Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Pabrik Kecil


__ADS_3

Beberapa orang mulai muncul di dalam pandanganku.


Kira-kira jumlah orang yang berada di sini tak sampai 20 orang. Sangat sedikit dengan pabrik besar yang lainnya.


Mungkin mereka semua adalah pekerja.


Ada yang berpakaian lusuh dan ada pula yang berpakaian bersih rapi. Pekerja dengan pakaian bersih rapi dapat dihitung dengan satu tangan.


Para pekerja itu menengok ke arah kami dan langsung berjalan menghampiri. Tentu saja ke arah Mr.Meinhard.


Dari gerak gerik mereka, kemungkinan besar mereka adalah kepala pekerjaan yang mengatur pekerjaan lainnya.


Setelah sudah terbilang dekat, para pekerja tersebut mengangkat topi pelindungnya dan meletakkannya di depan dada. Mungkin sebagai tanda hormat.


"Selamat siang Mr.Meinhard," salam salah satu kepala pekerjaan, mewakili pekerja lainnya.


"Ya, Selamat siang juga. Bagaimana kondisi saat ini?" tanya Mr.Meinhard.


"Masih aman terkendali Tuan."


"Baguslah."


"Omong-omong Tuan, siapa anak-anak di belakang Tuan?"


Seluruh pandangan orang-orang teralihkan ke arahku dan Noland.


"Mereka adalah orang spesial. Mereka telah melakukan kontak denganku."


Semua mata yang dapat kulihat seketika membesar seolah-olah terkejut. Beberapa orang mulai saling bertatapan dan berbisik-bisik.


Mungkin karena sudah lama tidak ditatap oleh banyak orang, aku merasa tidak nyaman dengan tatapan dan perilaku mereka semua. Padahal mereka hanya kurang dari 20 orang.


Sedangkan, Noland disampingku nampak tetap nyaman dan masih memperhatikan sekitar.


"Bagaimana dengan barang yang kuminta itu? apakah sudah siap?" tanya Mr.Meinhard mengubah topik.


"AーAh! sudah Tuan. Silahkan ikuti saya."


Kami bertiga dengan Mr.Meinhard di depan dan Noland disampingku yang masih tak mengucapkan sepatah katapun, mengikuti kepala pekerjaan yang sepertinya mengarahkan kami ke tempat kami.


Kami di arahkan ke arah timur, melewati beberapa orang yang sedang sibuk dengan mesin di dekat mereka.


Aku tidak mengetahui jenis mesin yang sedang mereka gunakan, mungkin karena sudah terlalu kuno.


Coba saja aku mendapatkan salah satu mesin di sini pada kehidupanku yang lalu, aku pasti dapat melelangnya dengan harga yang sangat tinggi.


Sambil berjalan, Noland di sampingku mungkin sudah tak tahan dengan rasa penasaran, dia mulai membuka pembicaraan ke Mr.Meinhard.


"Mr.Meinhard, sebenarnya ini tempat untuk apa?" tanya Noland sambil berjalan mendekat ke samping Mr.Meinhard.


"Tempat ini? Ini tempat untuk uji coba produk yang akan di produksi."


"Jadi, bukan hanya produk kami saja yang sedang di uji coba di sini?"


"Ya kamu benar. Saya juga sedang menguji beberapa produk. Sebagai contoh... coba lihat ke arah sana," ucap Mr.Meinhard sambil menunjuk ke salah satu mesin yang sedang bekerja.


"Mesin itu sedang memproduksi pewarna untuk lukisan dan sedang kami uji coba," ucap Mr.Meinhard menjelaskan.


"Pewarna lukisan? bukannya itu sudah dijual di luar sana?" lanjut tanya Noland.


"Benar. Tapi bukannya harganya mahal?"


"Emm aku tak tau. Aku tak pernah melukis," ucap Noland sambil mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Betulkah? Kau harus mencobanya sesekali. Harga pewarna lukisan dengan kualitas tinggi masih sedikit mahal. Tujuan kami melakukan uji coba adalah untuk mencari cara untuk menurunkan harga pewarna tersebut serta berusaha untuk mempertahankan kualitasnya."


"Kenapa harga pewarna itu harus diturunkan?"


"Semakin murah harga suatu barang, maka kemungkinan larisnya akan semakin besar. Atau dalam kata lain, semakin banyak yang akan membeli."


"Ah! Aku mengerti. Terimakasih Mr.Meinhard."


Mr.Meinhard mengangguk sembari tersenyum ringan.


Aku hanya diam dan menyimak percakapan mereka dari belakang sambil menebak tempat yang akan kami tuju.


Walaupun pabrik ini terbilang kecil, namun ternyata pabrik ini terbagi dalam beberapa ruangan dengan aktivitas yang berbeda-beda.


Setelah melalui beberapa ruangan, sepertinya kami tiba di tempat yang dimaksud. Orang yang menuntun kami berhenti dan mengarahkan tangannya ke salah satu meja di ruangan ini.


"Di sini Tuan, semua barang yang Tuan minta sudah ada di atas meja."


Benar, bukan hanya satu meja. Di situ terdapat 4 meja berjejer lurus dengan berbagai alat dan bahan di atasnya yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga terlihat rapi.


Tanganku sudah tak sabar untuk mengotak-atik barang-barang di atas sana.


"Baik Terima kasih," ucap Mr.Meinhard.


Aku dan Noland pun tak lupa untuk ikut mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menuntun kami.


