
Singkat cerita, aku berhasil memberhentikan kereta kuda itu... yah... Walaupun hampir membuatnya terjungkir karena berhenti mendadak.
Tentu saja Paman yang mengendarainya sangat terkaget-kaget karena panggilan dan keberadaanku itu.
Dia tidak menyangka jika kami dapat bertemu kembali dengan sangat cepat.
Yah... Dunia memang sangat sempit.
Tak sampai situ, Paman itu pun sangat terkejut saat mengetahui keberadaan Evelyn bersamaku.
Kami memberitahukan kondisi kami dan alasan kami berada pada posisi ini.
Paman mengerti dan akan membantu kami untuk pulang kembali ke Monte Rosa.
Sungguh orang yang baik.
Aku dan Evelyn berterima kasih dan mulai masuk melalui gerbong kereta di belakang.
Di dalam gerbong itu terdapat berbagai macam barang-barang yang sepertinya akan dikirim.
Hari sudah sangat larut, namun paman masih terus bekerja?
Aku ingat, paman bekerja sangat keras untuk membiayai kebutuhan keluarganya yang ia tinggal jauh.
Kereta mulai berjalan dan meninggalkan tempat yang gelap dan menyeramkan ini. Yah walaupun aku sudah terbiasa... Aku masih dapat menilai bahwa tempat ini sangatlah menyeramkan.
Sangat-sangat wajar bila Evelyn tadi ketakutan setengah mati.
Tuk kitakituk kitakituk
Hanya ada suara tapal kuda dan suara barang-barang di dalam gerbong yang bergetar karena jalanan yang kurang rata.
Mungkin karena kelelahan dan mengantuk... Evelyn tertidur sambil bersender di pundakku.
Hari ini pasti termasuk hari yang berat baginya.
Belum lagi jadwal yang padat yang menantinya pada esok hari. Dia memang sangat perlu dengan istirahat.
Di dalam perjalanan hanya ada cahaya redup dari lentera yang digantung di samping tempat duduk paman yang ikut menemani kesunyian ini.
Paman sangat berani dan percaya diri saat menyusuri hutan yang gelap. Mungkin saja ada bandit atau semacamnya, kan?
Paman terlihat seperti tak peduli dengan nyawanya.
Dari penjelasan paman. Kami saat ini berada di luar kota Monte Rosa yang perjalanannya memakan waktu hampir 2 jam perjalanan menggunakan kereta kuda.
Hhh... Sangat merepotkan! Aku saat ini ingin sekali berbaring di atas tempat tidur yang sangat empuk!
Waktu terus berlalu, karena suara yang selalu konstan, mataku mulai memberat. Aku sangat ingin menutup mataku.
Tapi saat ini aku harus mempertahankan diriku agar tetap terbangun, untuk menemani Paman yang sedang fokus dengan jalan di depannya.
Sesekali paman membuka beberapa topik kecil untuk mengisi kesunyian dan melawan rasa kantuk.
Kereta kuda masih berjalan menyusuri hutan yang sedang ditiup angin.
Maaf paman... sepertinya aku sudah tak kuat lagi.
Aku pun memasrahkan diriku terlelap karena rasa kantuk yang sangat berat.
......................
Suara mulai riuh, seperti ada beberapa orang yang bercakap-cakap.
Seseorang mengguncang tubuhku, berusaha untuk membangunkanku.
"Sebentar lagi..."
Aku menjawab berhasil mendapatkan waktu tambahan.
Tapi sepertinya tidak... Tubuhku terguncang lagi dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.
"Arthur! Arthur!" Suara ringan seorang gadis kecil mulai perlahan-lahan aku dengar.
Aku dengan terpaksa mulai membuka kedua kelopak mataku.
Kelopak mataku lengket dan berair serta terdapat belek di sudut mataku.
"Huaahm... hm?"
Aku memutar kepalaku ke arah penyebabku terbangun.
Di situ ternyata ada Evelyn. Wajahnya masih mulus dan manis walaupun baru terbangun.
"Ah, Evelyn... Ada apa?" tanyaku sambil membersihkan belek mata di sudut mataku.
"Arthur kita sudah sampai!" ucapnya dengan penuh kegirangan.
Benar. Aku sudah tak merasakan getaran dan suara kereta kuda lagi. Kami sudah berhenti.
Suasana diluar masih gelap.
Karena penasaran dengan posisi kami saat ini aku mengubah pandanganku ke arah luar kereta kuda.
Kami sekarang berada di luar dinding perbatasan antar kota. Hanya berdua di atas kereta yang masih terikat dengan dua kuda yang bugar.
"Di mana Paman?" tanyaku ke Evelyn yang tampaknya sudah bangun lebih dulu dari aku.
"Paman sekarang sedang melapor ke pos penjaga di sana! Baru saja."
Evelyn menunjuk ke suatu titik, aku mengikuti arah jari telunjuk Evelyn.
Di situ tampak paman sedang berbicara dengan seorang prajurit penjaga tembok perbatasan yang berseragam lengkap.
Di luar pos penjaga terdapat banyak kuda yang siap untuk ditunggangi.
