Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Phoenix


__ADS_3

Terdengar suara dari arah belakang kami memanggil kami, dari suaranya dia adalah seorang pria. Terkejut serta penasaran dengan yang terjadi kami reflek menolehkan pandangan kami ke belakang.


Benar saja, di ujung sana tampak seorang pria menggunakan pakaian gelap berlari kecil sambil mengangkat tangan kanannya, berharap kami mengikuti ucapannya, sedangkan di tangan kirinya dia membawa sebuah topi di dadanya.


"Bagaimana ini, Arthur? Apa kita akan berhenti?" bisik Noland ke arahku.


"Apa boleh buat, kita harus menanyai maksudnya. Mungkin saja ada sesuatu yang penting," ucapku meyakinkan Noland.


Chloe yang sedang di gandeng oleh Noland mengeratkan genggamannya karena merasa ketakutan.


Yah, jika dilihat-lihat sih pria itu dengan pakaiannya serba gelap di malam hari ini dan kondisi jalan yang sepi memang sedikit mencurigakan dan menakutkan bagi anak kecil.


Kami memberhentikan langkah kaki kami dan membalik badan ke arah datangnya pria itu dengan Chloe sudah aman di belakang kami. Melihat akan hal itu, pria yang tadinya berlari kecil ke arah kami mulai memelankan kecepatannya dan mulai berjalan santai ke arah kami. Sudah cukup dekat, pria itu mengambil jarak karena mengetahui kecurigaan kami.


"Terima kasih karena sudah berhenti," ucap pria itu sedikit ngos-ngosan.


"Jika boleh tau, anda siapa? dan apa alasan anda memanggil kami?" tanyaku menanyai identitasnya dan alasannya.


"Saya penduduk di sini, saya tinggal di dekat sini. Tenang saja, saya tidak bermaksud buruk. Saya hanya ingin menawari kalian sebuah pekerjaan di tempat kerja saya." jawabannya.


"Dari mana kita bisa tahu hal itu benar?" lanjutku bertanya memasang wajah curiga.


Mendengar pertanyaanku pria itu meraih sesuatu dari dalam jasnya dan mengambil sebuah benda, tampak seperti dompet lipat. Karena mengetahui kecurigaan kami masih belum hilang, dia menjulurkan benda itu ke arah kami dengan tetap mengambil jarak. Perlu beberapa langkah untuk mengambil benda itu darinya. Setelah kuambil, kubuka benda itu untuk melihat isinya. Benda ini terdapat kartu identitas pekerja dengan beriskan namanya, posisinya, dan tempat bekerjanya.


"Jadi, Mr.Jhon. Jenis pekerjaan apa yang anda tawarkan?" tanyaku setelah mengetahui identitasnya.


"Jujur saja saya tak mengetahui akan hal itu, saya hanya disuruh untuk menghentikan kalian saja. Selanjutnya biarkan atasan saya yang berbicara."


"Atasan? di mana atasan anda?" tanya Noland melihat kanan-kiri mencari atasan yang dia maksud.


"Tunggu sebentar, dia mungkin akan sedikit terlambat... Ah! itu beliau," ucapnya setelah menoleh ke arah belakangnya.


Melihat ke arah yang dia maksud, kami memandang jauh ke arah belakangnya. Di tempat datangnya pria ini tadi, muncul lagi seorang pria dari kejauhan. Pria itu berpakaian gelap, memakai topi di atas kepalanya, dan dia berjalan menggunakan bantuan sebuah tongkat kecil penyangga di salah satu sisi tubuhnya. Walaupun dia berjalan dengan tongkat penyangga, dia berjalan sangat percaya diri ke arah kami.


Tiba di samping pria itu, dia meletakkan tongkat itu di depan tubuhnya sarta meraih topinya dan meletakkannya di depan dadanya.


"Senang bertemu kalian. Saya Edwyn Wolf, saya pemilik dari perusahaan Phoenix," ucapnya mengenalkan diri.


"Apa perusahaan ini benar-benar ada?" tanyaku tak percaya.


