
Pengembala itu sudah memasukkan semua domba-dombanya di bantu oleh anjing peliharaannya menemaninya. Chloe juga sudah kembali normal saat pengembala itu selesai memainkan seruling bambunya.
Aku tidak tahu, apa yang memancing Chloe, apakah karena alunan seruling itu atau ada hal lainnya. Tapi yang pasti, kami sangat beruntung karena langsung berada di jalan yang tepat.
Perlahan terdengar suara Noland memanggil dari kejauhan, dia berjalan mendekat dan melambai-lambai ke arah kami, mengisyaratkan untuk berkumpul.
"Sepertinya mereka sudah selesai memasak makan malam, mari ke sana," jelas pengembala.
"Ah, oke."
Aku dan Chloe bangkit dari tempat duduk dan berjalan menyusuri lapangan berumput yang luas di tengah gelap malam. Pengembala itu tampaknya sedang bersenang-senang dengan anjing peliharaannya selagi berjalan. Chloe meringkukkan tubuhku di belakangku. Sepertinya dia sedikit takut dengan anjing yang sangat aktif itu.
"Tenang saja, Chloe. Anjing itu hanya akan menggigit domba yang nakal saja."
"Haha, ya! anjingku ini baik loh, kamu mau mengelusnya?"
Ditanyai seperti itu, Chloe semakin menyembunyikan dirinya di belakang tubuhku.
"Sepertinya dia malu-malu berkenalan."
"Aku juga sepertinya itu saat kecil, namun sekarang, hanya ia saja teman yang menemaniku selama ini," ucap penggembala itu mengelus kepala anjing yang ikut berjalan di sampingnya.
Tiba di rumah orang tua pengembala, aku disambut dengan banyak makanan yang tampak lezat sudah tersaji di atas meja. Orang tua dari pengembala itu sangat ramah menyambutku.
Dari sini aku bisa melihat Eli sedang mengobrol asik dengan ibu pemilik rumah.
"Kamu sangat berbakat! baru kali ini aku melihat anak gadis berusia-mu dapat membuat makanan semahir dan mengagumkan seperti itu," puji ibu pemilik rumah.
"Hehe tidak Bu! masih banyak yang tidak kuketahui dan aku sedang belajar sekarang. Jadi Bu, apa yang akan Ibu masaka kalau..."
Eli sepertinya menemukan teman dan sumber belajarnya untuk semakin berkembang. Mereka asik membahas tentang teknik masak-memasak.
Dipersilahkan duduk, aku dan Chloe mengambil tempat duduk di dekat Noland yang berisi kursi kosong. Dan selanjutnya, kami makan malam bersama.
......................
Keesokan harinya, aku bangun pagi dan menyaksikan pengembala sedang mengeluarkan dan mengatur para dombannya di temani oleh anjingnya yang berlarian kesana dan kemari. Aku duduk di atas pagar dan menyaksikan hal yang sangat tentram ini di tengah suhu udara yang dingin di dekat pegunungan.
Aku harus lebih mendekatinya, si pengembala itu, bila ingin mengulik tentang harta kerajaan yang hilang dan aku tak boleh lama-lama.
Aku bangkit dan berjalan mendekat ke arah si pengembala sambil diterpa angin yang sangat dingin di pagi ini.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?! tak kusangka-sangka."
"Aku ingin bangun lebih awal untuk melihatmu mengeluarkan para domba-dombanya ini."
"Ah, kamu melihatnya dari tadi?"
"Yup, aku menonton dari sana," ucapku menunjuk tempatku duduk melihatnya.
"Ah... Bagaimana tidurmu kemarin? maaf aku tak punya yang lebih dari itu."
"Tidak-tidak, tempat itu sudah amat cukup bagi kami. Daripada kamu harus tidur di luar."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ngomong-ngomong kamu sudah dari kapan melakukan hal ini?" tanyaku.
"Mengurus domba-domba? sejak aku dua tahun lebih muda darimu. Saat itu aku dibelikan seekor domba betina dan dipercayakan untuk menjaganya oleh orang tuaku hingga domba betina itu memiliki anak dan domba milikku semakin banyak lagi hingga saat ini. Walaupun ada beberapa yang kubeli seperti domba yang bercorak unik di sana itu."
