
Kami ditimpa kebimbangan.
Dua informasi yang saling berlawanan sedang berperang dalam benakku.
Sudah sehari sejak Nenek dan Milin memberitahuku tentang kerajaan Breithorn, begitu juga dengan Noland.
Sangat sulit untuk mengulik-ngulik lebih dalam kebenaran antara kedua informasi itu karena seluruh penduduk sangat tidak berani untuk berbicara mengenai kerajaan kepada orang asing kepada kami.
Mungkin aku terlambat menyadarinya... Penduduk kota disini sangat berhati-hati dengan orang asing. Mereka tak akan membuka mulut dengan mudah.
Pasti Noland sangat bersusah payah untuk mendapatkan informasi itu dari penduduk di sini.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan Arthur? Apakah kita tetap berusaha mendaftar ke kerajaan?" tanya Noland saat kami berada di ruang bawah tanah.
"Ya, aku akan tetap pergi. Kita tidak akan tau kebenaran informasi ini jika tidak melihatnya secara langsung. Noland, bagaimana menurutmu? Apa kamu mau pergi?" tanyaku menanyai pendapatnya tak ingin terlihat egois.
Menerjang ketakutan bak karakter utama.
"Tentu aku akan ikut bersamamu, Arthur! Karena aku sudah tiba sejauh ini, mana mungkin aku akan melarikan diri."
Begitulah percakapan kami kemarin malam. Sudah ditentukan!
Saat ini, pada siang hari yang terik, aku dan Noland berjalan menyusuri jalanan pusat kota untuk menuju ke kerajaan.
Kota Breithorn, walaupun dikatakan luasnya lebih kecil dari pada kota yang lain, tapi aku merasakan bahwa pernyataan itu seperti pernyataan merendah seorang murid yang lolos universitas top.
Kota yang lebih modern dari kota-kota yang kuketahui selama ini. Banyak jembatan terlihat dari jauh menghubungkan dua daerah yang terpisah oleh perairan. Bangunan di sekitar juga hampir seluruhnya bertingkat, dan menampilkan kemewahan serta kemegahan. Tidak ada pedagang yang berdagang di pinggir jalan melainkan mereka sudah mempunyai tempat khusus untuk berdagang, itu mirip seperti mall, kota Monte Rosa terlihat tertinggal di mataku sekarang. Orang-orang juga sudah berjalan di sisi kanan dan kiri cara kerjanya seperti trotoar, menyisakan bagian lapang ditengah untuk kereta kuda dan kendaraan bermesin besar untuk berlalu-lalang. Pejalan kaki di sekitarku sepertinya sebagian besar adalah para wisatawan yang berasal dari luar seperti aku dan Noland.
Kota Monte Rosa yang tampak klasik seperti kota era Yunani kuno, dengan kota Breithorn kota yang berkembang, benar-benar dua tempat yang berbeda.
Apa benar kota ini bukan kota yang terbaik?
Dunia maju lebih cepat dari yang kubayangkan.
"Sejauh apa lagi, Noland?" tanyaku kepada Noland di sampingku yang menuntunku sedari tadi.
"Tidak jauh lagi, tinggal lurus ke depan, di persimpangan itu," ucap Noland sambil menunjuk jauh ke depan.
"Oke, mari kita ke sana!"
__ADS_1
Aku terus menyusuri jalanan bersama pejalan kaki lainnya.
Kami terus berjalan lurus dan hingga akhirnya tiba di persimpangan tiga jalan, persimpangan yang berbentuk huruf T.
Aku melihat dan memperhatikan dengan seksama ke arah depan.
"Jadi, itu istananya?"
"Ya, Arthur. Itu istananya."
Di hadapan kami terdapat hamparan rumput luas yang pada bagian tengahnya terdapat jalan masuk dan keluar lumayan luas yang dipinggirannya dihiasi oleh jejeran bunga hias berwarna-warni. Ini mengingatkanku tentang taman kebun raya. Dataran rumput hijau segar membentang luas, rumput-rumput itu terlihat sangat dijaga, aku ragu untuk menginjaknya. Jalan tempat masuk dan keluar itu terlihat dibuat oleh bebatuan yang berkualitas. Samar-samar aku mendengar suara kicauan serta suara alami lainnya dari dalam sana. Di depannya lagi terlihat gerbang penjaga, dan jauh di depannya lagi terlihat bayangan bangunan kerajaan yang tinggi dan besar.
Persimpangan T di depan kami tampak seperti pembatas antara dua dunia yang berbeda.
"Ini tempat rekreasi?" tanyaku pada Noland tak percaya bahwa di hadapan kami adalah tempat istana kerajaan.
"Terkadang, terkadang tempat ini diperbolehkan untuk digunakan umum, dan terkadang juga tidak. Tapi saat kemarin aku ke sini, ada beberapa anak-anak yang bermain dengan riang. Mungkin karena kemarin ada acara pendaftaran, tempat ini dibuka untuk umum. Jadi saat ini kita adalah tamu khusus!"