"Hei, sopan-lah kepada beliau!" ucap Mr.Jhon.


"Tidak apa-apa, Jhon... Sepertinya kalian pendatang baru di kerajaan ini, benar begitu? Jika benar begitu, seperti yang sudah dikatakan oleh Jhon. Saya mengundang kalian khusus untuk bekerja di perusahaan kami," ucap balasnya.


"Ya, itu benar... Pertama-tama bolehkah saya bertanya? untuk apa pemilik perusahaan repot-repot untuk mengundang kami khusus secara langsung pada kondisi yang gelap dan sepi ini?."


"Iya, maaf karena menimbulkan rasa kecurigaan pada kalian... Biarkan saya memberikan alasannya... Saya tertarik tiba-tiba dengan kalian."

__ADS_1


"Tentang hal apa?"


Menerima pertanyaanku itu, dia merespon dengan langsung membelokkan pandangannya ke arah Noland di sampingku yang dari tadi menyimak pembicaraan.


"Kamu, boleh tahu siapa namamu?"


"Saya?!" jawab Noland kebingungan. "... Saya Noland Filibert. Ada apa dengan saya?"


"Jika boleh tahu... benda apa yang kamu pakai saat keluar restoran tadi?"


"Heh?! ... Arthur," ucapnya kesal ke arahku.


"Itu parfum kami. Ada masalah apa dengan itu?" ucapku menjawabnya.


Noland mengambil parfum dari sakunya dan mengopernya ke tanganku dengan raut wajah kesal.


"Itu Parfum... Apa saya boleh menyentuhnya?"


"Maaf tapi, ini adalah barang berharga kami. Kami tidak bisa menyerahkan ke sembarang orang."


"Baiklah jika kamu berkata begitu. Kalian akan langsung kuterima di sini untuk bekerja di perusahaanku dengan gaji yang spesial. Namun sebagai gantinya, kalian harus memberikan parfum itu kepadaku."


"Maaf, tapi itu masih tidak cukup," ucapku sambil memamerkan parfum di tangan kiriku.


"Hei! Kamu harus tahu bahwa perusahaan Phoenix adalah perusahaan besar yang sangat diidam-idamkan oleh orang-orang untuk bekerja di sana! Pilihan yang bodoh untuk menolak tawaran spesial ini!" ucap Mr.Jhon geram dengan jawabanku.


Aku bisa melihat raut wajah pemilik perusahaan Phoenix itu sangat kebingungan dengan jawabanku yang kulontarkan tadi. Dia mungkin berpikir bahwa hanya dengan status perusahaannya dia dapat mendapatkan apapun yang dia inginkan.


"Perkenalkan, Aku Arthur dan temanku Noland. Kami berdua adalah rekan kontrak Mr.Meinhard dari Monte Rosa!"


"Mr.Meinhard?!!"


...****************...


Dua bulan sudah berlalu di Monte Rosa dan kami dipaksa bekerja oleh Mr.Meinhard. Kami sungguh kelelahan, karena kadang hal yang dia minta sangat aneh dan membuatku harus memaksakan diri melewati batasku.


Ngomong-ngomong baru-baru ini umurku naik menjadi 13 tahun, tak kusangka akan merayakan di Monte Rosa, tapi itu cukup baik juga. Walaupun baru berulang tahun, tetap tiada ampun dari Mr.Meinhard untukku. Karenanya aku harus memaksakan diri bergadang beberapa kali untuk memenuhi permintaannya, memaksaku untuk menyukai apa yang tidak kusukai, dan hal lain semacam itu. Teganya dia memberikan perasaan itu untuk kami. Kami tidak ingin cepat dewasa!


Di dalam ruang kerja Mr.Meinhard, aku dan Noland sedang membahas sebuah rencana untuk pemasaran barang-barang Mr.Meinhard, walaupun cukup melelahkan, tapi kelama-lamaan hal ini sedikit seru. Kadang saat diberikan hal yang levelnya di bawah kegiatan sehari-hari kami, kami menyelesaikannya dengan cepat den sedikit bosan karena terlalu mudahnya. Jadi, diberikan hal yang tidak masuk akal itu sedikit seru dan menantang.


