
"Nama kamu siapa?" Milin memberikan pertanyaan kepada anak itu.
"..."
"...eー"
Itu pasti masih sulit baginya. Sebelumnya ia hidup sebagai budak kerajaan tanpa diberi kasih dan hanya dipaksa bekerja, itu semua masuk akal.
"Tak perlu terlalu cepat, perlahan-lahan saja," ucap Nenek yang tampaknya sedang menyiapkan beberapa piring dengan makanan.
Tak enak untuk membuat yang lainnya menunggu, si anak tetap berusaha untuk membuka mulutnya. Milin dan Noland masih melihat anak itu dengan pandangan hangat dan perasaan yang penasaran.
Diapit oleh dua orang jenis begitu pasti sangat berat ya.
Perlahan tapi pasti, anak itu membuka mulutnya sedikit dan mencoba mengeluarkan suaranya. Dia tampak sangat kaku, apa dia sudah lama tidak berbicara? Itu sangat kejam.
"... Em... Akh... Aku tidak tahu."
"Hm?" Noland dan Milin sama-sama membuat suara aneh itu saat mendengar jawaban anak itu. Aku bisa melihat ada tanda tanya besar berada di atas kedua kepala mereka.
"Em... Maksudnya bagaimana ya?" tanya Milin disampingnya dengan menggarukan kepalanya.
Ditanya langsung begitu, anak yang tadinya sudah berani berbicara beberapa kata kembali lagi menutup rapat mulutnya seperti sedang ditekan oleh pertanyaan itu.
Dia tidak tahu namanya? Apa itu berarti dia sedari lahir sudah menjadi budak?! Ini gawat. Milin pasti akan menyadari keganjilan yang ada di sini.
"Apa maksudnya itu, Tuan Noland?" tanya Milin ke arah Noland.
"Yah... Bagaimana ya... Arthur?"
Heyyy dia melemparkannya ke arahku.
Aku yang dari tadi menyimak menolehkan kepalaku ke arah kiri dan kulihat tatapan mata Noland yang membutuhkan pertolongan dan mata Milin yang haus dengan jawaban. Bahkan Noland pun tak berani untuk menjawabnya.
Baiklah mari kita coba. Aku sudah mengkalkulasi segalanya dan inilah jawaban terbaik yang aku punya.
"Mungkin dia sebelumnya terbentur dengan sesuatu."
"Heeh? Apa hal itu bisa terjadi?" balas Milin dengan wajah tak percaya.
__ADS_1
"Yah... Hal seperti itu sedang menjadi trend belakang ini."
Aku menjawab dengan nada tenang dan selanjutnya menyeruput teh hangat di dekatku dengan elegan. Bagaimana? tampak meyakinkan bukan?
"Benarkah? kasihan sekali."
Milin menerimanya? Syukurlah.
"Kalau begitu, bagaimana cara mencari orang tuannya?" lanjut tanya Milin. Dia jenis orang yang sangat ingin tahu ya.
"Itulah salah satu kesulitannya, Milin. Tapi untungnya orang tuanya adalah penduduk setempat di sini. Jadi dengan berkeliling besok hari, mungkin kita akan mempertemukannya dengan orang tuanya kembali."
"Semoga saja," Noland ikut berharap.
"Um... Tapi agak aneh kalau dia tidak punya nama. Kita harus memanggilnya siapa?" Milin tampak masih tak lega dengan masalah ini.
"Panggil saja dia adikmu atau semacamnya," jawab Nenek.
Nenek sudah selesai menyiapkan makanan, sekarang di depan kami semua seluruh menu sudah ada dan tinggal di santap. Perutku yang tidak makan kecuali tadi pagi sudah sangat meronta-ronta.
"Ugh tidak. Kita harus memberinya nama." Milin masih bersikeras untuk memberi nama untuk anak itu.
"Kalau begitu tanyakan padanya, apa dia memerlukan nama sementara atau tidak," ucap Nenek putus asa dengan sifat keras kepala Milin.
"Kamu mau kan diberi nama? Untuk sementaraaa saja." Milin bertanya dengan memegangi kedua tangan lawan bicaranya dan sedikit mencondongkan badannya kedepan dengan wajah memelas.
"Gwh... Hah..." Yup anak itu tampak kebingungan di sana.