Ah ya, aku bisa melihat banyak prajurit penjaga yang melintas untuk berpatroli menjaga.
Aku bisa membayangkan ekspresi Noland saat datang pertama kali ke mari.
Oh, dia berusaha untuk mengesankanku ya?
"Oh... Wow," ucapku kagum dibuat-buat secara berlebihan.
"Meragukan."
"Ugh, tapi yah... Ini diluar dugaanku."
Dunia di depan kami mengingatkanku tentang suasana sebagai kecil dari wilayah Alpen. Membawa nuansa nostalgia.
Bagaimana wisatawan di sekitar kami? Sudah jelas mereka berkerumun di sekitar kami untuk melihat dunia yang berbeda ini, lama-kelamaan kondisi di sini semakin berdesakan.
"Ayo kita lanjutkan, Arthur," ajak Noland.
"Ya, ide bagus."
Melihat kondisi yang sudah semakin ramai, aku dan Noland memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Melihat kami yang berjalan ke depan, berbeda dengan semua orang yang tatap diam, orang-orang mulai ramai dan gaduh, alhasil keberadaan kami disadari oleh prajurit penjaga berpakaian dan bersenjata lengkap yang memang menjaga di sekitar, ia memberhentikan kami.
Noland memberikan prajurit di depannya itu satu gulungan kerta yang mungkin berisi tentang izin kami. Aku tidak tahu isi dari gulungan kertas itu, karena aku tak memintanya.
Tidak salah mempercayakan masalah ini dengan Noland.
Prajurit itu membaca berulang-ulang dengan teliti supaya tidak ada kesalahan. Penjagaannya lumayan ketat.
Perlu menunggu beberapa saat hingga prajurit itu memberikan perintah selanjutnya.
"Jadi, peserta khusus ya. Silahkan tetap berjalan dan serahkan surat ini lagi kepada penjaga yang ada di pos penjaga di dalam," ucap prajurit itu sambil menyerahkan kembali gulungan kertas itu kepada Noland.
Alhasil kami melanjutkan perjalanan dengan banyak tatapan penasaran orang-orang di punggung belakang kami.
Berjalan menyusuri jalanan kerajaan, sangat berbeda dengan berjalan di kota. Berjalan tanpa keramaian mempunyai nilainya tersendiri.
Beberapa menit setelah menyusuri jalan kerajaan berukuran empat kereta kuda sambil melihat kanan dan kiri untuk mengingat situasi ini, kami tiba di depan pintu gerbang masuk kerajaan. Seperti fungsinya untuk mempertahankan kerajaan, gerbang masuk ini disusun oleh bata tinggi dan kokoh, serupa dengan pintu gerbang masuk kota.
Tak perlu waktu lama untuk menemukan pos penjaga yang sesuai arahan prajurit sebelumnya, Noland memberikan lagi gulungan kertas itu kepada prajurit di dalamnya. Seperti biasa, ia membacanya berulang-ulang dan teliti. Beberapa kali prajurit itu masuk lebih dalam untuk memeriksa kebenaran gulungan kertas di tangannya dengan melihat dokumen jadwal hingga keraguannya sudah hilang seluruhnya.
Akhirnya, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada prajurit sebelumnya, keberadaan kami dinyatakan resmi.
Selanjutnya, kami dituntun masuk pos penjaga dan diarahkan ke suatu pintu ruangan. prajurit penjaga itu mengetok dengan anggun dan memberitahukan alasan keberadaannya saat ini.
Suara bariton pria dewasa terdengar menyahut dari dalam, mengizinkan kami masuk kedalam ruangannya, wilayahnya.
Setelah mendengar instruksi itu, prajurit yang mengetok pintu tadi menggenggam gagang pintu dan membukanya untuk kami.
Seperti keadaan deja vu, Noland melangkah masuk lebih dahulu dengan aku mengikutinya dari belakang. Satu kedipan mata, aku melihat seorang pria muda menggunakan seragam militer kerajaan sedang duduk dengan gagahnya di meja kerjanya. Seragamnya dipenuhi dengan aksesoris berwarna emas dengan beberapa tanda penghargaan yang dipamerkan di sana.
Belum sempat tiba di tengah-tengah ruangan, orang di depan kami berdiri dan mengucapkan selamat datang dengan sopannya.
"Selamat datang kembali di sini, aku sudah menanti kalian datang kemari," ucap orang untu dengan ramah.
Berhenti di tengah, Noland membalas ucapan ramah dari orang itu.
"Terima kasih sambutannya, Saya Noland Filibert, dan rekan saya Arthur Gunther, datang sesuai dengan perjanjian sebelumnya," ucap Noland sambil sedikit menunduk.
Mengikuti sikap Noland aku ikut menunduk juga.
__ADS_1
"Terima kasih atas kehadiran kalian, Saya ketua panitia pelaksana pendaftaran menerima kehadiran kalian."