
Baru beberapa langkah dari gerbang masuk, kami sudah dapat mendengar kemeriahan di depan sana.
Suara alat musik bersatu padu, dengan para penari menarikan tarian tradisional di kota ini.
Walaupun disebut kota... tempat ini sebagai besar masih berupa rerumputan hijau dengan sungai kecil membatasi.
Pepohonan rindang seolah-olah ikut meramaikan suasana.
Dari kejauhan, akan dapat terlihat dua buah gunung kembar yang seolah-olah menyapa setiap orang yang melihatnya.
Walaupun rerumputan sedikit basah karena hujan yang terjadi tadi, itu tidak menjadi hambatan dari penari untuk menari diatasnya.
Aku dan Noland memutuskan untuk menonton sebentar pertunjukan tari itu.
Para penonton sangat antusias menonton tarian itu, mereka duduk bersantai menikmati tarian itu di tempat yang telah disiapkan sebelumnya.
Penari terdiri dari beberapa kelompok kecil, mereka semua memakai gaun dan setelan khas daerah ini.
Gaun yang digunakan oleh para wanita berwarna biru cerah yang menutupi sebagian baju putih didalamnya yang mencuat keluar gaun.
Setelah pria berwajah merah dengan dilengkapi topi diatasnya.
Yang menari di sana bukan hanya orang dewasa saja, di situ pula terdapat anak-anak yang menari dengan gembiranya.
Dengan melihat kemeriahan itu serta pemandangan dibelakangnya, akan memberikan nuansa penuh inspirasi.
Bagaimana dengan suhunya? suhunya hampir sama dengan wilayah Alpen, namun disini terasa lebih hangat.
Setelah menonton sesaat, aku dan Noland melanjutkan perjalanan kami menuju asosiasi pedagang.
di dalam perjalanan...
"Baik Noland, tidak disangka kita sudah berada di kota ini bukan? sungguh pencapaian kecil yang luar biasa!" ucapku membuka topik.
"Kamu benar Arthur... tidak disangka kita sudah berada di kota penuh keceriaan dan kegembiraan ini, aku merasa nyaman berada disini..." jawab Noland.
"Ya... tapi kita harus tetap waspada, kita masih belum tau hal apa yang akan terjadi di kota ini. Jadi untuk jaga-jaga, anggap saja semua orang di sini siap mencelakai kita kapan saja."
"Woah Arthur... kamu mencurigai semua orang di sini ya...?"
"Ya... anggap saja... untuk jaga-jaga..."
"Haha! iya... aku mengerti Arthur!"
Sepertinya Noland sudah mengerti sejak awal percakapan kami, dia sudah berubah banyak ya...
"Omong-omong Noland, bagaimana jika kita mampir ke tempat makan dulu? sebelum kita pergi ke asosiasi pedagang" ajakku.
"Ide bagus Arthur!" ucapnya setuju.
"Baiklah, Ayo!"
Kami berkeliling dan menengok kanan dan kiri untuk mencari tempat makan yang dapat kami singgahi.
Setelah beberapa saat akhirnya kami menemukannya.
Tempat makan itu berupa seperti warung pada umumnya, didalamnya sudah tersedia banyak kursi yang menunggu untuk diduduki.
Aku dan Noland setuju untuk makan di sana.
Saat aku dan Noland ingin menuju kursi di dalam sana, ada seorang anak laki-laki yang menabakku, tabrakan tidak terlalu keras.
Anak laki-laki itu terlihat sangat kurus sekali, dengan sebagai tulang sudah terlihat.
__ADS_1
Dia meminta maaf kepadaku dan langsung pergi begitu saja.
Jika kata pedagang yang menjual makanan di tempat ini, anak kecil itu sering sekali kemari untuk meminta makanan. Walaupun kadang tidak diberikan, anak itu terus datang kemari dan...
Entah kenapa sering menabrak para pelanggan yang sedang ingin duduk di dalam tempat makan ini.
Tentu saja pedagang itu dapat memberikan informasi itu karena Noland yang bertanya kepadanya.
Huh... aku masih payah dalam membuka topik dengan orang lain.
Aku dan Noland akhirnya memutuskan untuk duduk disalah satu kursi yang disediakan di dalam sini.
Aku memilih duduk di kursi yang dibelakangnya terdapat tembok, supaya aku dapat bersandar sesuka hatiku.
Kami berdua menaruh ransel kami di bawah meja.
Di daftar menu terdapat makanan berupa daging, bubur, sayuran, serta beraneka ragam minuman.
Aku memesan bubur hangat dan segelas teh, begitu pula Noland.
Ada cerita yang begitu unik dari penemuan teh.
Teh pertama kali ditemukan secara tidak sengaja sekitar tahun 2737 Sebelum Masehi. Saat itu daun teh hijau jatuh ke dalam cangkir air panas milik Kaisar China, Shen Nong.
Kaisar pun memutuskan untuk meminumnya, setelah itu ia menyukai teh tersebut.
Sungguh kebetulan sekali bukan?