Orang itu menunduk dan meminta izin undur diri dari ruangan. Mr.Meinhard memperbolehkannya.


Tak ingin berlama-lama, aku langsung berjalan ke arah meja-meja di sampingku. Noland pun tak sabar untuk melihat hasilnya.


Aku dan Noland sudah berada di depan meja. Aku menyentuh beberapa benda di jangkauanku dan memperhatikannya.


"Bagaimana? apa sesuai dengan harapanmu?" tanya Mr.Meinhard yang mengawasi dari belakang.


"Arthur, apa yang akan kita lakukan?" tanya Noland yang sudah tidak sabar.


"Kita akan membuat keajaiban."


Aku meraih benda-benda yang kuperlukan saat ini dan meletakkannya di jangkauanku.


Mr.Meinhard berjalan mendekat dan diam di samping belakangku, memperhatikan. Serta Noland di sampingku siap membantu.


Baik, mari kita mulai.


Pertama-tama Aku menyiapkan tungku. Tungku ini masih terlihat seperti tabung.


"Noland, tolong ambilkan aku panci, botol, dan botol bundar yang melengkung itu," ucapku meminta tolong sambil menunjuk barang-barang yang dimaksud.


"Ok! serahkan kepadaku."


Noland mengambil satu persatu barang yang kuminta dengan tepat.


Aku menerima panci dan botol yang diambilkan oleh Noland, dan mengisikan air sesuai takaran yang kuperlukan.


Aku menaruh panci anti karat di atas tungku dan menyalakan tungku, dengan tutup panci yang terbuka.


Aku menyatukan botol bundar yang melengkung dengan botol yang berisi setengah air, dan setelahnya memasukannya ke dalam panci dengan sudut 30°.


Setelah itu aku membungkus es dalam satu kantung dan meletakkannya di atas tabung bundar.


Dan saatnya ditunggu.


Saat air mendidih, air dalam botol yang tercelup dalam air panci yang mendidih akan mengeluarkan uap air.

__ADS_1


Karena aku meletakkan sekantung es di botol bundar, uap air akan tertarik ke arah botol bundar. Akan berkumpul dan menjadi air suling.


"WーWoah! muncul air di sana!" seru Noland sambil menunjuk ke arah botol bundar.


Kutengok ke arah Mr.Meinhard di belakangku. Ternyata dia sedang mencatat prosesnya dengan seksama dengan kertas dan pulpen klasik di tangannya. Wajahnya terlihat sangat fokus.


"Lanjutkan," ucapnya.


Setelah semua air terkumpul, aku mematikan tungku dan mengambil botol itu dengan kain secara hati-hati.


"Selanjutnya aku perlu bunga," ucapku ke Noland.


"Ini Arthur! ini yang kurasa paling wangi," ucap Noland sambil menyodorkan beberapa tangkai bunga mawar.


"Ok!"


Aku mengambil beberapa kelopak bunga mawar, mencucinya, dan sedikit mencincangnya.


Aku menyiapkan alat pencampur, atau mungkin aku dapat mengatakannya mesin.


Aku memasukkan bunga mawar dan air hasil penyulinganku tadi. Dan mencampurkannya.


Sebenarnya, untuk hasil yang terbaik harus di diamkan selama satu malam. Tapi untuk sampel aku akan mempercepat proses dengan teknologi ini. Biarkan Mr.Meinhard yang memikirkan untuk meningkatkan kualitasnya nanti.


Setelah beberapa saat, aku mematikan alat pencampur dan mengambil cairan di dalamnya.


Aroma bunga pun tercium.


Aku mengambil botol, dan menyaring cairan ini ke dalam botol. Setelah itu, aku menyiapkan batang atau alat penyemprot yang sesuai dengan prinsip Bernouli (Fisika) dan kugunakan untuk menutupi botol parfum.


Bagaimana cara kerjanya? perlu aku jelaskan? oke jadi begini...


"Woah! apa sudah selesai?!" seru Noland sangat antusias.


... Ah, mungkin lain kali.


"Ah ya... sudah selesai," ucapku sambil mengangkat botol parfum itu.


"Coba aku pakai," ucap Noland sambil meminta botol parfum di tanganku.


"Tekan bagian itu untuk menyemprotkannya," ucapku sambil menunjuk bagian yang dimaksud.


Mr.Meinhard melihat dari belakang dengan antusias.


Noland mengarahkan lubang parfum ke tangannya dan aku membantunya untuk menyemprotkannya.


Cairan yang terlihat seperti gas keluar dari batang penyemprot.


Noland langsung mendekatkan hidungnya ke tangan yang terkena cairan tersebut.


"Tercium! aku mencium mawar yang harum!" seru Noland dengan semangat.


Dan dia menciumnya lagi. Setelah itu dia mengarahkan tangannya ke arah Mr.Meinhard, mengajaknya untuk mencium aromanya juga.


Sepertinya Mr.Meinhard sedikit terkejut.


"Tentu saja itu masih produk level rendah, aku masih punya resep level tinggi berikutnya," ucapku sambil melipat tanganku dengan bangga.


"Level yang lebih tinggi lagi?!" ucap Mr.Meinhard tak percaya.


"Tentu saja!"


Dari mata Mr.Meinhard, aku dapat melihat dia sangat antusias dan semangat untuk melihat produk lainnya.

__ADS_1


Baiklah, mari kita lanjutkan lagi.


__ADS_2