Kembali Ke Awal

Kembali Ke Awal
Pagi yang Dingin


__ADS_3

Mataku terbuka dan tubuhku bangun secara otomatis.


Sensasi yang sama seperti hari-hari sebelumnya.


Jika kutebak, saat ini aku terbangun pada saat pukul 4 pagi, sama seperti hari-hari biasanya.


Saat kulihat di celah-celah fentilasi, aku masih belum dapat melihat sinar matahari.


Saat aku perlahan-lahan menyingkirkan selimut yang sedang kupakai, hawa dingin mulai menggerogotinya tubuhku. Padahal baju yang kupakai masih sama seperti kemarin malam.


Kutengok sebelahku, di situ terdapat Noland yang masih tidur begitu nyenyaknya. Biasanya dia akan terbangun setelah fajar tiba.


Aku bangkit dari ranjangku, meraih mantel serta syal abu-abu cerah.


Aku sudah sangat terbiasa untuk bangun pada jam-jam ini, walaupun benda seperti jam ataupun alarm masih belum terlalu dijual. Aku dapat memastikan bahwa saat ini sudah sekitar pukul 4 pagi.


Saat otakku secara tidak sadar memastikan bahwa ini jam untuk bangun, aku pasti akan terbangun secara otomatis.


Setelah aku memakai pakaian itu, aku mencoba untuk keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan penginapan.


Aku berjalan ke arah pintu kamar dan mencoba meraih gagang pintu.


Saat kulitku bersentuhan dengan besi dari gagang pintu itu, suhu sangat dingin menyengat tanganku, sengatan itu membuatku bangun total.


Seketika aku mengingat bahwa aku masih belum memakai sarung tanganku.


Aku meraih sarung tangan hangat itu di sebelah meja, dan memakainya.


Barang-barang ini sangat membantuku.


Aku kembali meraih gagang pintu dan membuka pintu.


......................


Tibanya diluar, suasananya sangat sepi dan tenang.


Aku dapat melihat banyak pintu yang saling berjejer.


Aku melanjutkan perjalananku ke ruang makan penginapan.


Setelah berjalan beberapa langkah dengan aku yang terus memperhatikan nafasku yang mengeluarkan uap. Aku dapat melihat cahaya redup di depan sana.


Ruangan itu adalah ruang makan penginapan.


Orang yang kemungkinan besar bangun pada saat ini dan berada di ruang makan penginapan selain aku pastilah koki penginapan.


Aku mendekati sumber cahaya itu.


Dan benar saja, orang yang berada di sana adalah koki penginapan.


Untuk tidak mengagetkannya, aku mengeraskan suara langkah kakiku dan menyapanya dengan santai.


"Halo Paman, selamat pagi," sapaku.


"Ah ya... selamat pagi juga," jawab koki itu dengan ramah sembari menyiapkan beberapa bahan di atas mejanya.

__ADS_1


"Tumben ada orang yang bangun pada saat ini, ada terjadi apa?" lanjut obrolannya menanyaiku.


"Tidak ada apa-apa paman, saya sudah memang biasanya bangun pada saat ini," jawabku pada koki itu yang sedang membuka satu-persatu laci untuk mencari bahan-bahan.


"Biasanya? kamu sangat rajin ya..." pujinya ke padaku.


"Paman juga begitu," ucapku membalas pujiannya.


"Paman... boleh saya pesan satu gelas teh panas?" ucapku memesan.


"Tentu saja, silahkan tunggu sebentar ya," jawabnya sambil mulai berjalan mencari gelas.


Aku mulai berjalan menuju salah satu meja untuk menunggu pesananku.


Aku memilih meja yang dekat dengan jendela.


Aku duduk di kursi dekat meja itu dan mulai menyenderkan tubuhku ke kursi.


Tubuhku saat ini sedang berhadapan dengan jendela.


Di luar jendela aku dapat melihat jelas pemandangan gunung kembar, yang menjadi icon kota ini.


Dengan langit yang masih gelap, dan jalanan yang masih sepi, serta rumah penduduk yang diterangi oleh cahaya redup. Aku memandangi gunung kembar itu sambil merilekskan diri.


Aku merangkul tubuhku sendiri untuk menyempurnakan hangat.


Dari dapur aku bisa mendengar suara dentingan barang kaca.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, tentu saja ada uap yang keluar.