__ADS_1
Aneh... Biasanya setiap malam hanya ada satu atau dua kuda. Tapi saat ini, sangat ramai.
Bukan hanya itu saja, dari luar dinding aku dapat mengintip banyak prajurit yang lalu lalang berpatroli dengan lentera di tangan mereka.
Begitu gaduh.
Sebenarnya sedang ada apa?
Aku mengembalikan pandanganku ke arah Evelyn, untuk bertanya tentang ini.
Tapi saat aku melihatnya aku langsung mendapatkan jawabannya dalam kepalaku.
"Oh jadi begitu..." bisikku.
"Ada apa, Arthur?"
"Ah, tidak ada."
Kenapa aku sangat lambat menyadarinya ya? Mungkin karena aku baru bangun tidur.
Prajurit yang sedang di ajak paman berbicara tadi langsung terkejut dan buru-buru berjalan mengarah ke arah yang ditunjuk oleh paman. Ke arah kereta kuda ini.
Aku mulai meraih saku di dalam mantelku menyiapkan kartu data diri dan kartu asosiasi untuk memverifikasi diriku.
Prajurit yang berseragam lengkap itu menengok ke arah dalam kereta kuda.
Tentu saja hanya ada aku dan Evelyn di sini.
"Ah... Halo, Pak. Ini saya Arthur danー"
"Nona Evelyn sudah ketemu!!" teriak prajurit itu ke arah belakangnya menginformasikan ke arah teman-temannya.
Prajurit-prajurit di belakangnya pun mulai gaduh dan mulai menyebarkan informasi ke dalam kota.
Evelyn memang sangat terkenal, ya...
"Mari Nona Evelyn, saya antar kan kembali," ucap prajurit itu sambil menjulurkan kedua lengannya.
Hei... Bagaimana dengan ku?
"Eh.. Eh..." ucap Evelyn kebingungan sambil melihat ke arahku meminta pendapat.
Aku tersenyum dan mengeluarkan isyarat... 'Tak apa-apa kamu pergi duluan saja.'
Evelyn mengerti dengan wajah sedikit bersalah karena meninggalkanku.
Dia memang perlu Istirahat lebih.
Aku masih menunggu seorang prajurit untuk menjemputku.
Dan dia tak datang-datang.
Semua prajurit terfokus dengan Evelyn yang menuju ke dalam kota lebih dahulu.
Aku turun dari kereta kuda dan mulai berjalan mengarah ke arah tembok pembatas.
"Baiklah bila begitu, saya undur diri ya," ucap paman dengan nada sedikit kelelahan.
Masih banyak barang di dalam gerbong kereta yang harus segera di kirim.
Belum sempat membalas, paman sudah mulai berjalan berpapasan denganku.
Aku membalik tubuhku dan meraih tangan paman berusaha untuk menghentikannya.
Saat sudah kudapatkan tangan paman... Paman langsung spontan menatap ke arahku dengan kebingungan.
"Maaf Paman... Tapi semuanya masih belum selesai."
"Benarkah?"
"Iya, kami harus melaporkan hal ini lebih jelas."
Tampak masih tak mengerti, paman dengan terpaksa mengikutiku masuk ke dalam kota.
Kami dibiarkan masuk tanpa pengecekan.
Susana rumah-rumah di kota tampak tenang walaupun banyak prajurit yang tadinya mondar-mandir dengan gaduh.
Aku berencana untuk menemui Noland dan Mr.Meinhard. Tapi aku tak tau mereka di mana...
Mungkin sebuah keajaiban... Tiba-tiba dari depan tubuhku, aku melihat sebuah kereta kuda mewah melaju dengan cepat ke arah kami.
Beberapa saat berikutnya kereta kuda itu sudah sampai di depan kami.
Seseorang di dalamnya mencoba membuka pintu dengan cepat seakan tak sabaran.
Aku bisa mengetahui siapa yang melakukannya.
Tebakanku benar, itu adalah Noland. Pakaiannya masih belum berganti sejak terakhir kalinya kami bertemu.
Dia turun dari kereta kuda dan langsung berlari ke arahku seperti tergesa-gesa.
Tubuhnya tepat mendarat di tubuhku.
Karena keadaanku yang masih setengah mengantuk... Aku tak bisa dengan tepat menahan benturan yang terjadi. Hal hasil, tubuhku terdorong dua langkah ke belakang.
Noland memeluk dengan erat dengan wajahnya di dadaku.
Puas dengan memelukku, Noland melepas pelukannya dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua bahuku
"Arthur! Kamu kembali! Syukurlah... Aku sangat khawatir," ucap Noland terang terangan.
Kepolosannya masih kental di dalam dirinya.
"Iya... Aku sudah kembali."
__ADS_1
Sambil tersenyum, Noland menyadari keberadaan paman di belakangku. Dia berjalan mendekati paman dan menyambutnya.
Seseorang muncul lagi dari pintu kereta kuda di depanku.
Orang itu Mr.Meinhard.
Dengan postur tubuh yang ideal, Mr.Meinhard berjalan dengan gagahnya di hadapanku.