Setelah mengingat-ingat cerita itu yang kudapatkan dari buku di Alphen, aku merasakan tatapan saat seseorang didepanku.
Itu berarti dari Noland.
Noland menatapku, seperti ingin menanyakan sesuatu.
"Kamu sudah menyadarinya sejak awal kan?" tanya Noland ke topik utama.
"Tentang apa?" tanyaku meminta kejelasan lebih.
"... Tentang anak laki-laki kurus yang menabrakmu tadi," ucap Noland.
"Oh tentang anak itu... anak yang berusaha untuk mencopetku tadi?"
"Iya... tenang dia... kenapa kamu tidak menindaklanjuti itu?"
"Kenapa aku tidak menindaklanjuti itu? hmm... pertama aku tidak merasa kehilangan, karena dompet ataupun segala macam hal penting sudah kuamankan di kantong di dalam mantel ini. Kedua, aku tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan itu, kita sama-sama kasta bawah. Dan yang ketiga, tidak ada untungnya aku melakukan hal itu," jawabku menjelaskan.
Aku telah menambahkan beberapa kantong di dalam mantel yang kugunakan ini, untuk mengamankan barang-barang berharga.
"Tapi Arthur, banyak orang yang telah menjadi korbannya..."
"Iya kamu benar, tapi... bila aku menindaklanjuti itu... anak itu tak akan bisa bertahan hidup."
"Tak bisa bertahan hidup?"
"Saat ia mencoba mengambil dompetku atau semacamnya di dalam kantong mantelku, pergerakannya sangat cepat dan terlihat begitu natural. Dia sudah melakukan ini bahkan bertahun-tahun..."
"... Oleh karena itu, aku mendapatkan kesimpulan ataupun dugaan sementara..." lanjutku.
"Apa itu Arthur?"
"... bahwa pedagang yang memiliki tempat makan ini, bersekongkol dengan anak kecil itu."
"...!"
__ADS_1
"Anak kecil itu mendapatkan makanan dengan cara mencopet barang berharga pelanggan di tempat makan ini dan menyetorkan ke pedagang itu... jika aku menindaklanjutinya, mungkin saja anak itu tidak akan mendapatkan makanan."
"Jadi... bagaimana ini Arthur...?"
"Biarkan saja, anggap saja ini seperti rintangan awal sebelum masuk dunia yang sesungguhnya. Jadi kita haruslah pintar-pintar menjaga sesuatu dan diri kita sendiri."
"... baiklah Arthur, aku setuju."
Dunia ini sama dengan hutan rimba.
Siapapun yang lengah, maka akan diterkam oleh pemangsa.
Setelah percakapan itu, makanan dan minuman kami pun tiba.
Aku dan Noland segera menyantap makanan itu!
...****************...
Kami telah pergi dari tempat makan itu, dan sedang mencari peta kota ini.
Kami tidak tahu letak dari asosiasi pedagang secara pasti, oleh karenanya kami akan melihat di peta kota yang mungkin tersedia di sekitar sini.
Setelah beberapa kali menoleh kanan dan kiri, kami melihat peta kota itu tertempel di samping papan pengumuman.
Kami bergegas untuk menuju ke peta itu.
Ukuran peta itu lumayan besar, peta itu memiliki papannya sendiri untuk ditempeli.
Aku dan Noland mencari dengan teliti di mana letak asosiasi pedagang.
Kenapa tidak bertanya dengan para penduduk sekitar saja? itu mungkin ide yang bagus, namun akan kami jadikan cadangan saat ternyata tidak ada peta kota di sekitar sini.
Setelah mengamati beberapa menit, Noland menemukannya.
Letak asosiasi dagang itu terletak di pusat kota, ke arah utara dari sini.
Akhirnya kami menemukannya! tinggal berjalan beberapa menit dan kita sampai!
Sedari tadi saat kami sedang mengamati peta dihadapan kami, perhatian kami sesekali berpindah ke papan di sebelahnya, papan pengumuman.
Di papan pengumuman itu, terdapat sebuah poster yang sangat mencolok.
Di dalam poster itu, terpampang sebuah wajah anak gadis kecil sebaya dengan kami yang sedang memegang gitar dengan sangat gembiranya.
Di bawah gambar anak itu tertulis...
[ Artis cilik ini siap menggetarkan hati kalian di pentas pusat kota nanti! pada pukul... ]
"AーArthur! ada Artis! Ini artis yang terkenal saat ini!" ucap Noland kegirangan.
Dapat dibilang Noland sangat menggemari artis ini... artis cilik yang tiba-tiba memikat hati beberapa tempat dengan kecantikannya serta suaranya.
Hmm... artis ya...
"Noland, bagaimana ketika kita selesai dari asosiasi pedagang, kita berkunjung sebentar ke pentas itu?"
"Benarkah Arthur?! Aku sangat setuju!"
"Baiklah bersemangat lah!"
"Aku bersemangat!"
Aku dan Noland mulai berjalan ke arah utara, menuju pusat kota.
__ADS_1
Sebentar lagi kami akan dapat mendatangi asosiasi pedagang, tujuan awal kami.