
Kami tiba di pusat kota.
Di sini, keramaiannya dari para penduduk, pengunjung, dan pedagang menghiasi jalanan itu.
Di sisi kanan dan kiri jalan berjejer para pedagang yang menjual berbagai macam barang, mulai dari sayuran, buah-buahan, makanan ringan, serta perlengkapan berburu.
Noland disampingku, melihat kanan dan kiri, melihat segala barang yang dijual oleh para pedagang dengan sangat antusias.
Setelah beberapa langkah, kami sudah berada di depan asosiasi pedagang yang sejak dulu ingin kami kunjungi.
Tempat itu terlihat seperti gedung besar dengan pilar-pilar kokoh yang siap menopang.
Untuk menuju kedalam, kami harus menaiki beberapa anak tangga dan melewati pintu besar di depan sana.
Banyak orang yang datang pergi dari tempat itu.
Noland, matanya berbinar-binar, takjub dengan rupa gedung itu dari luar.
Setelah kami melewati pintu masuk besar, pandangan kami disuguhi oleh besarnya ruangan didalamnya serta keramaian orang-orang yang mondar-mandir di situ.
Ruangan di dalamnya seperti aula besar dan luas.
Tentu saja suara yang menyelimuti di ruangan ini adalah suara keramaian orang-orang, dengan banyak keperluan di sini.
Noland bertambah takjub saat melihat ke dalam tempat ini.
Di depan sana sepertinya terdapat meja resepsionis untuk pendaftaran anggota pedagang dan lain-lain.
"Noland, aku akan ke depan sana untuk mendaftarkan kita menjadi anggota pedagang di sini," ucapku sambil menunjuk ke arah depan sana.
"Woah! jadi aku? aku bagaimana?" tanya Noland menanyakan perannya.
"Tentu saja kamu memiliki sebuah tugas yang amat sangat penting! kamu bersosialisasi lah dengan orang-orang di sini, dan coba buat sebuah ikatan pertemanan mungkin... dan lain-lain..." ucapku menjelaskan tugasnya.
"Itu sangat cocok untukku! baiklah Arthur... aku akan melaksanakannya sekarang... kamu berhati-hati ya di sana!"
"Ya kamu juga! nanti kita bertemu lagi di titik ini."
Dengan mengangkat ibu jarinya, Noland sudah mulai menjalankan tugasnya itu.
Aku juga tak boleh kalah.
Aku berjalan perlahan di antara kerumunan menuju ke arah meja resepsionis itu.
Di sana banyak orang yang mengantri menunggu giliran, aku ikut dalam antrian panjang itu.
Dari yang kulihat dari sini, orang-orang yang berada paling depan akan ditanyakan keperluannya.
Di dalam kasus yang kuperhatikan sekarang, orang itu diberikan sebuah formulir untuk diisi oleh berbagai macam data.
Setelah selesai diisi, formulir itu diberikan kembali ke resepsionis, dan mulai diproses.
Tak lama kemudian, resepsionis itu memberikan sebuah kartu... mungkin saja itu kartu keanggotaan.
Selain melakukan pendaftaran, di sini juga aku dapat melihat sebagai orang mengambil beberapa uang... mungkin seperti bank!
Setelah beberapa menit menunggu, giliranku pun tiba.
Resepsionis itu menanyai keperluanku... aku menjawab ingin melakukan pendaftaran anggota.
Resepsionis itu mengerti dan memberikanku selembar formulir, sama seperti orang yang kuperhatikan tadi.
Di dalam formulir itu terdapat beberapa bagian yang harus diisi. Antara lain: nama, jenis kelamin, tanggal lahir, asal tempat tinggal, nama kedua orang tua, pilihan menetap atau berkelana, nomor kependudukan, dan tanda tangan.
Aku mengisi semuanya dengan sangat yakin dan teliti.
__ADS_1
Setelah selesai dan kucek lagi... aku memberikan formulir itu kembali ke resepsionis.
Resepsionis itu menerimanya, dan langsung duduk untuk memprosesnya.
Dan nanti kartu tanda keanggotaanku akan jadi!
Bagaimana dengan kartu Noland? apakah dia tidak dibuatkan? ya... kami telah berdiskusi tentang hal itu... dan akhirnya diputuskan bahwa aku yang akan memegang seluruh dana perjalanan kami... layaknya seorang bendahara.
Noland juga berkata bahwa dia sangat payah dalam menjalankan bisnis, dia lebih ahli untuk mengkomunikasikan barang yang dijual.
Akhirnya resepsionis itu bangun dari tempat duduknya dan memberikanku sebuah kartu, kartu tanda anggota.
Jika kubaca-baca aku dapat menggunakan kartu ini untuk menabung di sini... tapi itu nanti saja...
Aku berterimakasih kepada resepsionis itu dan pergi dari antrian, aku mempersilahkan orang dibelakangku untuk maju.
Aku sekarang menuju ke titik janji pertemuanku dengan Noland.
Di sana... Noland masih belum kembali. Semoga saja tidak ada hal yang buruk terjadi dengannya...