Di sela-sela pertanyaan Milin itu, Nenek membawa beberapa piring yang sudah tersaji makanan ke depan meja Milin dan anak yang sedang tampak kebingungan ditanyai Milin. Aku dan Noland juga sudah beberapa kali menyantap makanan karena rasa lapar ini.
"Mau kan?" ucap Milin masih memelas.
Tampak tersudut dengan pertanyaan Milin anak itu mau tak mau hanya mengangguk pasrah.
"Yeyy! Dia mau Nekk!" Milin bersorak bahagia seperti sedang memenangkan sesuatu. Nenek hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Kalau begitu kita beri nama dia siapa yaa... Violet? Alisa? Kyara?" lanjut obrol Milin dengan menampilkan sikap seperti detektif yang sedang berfikir.
Aku melihat anak yang dimaksud dan ia terlihat sangat kelaparan melihat makanan yang ada di atas meja sana. Dia pasti sangat kelaparan, lebih lapar dari aku dan Noland. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat.
__ADS_1
"Bagaimana dengan nama Chloe?"
"Chloe? itu punya sebuah arti ya... Emm apa ya..." Milin sepertinya sedang mempertimbangkan ideku.
"Itu artinya hamparan bunga, Milin." Tak mendapatkan clue akhirnya Nenek memberitahukan arti dari nama itu.
"Hamparan bunga?! Milin sangat suka bunga, jadi itu nama yang bagus! Milin setuju! Bagaimana menurut kalian Nek, Tuan Noland?"
"Aku setuju." Tak mau mengulur banyak waktu, Noland setuju dengan ide itu. Begitu pula Nenek yang mengangguk ringan di sana saat ditanyai oleh Milin.
"Hehe, sekarang nama kamu sementara adalah Chloe yaa. Senang berkenalan dengan kamu, Chloe," ucap Milin dengan senyuman cerah.
"Sudah-sudah. Ayo Milin, Chloe, ayo santap makanannya sebelum dingin," ucap Nenek mengingatkan Milin dan Chloe tentang makanan mereka.
"Ah iya. Ayo makan bersama Chloe," ajak Milin yang duduk berdampingan dengan Chloe.
Huh lebih mudah dari yang kuduga, syukurlah. Dengan begini dia dapat mulai menyantap makanannya.
"Hey Arthur, apa kamu menyadarinya? Kalau Milin tampaknya menuruti apa yang kamu katakan. Mungkin kamu bisa menjadi 'counter Milin' dan itu pasti sangatlah berguna," ucap Noland berbisik di telinga sebelah kiriku diiringi oleh tertawa kecil setelahnya.
"Hanya kebetulan saja."
Dan akhirnya, topik obrolan selesai untuk sementara dan kamu semua dapat menikmati makanan dengan hati yang senang. Jika dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku dan Noland tidak hanya makan berdua saja di kota Breithorn ini. Momen-momen seperti ini mengingatkanku dengan momen kebersamaan di desa Alpen dan di kota Monte Rosa.
Aku ingin bertemu dengan mereka lagi.
Tapi sebelum itu, kita harus menyelesaikan masalah di sini dulu.
Aku masih sangat pusing memikirkan menemukan tiga harta kerajaan yang berharga dan bekerja di kerajaan. Huh masih ada banyak yang harus dilakukan. Kita akan melakukannya satu persatu, sampai akhir.
Aku tak boleh melupakan tujuan aku memulai perjalanan ini.
Puluhan menit telah berlalu, sesi makan malam di malam hari ini dipenuhi dengan gelak tawa bahagia dan senang dari semua orang. Perutku sudah terisi penuh dan sangat bertenaga. Perut kenyang, hatipun senang. Mungkin ini salah satu alasan Nenek menggelar makan malam ini. Obrolan yang baik adalah obrolan yang terdapat makanan!
Chloe juga tampaknya sudah lebih mudah untuk di ajak mengobrol, dia sudah dapat berbicara beberapa kata. Dan itu tentunya karena bantuan Chloe dan Noland di sampingnya yang memaksanya untuk berusaha berbicara. Kemajuan yang bagus.
"Ah ya. Tuan Noland, Tuan Arthur, apa yang terjadi di kerajaan sana?"
Dan kita mulai lagi.
__ADS_1