Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Terjebak


__ADS_3

Sebelum selesai mengatakan seluruh kalimatku... Kepalaku tiba-tiba terasa amat sangat pusing.


Seperti dunia ini bergetar sangat dahsyat.


Sama seperti getaran pada saat itu.


Aku tak kuat menjaga kesadaranku... Aku menjatuhkan diriku ke sofa.


Pandanganku perlahan-lahan hitam total.


Apa aku akan mati?


...


...


"Mama!"


"Jangan mendekat! Pergilah, cari tempat yang aman."


"Tapi aku gak mau ninggalin Mama..."


"Pergilah! Aku mohon, tetap hiduplah."


...


...


Kesadaranku tiba-tiba kembali, dan pengelihatanku sudah normal lagi.


Aku masih hidup?


Aku membuka mataku secara perlahan-lahan.


Cahaya mulai terlihat.


Aku sudah tersadar.


Aku ingin menggerakkan tanganku... tapi tak bisa. Aku menengok ke arah tanganku, mencari penyebabnya.


Ternyata tanganku terikat oleh tali dengan sangat keras dan lilitan tali itu terlihat sangat rumit.


Aku menyadarinya.


Dari pipiku dan lengan kananku, aku dapat merasakan hawa dingin.


Aku ternyata sedang terbaring miring di atas lantai.


Lantai ini... berbeda dengan lantai di pabrik tadi. Dimana ini?


Aku panik, dan rasanya aku ingin menangis.


"Evelyn, kamu sudah sadar?" tanya seseorang dari bagian belakangku.


Suara ini...


"AーArthur?!"


"Ya... Benar."


Aku menahan tangisanku yang hampir keluar.


Aku mencoba untuk bangkit dari posisi terbaring ini.


Agak susah untuk terbangun... Aku melihat ke arah kakiku. Kakiku terikat juga.


Aku terus mencoba untuk bangkit, dan akhirnya berhasil.


Aku memutar badan mencari Arthur.


Aku menemukannya di belakangku.


Kondisinya sama denganku. Tangannya terikat ke belakang dan kakinya terikat dengan sangat rapat.


"Arthur, apa yang terjadi?!" tanyaku dengan panik.


"Seperti yang kamu lihat, kita sedang disekap. Tapi tenanglah, kita pasti akan baik-baik saja," ucap Arthur menenangkanku.


Dia mengatakan itu dengan wajah tenang dan sedikit... kesal.


Aku melihat ke sekitar.


Tempat ini tampak seperti gudang kecil. Banyak barang yang disimpan di sini... mulai dari kertas, kayu, bahkan kaca.


Aku melihat ke arah saluran udara, memastikan kondisi diluar.


Tidak ada cahaya, sudah gelap.


"Seperti yang kamu duga, saat ini sudah malam."


Apakah dia bisa membaca pikiran?


Walaupun Arthur menyuruhku untuk tetap tenang, aku tak bisa. Aku sangat panik.


Peristiwa yang sangat tiba-tiba.


Aku mengembalikan pandanganku ke Arthur yang masih diam.


"Apa yang akan terjadi dengan kita?"


"Mr.Meinhard dan Ms.Ariadna pasti sudah bertindak. Mereka pasti sedang mencari kita."


"Apa mereka akan menyelamatkan kita?"


"Tentu, Pasti."

__ADS_1


Kenapa kita disekap? pertanyaan itu tak perlu ditanyakan, karena aku sudah mengetahuinya.


Orang yang menyekap kami, ingin tebusan.


"Evelyn, maaf. Semua ini terjadi karena kelalaianku. Aku tak menyangka akan terjadi hal semacam ini."


"Tidak Arthur, Ini juga salahku."


Aku mendekati Arthur yang berada di dekat dinding. Aku duduk di sebelahnya dan bersandar ke dinding yang dingin dan keras.


......................


Waktu terus berlalu, hari sudah semakin gelap, ketidakjelasan menghantui pikiranku. Kepanikanku bertambah.


"Evelyn, tenanglah. Percaya kepadaku... Kita pasti akan selamat," ucap Arthur di sampingku.


Wajahnya masih terlihat kesal. Sepertinya dia kesal karena peristiwa ini yang melibatkanku.


Melihat Arthur yang tetap renang, aku pun mencoba menenangkan diriku dengan cara menarik dan mengeluarkan nafas.