Di sela-sela pekerjaan kami, Mr.Meinhard dari meja kerjanya mengatakan sesuatu ke pada kami.


"Hei, Arthur dan Noland. Dari kinerja kalian saat ini mungkin saja kalian dapat pergi dari Monte Rosa lebih cepat dari yang kalian kira."


"Benarkah?! Akhirnya sebantar lagi aku terbebas dari pekerjaan ini!" ucapku bahagia dan sedikit bergurau.


"Huh... Biasa-biasa kau berkata begitu pada pekerjaanmu yang memberikanmu uang. Ingatlah, walaupun kalian pergi dari Monte Rosa... Kalian wajib bekerja atas perintahku," ucap Mr.Meinhard dengan sombongnya.

__ADS_1


"Baiklah Mr.Meinhard," jawabku dan Noland.


"Dan satu hal lagi, pada dasarnya aku sangat menolak kalian untuk pergi ke tempat lain selagi kalian memiliki kontrak denganku..."


"Kenapa begitu?" tanya Noland.


"Yah... itu karena aku itu sudah terkenal di berbagai macam tempat dan itu sangat bahaya bagi kalian yang mungkin saja akan dicelakai oleh orang-orang yang iri denganku..."


"Hui, mulai muncul sikap sombongnya..." ucapku bergurau.


"... Tapi itulah kenyataannya. Ini khusus kepadamu, Arthur!"


"Heh?! kok aku?"


"Kau pasti akan menggunakan namaku untuk mempermudah jalanmu kan? Itu boleh saja, tapi hal itu sangat beresiko mengingat banyak orang yang mungkin memiliki ke-irian kepadaku."


"Ngomong-ngomong begitu, kenapa Mr.Meinhard tidak memperbanyak teman saja?" tanya Noland.


"Sudah pasti karena dia malas berteman! dia Anti-sosial!" jawabku.


"Bukannya malas berteman! aku hanya tidak ada waktu untuk itu," balasnya menjawab.


Mendengar jawaban dari Mr.Meinhard aku dan Noland sontak tertawa di dalam ruangan kerjanya.


"Sudah-sudah, intinya aku menolak kepergian kalian karena hal itu... Tapi setelah mengetahui tujuan kalian selanjutnya aku menjadi sedikit tenang."


"Hm? Ada apa di Breithorn?" tanya Noland.


"Seperti yang kukatakan, aku memang jarang melakukan hubungan pertemanan. Tapi itu tidak berarti aku tidak memiliki teman bukan? Di Breithorn, aku memiliki seorang teman yang cukup dekat, kami sudah melakukan banyak perjanjian kerja. Karena keberadaannya aku mulai sedikit yakin untuk melepas kalian di sana."


"Heh... Teman Mr.Meinhard, aku ingin mengetahuinya," ucap Noland.


"Tapi, bagaimana itu menjamin keselamatan kami? Lagi pula kami tidak tahu lokasinya."


"Tenang saja, kalian pasti menemuinya."


"Kenapa kau bisa yakin?" tanyaku.


"Insting pengusaha," jawabannya singkat.


"Tetap saja itu tak bisa menjadi jaminan! Di luas kerajaan yang sebegitunya, hanya kemungkinan kecil kami akan menemuinya, satu orang dari ratusan ribu orang di sana," ucapku masih tak percaya.


"Percayalah padaku, kalian akan menemuinya. Perusahaannya memiliki cangkupan yang sangat luas dan pasti penduduk di sana mengetahui tentangnya," ucap Mr.Meinhard meyakinkanku.


"Bagaimana dia?" tanya Noland yang tampak penasaran.


"Dia adalah orang yang sangat membanggakan perusahaannya. Kalian akan mudah mengidentifikasinya karena dia memiliki pin bergambar Phoenix di dadanya..."

__ADS_1


"Phoenix..." ucap Noland mengingat-ingat.


"Gunakan namaku jika kalian perlu sesuatu," ucap Mr.Meinhard menutup obrolan.


__ADS_2