"Kau sudah kembali ya, Arthur."
"Ya, Mr.Meinhard. Apakah Mr.Meinhard mengkhawatirkanku?" ucapku bergurau sambil berjalan mendekati Mr.Meinhard dan memberikan barang-barang dari para pelaku penyergapan.
Mr.Meinhard mengerti dan menerima seluruh barang yang kuberikan.
"Yah... Sejujurnya aku sedikit khawatir. Akan sangat sulit mencari orang sepertimu lagi."
Itu pujian?
"Mr.Meinhard, perkenalkan... Orang ini yang menyelamatkan nyawaku dan Evelyn," ucapku sambil mengenakan paman di belakang yang sedang berbicara dengan Noland.
Sontak paman terkejut saat mengetahui Mr.Meinhard yang terkenal di hadapannya.
Entah sudah berapa kali paman terkejut.
Paman langsung memperkenalkan dirinya dengan lengkap dan jelas.
Mr.Meinhard menatap ke arahku dan setelahnya menghembuskan nafas panjang. Seakan-akan berkata, 'Baiklah akan kulakukan.'
Mr.Meinhard mengajak paman untuk menjauh dari keramaian, sepertinya mereka akan membicarakan hal yang penting.
Mr.Meinhard sangat suka kerahasiaan.
Sambil menunggu, aku berbincang-bincang dengan Noland.
Noland memberikan sarung tanganku yang tertinggal di tempat aku dan Evelyn menghilang.
Aku berterimakasih dengan Noland karena mengembalikan sarung tangan hadiahnya kepadaku kembali.
Selanjutnya aku harus lebih menjaga barang kepunyaan lebih baik lagi.
Setelahnya, Noland menjelaskan semua hal yang terjadi saat ketidakhadiranku di sini.
Ternyata yang mengajukan laporan pencarian adalah Ms.Ariadna. Dia sangat panik dan sempat mencurigai Mr.Meinhard sebagai dalang penculikan.
Tapi apa untungnya bagi Mr.Meinhard? Bukankah akan lebih untung saat Mr.Meinhard berhasil bekerja sama dengan Evelyn dari pada menculiknya.
Mungkin saja Ms.Ariadna melakukan itu karena kepanikannya.
Setelah Ms.Ariadna dapat berpikir dengan lebih jernih... Dia meminta maaf kepada Mr.Meinhard serta Noland.
Pencarian terus di dalam kota selama berjam-jam tapi hasilnya masih nihil.
Dan akhirnya diputuskan untuk melakukan pencarian di luar kota, di desa-desa kecil di sekitar Monte Rosa.
Baru saja hendak melakukan pencarian... Mr.Meinhard, Ms.Ariadna, dan Noland mendapatkan informasi bahwa Evelyn telah kembali dengan selamat.
Aku? Aku bagaimana?!
Ms.Ariadna mengikuti para prajurit yang akan menuntunnya ke Evelyn dengan penuh syukur dan kebahagiaan.
Karena ketidakjelasan keberadaanku, Noland membujuk Mr.Meinhard untuk pergi ke perbatasan mencariku.
Dan begitulah pertemuanku kembali dengan Noland dan Mr.Meinhard.
Sekarang giliranku untuk menceritakan kejadian yang terjadi.
Tapi belum sempat membuka mulut, Mr.Meinhard dan paman sudah kembali dari pembicaraan rahasia mereka.
Kebahagiaan terlukis di wajah paman. Syukurlah...
Setelah itu, paman berpamitan denganku dan Noland, serta berterima kasih dengan Mr.Meinhard.
Paman pun langsung pergi kembali ke kereta kudanya.
Huh... hari yang begitu panjang dan melelahkan.
Setelah paman sudah tak terlihat, aku mulai berjalan menuju penginapan untuk beristirahat.
Aku juga berencana untuk pagi ini langsung pergi ke perpustakaan. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini!
"Kau mau kemana?" ucap Mr.Meinhard memberhentikanku dengan kata-katanya.
"Ke penginapan. Aku ingin tidur lagi."
"Kau tak boleh pergi dari sini."
"Heh!? Kーkenapa?" tanyaku terkejut.
"Kau tidak masuk dalam daftar korban penculikan, dan karena kau menghilang bersama dengan hilangnya nona Evelyn. Kamu masih diduga menjadi tersangka."
"Hah?! Aku tersangka? Aku itu korban!" ucapku membela diri.
"Ya... Kami juga percaya itu. Tapi kamu harus membuktikan hal itu nanti saat kamu di interogasi."
"Bagaimana caranya aku membuktikannya?!"
Di sini tidak ada CCTV atau hal lain yang semacamnya.
"Tentu saja dengan pelaporan dari korban, dari nona Evelyn langsung."
"Kalau begitu, hanya sebentar saja, kan?" ucapku dengan penuh harapan.
"... Sayangnya jadwal nona Evelyn masih akan terus berjalan. Jadwalnya begitu padat."
"JーJadi..."
__ADS_1
"Kamu akan tetap berada di pos keamanan selama seharian penuh."
"AAHH! TIDAK LAGI!"