Saat aku mencoba menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menuju ke ruangan ini.


Upayaku untuk menenangkan diri hancur berantakan. Aku panik kembali.


Arthur langsung menatap ke arah pintu. Kenapa dia bisa sangat tenang?


Beberapa saat kemudian, gagang pintu bergerak dan pintu pun terbuka. Seseorang muncul dan melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Sudah kuduga Kau..." ucap Arthur dengan nada kesal.


Orang di depan kami... sepertinya aku pernah melihatnya.


"Syukurlah kalian sudah bangun," ucap orang itu.


"Tolong lepaskan kami," ucapku.


"Tidak Evelyn, dia bukan penyelamat kita. Dia adalah dalang di balik ini... Sang kepala pekerja."


"Benar! Itu aku! Kau memang pintar Arthur. Aku sangat bahagia hari ini, karena mendapat mangsa yang sangat bagus... Si Jenius dan Si Artis yang sedang naik daun. Aku pasti akan mendapatkan banyak uang!"


Mendengar perkataannya, aku sangat ketakutan, badanku sedikit bergetar.


"Mr.Meinhard pasti akan menyelamatkan kami," ucap Arthur.


"Mr.Meinhard? Haha! Dia sangat panik dan kebingungan di sana! Tidak mungkin dia akan menemukan kalian. Lagi pula... kalian saat ini sedang berada di luar dari Monte Rosa."


Di luar kota? Kami di luar kota?!


Cahaya harapanku tiba-tiba menghilang. Cahaya yang membuatku tatap tegar tiba-tiba tak terlihat. Ini sama seperti saat itu.


Air mataku tiba-tiba keluar tanpa kusadari. Aku menangis ketakutan.


"Haha! menangis lah! Tidak akan ada yang mendengarmu."


"Di luar kota? berarti kau tidak bekerja sendiri... kau bersekongkol."


"Terima kasih atas pujianmu... Tapi sayangnya, kami akan tetap akan selamat dari sini."


"Haha! silahkan bermimpi!"


Setelah mengatakan itu, Orang itu langsung keluar dari ruangan dan membanting pintu sangat keras.


Suara tertawa orang-orang muncul dari luar ruangan. Mereka mungkin sedang berpesta.


"Setidaknya berikan kami makanan atau hal yang lainnya kek," bisik Arthur samar-samar.


Arthur mengganti pandangannya ke arahku.


"Tenanglah, dia hanya menggertak."


"Tapi Arthur, kita sudah sangat susah untuk ditemukan... sudah tak ada harapan lagi," ucapku sambil menangis ketakutan.


"Tak ada harapan? Siap yang bilang begitu? ... Walaupun memang tak ada harapan, maka aku akan membuat harapan itu sendiri."


Setelah mengatakan itu, Arthur menggerakkan tangannya yang terikat di belakang tubuhnya. Sepertinya sedang meraih sesuatu.


"Dapat!" ucap Arthur dengan bahagia.


Aku berhenti menangis dan melihat apa yang sedang Arthur perbuat.


Di belakang mantelnya, terdapat sebuah saku kecil. Aku tak pernah melihat mantel yang berisi dengan saku yang terletak di belakang.


Sepertinya itu sudah di siapkan sejak awal.


Arthur meraih sesuatu dari saku itu. Dan muncul sebuah baja pendek dan tips.


"Untunglah mereka semua bodoh," ucap Arthur sambil memegang baja pendek itu dengan kedua jarinya.


Arthur merangkak ke arah belakangku dan membelakangiku.


Dia menggosokkan baja pendek dan tipis itu ke tali yang terikat sangat rumit dengan jari yang sebisanya.


Tak lama kemudian aku merasakan tali itu putus, aku pun mencoba menggerakkan tanganku.


Perlahan-lahan ikatan tali itu perlahan merenggang dan terlepas.


Aku merasakan kebebasan pada bagaian tanganku.


"Sekarang lakukan hal yang sama pada tali bagian kakimu, dan selanjutnya aku." ucap Arthur sambil menyerahkan baja itu.


Aku menurutinya dan menggosok baja itu ke tali bagian kakiku. Setelah itu ke Arthur.


Kami sekarang telah terbebas dari ikatan tali yang mengikat kami.


"Arthur, Kita bebas!"

__ADS_1


"Kita masih belum bebas bila tidak keluar dari ruangan ini," ucap Arthur sambil memijat pergelangan tangannya.