"Itu kelihatannya sangat unik, apa itu langka?"
"Hampir. Saat ini domba bercorak seperti itu langka, tapi saat itu masih seperti domba biasa."
"Jadi kamu memprediksi kalau domba itu akan langka?"
Ia menunjuk ke arah domba bercorak hitam dengan tanduk yang sangat besar.
"Mbek..." ucapnya menyapa.
"Hii! apa di mengerti apa yang kita bicarakan?"
"Entahlah, mungkin saja. Jadi itulah contoh domba yang kubeli karena kusuka."
"Oh, seperti itu... Apa kamu akan menjual domba-dombamu?"
"Domba-dombaku yang kurawat sejak lama ini, sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Sempat aku menjual beberapa dombaku, namun rasanya sangat tidak enak untuk melepaskan mereka. Jadi, Aku hanga akan menjual dombaku kalau ada masalah yang amat darurat."
"Apa ada domba yang... mati selama kaurawat?"
"... ada. Sebagian besar karena penyakit yang misterius, yang tidak ada obatnya."
"Pasti amat susah menjadi sepertimu..."
__ADS_1
"Tidak juga, kalau kamu sudah melakukan hal ini bertahun-tahun, ini akan menjadi hal yang biasa dan membosankan," ucapnya sambil tertawa ringan.
"Sebenarnya, kami tak memiliki banyak waktu untuk tetap ada di sini. Jadi mungkin, beberapa hari lagi kami akan pergi dari sini."
"Benarkah? sayang sekali, padahal aku merasa baru memiliki teman bicara sesungguhnya."
"Kenapa tidak mencari teman di pemuda desa lainnya?"
"Mereka juga sebagian besar sama sepertiku, mereka sibuk setiap harinya. Palingan kami hanya mengobrol saat ada festival desa setiap bulan."
"Ah ya, kita belum berkenalan ya? kenalin aku Arthur."
"Aku... Thorfinn. Pengembala. Kalian nanti boleh saja mampir jika kalian kembali ke mari."
"Benarkah? terima kasih... Tapi bagaimana bila kamu melupakan kami? apa yang bisa membuktikan hubungan kita?"
"Hm? semacam tanda pertemanan?"
"Yup, sebagai tanda sekaligus benda yang saling mengingatkan."
Mungkin lebih baik langsung berbicara jujur saja.
"Aku berbicara begini, karena tertarik dengan seruling bambumu yang kamu pakai kemarin malam."
"Seruling bambu kemarin malam? Ah, yang ini!" ucapnya mengeluarkan seruling yang kumaksud.
"... kenapa kamu bisa tertarik dengan ini," tanyanya.
"Iku karena aku terpana dengan nada yang kamu mainkan kemarin malam. Atau dalam kata lain, aku hanya menyukainya saja."
"Eh, benarkah?! Ini pertama kalinya mendengar ada seseorang yang mengatakan seperti itu, kecuali orang tuaku yang mendukungku saat kecil."
Thorfinn menatap seruling bambunya untuk beberapa saat. Selanjutnya dia melihat ke arahku dan tersenyum.
"Jika kamu memang menginginkannya, ambil saja," ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke arahku.
"Heh?! apa kamu yakin?"
"Hm? kenapa tidak? aku masih punya banyak seruling yang lebih bagus dari pada ini di rumahku, dan jugaan aku menemukan seruling bambu ini baru beberapa hari yang lalu saat sedang mengembala."
Aku melihat dan memperhatikannya seruling yang di arahkannya ke padaku. Seruling itu tampak terlihat polos dan terbuat dari bambu. Aku ragu, apa benar ini adalah harta kerajaan yang hilang itu atau bagaimana. Akan bahaya kalau aku langsung menerimanya. Jika bukan hal ini yang kucari, masa aku harus meminta lagi.
__ADS_1
Aku tak boleh terburu-buru.
"Ah-ah!! ini akan menjadi kesepakatan yang tidak seimbang. Bagaimana bila begini... apa kamu punya sesuatu yang ingin kamu wujudkan? kami akan membantumu."