Aku menenangkan diri sambil memikirkan aktivitas berikutnya.


Siangnya, aku akan pergi ke tempat pertemuan dengan Ariadna dan Evelyn. Aku akan memandunya pergi ke pabrik untuk melihat dan mencoba produk yang kami kembangkan.


Setelah selesai, aku akan langsung bergegas untuk pergi ke perpustakaan! untuk melihat berbagai macam buku yang tersedia di sana!


Ah iya! aku harus menanyai Mr.Meinhard tentang kerajaan yang memerlukan tenaga pembantu. Hal ini yang paling penting.


Sambil merenung, tiba-tiba koki menghampiriku dan memberikanku segelas teh hangat.


Dia meletakkan teh itu tepat di atas mejaku.


"Silahkan dinikmati," ucapnya.


"Terima kasih," jawabku.


Aku kembali duduk tegak.


Aku melepas sarung tanganku.


Aku mengarahkan kedua tanganku ke sekitar gelas teh itu. Dan menyentuhnya secara perlahan.


Aku merasakan energi panas yang mengenai kulitku. Aku menyapukannya ke sekitar bagian tanganku. Lumayan menghangatkan.


Aku mencoba mengangkat gelas itu dengan gagang pada gelas itu. Dan aku mengarahkan gelas itu kearah mulutku, mencoba meminum teh itu.

__ADS_1


Suhu panas langsung menyengat lidahku.


Aku menaruh kembali gelas itu. 'sepertinya aku harus menunggu sebentar lagi,' pikirku.


Aku kembali mengulang menyentuh gelas itu, menghangatkan kembali tanganku.


Di samping meja terdapat setumpuk kertas. Jika ku perhatikan, tumpukan itu adalah setumpuk koran.


Penasaran dengan berita yang terjadi, aku meraih satu dari puluhan koran di sana.


Koran ini untuk hari ini. Berarti, koran ini datang sebelum aku terbangun.


Aku mencoba membaca berita utama yang biasanya dipampang di halaman paling depan.


Hmm... isinya tentang politik, budaya, dan olahraga.


Aku membalik halaman, untuk melihat halaman selanjutnya.


Saat pertama kali aku melihatnya, aku sudah merasa familiar dengan wajah ini.


Wajah itu adalah wajah Evelyn.


Dengan tulisan judul di atasnya, "Gadis cilik Evelyn berhasil membuat para penonton menangis pada penampilannya sebelumya."


Bukankah dia semakin hari semakin populer? Aku akan sangat khawatir bila dia lebih populer dari saat ini, sebelum kerja sama kita terjalin. Karena tentu saja dana yang harus ditawarkan semakin meningkat.


Aku dapat memprediksi bahwa bila dia dewasa nanti, dia pasti akan menjadi amat sangat terkenal. Oleh karena itu, saat ini adalah saat yang sangat tepat untuk memulai kerja sama dengannya.


Semoga saja semuanya berjalan baik-baik saja.


Merasakan bahwa tehku sudah sedikit hangat, aku mencoba untuk meminumnya lagi.


"Ah!" seruku melepas dahaga.


Teh ini sangat nikmat, komposisi gula dan bahan lainnya sudah sangat tepat.


Baru satu teguk, seluruh tubuhku sudah bertambah hangat.


Melihat ke arah jendela, sudah ada sedikit cahaya matahari yang nampak.


Jalanan juga sudah mulai ramai dengan orang-orang dengan berbagai macam tujuan. Sebagai besar adalah petani.


Aku meminum tehku dengan pelan-pelan, menikmati rasa yang diberikan.


Beberapa orang yang menginap pun sudah ada yang bangun dan menuju ruang makan ini.


Teh di gelasku sudah habis. Aku bangkit dari tempat dudukku, menuju meja dapur untuk mengembalikan gelas yang kupakai.


Dan tak lupa untuk membayarnya!


Setelah itu aku berjalan menuju pintu penginapan untuk merasakan sensasi di luar sana.


Tiba di luar, aku menikmati melihat pemandangan yang lebih indah dari sebelumnya dan melihat orang-orang lalu-lalang.


Ada pula yang sedang berolahraga di sekitaran sungai.

__ADS_1


Burung-burung mulai riuh berkicau, ayam-ayam sudah mulai berkokok.


Yang menandakan bahwa hari baru telah tiba.


__ADS_2