Aku duduk di lantai dan menyandarkan punggungku pada pilar di belakangku, sambil menatap kartu anggota pedagangku.
Apakah membuat kartu anggota tidak mengeluarkan biaya? tentu saja mengeluarkan biaya! tapi tenang saja... itu pasti kembali lagi ke tanganku.
Di kartu itu tertulis namaku, jenis kelamin, tanggal lahir, asal, dan tanda tangan. Di bawah kartu tercantum nomor anggotaku...
Saat aku sedang mengagumi kartu anggotaku, ada sebuah suara yang memanggilku.
"Arthur...!" Suara ini adalah suara Noland.
Dia berlari ke arah sini dengan bahagia, sepertinya tugasnya sudah terselesaikan.
Aku bangun dan menuju ke arahnya.
"Sudah Arthur! aku ke sini untuk mengajakmu untuk menemuinya... ayo sini!" ucap Noland.
Noland memang sangat bisa diandalkan!
"Baiklah ayo!"
Noland menuntunku menuju lokasi orang yang dia maksud.
Bagaimana rupa orang itu ya? apakah dia baik? dia berasal dari desa mana? itulah beberapa pertanyaan yang ada didalam pikiranku.
Kuharap sesama pedagang pemula... kita dapat bekerja sama dengan baik!
Noland membawaku jauh ke pojok ruangan besar ini.
aku tak sabar bertemu dengan orang yang Noland maksud.
... dia membawaku menaiki tangga? apakah kita boleh menaiki tangga?
Orang yang menjaga itu sepertinya tidak melarang kita menaiki tangga itu.
"Hey Noland... apakah kita sudah benar?" tanyaku memastikan.
"Tenang saja Arthur... dia ada didepan sana!" jawab Noland.
Di depan sana? ... tidak ada siapa-siapa di depan sana.
Aku terus berjalan dengan Noland menuntunku dengan percaya diri.
Di lantai atas hanya ada banyak pintu yang tidak mungkin kita buka, karena sudah terkunci rapat sejak awal.
Noland membawaku ke sini untuk apa? tidak ada satu orang pun di sini.
__ADS_1
Dia terus menuntunku ke arah depan.
Aki tetap percaya dengan Noland.
Jika kulihat ke lantai bawah, sangat amat banyak orang yang berkerumun di sana, dari sini orang-orang itu seperti semut-semut kecil.
Akhirnya Noland terhenti di depanku.
"Di sini dia Arthur!" ucap Noland mengatakan bahwa kita telah sampai.
Aku masih tidak melihat siapapun selain kami di sini.
Noland memutar badannya mengarah ke arah kananku.
Di kananku sekarang, terdapat... pintu megah dan besar.
"...." aku tak dapat berkata apa-apa.
Noland tiba-tiba meraih gagang pintu itu dan membukanya dengan santainya.
Pintu itu terbuka, hawa hangat mulai keluar dari ruangan di dalamnya.
"Ayo Arthur..." ajak Noland menarik tanganku.
Sepertinya emosi tidak terlukis di wajahku.
Aku sudah berhasil dibawa olehnya ke dalam ruangan itu.
Di dalam sana terdapat beberapa kursi dan sofa yang sudah disiapkan, rak buku di sisi kanan dan kiri ruangan.
Penerangan di ruangan ini sangat bagus, segala sisi terkena dengan cahaya dari matahari maupun lampu.
Di depan pandanganku, terdapat meja besar yang tertumpuk oleh banyak dokumen.
Dan di meja itu terdapat seseorang pria yang melihat kami.
Pakaiannya berupa mantel hitam yang dipinggir mantel itu terdapat corak berwarna coklat terang.
Mantel itu menutupi pakaian kemeja putih di dalamnya.
Gaya rambutnya, menyesuaikan dengan tren rambut era ini.
Dari rupa wajahnya, sepertinya dia sangat merawatnya.
"Halo Mr.Meinhard, ini temanku yang aku maksud tadi!" ucap Noland ke pria itu seperti sangat akrab.
"Oh temanmu itu... ayo silahkan duduk dulu," jawab pria itu.
Noland menarik tanganku ke arah sofa yang berada di tengah-tengah ruangan.
Kami duduk di sana, begitu pula dengan pria itu.
"Baiklah saya akan memperkenalkan ulang diri saya," ucap Noland.
"Saya Noland Filibert dan teman saya di samping saya adalah Arthur Gunther, kami berasal dari wilayah Alpen," ucap Noland mengenalkan diri.
"Senang bertemu dengan kalian, Nak Noland, Nak Arthur. Perkenalkan nama saya Meinhard... saya pengelolaan asosiasi pedagang ini," ucap pria itu memperkenalkan diri.
"PーPengelola asosiasi?" tanyaku ke arah Noland, memastikan.
"Iya! itu dia! Mr.Meinhard!" Noland menjawab dengan penuh senyum di wajahnya.
Aku menolehkan wajahku ke pria itu, dan dia tersenyum juga kepadaku.
Noland... kamu sungguh keterlaluan.
__ADS_1