"Kamu benar Arthur, kita masih belum bebas."


Arthur berjalan mendekati pintu dan meraih gagangnya.


"Sepertinya dikunci," ucap Arthur setelah mencoba membuka pintu.


"Apa yang akan kita lakukan?"


"Sebenarnya aku tak ingin menggunakan cara ini... Tapi dengan kondisi saat ini, cara itu adalah cara terbaik," gumam Arthur.


Suara tertawa orang-orang diluar masih terdengar.


Arthur berjalan ke arah salah satu lemari yang berisi banyak barang yang sangat berantakan.


Dia mengambil sebuah benda... Guci yang terbuat dari kaca.


"Evelyn bersembunyilah, aku akan menyusul," ucapnya sambil berjalan membawa guci kaca di tangannya.


Aku menurutinya, aku bersembunyi di tumpukan kertas jauh di samping kanan pintu.


Arthur berdiri jauh dari pintu, dia mengangkat guci itu dan melemparnya dengan sangat keras.


Prang!


Suara kaca dan suara hantaman pada pintu terdengar sangat keras, mengalahkan suara tertawa orang-orang diluar sana.


Setelah itu terjadi, Arthur langsung berlari ke arah persembunyianku.


"Suara apa itu?" suara seseorang dari luar ruangan.


"Bocah-bocah itu! mereka pasti sedang berusaha melarikan diri. Biarkan aku mengurus mereka," ucap orang yang bertemu dengan kami tadi.


'Bagus! merek terpancing!" ucap Arthur di sampingku.


Dia meraih sesuatu di sakunya yang lain. Seberapa banyak saku yang dia punya?


Sesuatu muncul, sebuah... balok persegi panjang?


"Benda apa itu?" tanyaku.


"Lihat saja nanti," ucap Arthur dengan tak sabar.


Orang yang tadi kami lihat, masuk kembali ke dalam ruangan dengan sangat panik.


"Sialan! Dimana bocah itu," ucap orang itu sambil berjalan menyusuri ruangan mencari kami.


Arthur disampingku mulai berjalan secara sembunyi-sembunyi ke arah belakang orang itu.


Aku sangat ketakutan.


Perlahan-lahan Arthur semakin dekat orang tersebut.


"Selamat malam tuan," ucap Arthur berjalan mendekat dari arah kanan pintu.


Orang yang hendak pergi untuk memberitahu teman-temannya pun langsung berhenti dan melihat Arthur disampingnya.


"Kau! Diam di situ!" ucapnya sambil berlari kecil ke arah Arthur.


"Kau salah mengambil keputusan," ucap Arthur sambil menunjuk benda aneh di tangan kanannya.


"Tutup mulutmu bocah!"


Orang itu meraih lengan kiri Arthur, tapi... bagian pinggul atas orang tersebut bersentuhan dengan benda aneh yang dimiliki Arthur.


Arthur mengenai bagian pinggul atas orang tersebut seperti sedang menusuknya.


"Apー Akhh!!" jerit kesakitan orang itu.


Pegangannya terlepas dan tubuhnya jatuh terbanting ke lantai dengan masih menjerit kesakitan.


"Tenang saja kau tak akan mati," ucap Arthur berdiri di sampingnya.


Aku keluar dari tempat persembunyianku dan mendekati Arthur.


"Arthur... Tenda apa itu?" tanyaku ketakutan.


"Benda yang telah menyelamatkan ribuan orang dari banyak kejahatan. Stun Gun."


"Stun gun?"


"Tunggu sebentar, pekerjaanku masih belum selesai."


Arthur berjalan ke sisi samping, mendekati lemari penuh barang.


Dia menjatuhkan segala barang, sehingga suara yang ditimbulkan sangat keras.


"Apa yang terjadi?!"


"Sial! kita harus melihatnya!"


Suara banyak orang gaduh dari luar ruangan.


"Arthur, mereka ke sini."


"Seperti yang diharapkan. Evelyn, kamu tinggal sebentar di sini..."


Arthur berjalan perlahan keluar melalui pintu.


Cahaya yang lebih terang mengenai tubuh bagian depannya.


Dia berjalan sangat percaya diri.


Bagaikan seorang pahlawan.

__ADS_1


"... Aku akan memberikan mereka pelajaran berharga yang tak akan pernah mereka lupakan."


Cahaya harapanku muncul kembali.


__ADS_2