Mereka bekerja dengan sangat cekatan, mungkin karena mereka telah melakukannya hal ini setiap hari.


Jalan telah dibentuk untuk menghubungkan kapal dengan dasar dermaga.

__ADS_1


Pekerja di dalam kapal mempersilahkan serta mengawasi para penumpang untuk turun dari kapal dengan tertib. Barisan mulai bergerak, dan kami mengikutinya.


Untuk pergi dari kapal menuju ke dermaga, kami perlu untuk melalui jalanan yang terbuat dari kayu tebal yang disokong dengan semacam bambu yang kokoh.


Saat giliranku untuk melalui jalanan itu, aku dapat merasakan hawa yang berubah seketika... Seperti aku secara tiba-tiba muncul di suatu tempat yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Hawa itu menjalar ke seluruh tubuhku dengan cepat.


Tiba di dasar, aku akhirnya menginjakkan kakiku di daratan setelah satu hari penuh di atas kapal. Karena sebelumnya kakiku telah terbiasa dengan guncangan di dalam kapal, saat ini aku merasakan kakiku terguncang padahal sudah mencapai daratan.


Lebih memperhatikan sekitar... Sekitar hampir setengah penumpang di kapal telah tiba di daratan dan telah menyebar menuju jalan keluar lainnya untuk menuju kota.


Di dermaga banyak terdapat para pekerja yang tampaknya telah bekerja siang dan malam. Suasana sangat sibuk.


"Woah... kakiku terasa terombang-ambing," ucap Noland disampingku sambil melihat kakinya.


"Iya, aku juga. Paling nanti akan hilang juga. Ayo kita ke jalan keluar."


"Ayo-ayo, aku sudah tak sabar melihat suasana kota dan kerajaan Breithorn."


Kami menuju ke jalan keluar yang ditunjukkan oleh para pekerja. Di sana sebelum pergi dari pelabuhan, kami harus melewati beberapa proses pemeriksaan barang serta identitas sebelum akhirnya dapat bebas berkeliaran di luar.


Setelah melakukan pemeriksaan secara keseluruhan, kami dipastikan aman dan membawa surat-surat yang resmi. Dan oleh karena itu, kami sekarang sudah dapat meninggalkan pelabuhan.


Kami masih belum melihat suasana kota karena kami masih berada di dalam pelabuhan.


"Arthur, kita akan kemana sekarang?"


"Seharusnya kita mencari penginapan dahulu, tapi... Apakah kamu memiliki tempat yang ingin dikunjungi?"


Noland menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah bila begitu, pertama-tama kita akan pergi ke penginapan!"


__ADS_2